cover book

Bab 1

Buku: The Boss Lady

Berbeda dengan wajah-wajah di sekitarnya yang sedang kesal, Tania justru tersenyum lebar. Jantungnya berdegup kencang. Tangannya gemetar karena semangat yang meluap-luap bercampur gugup. Tania sedang menyusun sebuah rencana yang sangat berani sekaligus bodoh, sesuatu yang mungkin kelak akan ia sesali. Atau syukuri.

Sejak pukul 16.30, sebagian besar wajah mendadak keruh. E-mail dari sekretaris kantor, Mbak Rahmi, menjadi biang keladinya. E-mail itu berisi undangan kepada seluruh karyawan, agar pada pukul 18.30 berkumpul di banking hall untuk meeting umum, sekaligus perkenalan dengan Regional Head yang baru.

Ini Jumat petang. Pada jam-jam seperti ini, yang diinginkan semua orang adalah pulang. Sebagian lain yang terpaksa lembur, juga tak ingin terjeda waktunya dengan acara formalitas yang tak mereka mengerti apa faedahnya, kecuali menambah lelah setelah seharian dipusingkan dengan pekerjaan.

Pertama-tama, Kepala Kantor Cabang, Pak Robert, membuka acara dengan sejuta dua juta patah kata yang menjemukan, sebelum mengumumkan dengan nada heroik nan menggelegar, “Mari kita sambut, Bapak Arbo Tirajo, Regional Head kita yang baru!”

Senyap.

“Inilah Bapak Arbo Tirajooo …!!!”

Tetap senyap.

Pak Robert mulai panik.

Pria yang disebut Pak Arbo itu berdiri dan melangkah dengan anggun ke tengah ruangan, usianya kira-kira pertengahan empat puluhan. Rambutnya terlihat kelabu karena sebagian telah bercampur uban, tetapi postur tubuhnya tegak, dengan tinggi sedang. Wajahnya tidak sangat tampan, tetapi menarik dengan rahang hampir kotak. Mata hitamnya yang seperti selalu merenung itu, menyapu seluruh ruangan, sekilas dan tidak peduli, hampir-hampir meremehkan. Mungkin sebenarnya bukan meremehkan, melainkan pengaruh hawa yang timbul karena sikap yang terbentuk secara tidak sengaja oleh pengalaman dan kedudukannya.

Sedetik kemudian terdengar seseorang bertepuk tangan. Mula-mula pelan dan ragu-ragu, tetapi kemudian semakin keras dan antusias. Tania yang duduk di bangku depan pojok paling kanan, bertepuk tangan sendirian.

Pak Robert memelotot kepada karyawan yang lain, yang kemudian bertepuk tangan dengan enggan dan tidak kompak.

***

Sejak dua hari yang lalu, Tania sudah mendengar kabar dari Mbak Rahmi, bahwa hari ini, Regional Head yang baru, yang berkantor di Semarang, akan mengunjungi Solo. Ini akan menjadi acara yang menakutkan, karena Pak Regional Head ini pasti akan meminta diadakannya meeting dengan Kepala Kantor Cabang dan jajaran karyawan marketing. Tahun ini, kantor cabang sebuah bank swasta terbesar di Asia—tempat Tania bekerja, sedang buruk kinerjanya. Dan di antara semua karyawan marketing, nilai Tania adalah yang terburuk.

Tania sudah frustrasi karena setiap pagi diomeli Cik Lili, SME (small medium enterprise) manager, yang membawahinya. Ditambah lagi, seminggu sekali Tania juga diomeli Pak Robert dalam meeting khusus antara kepala cabang dan tim yang dipimpin Cik Lili, setiap Senin pagi.

Tania adalah karyawan paling muda, bukan saja di tim Cik Lili, tetapi juga di kantor cabang Solo. Ia baru satu setengah tahun bekerja, setelah lulus dari kelas ODP (officer development program) di perusahaan ini. Kelas ODP itu diikuti oleh 45 orang lulusan terbaik dari berbagai perguruan tinggi.

Setelah melewati saringan berkali-kali sehingga menggugurkan harapan ratusan orang pendaftar lainnya, Tania menjadi salah satu dari 45 orang yang kemudian menjalani pendidikan teori perbankan, selama enam bulan. Di kelas yang sangat kompetitif itu, Tania harus puas dengan menempati peringkat ke 35. Andai saja Tania bisa menjadi lulusan lima terbaik saja, Tania akan ditempatkan di corporate banking, atau paling tidak di commercial banking, dengan gaji dan tunjangan yang lebih menarik tentunya.

