cover book

Bab 1

Buku: Sweetheart

Prolog

Jhooni Delbar Naveen atau yang lebih biasa dipanggil Jun adalah pria dengan status duda tanpa anak yang sedang dalam krisis teman hidup. Bukan Jun yang mengategorikan dirinya demikian, melainkan sang ibu yang gatal sekali ingin Jun segera menikah.

Kebiasaannya minum ditemani perempuan—hanya sebatas ditemani—mempertemukannya dengan Moonala.

"Ehm... Pak, eh, Om. Itu... rasanya gimana, sih?" tanya Moonala.

Awalnya, pertanyaan Moonala dia kira sebuah candaan. Hingga Jun sengaja mencondongkan tubuh dan wajah kepada perempuannya malam ini.

"Kamu nggak tahu rasanya?" bisik Jun, tetapi Moonala hanya fokus pada minuman di gelas milik Jun saja.

"Nggak, Om." Meski mulanya Jun mengernyit, tapi dia membiasakan diri. Mungkin Moonala memang suka bermain-main dengan panggilan “Om” bersama tamu yang ditemaninya.

"Kamu mau coba?" Kembali Jun berbisik.

Moonala terdiam. Dia tak yakin bisa menolerir minuman beralkohol dalam tubuhnya.

"Boleh, Om?" Moonala meminta izin.

Jun menganggukkan kepala. Membiarkan perempuan yang menemaninya itu mencoba semua yang dia mau, hingga Jun merasakan lehernya basah dan pangkal pahanya menegang. Moonala pelakunya.

"Om... Om, aku gerah!"

Sial. Baru kali ini Jun langsung memiliki keinginan memiliki perempuan yang menemaninya. Selain mantan istrinya, belum ada lagi perempuan yang bisa membuatnya berdiri dengan cepat. Namun, entah kenapa Moonala berbeda.

"Apa?"

Moonala semakin merapatkan tubuhnya pada Jun.

"Om, leher aku panas minum itu. Perut aku mual. Emang minum itu bikin asam lambung naik, ya?"

Dalam kondisi mabuk saja perempuan itu meracau dengan kalimat polosnya.

"Kamu mau belajar sama saya lagi nggak?" tanya Jun dan entah bagaimana dia menyukai gerakan tangannya mengusapi leher Moonala yang disodorkan setelah kalimat mengeluh tadi.

"Hum? Belajar apa, Om?" Sekarang Moonala menambah kadar racauannya dengan senyuman manis yang memperlihatkan giginya juga.

Oke. Jun tidak bisa menahan diri. Moonala terlalu menarik untuk hanya dijadikan teman minum saja. Kali ini dia khilaf.

***

 

Bab 1

 

Jun menatap ke arah langit-langit hotel di mana dirinya berada. Dengan gadis dalam dekapan, terasa sangat pas. Benar sekali. Sangat tepat dan tidak pernah terbayangkan oleh Jun akan semudah ini masuk dalam pesona Moonala yang membuatnya menyesal karena menjadi bajingan.

Jun tidak bisa sepenuhnya menyesal. Dia mengambil keperawanan Moonala, sekaligus menikmati tubuh gadis itu dalam kondisi mabuk. Itu jauh dari gaya Jun yang biasa.

Tangan kiri menyangga kepala Moonala, dan lengan kanannya dia gunakan untuk menutup wajah. Bukannya bisa berpikir dengan jernih, Jun malah semakin terbayang kejadian semalam. Lapis demi lapis, rintih demi rintih, bahkan desah dan geraman yang mereka bagi semalam juga begitu melekat dalam kepala dan jiwa Jun. Hingga pria itu merasakan tubuhnya sangat bugar pagi ini. Dia senang dan terpuaskan.

"Om," panggil Moonala.

Jun sukses menatap gadis itu. Dia kira akan ada adegan histeris yang Moonala lakukan, tetapi ternyata sang gadis mempertahankan posisinya dengan tatapan bingung tertuju pada Jun.

