cover book

SATU

Buku: Satu Dasawarsa

PROLOG

 

Aku hidupkan cerita hati pada berlembar-lembar puisi. Aku tidak percaya bahwa lidah memiliki kemampuan membahasakan perasaan. Namun pada akhirnya, aku hanya menemukan diriku yang mencintai seseorang dalam bahasa yang mungkin tidak akan pernah dia pahami. Karena kepadanya, rahasia hati ini merupakan frasa-frasa yang berkias sedemikian rupa. Frasa dan rasa bergabung menjadi jutaan klausa yang masih saja tidak mampu bersuara.

Apabila hatiku ini adalah langit malam, dia adalah bintang yang akan selalu bersinar terang. Walaupun terkadang, kesadaranku menyandarkan awan-awan kelam untuk meredupkan terang sinarnya.

Aku membangun berbuah-buah puisi untuk menyentuh cahayanya. Namun, penantian tanpa tanda bersambut semakin melemahkan detak-detak jantung kata. Menyesatkan puisiku sebelum sampai pada sebuah tujuan, yaitu terbaca olehnya.

Aku kehilangan jejak-jejak rasa yang pada awalnya aku percaya mampu mengakhiri penantian. Ketakutanku menjadi seorang tokoh pada kisah cinta dengan satu buah hati melumpuhkan satu per satu kaki puisiku. Perlahan, aku, hatiku, dan seluruh puisiku runtuh sebelum mampu menyentuhnya.

Pada akhir kisahku, aku hanya bisa mencoba untuk memahami segala jejak cerita yang belum terhapus seutuhnya. Terkadang, walaupun cinta adalah sebuah kisah perjalanan yang semakin meneguhkan alasan untuk bertahan demi keabadian, ada suatu waktu ketika masa lampau hanya menyisakan degup hati yang berhati-hati untuk kembali terjatuh pada hati yang lain sehingga cinta dipahami sebagai sebuah kesementaraan yang melelahkan penantian.

Terkadang, walaupun cinta yang indah adalah cinta dengan dua buah hati di dalam kisahnya, ada suatu waktu ketika cinta hanya menjadi sesuatu yang cukup satu hati merasakannya. Mungkin tidak akan menjadi indah, tetapi hati yang terabaikan adalah sebuah pembelajaran untuk memahami ketulusan yang sebenarnya.

Untukmu, seseorang yang kucinta dalam kata, aku bahagia pernah mencintaimu dengan caraku; menuliskanmu.

Untukmu, seseorang yang pernah kucinta dalam kata, semoga aku terbaca olehmu.

-S-
Pada suatu hari ketika aku harus berhenti menanti.

 

SATU

 

Kertas kedelapan harus menerima perlakuan yang sama dengan tujuh lembar kertas sebelumnya. Di tangan seorang gadis dengan handuk yang melilit tubuhnya, kertas-kertas HVS itu hanya akan berakhir menjadi remukan berbentuk bulat tidak sempurna. Kata-kata yang ia tulis tidak pernah dirasa cukup untuk mengutarakan perasaannya. Padahal, hari ini adalah batas akhir menulis surat untuk seseorang yang ia kagumi. Mengapa harus melalui sebuah surat? Karena kekaguman saja tidak pernah cukup mendatangkan keberanian baginya untuk mulai menyapa.

"Kura-kura!"

Ia kembali meneriakkan nama binatang itu. Dinding-dinding kamar semakin tidak kuasa menahan tawa ketika mendengar teriakan bernada cempreng milik sang nyonya kamar. “Kura-kura” adalah satu-satunya nama binatang yang digunakannya sebagai bentuk umpatan. “Anjing” telah terlalu banyak digunakan, pikirnya.

"Kura-kura bangsat!"

Gadis itu sudah kehilangan ketekunan untuk benar-benar mengikuti perlombaan. Pena yang sempat ia gunakan telah mendarat ke dalam tempat sampah yang terletak tidak jauh dari meja belajar.

"Let's see. Memang bakal lebih baik kalau aku jadi penerima surat aja."

Dengan kepercayaan diri cukup tinggi, gadis itu berpindah dari atas kasur menuju ke arah depan lemari pakaian. Di sana, telah tergantung seragam putih abu-abu.

Namanya, Sasli Mikaila Amalia. Orang-orang terdekat hanya akan menyapanya dengan “Sas”. Mereka yang belum benar-benar mengenalnya dengan baik akan menyapanya “Sasli”. Sas terkenal sebagai seorang gadis manis. Ia selalu berpakaian rapi. Penampilan luarnya sangat berkesan perempuan. Tetapi jauh dari itu, di saat-saat ia berada sendirian di dalam kamar, Sas bisa memiliki definisi tersendiri untuk kata perempuan.

"Demi kaki lamban kura-kura! Kenapa sih harus ada matematika hari ini?"

Umpatan kembali lolos dari mulut mungilnya. Sas tidak pernah menyukai pelajaran Matematika. Alasannya bukan karena pelajaran itu sulit dipahami atau membutuhkan konsentrasi penuh ketika menghadapi deretan angka. Nasib buruk Matematika itu merupakan hasil dari cara mengajar para guru yang tidak sesuai dengan harapan Sas.