Namun, di sinilah Tania pada akhirnya, menjadi anak buah Cik Lili yang galak dan pandai sekali menyakiti. Tania merasa, selama setahun ini hidupnya bagai di dalam neraka. Meskipun sebagai lulusan ODP Tania sebenarnya mendapatkan gaji dan tunjangan yang besarnya—bagi sebagian besar karyawan operasional biasa—hanyalah impian.

“Nah, sementara itu dulu yang bisa saya sampaikan saat ini,” Pak Arbo bersiap mengakhiri pidatonya. “Dengan kinerja kantor cabang Solo yang sangat mengecewakan dibanding seluruh kantor cabang di Jawa Tengah dan DIY, tentunya kita akan mengadakan evaluasi khusus. Harus ada seseorang yang mempertanggungjawabkan keadaan ini.” Senyum dingin Pak Arbo membuat Robert bergidik.

Sekali lagi, tepuk tangan Tania kembali terdengar. Namun, kali ini segera disusul tepuk tangan yang sangat meriah dari seluruh karyawan, yang merasa sangat terhibur menyaksikan wajah bos mereka, Pak Robert, menjadi pucat pasi.

***

Sementara Mbak Rahmi mulai mengedarkan nasi kotak kepada seluruh karyawan yang baru saja selesai mengikuti meeting, dengan gesit Tania menghampiri Pak Arbo yang tengah berdiri sambil bercakap-cakap dengan Pak Robert.

“Maaf, Pak Arbo.” Tania tersenyum riang.

“Ada apa, Tania?” Robert menatap Tania dengan perasaan tak senang karena pembicaraannya disela.

“Boleh minta foto bareng, Pak Arbo?” Tania tetap tersenyum sambil menatap Arbo.

Robert tercengang.

Arbo tertegun menatap wajah Tania. Gadis ini memiliki mata yang bulat dan jernih seperti mata anak-anak. Hidungnya kecil tetapi mencuat tajam. Bibirnya tidak terlalu tipis, berwarna merah muda alami, merekah dalam bentuk yang sangat indah, bagai kelopak mawar menggeliat terbuka ketika setetes embun yang dingin terjatuh di atasnya. Warna kulitnya adalah nuansa langit pagi, antara putih kemerahan, hingga kuning cerah, yang sepertinya bisa berubah-ubah tergantung pada suasana hatinya. Rambutnya panjang sebahu, hitam berkilau, lurus dan lembut bagai sutera. Ya, Tuhan, cantik sekali. Seperti inikah Raline jika sudah dewasa?

“Oh, boleh saja. Sini.” Arbo mengulurkan tangannya, mengambil ponsel dari tangan Tania.

Arbo memotret dirinya bersama Tania.

“Sampai ketemu di Diamond, Pak Arbo,” Robert berusaha mengalihkan perhatian Pak Arbo dari Tania. Namun, Arbo hanya mengangkat sebelah tangan, tidak peduli.

“Kirim ke saya, ya, fotonya.” Pak Arbo menyerahkan ponsel Tania.

“Baik, Pak Arbo. Nomor telepon Bapak berapa?”

Robert menjadi geram melihat tingkah laku Tania yang tak tahu diri. Namun, ia sedang dalam posisi tak berdaya, Pak Arbo sedang kecewa dengan kinerjanya yang payah. Dengan enggan, Robert pergi diam-diam.

“Ngomong-ngomong, apakah Pak Arbo pernah mencoba Wedangan Pak Basuki?” Tania semakin lepas kendali.

“Belum pernah. Apa itu? Eh, siapa namamu tadi?”

“Tania, Pak.”

“Oh, iya, Tania. Kamu kerja di bagian apa?”

Marketing SME, Pak.”

“Oh ....”

“Itu wedangan paling enak di seluruh dunia, Pak.”

“Wah ….”

“Saya akan mengantar Bapak ke sana. Sekarang!”

Arbo terbelalak, seolah sedang menatap wajah setan.

Jantung Tania berdegup kencang. Astaga, apa yang sedang kulakukan ini? Aku pasti sudah gila!