"Hm? Kamu udah bangun dari tadi?" Hanya bisa bereaksi demikian, Jun merutuki dirinya sendiri.

"Barusan," jawab Moonala. "Om... semalem kita ngapain aja?"

Pertanyaan itu akhirnya terdengar juga dari bibir Moonala.

"Selain Om ngasih izin aku minum, kita ngapain lagi?" tanya gadis itu lagi.

Ini dilema Jun yang paling besar. Menatap dan menjawab pertanyaan lugu dari gadis yang tampaknya tak sengaja terjun dalam dunia kelam ini.

"Berapa umur kamu?" tanya Jun tanpa menjawab Moonala lebih dulu.

Yang ditanya balik merunduk dan mendapati dada telanjang pria itu. Ingin mengintip dari balik selimut apakah benar-benar telanjang, atau hanya pakaian atas mereka saja yang terbuka. Namun, Jun menyentuh dagu Moonala dengan gerakan yang hangat.

"Saya tanya kamu. Berapa umur kamu?"

Moonala menggelengkan kepala. "Kata Mama Cita, aku nggak boleh bilang usiaku kalo kerja. Itu nggak profesional. Nanti gajiku bisa dipotong banyak kalo aku bilang hal pribadi ke tamu."

Jun mengetahui regulasi semacam itu. Semua orang yang dia minta dari Mama Cita adalah murni klien dan penyalur. Jika anak-anak asuhan Mama Cita membeberkan data pribadi, maka akan siap didepak dari pekerjaan ini.

"Pakai baju kamu kalo begitu. Saya akan menemui Mama Cita."

Moonala menatap bingung pada Jun. "Nggak boleh mandi dulu, Om? Kita habis ... ‘itu’, kan? Aku ngerasa lengket, Om."

Jun memejamkan matanya sesaat. Dia juga ada jadwal kerja jam sebelas nanti. Semua urusan berhubungan dengan Moonala dan penyalurnya harus dilakukan dengan cepat.

"Kamu keberatan kalo kita pakai kamar mandi berdua? Saya juga harus buru-buru mandi."

Wajah Moonala bersemu, tapi tidak ada anggukan maupun gelengan dari gadis yang sudah tak ‘gadis’ lagi karena Jun itu.

"Hei! Kasih saya jawabannya, cepat. Mau atau nggak?"

Moonala menggigit bibir bawahnya ragu, sedangkan Jun yang merasa terlalu lama menunggu akhirnya berdiri dengan telanjang dan membuat Moonala terpekik, "Ommm! Itunya kelihatan!"

Tanpa menghiraukan ucapan Moonala, pria itu menggendong tubuh sang gadis dan membuat mereka mandi di kamar mandi yang sama. Berdua.

***

Setelah adegan memalukan yang keduanya lakukan, kini mereka sudah sampai di kantor Mama Cita. Wajah Jun yang berubah menjadi lebih garang membuat Moonala tak berani mendekat. Gadis itu memilih diam saja tanpa banyak bicara. Dia merasa sudah melakukan kesalahan dengan mengatakan usianya pada Jun saat di kamar mandi hotel tadi.

Jun masuk tanpa permisi. Penjaga di depan sudah tahu wajah langganan Mama Cita itu, terlebih lagi dengan keberadaan Si Anak Bawang yang berada di belakang tubuh tinggi Jun.

"Ke mana itu bocah, sih?! Lo nggak cari dengan bener, ya?! Masa kabur gitu aja?!" Mama Cita tampaknya sedang sibuk mencari Moonala melalui sambungan telepon.

Wanita bertubuh besar itu membelakangi mereka dan baru menghentikan ocehannya begitu anak buah yang menjaga di depan pintu tadi membisikkannya sesuatu.

"Bos? Tumben sampe ke sini segala? Bos pasti butuh sesuatu yang mendesak, kan?" Lalu Mama Cita melirik Moonala yang tetap berdiri di belakang tubuh Jun. Diam-diam mengeratkan pegangan pada jas pria itu.

