cover landing

Semestinya Tak Begini

By EvaWidya


Titik-titik hujan di luar sana terlihat seperti tirai lembut yang sesekali menari ke sana ke mari diempaskan oleh angin. Begitu angin berhenti menggoda, rintiknya kembali lurus, tajam menjatuhi bumi sebelum akhirnya berkumpul dalam bentuk genangan.

Maaf, Ni. Aku cuma ingin punya anak. Cuma ingin mamaku bahagia. Ingin membalas jasa-jasa beliau buatku, Ni.

Sejak tadi ia tiba di sini hingga tiga setengah jam kemudian, hujan tampak masih belum jera. Walau begitu, intensitasnya kini mulai berkurang. Badai yang tadi mengamuk sembari menumpahkan air dengan derasnya dari langit, kini hanya menyisakan tetes-tetes yang kerap, namun pelan.

Tapi, apakah kamu perlu mengorbankanku sebegitu mudahnya hanya supaya mama kamu bahagia? Aku tahu dari awal mama kamu nggak pernah suka sama aku. Terutama waktu dia tahu kalau aku pernah berpose untuk majalah dewasa.

Di balik lindungan kaca kafe, tak ada aroma kental petrikor yang tercium olehnya. Hanya saja, rintik di luar sana membuat sendu semakin menjadi. Membuat benaknya yang berusaha ia larikan ke tempat lain kembali memutar segala percakapan yang pernah terjadi di antara dirinya dan Rian kemarin malam.

Bukannya kamu bilang nggak apa-apa kalau kita nggak cepat-cepat punya anak?

Memang nggak apa-apa. Tapi masalahnya, kita bahkan nggak ada harapan ke arah sana, Ni.

Sampai di sana Ada tak mampu menjawab karena tanpa diucapkan pun, ia dan Rian sama-sama tahu bahwa ucapan pria itu ada benarnya. Alasan apa pun bisa ia keluarkan, bisa ia gunakan untuk membantah pembenaran Rian akan apa yang terjadi. Namun sayangnya, semua bantahan tersebut dapat dengan mudah dipatahkan hanya dengan satu alasan yang begitu kuat.

Tapi kenapa Andien? Kenapa? Kenapa pula harus di belakangku? Apa yang kamu pikirkan, Rian?

Diliriknya cangkir keramik bergaya minimalis yang terletak di depannya. Isinya kosong, menyisakan ampas halus di bagian dasarnya. Kopinya sudah tamat sejak beberapa waktu lalu dan pelayan sudah bolak-balik mengunjungi mejanya yang terletak di pojok ujung ruangan. Wajah-wajah mereka yang semula ramah saat ia datang tadi pun sudah berubah menjadi sinis. Sesekali Ada bahkan mendapati beberapa pasang mata itu mengamatinya, membicarakan perilakunya yang tak jelas—berjam-jam duduk di kafe bertemankan sebuah buku seperti agenda bersampul kulit, sekotak cat air, dan sebotol kecil air yang sudah keruh warnanya. Beberapa pensil dan pena sketsa bergelimpangan di meja kayu mahoni berpelitur mengilap itu. Dan terutama matanya yang bengkak parah. Berikut tangan yang sesekali mengusap kasar pipi.

Tak lama, seperti yang Ada duga, seorang pelayan kembali menghampirinya dan mengulangi pertanyaan yang sama dalam interval waktu 30 menit: “Mau pesan yang lainnya lagi, Kak?”

Senyumnya bahkan tak hinggap hingga ke matanya. Selain tentunya panggilan ‘Kak’ yang terdengar sama sekali tak tulus di telinga Ada yang tajam. Namun, ia tak lagi punya tenaga untuk berdebat lebih panjang. Demi menghindari masalah dan agar tak diusir secepatnya, Ada memutuskan untuk mengalah.

“Satu air mineral aja, Mbak.”

Sebotol air mineral harganya tak seberapa. Jika tidak habis diminum bisa ia bawa untuk minum nanti di hotel. Dengan pandangan yang agak mencemooh, si pelayan itu mengangguk dan akhirnya beranjak dari hadapannya.