“Eh, maksud saya, barangkali—”

“Ya?”

“Ba—barangkali Bapak berkenan, sa—saya akan mengantar Bapak ke sana.”

Keheningan mendadak itu hanya berlangsung dua detik, tetapi bagi Tania seperti selamanya. Aksi yang telah ia rencanakan selama dua hari ini, rupanya hanya akan berakhir dengan bencana yang memalukan. Tania berdebar menunggu reaksi Pak Arbo.

“Kalau Bapak memang tidak berkenan—”  Lutut Tania mulai lemas.

Okay, mari kita berangkat.” Arbo tersenyum geli.

***

Arbo sendiri rasanya hampir tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Ia meninggalkan mobil dinas mewahnya beserta sopirnya di kantor cabang, kemudian duduk di kabin mobil kecil yang sedang dikemudikan Tania. Astaga, gadis ini sungguh bernyali.

Belum pernah ada karyawan dengan level jabatan serendah Tania yang berani mengajaknya pergi seperti ini. Arbo sangat penasaran dengan gadis yang sangat cantik ini. Mengingatkanku pada seseorang yang sangat kusayangi, meski kini telah tiada.

“Nah, kita sudah sampai, Pak Arbo.”

Arbo terperangah. Ia tak menyangka Tania akan mengajaknya ke sebuah warung sederhana, dengan penerangan remang-remang. Warung itu menumpang di sebagian lahan parkir sebuah toko batik. Ada meja-meja dan bangku-bangku panjang. Pengunjungnya cukup ramai.

“Ini tempatnya, Tania?” Arbo masih belum yakin.

“Iya, Pak. Bapak mau pesan minum apa?”

“Terserah kamu saja, Tania.” Astaga, ini lebih mirip tempat nongkrong mahasiswa berkantong cekak. Arbo tersenyum geli.

“Baik, Pak. Saya akan pesan yang paling enak.”

Sambil duduk di salah satu bangku, Arbo mengamati punggung gadis muda itu yang sedang menjauh pergi untuk memesan minuman. Dari belakang, siluet tubuh gadis itu terlihat langsing dan tinggi.

“Ini wedangan favorit presiden, lho, Pak.” Tak lama kemudian, Tania sudah kembali.

“Oh, ya?”

“Iya. Coba Bapak lihat ini.” Tania memperlihatkan sebuah foto dari portal berita di ponselnya. Di dalam foto itu tampak Presiden dan beberapa menterinya sedang duduk dan menikmati makanan serta minuman di warung ini.

“Wow!”

“Keren kan, Pak?”

“Apa, sih, istimewanya warung ini? Sampai seorang presiden saja sampai ke sini?” Arbo menahan tawa.

“Bapak akan tahu sebentar lagi.”

Ketika minuman yang dipesan Tania tiba, Arbo segera menyesapnya sedikit.

“Bagaimana rasanya, Pak?” Tania berdebar-debar.

Arbo tidak segera menjawab. Ia menyesap minuman itu sekali lagi. Rasanya pedas bercampur manis, aromanya kuat tetapi harum.

“Ya Tuhan, ini enak sekali.”

Tania tersenyum lega. “Sudah saya duga, Bapak akan mengatakan itu.” Tania merasa sangat bangga. ”Itu wedang jahe, lho, Pak. Warnanya tidak jernih seperti pada umumnya, karena dibuat dari bubuk jahe merah, dicampur gula aren. Jadi warnanya cokelat gelap.”

Arbo menatap wajah Tania, tetapi sudah tidak menyimak apa yang dikatakan gadis itu. Pikirannya sedang melayang ke masa lalu. Raline pasti sangat mirip dengan Tania jika sudah dewasa.

Kata orang Medan, jangan mati sebelum sempat melihat Danau Toba.  Yah, itu adalah ironi yang sangat tepat! Seseorang yang teramat disayanginya, kini telah mati sebelum sempat melihat Danau Toba.

Arbo masih remaja waktu itu. Papanya sedang menyetir mobil, mamanya duduk di seat depan, sementara Arbo duduk di seat baris kedua. Raline, adiknya yang masih balita, terikat aman pada baby car seat di sebelah Arbo. Mereka sedang menuju Danau Toba untuk piknik. Jalannya beraspal cukup mulus, tetapi agak sempit dengan banyak kelokan. Di sisi kiri jalan terdapat jurang menganga, sementara di sisi kanan jalan terdapat tebing curam. Harus sangat berhati-hati jika mengemudikan kendaraan di sini.