"Ah, ini pasti soal Lala, ya? Bos saya minta maaf karena nggak bisa didik Lala jadi—“

"Dia masih Sembilan belas tahun, kan? Kamu berani kasih saya gadis yang masih belum tahu apa-apa!" Jun meradang.

"Maaf, Bos. Cuma bos yang kita rasa suka sama bocah ini. Dia bisa disuruh banyak belajar, Bos. Sesuai kebiasaan Bos yang nggak suka main lebih, anak ini bisa nemenin bos—“

"Saya suka ditemani, tapi bukan jadi bahan percobaan kamu! Uang yang saya bayar ke kamu itu nggak sedikit!" Jun menaikkan nada bicaranya.

"Bos saya akan mengganti rugi setengahnya—“ Mama Cita memelas.

"Nggak perlu!" tolak Jun cepat. "Saya nggak perlu ganti rugi, saya akan kasih yang lebih besar."

Mama Cita melongo. Mana ada klien yang marah dan merasa dibohongi malah membayar lebih mahal?

"Maksudnya, Bos?" tanya wanita itu ragu.

Jun sudah memikirkan hal ini dengan sangat matang. Tadi malam dia mendapatkan segala pelepasan yang selama ini dirinya tahan. Bahkan semalam bayangan wajah mantan istrinya juga hilang. Dia bersama gadis itu, dan tidak membayangkan si gadis dengan wajah mantan istrinya.

Namun tadi pagi, saat Lala mengaku usianya masih 19 tahun Jun merasa menyesal. Dia sama sekali tak menduga bahwa Moonala semuda itu. Menurut perkiraan Jun usia Moonala mungkin sudah kepala dua. Sebab riasan yang digunakan memang menunjukkan Moonala sudah lebih dewasa dari usianya.

Jadi, Jun akan memutuskan hal besar ini sebagai salah satu cara menebus kesalahannya yang sudah mengambil kesucian Moonala.

"Saya mau dia jadi milik saya."

Pernyataan itu tidak langsung mendapatkan lampu hijau dari Mama Cita. Menimbang uang yang bisa didapatkan dari gadis belia itu jauh lebih besar jika Moonala bekerja di sana untuk beberapa kliennya yang lain.

Jun tak ingin membayangkan Moonala diraba-raba oleh pria lain. Jun akan membuat Moonala berada di sisinya.

"Ini nggak semudah yang bos kira—“

"Kirimkan nominalnya ke asisten saya, dia akan ke sini untuk membayarkannya. Saya kasih bonus kalau kamu bisa jaga rahasia ini. Anggap gadis ini nggak pernah bekerja di tempatmu, hapus semuanya dan saya akan memberikan nominal yang kamu mau."

Jun hanya perlu menunggu jawaban 'ya' dari mulut Mama Cita. Jun tahu wanita itu bisa dipercaya. Oleh sebab itu bisnisnya bisa berjalan dengan baik.

"Oke. Ambil saja dia, lagi pula dia masih tidak berpengalaman. Tapi saya mau bayarannya besar."

"Itu urusan asisten saya. Katakan semuanya dan selesai. Kalo ada info yang kamu bocorkan, saya punya kenalan yang punya kartu As-mu."

Mama Cita mengangkat tangan. "Tidak akan pernah. Janji adalah janji. Tenang saja, Bos."

***

Dalam genggaman Jun, Moonala merasa baik-baik saja. Sekalipun dunianya sudah berantakan karena pria itu. Pun tidak ada yang Moonala patut sesali karena keperawanannya yang hilang. Semua berjalan ke arah yang lebih baik.

"Om beli aku?" tanya Moonala langsung.

Tidak ada kata pengantar yang bisa membuat Jun menyesuaikan diri.

"Kenapa? Kamu nggak suka saya beli dari Mama Cita?" Jun balik bertanya.

