>> Bandung, 2023 <<
Dear Ulfa,
Udah lama ya kita nggak ketemu? Semoga Ulfa dalam keadaan sehat dan baik-baik. Ngomong-ngomong, selamat ulang tahun yang ke-28! Citra senang lihat Ulfa hidup dengan baik dewasa ini. Semoga di usia itu, nanti Citra juga bisa kayak Ulfa. Kalau kata Taylor Swift, Happy, free (but not) confused and (not so called) lonely at the same time. Hehehe…
Makasih udah hidup dengan baik. Citra senang Ulfa suka kirim surel walaupun Citra nggak balas. Tapi Citra beneran baca. Sekarang Citra juga hidup dengan baik kayak Ulfa. Citra mulai aktif lagi buka media sosial, lihat unggahan Ulfa, tahu kabar Ulfa dari sana walaupun nggak banyak.
Belum lama ini, Citra jadi perawat lepas di Panti. Namanya Panti Pluto, isinya orang-orang yang terbuang dari sekitarnya. Ada perempuan-perempuan yang hamil di luar nikah, ada juga anak-anak yang ditinggalkan orangtuanya. Uhm … yang lain mungkin kayak Panti pada umumnya. Tapi yang menarik buat Citra, ada perempuan korban kesucian poligami. Dia kabur dari suaminya karena nggak tahan sama istri pertamanya yang katanya terlalu baik. Menurutnya, daripada beribadah, dia jadi merasa nggak enak. Sampai dia nggak peduli lagi sama alasan dia mau jadi istri kedua. Kapan-kapan, semoga kita bisa ketemu. Nanti Citra ceritain lengkapnya.
Mama kondisinya alhamdulillah sehat. Sekarang udah jadi Ketua Yayasan di Sekolah TI. Kadang-kadang Mama berkunjung ke Panti juga. Mama suka nanyain Ulfa, gimana kabarnya, apa Citra masih suka hubungin Ulfa, di mana Ulfa sekarang. Semoga Ulfa ada uang dan waktu luang buat pulang hahaha Mama pasti marah kalau Citra bilang gini. Katanya, kalau Ulfa nggak punya uang, biar Mama yang kirimin. Tapi kan Mama enggak tahu ya kalau sekarang Ulfa banyak uang? Waktu luang juga pasti banyak. Cuman, ya … nggak mau pulang aja!
Ini Citra beneran, semoga Ulfa bisa pulang. Mama udah makin tua. Maaf kalau Ulfa lihat ini sebagai Citra yang mau balas surel Ulfa karena Mama. Tapi sebenarnya enggak. Selama ini Citra nggak pernah berani, terlalu malu juga buat kirim pesan ke Ulfa. Mungkin ini juga jalannya buat Citra hubungin Ulfa. Walaupun Citra yakin Ulfa bakalan ngerti, Citra tetap berdoa semoga Ulfa ngerti.
Salam dari Mama yang ingat Ulfa tiap kali lihat Bidan di sini. Salam dari Citra yang lagi ulang tahun juga!
“Uhm … masih dibaca aja?!” Citra yang baru keluar dari kamar mandi, mengintip layar laptopku.
“Astaghfirullah!” Aku tak habis pikir dengan Citra yang masih saja santai menutup badannya dengan handuk sebatas paha. “Citra, ih! Enggak ubah-ubah!”
“Biarin! Di tempat Citra sendiri ini!” Citra terduduk di depan meja riasnya sambil menggosok-gosok rambutnya yang basah. “Enggak akan ada yang ngintip juga.”
Sedewasa-dewasanya kami kini, dengan aku yang sudah kepala tiga dan Citra yang sudah di akhir dua puluhannya, perdebatan kami selalu soal hal semacam ini. Aku yang terlalu parno dengan mata-mata mesum, dan Citra yang tidak pernah peduli. Kalau kata Citra, “kan kita nggak sengaja menggoda. Mereka aja yang nggak bisa jaga pandangan dan hawa nafsu!”
“Mau Citra kirimin email lagi?” Citra melihatku dari cerminnya.
Aku menggeleng, menutup laptopku. Inilah rutinitasku setiap hari ulang tahun. Membaca surel dari Citra yang hanya setahun sekali itu. Tidak tahu kenapa, tapi, hangat sekali tiap kali membacanya. Aku seperti melihat perubahan Citra yang semakin baik lewat surat-surat itu. Selain itu, aku juga melihat diriku sendiri dari sana.