Pelayan yang datang pada awal-awal dirinya tiba di sini tampak jauh lebih ramah. Mereka tampak berhati-hati sekaligus penasaran demi melihat mata Ada yang bengkak dan merah. Pandangan mereka menelusuri penampilannya yang tak karuan dan berkeringat. Menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi pada pelanggan ini. Menduga-duga apakah pelanggan ini berbahaya sehingga harus diusir atau dibiarkan saja sementara waktu.

Entahlah, Ni. Maafkan aku.

Hanya itu jawaban yang mampu diberikan oleh Rian. Jawaban final yang memutuskan segalanya. Menghancurkan bahtera yang sudah susah payah mereka bangun selama 7 tahun belakangan ini, namun begitu saja diempaskan hanya dalam hitungan hari.

Demi menyamarkan kekacauan itu, dipakainyalah kacamata minus 0,5 murah yang pernah dibelinya di penjaja pinggir jalan untuk sekadar bergaya. Dilapnya wajah dengan tisu basah dan digulungnya rambut panjang awut-awutan itu di belakang kepala. Namun, begitu menoleh ke samping, bayangan dirinya samar-samar terpantul di sana. Sadarlah Ada bahwa apa yang dilakukannya tak akan banyak mengubah keadaan. Ia kacau sekacau-kacaunya. Ia buruk rupa. Matanya nyaris hanya tinggal segaris di balik bingkai plastik murahan itu. Pipinya tembam, dagunya bertingkat dua menyatu dengan lehernya. Lengannya besar sekali. Lebih besar daripada yang diingat Ada. Belum lagi beberapa jerawat menjijikkan yang tampak merah bulat di dahinya. Tak ada hal menarik apa pun yang bisa ia dapatkan dari dirinya. Menekankan sekali lagi bahwa ia memang pantas untuk ditinggalkan.

Dikembalikannya pandang ke buku sketsanya yang penuh dengan coretan. Coretan-coretan yang lagi-lagi mengingatkan bahwa ia adalah manusia pecundang dalam segala hal.

Wah, maaf Mbak. Sketsa seperti ini peminatnya memang kurang…

Buku anak semacam ini kurang populer, Mbak. Mbak, kan, tahu sendiri daya beli masyarakat kita. Jangankan buku anak, beli susu pun susah..

Segala sesuatu yang tertangkap matanya seolah hanya menegaskan kegagalannya. Ada gagal mengalihkan pikiran pada gambar-gambarnya. Gambar-gambar yang biasanya mampu membantunya terbang ke dunia lain. Dunia yang bukan miliknya. Dunia di mana Ada yang tak berguna tinggal.

Sudahlah, Ni. Buat apa kamu buang waktu untuk gambar-gambar begini. Nulis-nulis nggak jelas. Mending kamu belajar masak, belajar urus suami, perbanyak ibadah supaya dosa-dosa kamu diampuni.

Sekarang ia tak perlu lagi belajar masak karena ada Andien yang akan memasakkan semua hidangan untuk Rian.

Mengingat hal itu, dadanya kembali sesak. Ia kembali tercekik. Dengan susah payah ditelannya liur yang kini terasa sekental getah. Ia tak ingin lagi menangis untuk manusia keparat itu karena kepalanya sudah pening berat dan tubuhnya lemas. Tetapi, sulit untuk tidak melakukannya karena di tengah keramaian seperti ini, di bawah iringan musik yang mengalun melalui pengeras suara di seantero kafe, rasa kesepian itu semakin merengkuhnya dengan erat. Di antara para pengunjung lain yang sibuk bercengkrama, Ada seperti berada di dalam ruang terpisah. Seperti penonton tunggal yang mengamati keramaian itu dari sebuah lubang kecil.

Dicelupkannya kuas ke dalam tabung gelas plastik bekas minuman itu beberapa kali agar sisa cat yang menempel tadi bersih, lalu dicocolnya sedikit cat berwarna biru tua sebelum akhirnya ia sapukan berkali-kali warna gelap itu di atas buku sketsanya. Dibiarkannya air yang tertinggal di ujung kuas meleleh di atas kertas tebal itu, melumerkan warna biru tua yang perlahan menghalus menjadi muda dengan peralihan yang tak kentara.

Ada melukis dan terus melukis dengan tangan gemetar sembari benaknya memutarkan percakapan-percakapan dan potongan-potongan kalimat yang tak berhubungan.