"Aku, kan, tanya sama Om. Kenapa Om malah balik nanya aku?"

Jun hanya bisa membatin, apa maunya anak ini?

"Om? Kok malah bengong?" Moonala menegur.

Berdecak. Jun segera mengambil ponsel dari dashboard mobil dan menghubungi seseorang yang tidak Moonala ketahui.

Gadis itu memilih menunggu sambil mengarahkan tatapan polosnya pada Jun.  Bukan apa-apa. Fokusn Moonala pada pria itu membawa sensasi lain pada diri Jun. Ada getaran yang membuat perut hingga ulu hatinya seperti lepas dari tempatnya. Sensasi itu sudah Jun rasakan semenjak Moonala mabuk dan menatapi Jun. Tatapan itu yang membuat Jun khilaf semalam. Kalau sudah begini, apa Jun harus khilaf untuk kedua kalinya karena tatapan polos Moonala tersebut?

"Apa kamu nggak punya kegiatan lain selain ngelihatin saya?" tegur Jun.

Moonala yang mengira Jun bicara pada seseorang di telepon tetap diam.

"Lala!" Jun menyerukan nama samaran gadis itu.

"Hm? Om kenapa manggil aku?" tanya gadis itu kebingungan.

"Iya! Soalnya kamu nggak jawab pertanyaan saya tadi."

"Yang mana, Om?"

Jun menepuk kening. Ini melelahkan tapi bisa mengalihkan Jun dari keinginannya yang lain.

"Kamu nggak ada kerjaan lain selain ngelihatin saya?" Jun mengulang pertanyaannya.

Sontak saja Moonala merasa tak enak hati. "Aku ganggu Om, ya? Maaf, Om. Aku lihatin yang lain kalo gitu."

Beringsut menggeser posisi nyamannya, Moonala menghadap ke arah jendela dan memberikan ruang pada Jun yang tak ingin dilihat oleh Moonala.

Jun pada akhirnya bisa memfokuskan diri untuk menghubungi asistennya. Memberikan perintah dan segala informasi secara singkat tanpa menyinggung Moonala yang akan dibawa ke rumah pria itu.

***

Moonala terlihat biasa saja mendapati rumah Jun. Gadis itu tidak terlihat asing dengan kekayaan yang Jun miliki. Bahkan Moonala secara alamiah membiarkan sepatunya menginjak lantai berkarpet di rumah pria itu tanpa takut. Tidak seperti para pembantu yang baru pertama kali bekerja di sana.

"Om apa ada kamar yang punya jacuzzi?" tanya Moonala ringan.

"Ada. Kenapa?"

"Aku mau pinjam, boleh? Dulu kalo aku capek banget aku….”

"Kamu apa? Kenapa nggak dilanjutkan ucapan kamu?"

Moonala menggelengkan kepala terlalu cepat. Dia tidak mau menjawab Jun dengan jujur. Sudah pasti ada yang ditutupi oleh gadis itu. Namun, Jun tidak mau terlalu ambil pusing.

Jun memajukan tubuhnya. Merapatkan diri pada gadis itu sehingga membuat Moonala gugup.

"Om…."

"Saya bawa kamu dari Mama Cita bukan dengan gratis. Kamu harus membayarnya, Lala."

"Om, sebenernya aku nggak suka dipanggil Lala. Itu bukan nama aku.," Moonala mencicit. Tidak bisa mendongak menatap Jun.

"Lalu kamu mau dipanggil apa?" Sial, Moonala selalu bisa mengalihkan pembicaraan dengan caranya sendiri.

"Ola. Nama asli aku Moonala."

Jun mengernyit. Dia sepertinya pernah mendengar nama ini. Tetapi di mana?

Jun tidak ingin terdistraksi dengan perkataan gadis itu.

"Oke, Ola. Sekarang saya mau kamu tahu sesuatu."

Moonala menganggukkan kepala fasih.

