cover landing

SENGKOLO

By Wiwit Putra Bangsa


Banyuwangi, saat ini.

Rumah Mbah Sarwo hampir habis dilahap jago merah. Lautan api membakar apa saja yang ada di depannya. Kayu penyangga genting rumah membara berjatuhan, terlepas dari pasaknya karena berubah menjadi arang. Hawa dingin dan lembap kaki Gunung Ijen tidak sedikit pun memadamkan api itu. Rumah berbentuk limasan terlihat sederhana dengan desain tradisional Jawa, dalam hitungan jam sudah hampir ambruk. Tidak ada rumah lainnya, rumah Mbah Sarwo sendiri berada di tengah hutan kaki Gunung Ijen.

Api yang membara terlihat jelas karena pekatnya malam, berwarna merah keemasan dengan asap mengepul dan menghilang di atas pohon cemara gunung. Terdengar suara kayu terbakar dan samar-samar kidung mantra dari dalam rumah Mbah Sarwo. Tidak ada teriakan ketakutan dari rumah padahal limasan yang hampir habis terbakar itu ditinggali Mbah Sarwo, dukun terkenal sakti mandraguna dan lima orang muridnya.

Keluar satu murid Mbah Sarwo bernama Rahman dari pintu ruang tamu yang kayunya terbalut api membentuk seperti bunga yang belum mekar. Dia tergopoh, pandangannya menatap jauh ke luar menuju danau rawa yang hanya terisi air ketika musim hujan saja.

Jiwa Rahman seperti terbakar walaupun tubuhnya memang benar-benar terbakar. Sebagian besar kulitnya gosong, beberapa memerah melepuh karena menahan panasnya api yang membakar kediaman bersama guru dan empat temannya. Langkah Rahman tergopoh, kaki kanannya diseret, patah tertimpa kasau balok kayu atap rumah.

Rahman dituntun keluar oleh anak kecil berusia sekitar tujuh tahun. Dia mengenalnya, sosok gaib yang hanya ada di kepalanya. Di pikiran Rahman, anak kecil itu akan membalas dendam. Anak kecil yang sebenarnya masih keponakan, di mana bapaknya menjadi gila karena guna-guna ulah Rahman. Anak kecil itu menjadi tumbal, dendam sakit hati Rahman kepada pamannya.

“Om orang baik. Jangan kembali ke rumah itu. Ayo pergi om!” Ucap keponakan dengan menarik tangan kiri Rahman.

“Ke mana kita pergi?” Balas Rahman.

“Ke tempat om seharusnya tinggal.” Sambil menoleh, menunjuk pendar lampu rumah-rumah desa di bawah bukit terlihat jauh dari rumah Mbah Sarwo.

“Mbah masih di dalam. Mbak Ayu, Mas Rudi, Mail, Toro.” Rahman berbalik melihat rumah Mbah Sarwo yang semakin hancur.

“Mereka bukan teman-teman om.” Keponakan Rahman semakin memaksa.

“Tidak, mereka masih di dalam.”

Kidung mantra Mbah Sarwo semakin keras, mendayu. Lambaian pohon cemara gunung tertiup angin seperti menari mengikuti irama kidung mantra. Aroma kayunya yang basah berpadu dengan bau lumut dan pakis menjadi semakin magis, ditambah menyengatnya dupa dan kemenyan dari rumah itu.

Rahman terhipnotis, dia tergopoh masih menyeret kaki kanannya yang patah masuk ke dalam rumah. Tidak peduli dengan panas.

Kakang kawah onok ring byahu kang tengen. Adhi ari-ari onok ring byahu kang kiwok. Poma-poma kakang kawah.” Mbah Sarwo membaca mantra tanpa henti, duduk bersila di atas dipan dengan beberapa macam barang persembahan ritual.

Anehnya, api ganas yang meluluhlantakkan rumah tidak mau mendekati Mbah Sarwo yang sedang semadi. Mengelilingi membentuk lingkaran sempurna. Mulut Mbah Sarwo masih komat-kamit. Matanya sedikit terbuka dan hanya terlihat bola putih.

Langkah Rahman terhenti mendekati Mbah Sarwo. Dia melihat ke bagian lain di sudut rumah. Mbak Ayu tergeletak di lantai sedang berusaha dibangunkan Mas Rudi. Tangan kanan Mas Rudi mengangkat punggung Mbak Ayu.

Mata Mbak Ayu sama seperti Mbah Sarwo, sedikit terbuka hanya terlihat bola putih. Bedanya, Mbak Ayu tidak sedang membaca mantra, tubuhnya bergetar. Jiwanya di tempat lain seperti merasakan ketakutan yang sangat.