“Abang, Abang .…” Tangan Raline menggapai-gapai Arbo, minta dipangku.

“Biarkan saja adikmu, jangan dipangku,” mamanya memperingatkan.

“Tidak apa-apa, Mama. Ia akan selalu aman bersamaku, abang kesayangannya ini.” Arbo melepaskan ikatan Raline dari baby car seat-nya, kemudian memangku adiknya itu.

Raline adalah gadis kecil yang akan membuat semua orang menyayanginya. Mata kanak-kanaknya yang bulat dan jernih itu bergerak-gerak dengan jenaka. Hidungnya mungil tetapi mencuat tajam. Bibirnya merekah merah muda. Warna kulitnya antara kuning cerah hingga putih kemerahan, tergantung apakah ia sedang menangis atau tertawa. Rambutnya yang lurus dan hitam berkilau, terasa selembut sutera bagi tangan yang menyentuhnya. Pada diri gadis kecil yang masih polos dan tanpa dosa itu, seolah tersimpan keindahan warna seluruh alam semesta.

“Mamamu benar, kembalikan Raline ke tempatnya.” Papanya menoleh ke belakang.

Kemudian, mendadak terdengar benturan yang sangat keras. Papanya terlambat melihat sebuah truk yang muncul dari tikungan depan, melaju terlalu ke tengah. Mobil yang mereka tumpangi terguling ke jurang, seketika setelah bertabrakan.

Papanya, mamanya, dan Arbo, selamat meski mengalami luka-luka. Sayangnya, Raline tidak.

Lama setelah kejadian yang mengerikan itu berlalu, papa dan mamanya mengatakan kepada Arbo, “Semua itu sudah kehendak Tuhan. Sama sekali bukan karena salahmu.”

 Namun, Arbo tahu, semua itu adalah salahnya. Raline meninggal di usia yang teramat muda, menggoreskan penyesalan abadi di hati Arbo, untuk selamanya. Tuhanku, mengapa bukan aku saja yang mati, keluh Arbo setiap teringat peristiwa itu.

***

Robert sangat gusar. Ia sedang duduk bersama para manajer bawahannya, mengelilingi sebuah meja pualam putih berkilau, di bawah cahaya lampu kristal nan elegan, di salah satu sudut restoran termewah di Kota Solo. Pemilik restoran ini adalah salah satu prime customer di kantor cabang bank yang dipimpinnya.

Robert sudah telanjur mengatakan kepada Pak Handono, pemilik restoran bernama Diamond ini, bahwa atasannya dari Semarang ingin berkunjung untuk makan malam sekaligus berkenalan. Namun, lebih dari setengah jam telah berlalu dari waktu yang telah disepakati, Pak Arbo belum datang juga.

Robert tahu kinerjanya sedang sangat payah, tetapi Pak Arbo seharusnya tidak menghukumnya dengan cara seperti ini. Robert merasa sangat dipermalukan, tetapi juga tidak berdaya.

“Jangan-jangan ini ulah Tania,” Cik Lili menggumam pelan, tetapi Robert bisa mendengarnya.

“Tania?”

“Eh, mungkin, Pak. Tetapi saya tidak begitu yakin. Tadi saya sempat melihat Pak Arbo dan Tania keluar dari banking hall bersama-sama. Setelah itu, saya tidak melihatnya lagi.”

“Astaga! Tania?” Robert ternganga.

“Coba saya telepon Tania, Pak.” Cik Lili mencoba berkali-kali melakukan panggilan telepon, tetapi Tania tidak mengangkatnya.

“Coba aku telepon Pak Arbo saja.” Robert benar-benar geram sekarang.

Hanya butuh satu dering panggilan.

“Halo, Pak Arbo, kami sedang menunggu Bapak di Diamond—Hah? Bapak di warung?  Apa? Diajak Tania?”

Sambungan telepon terputus. Wajah Robert merah padam menahan murka.

“Anak itu benar-benar kurang ajar!”

Para manajer saling pandang tak percaya. Tania?

cabaca-guritaLanjut Baca Gratis disini Download di Play Store