Sama seperti hujan badai yang kini telah mereda, api kemarahan yang tadi berkobar dahsyat di dadanya kini perlahan meredup, terguyur oleh emosi lain yang tak kalah buruknya - kekecewaan, ketidakpercayaan, frustrasi. Ingin rasanya ia merenggut organ di dalam tubuhnya, berpikir dengan begitu rasa sesak ini juga akan turut lenyap bersamaan dengan lepasnya organ itu.

Herannya, terlepas dari segala rasa sakit itu, benih harapan masih belum hancur juga di dalam hatinya. Tangan yang masih gemetar itu berhenti sejenak sementara matanya sekali lagi melirik ponsel untuk yang kesekian kalinya. Berharap akan menemukan satu pesan lain masuk berisi permohonan maaf. Atau mungkin berisi ucapan lain yang akan mengoreksi keputusan yang tadi didengarnya dari mulut Rian langsung. Sayangnya, layar ponsel itu mengkhianatinya.

Tak ada pesan lain.

Pesan terakhir masuk dua setengah jam lalu. Isinya singkat:

Kita perlu bicara. Biar bagaimanapun, kamu masih istriku.       

Sesekali pula dipandanginya tempat parkiran yang basah, menunggu tanda-tanda kehadiran Toyota Innova hitam dengan plat nomor B 1043 PJ.

Namun, hingga senja menua dan semburatnya yang tadi berwarna jingga manyala kini berangsur-angsur menjadi biru tua yang gelap, tetap tak ada tanda-tanda kehadiran suaminya. Tak jauh dari sana suara azan mulai berkumandang dari pengeras suara masjid. Sesekali tertangkap oleh matanya pria-pria bersarung yang berjalan menuju ke sumber suara. Pemandangan yang mau tak mau kembali melayangkan pikirannya pada Rian. Pria itu biasanya pergi ke masjid saban Magrib untuk salat berjamaah. Begitu bayangan wajah suaminya kembali bertandang, jantungnya kembali terasa seperti diremas-remas. Hatinya kembali seperti ditusuk oleh bilah tajam sebelum gelombang emosi yang campur aduk bergulung-gulung menelannya sekaligus.

Ia begitu marah pada keputusan Rian. Kecewa pada perlakuan Andien dan Rian. Merasa begitu frustrasi dan tak berdaya karena tak ada banyak hal yang mampu dilakukannya demi mengubah situasi. Namun, yang terburuk dari semuanya adalah rasa tak berharga yang dirasakannya, yang sebenarnya sudah lama menggerogotinya hanya saja intensitasnya kini berkali-kali lipat. Layaknya benda, ia yang sudah tak lagi bermanfaat kini digantikan dengan yang lebih bagus, lebih anyar, dan lebih berguna.

Sedangkal dan seremeh itukah bahtera rumah tangga yang mereka jalani selama 7 tahun terakhir ini? Serendah itukah nilai Ada di matanya? Ada yang tak lebih dari barang yang bisa diganti saat sudah tak lagi beroperasi. Saat ternyata ditemukan kecacatan di dalamnya.

Dikerjapkannya mata beberapa kali saat rasa terbakar itu kembali hadir. Dipaksanya otaknya, yang kini perlahan namun pasti memutar pembicaraan tadi pagi, untuk berkonsentrasi mendengarkan lagu yang diputar di kafe. Lagu ... entahlah, ia tak ingat siapa penyanyinya. Padahal, ia sering memutarnya untuk teman menggosok pakaian. Tetapi sekarang konsentrasinya benar-benar pecah digantikan oleh suara-suara. Suara-suara yang kini kembali.

Sekarang, keputusan ada di tangan kamu. Andien sudah kunikahi, dan kita tidak perlu bercerai andaikata kamu setuju dengan apa yang kutawarkan.”

Mereka berdua duduk berjauhan. Rian duduk di sisi tempat tidur lain yang berseberangan dengan Ada. Seolah-olah ia memang sengaja tak ingin berdekat-dekatan dengan Ada, menghindari perempuan itu sebisa yang mungkin dilakukannya.

“Aku nggak mau jadi dimadu. Kamu pasti sibuk sama istri keduamu. Aku mau kamu menceraikan dia.”

Ia bahkan tak sudi menyebutkan nama perempuan yang ia kira adalah sahabatnya.

Terdengar helaan napas panjang dari balik punggungnya. “Nggak bisa, Ni. Andien kepalang hamil. Lagi pula, aku menikahi Andien bukan hanya karena aku menginginkan anak.”

