cover book

Bab 1

Buku: Saviora

RULY

           

Kalau ada yang bertanya, apa yang membuat saya memilih menetap di Bumi Anging Mamiri, jawabannya hanya dua: Elvira dan Pantai Losari. Menyusuri jalanan di salah satu ikon kota ini membangkitkan kenangan tersendiri.

Dulu sekali, ini menjadi tempat pertama yang saya kunjungi dengan Elvira. Saya belum punya kendaraan saat itu tetapi, dia senang naik-turun angkutan umum yang kemudian kami lanjutkan dengan berjalan kaki, katanya asal bersama. Dulu saya terawa karena tersanjung, sekarang saya tertawa sambil mencibir. Kalau ada yang bilang laki-laki adalah buaya darat, saya mengatakan sebaliknya. Perempuan hanya setia pada laki-laki berduit.

"Pisang Epe-ta se're, Daeng.” Meski terdengar aneh, bapak tua yang ada di balik gerobak hijau itu mengangguk. Lima tahun beralih KTP membuat saya sedikit mengerti bahasa lokal. 

Debur ombak menerpa tembok pembatas, angin Februari terasa lebih dingin daripada biasanya. Embusannya terkadang diikuti rinai hujan. Langit kelabu dengan gumpalan awan kumulonimbus berarak-arakan pelan.

"Antamaki rawa tendaiyya, Daeng. Bosi sallang sinampe.” Lelaki tua itu menyiapkan pesanan saya di meja panjang, kuliner pisang yang dibakar kemudian digeprek lalu dilumuri gula aren, kuahnya kadang bercampur durian. "Riolo tenapa anjungang." Bapak tua itu menunjuk dari Utara ke Selatan, ke area yang diberi nama anjungan Mandar-Toraja, Losari dan anjungan Bugis Makassar.

Saya mengangguk, Elvira pun banyak bercerita tentang resto kaki lima yang dulu ada di sepanjang garis pantai. Mata ini terpaku tepat di tengah lahan yang dulu diceritakan Elvira. Sekarang tergantikan dengan ruang publik yang ramai dikunjungi warga. Beberapa pasangan berswafoto dengan latar patung yang menggambarkan kekayaan budaya lokal. Ada yang sampai memanjat patung kerbau dan becak demi mendapatkan hasil yang memuaskan. Keluarga muda memilih duduk di area yang lebih lapang di mana patung pejuang dan rumah adat dipajang.

Namun, sebagian besar pengunjung tampak bercengkerama di area tembok batu berbentuk huruf bertuliskan nama empat suku besar di Makassar. Sekadar menyaksikan keindahan matahari terbenam, merasakan embusan angin laut, atau menonton beragam festival serta pameran yang digelar.

Sekarang, dermaga tua di ujung Selatan Pantai Losari sudah hilang, tak ada lagi bocah-bocah bertelanjang dada yang melakukan atraksi berloncatan ke laut. Pemandangan itu kini berganti dengan kehadiran masjid terapung Amirul Mukminin yang selalu sarat pengunjung. Elvira yang kuingat seperti seorang marketing, menjelaskan dengan berapi-api sampai meramalkan harganya pasti akan melambung tajam. Ramalannya terbukti. Penuh semangat dia mengatakan harapan untuk memiliki satu kavling lahan dengan sea view.

Yang saya lakukan saat itu hanya mengangguk tanpa ada keinginan menanggapi. Gila apa? Rumah tinggal yang berbatasan dengan laut? Apa orang-orang kaya Makassar tidak ingat saat tsunami meluluhlantakkan Aceh?

Kosong.

Mungkin seperti itulah kata yang yang bisa disematkan untuk menggambarkan apa yang saya rasakan sekarang. Tangan ini sampai bergetar memegang kartu soft cover berwarna jingga, menelisik untaian kata demi kata yang ditorehkan dengan tinta emas.

Seminggu lagi. Dua kata itu tercetak di mata saat pandangan ini terhenti di satu titik, menembus langit-langit kepala, meranggas ke otak lalu menjalar sampai ke dada, menghimpit paru-paru meninggalkan sesak.

Rasanya sakit, ya Tuhan.

Elvira benar-benar telah meninggalkan saya di tempat yang sama pertama kami jalan berdua.