“Mbak bangun mbak. Ayo Bangun.” Tangan kiri Mas Rudi menampar-nampar kecil pipi Mbak Ayu.

“Rahman, bantu angkat Mbak Ayu.” Tamparannya berhenti ketika melihat Rahman mematung di hadapannya.

Rahman seperti tersadar dari tatapan kosong menatap mereka. Langkahnya semakin cepat mendekati Mas Rudi. Kaki kanannya seolah sembuh, tidak terasa sakit sedikit pun.

Rahman berusaha mengangkat tubuh Mbak Ayu. Baru mulai mengangkat, tiba-tiba terdengar suara pecahan keras sekali dari mazbah, meja tempat ritual tersimpan di tengah ruangan. Sumber suara keras itu berasal dari gerabah tanah liat yang ukurannya tidak begitu besar tempat menyimpan kemenyan.

Tiga buah gerabah terbuat dari tanah liat berjejer di atas mazbah. Satu gerabah terlihat sudah hancur berserakan. Satunya baru saja pecah yang suaranya terdengar oleh Rahman dan Mas Rudi. Di samping-samping gerabah tersimpan sesajen seperti ayam ingkung, sega rogoh tersimpan di cobek yang dialasi daun pisang dengan telur ayam mentah di atasnya, jenang sengkolo, jajanan pasar, bunga tujuh rupa, kelapa, kopi hitam dan beras.

“Satu gerabah lagi!” Spontan Rahman berteriak.

Rahman dan Mas Rudi saling bertatap kemudian mereka melihat Mbak Ayu yang tubuhnya semakin kencang bergetar seperti tercekik kehabisan nafas.

“Rahman, bantu Mbak Ayu. Jangan sampai gerabah satunya pecah lagi.” Mas Rudi mencoba meyakinkan Rahman yang terlihat sudah panik.

“Kalau pecah lagi, mati Mbak Ayu.” Tambah Mas Rudi.

Tanpa waktu lama Rahman mendekati mazbah kemudian duduk bersila. Rahman mulai memejamkan matanya. Mulut Rahman membaca mantra, dia akan menuju dimensi lain berusaha membantu Mbak Ayu.

Sang ireng jeneng muksa pangreksan, sang ening menenng jati rasane, lakune ora katon, pangrasane manusia. Nek putih rasaning nyawa, jatining manusa, ules putih lungguhku.” Sambil menahan nafas, kemudian Rahman terpejam.

Terang benderang, Rahman berada di tempat yang serba putih. Tidak ada dinding pemisah, tempat yang luas terhampar. Terlihat titik hitam dari jauh lambat laun mendekat dan membesar ke arah Rahman.

Semakin jelas ternyata sosok itu adalah manusia. Tubuhnya kurus, memakai pakaian adat yang motifnya menyerupai rompi berwarna coklat. Pakaian yang terbuat dari kulit pohon pinang puyu. Tidak memakai pakaian dalam hingga terlihat ukiran tato di dadanya.

Semakin dekat dan jelas terlihat, matanya tajam menatap Rahman. Hingga Rahman memahami bahwa sosok itu adalah seorang dukun.

Dukun itu berbicara dalam bahasa daerah yang belum pernah didengar Rahman dalam hidupnya, tapi dia paham maksud dari ucapannya itu. Berpesan agar jangan ikut campur urusan Mbak Ayu dengan dukun itu jika ingin selamat. Jika ingin hidup Rahman harus pergi dari rumah itu dan meninggalkan semua urusan yang berhubungan dengan Mbah Sarwo. Semua praktik perdukunan harus ditinggalkan jika tidak mau bernasib sama dengan Mbak Ayu.

Rahman masih percaya pada dirinya sendiri, bahwa ilmu hitam yang diberi dan dipelajari dari gurunya lebih sakti dari dukun itu. Rahman percaya sangat mudah mengalahkan sosok kurus yang ada di hadapannya. Dia menolak tawaran dengan sombong.

“Kembalikan Mbak Ayu, atau saya akan membakarmu!” Rahman menantang dengan lantang.

Tatapan dukun itu semakin tajam kemudian menunjuk dengan jari telunjuk kanan yang ditempelkan pada dada Rahman. Badan Rahman mendadak kaku, kemudian terpental jauh ke belakang.

“Mati kau!” Ucap dukun.