"Ola, saya membeli kamu dan melepaskan kamu dari tempat itu supaya kamu aman. Tapi di luar semua itu, saya ingin kamu bersedia melakukan sesuatu bersama saya."

Moonala menahan dada Jun yang semakin merapat padanya. Lama-lama gadis itu justru berpegangan di dada pria itu. Matanya melirik pada bagian bawah milik Jun. Ola pernah melihatnya, bahkan dia yakin saat dimandikan oleh pria itu tadi pagi juga sempat menyentuh kulit punggungnya beberapa kali. Sayang saja yang semalam tidak teringat oleh Ola sama sekali.

"Ola, saya mau kamu menjadi milik saya. Saya mau kamu resmi menjadi bagian dari hidup saya. Apa kamu mau?"

Ola mengernyit tak paham. "Om ... maksudnya Om apa, sih? Aku nggak paham."

"Kamu sudah saya beli dan saya ingin menikahi kamu."

"Om mau nikah sama aku?" Jun mengangguk. "Aku nggak mau, Om!" tolak Moonala tegas.

Jun sontak saja tertegun. Dia sama sekali tidak mengerti dengan penolakan Moonala yang begitu cepat.

"Kenapa?" Egonya jelas terluka.

"Aku ... aku, kan masih muda banget.”

"Ola! Kenapa kamu selugu ini?" komentar Jun.

"Om ... aku beneran nggak tahu kalau semua ini ada konsekuensinya. Kalau mama sama papa masih hidup, aku juga nggak bakal kayak gini." Moonala menciut.

Jun kembali menawarkan kesepakatan, "Sekarang gini aja, kamu mau menikah sama saya untuk tinggal dengan aman bersama saya atau kamu mau hidup bebas dan saya biarkan kamu nggak aman di luar sana?"

Jun ingin Moonala tidak mengacaukan rencananya. Sebab Jun tak ingin mengambil keuntungan pada diri Ola tanpa memberikannya status. Menjadikan Ola sebagai wanita simpanan bukanlah gaya Jun.

"Om... aku serius. Jangan nikahin aku, Om. Aku itu cuma pembawa masalah." Ucapan itu jujur. Jun juga tahu bahwa Moonala tidak hanya menjadikannya sekadar alasan semata, melainkan ada yang tersirat dari ucapan Moonala.

Ingin rasanya Jun langsung menanyakan hal apa yang gadis itu sembunyikan darinya. Namun, Jun merasa Moonala belum siap membuka diri.

"Kamu akan semakin membawa masalah buat saya, jika kamu tinggal bersama saya tapi nggak memiliki status yang jelas. Kamu akan dicap sebagai perempuan nggak benar karena tinggal dengan pria tanpa jelas tujuan dan maksudnya." Jun berpura-pura menghela napas dengan keras. "Kalo kamu memang nggak mau. Saya akan biarkan kamu di luaran sana dan kita nggak perlu---"

Jun terkejut karena Moonala langsung menggenggam tangannya dengan erat. "Jangan, Om! Aku nggak mau lagi cari kerjaan dan ikut orang yang nggak aku kenal. Aku... takut sendirian."

"Saya orang asing, Ola. Harusnya kamu takut karena ikut dengan orang yang nggak kamu kenal."

Gadis itu menggelengkan kepala kuat-kuat. Jun melihat air mata yang berjatuhan dari gerakan tersebut.

"Om orang baik, aku tahu Om orang baik. Aku mau sama Om aja. Aku nggak mau di luar sana lagi, Om!"

"Kalo kamu nggak mau sendirian di luar sana, maka terima saya menjadi suami kamu. Dengan menerima saya, maka segalanya akan saya berikan untuk kamu agar selalu aman dan nyaman bersama saya, Ola."

Jun tersenyum. Dengan kehadiran Moonala, kelak ibu Jun tidak berisik lagi mengenai pasangannya.

***

cabaca-guritaLanjut Baca Gratis disini Download di Play Store