"Apakah ini sudah keputusanta? Kamu ingin pergi dan mengakhiri?" Pertanyaan itu berharap jawaban yang tidak ingin saya dengar.

"Dia bisa memberi apa saja yang saya mau, Rul. Maafkanka.”

Seharusnya saya tidak perlu bertanya, cukup mengiakan keinginannya. Namun, terlambat untuk menarik ulang kata yang telah terucap. Status sosial memang terkadang mengubah segalanya. Membalikkan keadaan seseorang yang dulu mencinta sekarang berubah jadi membenci.

"Saya akan memberikan apa pun yang kamu minta, Ra." Saya menarik kedua tangannya, mengambilnya ke dalam genggaman erat yang memilukan. Sumpah! saya tidak ingin melepasnya.

"Kapan? Menunggu rambut kita sama memutih?" Dia mendengkus kasar, berusaha melepas jemari yang saya tautkan.

"Bersabarlah, Ra. Saya sedang mengusahakannya. Tolong, kasih saya waktu untuk membuktikannya sama kamu." Saya mendesah lirih, melepaskan jemari yang ditariknya tanpa henti. Tangan ini perlahan terangkat menyentuh pipinya, menatap jauh ke dalam manik hitam kelam itu, mencari sesuatu yang dapat dijadikan alasan untuk tetap berada di sampingnya.

Dia menghela napas panjang. "Rul, saya bukan orang yang sabar. Kamu tahu itu!" Elvira menarik tangan yang masih menangkup pipinya. Dia menghempaskannya seakan tidak ingin ada kuman yang menempel padanya. "Tiga tahun Rul! Itu sudah cukup buat saya nunggu."

Saya diam. Iya, dia benar. Selama ini tidak ada kejelasan yang bisa dia raih dari hubungan ini. Elvira sudah berkali-kali menginginkan pernikahan kami dilangsungkan dengan konsep yang dia tentukan. Rancangan pernikahan yang dia impikan dan ... saya menabung seumur hidup pun mungkin tidak akan mampu membiayainya.

Ah, saya ini! Hari bahkan telah berganti bulan tetapi hati dan pikiran ini masih tertuju pada wanita yang sama. Sungguh, saya menyesal tidak bisa menjadi satu-satunya pria yang dia harapkan membuatnya bahagia. Saya mengutuk diri sendiri untuk segala keterbatasan dan ketidakberdayaan hingga Elvira pergi setelah memberikan harapan untuk selalu bersama.

Saat pertama kali menjejakkan kaki di Makassar dan bertemu dengannya, saya tahu kalau saat itu hati ini sudah dia curi. Dua tahun dia gunakan untuk meyakinkan jika status sosial bisa kami atasi. Saya terlalu bahagia saat itu, saat menyadari telah jatuh cinta dan tidak bertepuk sebelah tangan, pasti akan sama. Melupakan semua rasio dan akal sehat.

Tiga tahun setelahnya, yang saya lakukan hanyalah mencinta dengan segala kesia-siaan. Lima tahun bersamanya harusnya saya sadar dia adalah sesuatu yang tidak bisa direngkuh.

Andai saya tahu dia akan menyerah, saya tidak akan sampai ke titik ini. Saya sadar diri dengan perbedaan berjarak bumi dan langit. Metafora yang selalu diri ini tepis selama bersamanya. Saya menghela napas panjang menikmati segala keterpurukan yang terasa sekarang. Ah, Elvira, kenapa menyerah di tahun kelima kita bersama? Kenapa itu tidak kamu lakukan sejak dulu? Saya mungkin tidak akan sesakit ini?

***

Di kantor, siksaan itu semakin parah. Perlahan, saya menoleh ke kiri, mencari sosok yang dulu setia menemani. Wanita sipit berparas sendu itu tidak ada. Kursi Elvira kosong, harusnya saya ingat dia sudah cuti sejak seminggu yang lalu, dia pasti dipingit tidak boleh ke mana-mana, cukup menjalankan ritual supaya tampil cantik di pesta pernikahannya nanti.

Entah mengapa kepala ini lebih memilih kompak dengan hati. Mata ini mengukur setiap inci meja Elvira mencari setitik asa yang mungkin ditinggalkan wanita itu. Namun, kembali perih mengiris saat menyadari telah berada di ujung kemustahilan. Tidak ada, yang tersisa hanya berbagai tumpukan kertas dan beberapa kotak hadiah tersusun di atas meja. Bahkan foto diri ini bersamanya telah dia ganti dengan sosok lain.