Tiba-tiba tempat itu berubah menjadi hamparan gelap. Rahman sesak pada bagian dada. Belum sempat reda, dukun itu datang lagi dengan cepat ke arah Rahman dengan tangan kanan yang masih menunjuk. Ditempel kembali jari telunjuk dukun itu ke dada Rahman. Rahman masih kaku dan tidak bisa bergerak, terpental kembali jauh meluncur dengan cepat menambah sesak hingga tidak bisa bernafas sejenak.

Tempat itu berubah kembali menjadi hamparan putih. Sosok hitam dari jauh kemudian datang kembali. Kali ini dukun itu tidak sendiri. Dia datang ke arah Rahman membawa Mbak Ayu dengan mencekik lehernya yang diangkat ke atas.

“Ini semua ulah saudara perempuanmu. Dia sudah mengganggu anak saya. Dia mau membunuh anak saya dengan tangan kotornya.” Teriak dukun itu kesal pada Rahman.

Mbak Ayu menggigil, tidak bisa bernafas karena cekikan dukun. Melihat itu, Rahman mencoba memukul dukun dengan kepalan tangan kanannya ke bagian dada, tidak mempan. Rahman mencoba sekali lagi tetapi dia sendiri yang terpental lebih jauh dari sebelumnya. Dada Rahman seperti mendapat pukulan bertubi hingga begitu terasa sakit yang teramat sampai tidak sadarkan diri.

Cukup lama Rahman tidak sadarkan diri, hingga dia dibangunkan oleh suara burung Cucak Gunung yang mulai bernyanyi saling bersahutan. Tubuhnya lemas, tengkurap di luar rumah Mbah Sarwo. Hawa dingin mulai dirasakan tubuhnya. Wangi kabut dan alang-alang yang terkena embun pagi menjadi energi bagi Rahman untuk bangkit.

Rahman membuka mata, langit terlihat terang tetapi masih remang karena cahaya matahari terhalang oleh tingginya pohon Cemara Gunung. Belum sempat bangkit, lengan Rahman ditarik Mas Rudi membantunya untuk berdiri.

“Di mana yang lain mas?” Rahman bertanya.

“Sepertinya Mbak Ayu tidak selamat.” Balas Mas Rudi cepat.

“Mbah Sarwo, Mail, Toro di mana mereka?” Rahman kembali bertanya.

Mas Rudi terdiam, mencoba membantu Rahman berdiri dan berjalan. Mereka menuju puing-puing rumah Mbah Sarwo yang terbakar untuk memeriksa kembali keadaan. Sebagian besar sudah hangus terbakar. Mazbah semula banyak sesajen tersusun rapi sekarang hancur berantakan, tertimbun plafon dan kayu atap rumah.

Tiga buah gerabah yang dikhawatirkan Rahman sudah tidak terlihat utuh, hancur pecah berserakan. Pertanda tidak baik. Gerabah menjadi simbol kematian dan kehidupan ketika dukun sedang beradu ilmu atau menjalankan ritual seperti mengirim teluh dan guna-guna.

Ketika gerabah pecah, berarti ada yang menandingi ilmunya. Matra yang dikirim bisa kembali dan membunuh pengirimnya. Jika semua gerabah pecah maka tamat sudah, dukun itu tidak selamat.

Mbah Sarwo tidak terlihat, hilang seperti moksa menyisakan tempat bersemadi yang utuh tidak terbakar berbentuk lingkaran dengan sekelilingnya hangus. Mbak Ayu dan dua adik perguruannya juga tidak terlihat.

“Mbak Ayu sepertinya kalah ilmu.” Kalimat Mas Rudi yang terdengar sangat menegaskan.

Sebelumnya, Mbak Ayu didatangi orang meminta tolong untuk mengguna-guna. Lelaki muda yang dendam dengan mantan tunangannya, pergi dengan orang lain, pengusaha kebun sawit di Kalimantan.

“Ini tidak bisa dibiarkan. Malam nanti saya akan membalasnya.” Rahman terlihat dendam.

Rahman bukan tipe orang yang bisa menahan amarah. Seorang pendendam dan mudah terpancing emosinya.

Tanpa waktu lama, Rahman berencana menyiapkan ritual untuk malam nanti. Walaupun mendapat pertentangan dari Mas Rudi tapi Rahman bukan seorang yang mudah dipatahkan kemauannya bahkan dengan orang terdekatnya sekalipun.

Dia mulai menyiapkan gerabah tanah liat baru yang masih tersisa di rumah itu. Membersihkan mazbah dan mengumpulkan perlengkapan sesajen untuk ritual.

“Tunggu malam ini bapak tua!” Teriak Rahman.