“Berarti udah dua tahun dong ya Ulfa balik ke Bandung?” Citra mengingat-ingat. “Waktu itu Ulfa bacanya pas udah di Bandung juga, kan?”
Benar, dulu aku sudah di Bandung juga walaupun tidak bertemu Citra. Bolak-balik mengurus peninggalan dari rumah masa kecilku yang kini sudah berganti jadi Mal besar.
“Dua tahun juga kan tato Citra ini?” Aku menunjuk tato bertuliskan Men written by Women pada sisi lengan Citra yang sudah diolesi lotion. “Dilaser takut, sama jarum tato nggak takut.”
Citra tertawa kecil. Sejenak kuperhatikan lebih dekat tato kecil-kecil yang sudah sejak SMA menghiasi tubuhnya. Kalau sedang tiba sadarnya, Citra selalu bertanya bagaimana caranya menghapus tato tanpa sakit. Kalau tidak pun, tato itu seperti tidak ada, tidak diperdulikannya keberadaannya dan tidak ada pengaruhnya untuk keberlangsungan hidupnya. Salah satu hal yang akan membuat Citra berpikir untuk menghapus tatonya adalah ucapan mamanya. Selain itu … anak kecil yang dengan polos bertanya soal wudhunya.
“Tante Citra!!!” Suara ketukan pintu terdengar rusuh. Meski tidak berisik, aku lebih khawatir kalau tangan sang pemanggil akan kesakitan.
“Tuh Tante … dicariin keponakannya,” ledekku, meraih jilbabku, memakainya di belakang Citra yang mengeringkan rambutnya.
“Bentar lagi juga Ulfa dicariin bapaknya,” ledek Citra balik, bersamaan dengan dering ponselku. “Tuh kan….” Citra menyipitkan matanya.
Aku sudah tahu itu pesan dari siapa. Tapi melihat Citra yang seperti menungguku membacanya, ingin tahu reaksiku, aku memilih membiarkannya saja.
“Tante Citra!!!” Lagi-lagi dari luar, si pemanggil kedengaran tidak sabaran.
“Panggil 'kakak' dulu, nanti aku keluar!” seru Citra yang masih saja dalam fase pilih-pilih panggilan. Suasana hatinya akan buruk kalau dipanggil Ibu, Tante, Bibi, dan sejenis panggilan lainnya yang menurutnya disematkan untuk wanita berumur sementara Citra selalu merasa masih muda.
Tidak bisa tidak meledeknya, aku berkata, “Ulfa pertama ketemu langsung dipanggil Kakak loh, Citra!”
“Ya kan bapaknya—” Citra berdecak saat mendengar anak kecil tadi memanggilnya lagi. Meski dengan sebutan ‘Kakak’, Citra masih dengan pendiriannya untuk tidak menunjukkan senyum pada anak lelaki yang dengan sombongnya menunjukkan rapornya. Senyum ramah yang sesungguhnya aku rindukan. Senyum yang setidaknya kembali muncul perlahan setelah lenyap terimpit beban demi beban yang menimpanya.
“Sebentar, Kakak pakai kerudung dulu sebelum nenek kamu datang!” Citra buru-buru ke dalam, mengambil asal kerudungnya di gantungan.
“Mau sampai kapan, sih, bilang kalau itu neneknya?” tanyaku yang tahu pasti kenyataan yang sebenarnya dihadapi anak itu.
“Belum waktunya,” ujar Citra santai. “Mungkin nanti kalau udah masuk SMP. Bantu bilangin sama bapaknya dong….” Citra sempat-sempatnya menggodaku.
Nada dering pemberitahuan pada ponselku kembali terdengar, memperburuk suasana hatiku. Tidak ada yang lebih buruk daripada tidak sengaja mendengar soal kenyataan diri dari orang lain yang sebenarnya tidak bermaksud memberitahukannya. Aku sudah pernah ada di sana, dengan segala drama yang tidak bisa aku hindari.
“Citra penasaran, deh. Daru kan dibesarin sama bapaknya. Gimana tuh jadinya kalau Men written by Men?”
Di usia ini juga, Citra masih dengan Citra yang sama. Dengan polosnya mempertanyakan sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan akan keluar dari mulutnya. Dan aku, aku juga masih dengan aku yang sama. Aku yang tidak akan ambil pusing soal itu meski akhirnya dibuat berpikir juga.