Saya pun mengalihkan pandangan menembus jauh jendela di samping meja Elvira. Tanpa sadar kaki ini beranjak bersentuhan dengan dindingnya. Selat Makassar tampak sejajar dengan kaki nirwana di ufuk Barat. Di atasnya kapal-kapal kargo diam mengapung menanti pelabuhan memberi waktu berlabuh. Ada beberapa perahu nelayan melintas, mereka tahu saat hujan turun, feeding frenzy menggila, hanya umpan yang terlihat ikan.

Ah, Elvira benar-benar menyukai laut, semua yang ingin diraihnya selalu berhubungan dengan tubuh air asin itu. Bahkan calon suaminya, saya dengar-dengar adalah salah satu pengusaha yang memiliki beberapa kapal tanker. Tangan ini terangkat menempel ke kotak kaca yang mengembun dibelai hujan sore ini. Deru suaranya terdengar pelan ke dalam ruangan bagai simfoni Tuhan mengalun. Saya harus melupakan dia.

"Kau datang, kan?" Satu tepukan pelan mendarat di bahu. Saya menoleh dan tersenyum memandang pria yang berdiri di samping. Satu lengannya menumpu di dinding kubikel yang tingginya hanya seperut. Satunya lagi memegang mug berisi kopi hitam yang masih mengepul. Irfan terlihat canggung, dia tampak meringis salah tingkah saat menatap kartu jingga yang saya pegang.

Menyadari kekikukannya, membuat senyuman ini mengembang lantas mengangguk, "Tentu saja, dia temanta juga."

Tanpa tahu apa yang sejak tadi menggantung di kepala ini, Irfan mengembuskan napas lega, dia menegakkan badannya. "Baguslah, saya kira nda datang maki. Semangat, Ces!

Bibir ini kembali tersenyum, "Saya baik-baik saja, Ces. Tenang saja."
Pria itu beranjak berlalu namun kembali berbalik lantas mengepalkan tangannya mengajak tos high five dan tentunya saya sambut dengan cepat.

Dasar bodoh! Bisa-bisanya saya tetap berlaku seolah tidak terjadi apa-apa. Berlagak sok kuat padahal sebenarnya tengah hancur berkeping-keping. Tidak ingin semua orang tahu jika di dasar pikiran nan tandus, saya sedang memunguti memori putih di balik pekatnya kepedihan. Mencoba merangkainya namun, terpecah dan kembali beterbangan. Hingga yang tersisa hanyalah hati yang terkoyak dan pikiran tersayat.

Irfan tidak perlu tahu seberapa pedih yang saya rasakan, tidak ingin siapa pun tahu dan mengasihani. Toh, sejak awal saya mengabaikan semua yang mereka ingatkan untuk tidak melompat terlampau tinggi. Karena saat jatuh, rasanya akan sakit sekali. Yang harus saya lakukan sekarang hanyalah meyakinkan diri, memberi sugesti untuk tidak tampak terpuruk saat berada di sana. Jujur, sampai saat ini, saya masih tidak tahu apakah mampu untuk menghadiri resepsi Elvira? Memandangi wajahnya penuh rona bahagia saat dia bersanding dengan pria lain yang jelas dan nyata itu ... bukan saya.

Pun tak habis pikir, saat menyadari driver Grabcar telah menurunkan saya di seberang jalan UpperHills. Sengaja memilih angkutan daring demi menghindari terkurung di salah satu spot termacet di Makassar ini. Apalagi sekarang bertepatan dengan hari kasih sayang, jalanan padat merayap di sepanjang Tanjung Bunga dan Pantai Losari. Ah, seminggu ini saya memang jarang berkendara, meskipun tampak normal tetapi tidak dengan jiwa ini yang masih terus saja berkelana ke masa-masa bersama Elvira.

Namun, Valentine’s Day tahun ini terasa panas, semilir udara hangat menusuk menerpa kulit. Langit malam dipayungi awan gelap tanpa bintang biasanya meramalkan hujan itu masih enggan untuk menangis, sepertinya ingin menikmati loncatan-loncatan pijar api berbentuk hati dan air mancur dari berbagai arah.

"Appanini' bosi, nampana bambang,” celetuk seorang lelaki dengan pakaian adat Makassar di samping.