Andien hamil, sedangkan dirinya tidak. Jadi, bukankah sudah jelas bahwa yang hamil yang harus diprioritaskan seperti di angkutan umum dan tempat-tempat lain. Yang tidak hamil dan tidak bisa hamil akan dijadikan nomor sekian.

Ada mendenguskan tawa dingin. “Kamu jatuh cinta sama Andien?”

Rian tak menjawab, yang mana artinya sudah dapat diterjemahkan Ada dengan begitu mudah.

“Maafkan aku, Ni.”

“Setelah semua yang aku lakukan, setelah semua yang kita jalani bersama, kamu buang aku begitu aja?”

Ada tak mengerti mengapa seseorang sebegitu inginnya memiliki anak hingga sanggup menyakiti orang lain demi menggapai keinginannya itu. Memangnya, apa yang akan ia lakukan dengan anak itu? Dipajang? Disuruh mencari uang? Untuk tumpuan hari tua? Ada lebih memilih untuk hidup sendiri daripada menghasilkan manusia lain hanya demi kepentingannya semata. Sama seperti apa yang dilakukan oleh ibunya kepadanya dahulu. Namun, Rian dan juga banyak orang lainnya punya pemikiran berbeda. Mereka semua normal dan Ada tidak.

Semua perempuan itu punya rahim dan dirinya tidak.

“Aku nggak membuang kamu, Ni. Aku masih akan tetap menjenguk kamu.”

Jenguk? Sejak kapan dirinya menjadi pesakitan?

“Lebih baik kita bicara lagi nanti. Sekarang aku harus pergi ke rumah sakit.”

Tanpa menoleh pun, Ada tahu kini Rian bangkit dari posisi duduknya karena tak lama kemudian suara pintu ditutup pun terdengar membahana di seluruh ruang kamar yang kini terasa bagai neraka itu.

Lalu, ia pun mengemas pakaiannya. Ia begitu ingin pergi dari sini, entah untuk beberapa lama. Mungkin 1, mungkin 2, mungkin 3 hari untuk mendinginkan kepala. Ia begitu ingin menjauh dari tempat ini karena rasanya semakin sesak. Dan bahkan ibu mertuanya pun tak mencegahnya untuk pergi. Perempuan yang sejak awal tak menyetujui hubungan mereka kini seolah berteriak kencang-kencang di telinga Ada: ‘Sudah kubilang apa’

***

“Mbak, maaf. Bangku ini sudah dipesan untuk jam 7 nanti,” sebuah suara lain merenggutnya kembali ke alam nyata. Menarik pandangannya pada sumber suara yang kini berdiri di hadapan. Pantas saja ia begitu lama mengambilkan pesanan sesederhana itu, rupanya mungkin ia berdiskusi dengan rekan-rekannya mengenai tindakan apa yang harus diambilnya untuk pelanggan tak tahu diri ini.

“Ada bangku lain, Mas?”

“Penuh, Mbak. Sudah dipesan juga yang lain.”

Ada tahu bahwa ini hanyalah akal-akalan mereka yang mengira dirinya bisa dibodohi. Mana ada sistem booking di kedai kopi kecil macam ini? Walaupun merasa sedikit kesal, pada akhirnya Ada mengangguk. Dikeluarkannya lembaran uang sepuluh ribuan dari dompet dan ditaruhnya di atas meja. Sementara pelayan itu mengambilkan kembalian, ia memasukkan barang-barang bawaannya yang tadi berserakan di meja, menyurukkannya begitu saja ke dalam ransel. Ransel sama yang dijejalinya beberapa potong pakaian untuk malam ini dan seterusnya. Sembari masih berharap bahwa ia tak akan perlu mengenakannya dan bisa kembali ke rumah.

“Maaf, ya, Mas, saya kelamaan nongkrongnya di sini,” ujar Ada seraya bangkit dari duduknya dan mengantongi uang kembaliannya. Niatnya tulus. Ia memang ingin berterima kasih, tetapi entah bagaimana si pelayan tampak agak salah tingkah karena mungkin ucapannya memang sedikit ambigu dan sarkastis.

Begitu keluar dari lindungan kafe kecil berdinding kaca itu, Ada merasa benar-benar telanjang. Ke mana ia harus pergi malam ini?