Ritual itu sudah pernah saya dengar dari Elvira kala mengunjungi resepsi pernikahan kerabatnya. Udaranya persis segerah sekarang. Hanya senyum tipis tercetak di bibir ini saat lelaki itu melangkah duluan memasuki area gedung.

Saya menengadah memandangi bangunan dengan arsitektur Renaisans itu, pilar-pilarnya berdiri kokoh nan angkuh menunjukkan kelasnya pun dengan tiga kubah adaptasi dari Kloster Irsee, salah satu hotel di Jerman yang dibangun di abad ke-18.

Saat melewati pintu, ruangan sudah dipadati oleh tamu. Lampu bulat menjuntai dari plafon yang dipenuhi bunga bernuansa putih. Pihak keluarga mengenakan sarimbit senada dengan mempelai, sibuk berswafoto dengan latar foto mempelai yang terpajang di dinding. Saya terdiam sejenak, terhenti pada sebuah senyum semringah dari mempelai wanita. Hati ini kembali perih bak teriris sembilu. Elvira begitu memesona dengan wrap dress yang belahan dadanya—shit! Sangat rendah. Untungnya posisi duduk di sofa membuat lekuk pinggul dan kaki jenjangnya tertutup aplikasi tumpukan ruffle rok berbahan transparannya. Mempelai pria bersandar di pegangan kursi dengan tangan yang dikalungkan di bahu Elvira. Cih! Saya merasa, tangan itu sengaja mendekat ke dada wanita—

"Cantik ya?" Saya sontak berbalik, mendapati cengiran lebar di wajah Irfan. "Ayo, kita masuk. Lebih baik lihat orangnya langsung, daripada fotoji,” dia berbisik lalu menarik tangan ini, memaksa mengikutinya.

Konsep mewah dan glamor terasa saat memasuki area hall, cahaya lampu warna ungu menyorot redup memberi kesan temaram dan syahdu. Lampu laser berpola bunga menerpa dinding silih berganti. Penerangan maksimal hanya di pelaminan dan panggung band pengisi acara. Lagu daerah Bugis “Alosi Ri Polo Dua” mengalun merdu saat saya dan Irfan tengah menyalami mempelai.

“Makasih, Ruly." Elvira menjabat tangan ini dengan penuh binar haru, sedangkan suaminya hanya tersenyum lebar, memproklamirkan kepemilikan atas si wanita dengan rengkuhan di pinggangnya. Huh! Bagian mananya yang mirip pinang dibelah dua? Saya menghela napas panjang mengingat arti dari judul lagu yang dilantunkan sang penyanyi.

Dengan gontai mengelilingi kue berbentuk kastil gotik berukuran raksasa di depan pelaminan, pasti mahal sekali. Sajian kuliner berjejer rapi di setiap penjuru ruangan menggugah selera para tamu. Bahkan sebagian besar tamu tiada henti mendatangi setiap stan, mungkin rasanya kurang pas sampai harus dicicipi berulang kali. Saya tertawa dalam hati tetapi perih tetap bercokol menghinggapi hingga memilih ke area bar mini di tengah ruangan. Stool-nya yang tinggi memudahkan mata ini menjelajah ke pelaminan. Rasanya bukan kebetulan, lagu “Sajang Rennu” yang dilantunkan sang penyanyi seakan menyinggung. Dia tahu sekali, kalau wanita yang diri ini cinta kini tengah bersanding mesra.
Entah sudah menenggak berapa gelas wine namun, pening menyergap saat langkah ini terseok-seok ke belakang pelaminan dan terbaring di dipan. Ruangan yang semula gemerlap berubah menjadi gelap, berputar dengan saya sebagai sumbunya.

***

Hello Readers,

Novelku kali ini kolaborasi dengan Widisyah, kepala jurusan Romance The WWG. Berlatar Makassar. Semoga suka ya.

Terima kasih kepada Farid Usman, Kak Andi Ardianti, dan teman-teman Makassar lain yang sangat membantu proses penulisan.

Teruntuk Dokter Betty (Penulis Painless. Baca juga ya J) yang sudah berkenan menjawab pertanyaan saya seputar kesehatan, terima kasih.

 

Love,
💋 Bella dan Widi 💋

***

cabaca-guritaLanjut Baca Gratis disini Download di Play Store