Sas tidak menyukai guru yang lebih senang membebani para siswa dengan banyak soal berhitung daripada menuliskan serta menjelaskan materi pelajaran hingga tidak mampu ditampung oleh papan tulis. Untuk siswa dengan kinerja otak sesuai takaran kebanyakan manusia, soal-soal hitungan matematika tidak cukup untuk mengatasi kelemahan para siswa pada pelajaran tersebut. Mereka membutuhkan kesabaran para guru untuk menerangkan semua alur rumus.

Dengan kekesalan yang membuat kepalanya memanas, Sas tetap bersiap seperti hari-hari lain. Setelah selesai mengenakan seragam, memasukkan buku pelajaran ke dalam tas, menaburkan bedak tabur hingga merata di seluruh bagian wajah, mengikat rambut panjangnya, dan menyemprotkan pengharum tubuh di sekitar leher, Sas bergegas menyentuh gagang pintu kamar tidur. Dia siap menjalani hari.

Dari kejauhan, hidung Sas dapat menangkap aroma lezat sarapan hari ini. Benar saja, segelas teh panas, sepiring nasi goreng dengan beberapa potongan nugget, dan botol kecap asin tepat pada bagian kanan piring menyambut kedatangan Sas di meja makan.

“Pulang sekolah langsung ke rumah, Sas. Jangan mampir ke toko buku. Lebih baik tabung uang kamu buat beli baju.”

“Hm.” Sas berdeham singkat menanggapi.

Sas hafal dengan sangat baik petuah dari ibunya itu. Yaniar Jelita. Wanita berusia kepala empat yang berprofesi sebagai guru Fisika di salah satu SMP negeri di kota ini, yang juga hafal dengan sangat baik tujuan utama anak gadis satu-satunya itu ketika telah mendapatkan uang bulanan.

Memberikan uang saku bulanan merupakan kesepakatan di antara Niar dan sang suami, Jafar Ghufron. Jafar merupakan seorang pegawai negeri di institusi pemerintahan tingkat provinsi. Kehidupan sebagai pegawai negeri memang telah dijamin oleh negara, bahkan negara masih akan memberikan gaji hingga para pegawai negeri menutup usia.

Walaupun demikian, anak-anak mereka harus tetap mengerti cara mengatur keuangan sejak dini. Mereka harus bisa merasakan sulitnya mengendalikan pengeluaran untuk bertahan hingga akhir bulan. Jafar tidak segan membiarkan anak sulungnya, Zaki Arkara Pratama tidak mampu membeli segelas teh tawar di kantin sekolah ketika waktu istirahat tiba. Zaki yang memang boros telah menceritakan kesulitan yang ia hadapi, tetapi sebagai seorang ayah yang tegas, Jafar mengabaikan duka si sulung.

“Apa enaknya baca novel? Buku-buku itu cuma ngebuat kamu dibual khayalan, Dek.”

Sas memilih diam menghadapi cemoohan Zaki. Sas lebih tertarik untuk mulai menambahkan kecap asin di piring nasi goreng di hadapannya.

“Tuh, bisa denger kan apa kata abang kamu?” tanya Niar menimpali.

“Bisa.” Jawaban singkat dari Sas adalah bentuk lain dari suatu perlawanan dingin.

Di dalam keluarganya, Niar dan Zaki tidak mengerti bagaimana Sas bisa jatuh cinta dengan berlebihan pada hobi membeli dan membaca novel. Seperti salah satu karya favoritnya, novel-novel dari Esti Kinasih. Sas dapat mencintai Ari sekaligus saudara kembarnya Ata hanya melalui ramuan kata-kata sang penulis. Jafar adalah satu-satunya anggota keluarga yang tidak pernah merendahkan hobi Sas. Itu pula yang menjadikan Jafar sebagai sosok kesayangan Sas dalam keluarga sederhana mereka.

“Semua di rumah ini bebas mau punya hobi apa aja selama enggak bertentangan dengan agama dan hukum negara,” kata Jafar membela anaknya.

***

"Kalau Ayah enggak bisa jemput, kamu naik ojek aja, ya."

Sas mengangguk paham sembari mencium punggung tangan Jafar.

Bagi Sas, waktu-waktu yang ia tempuh ketika ayahnya mengantarnya ke sekolah adalah waktu-waktu paling berharga dalam hidupnya. Ia akan memeluk erat Jafar dari jok belakang motor. Tidak peduli seberapa jauh ia mulai beranjak dewasa, saat berada di dekat ayahnya, Sas akan tetap menjadi bocah perempuan yang sangat takut kehilangan sosok yang berperan sebagai tulang punggung keluarga itu.

Sas sangat mencintai ayahnya. Beliau adalah sosok yang tegas, tetapi tidak pernah berlaku kasar. Sas masih ingat ketika pertama kali dirinya memaksa Niar untuk memotongkan rambutnya hingga sebahu. Saat itu, Sas masih duduk di bangku kelas 5 SD. Jafar mengabaikan putrinya selama dua hari penuh setelah Sas bersikeras menentang aturan sang ayah.

Tindakan yang sangat tidak disukai Jafar adalah apabila Sas dan Niar memilih gaya rambut pendek walaupun sebahu. Mengetahui kesalahannya, Sas juga tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun di hadapan Jafar kala itu. Niarlah yang menjadi penengah di antara mereka. Sejak tragedi kemarahan Jafar itu, Sas kapok memangkas rambut. Hingga sekarang, ia hanya akan merapikan ujung rambut pada setiap penghujung bulan agar tidak bercabang. Kemarahan Jafar adalah ketakutan terbesar Sas.

Bagi Jafar, seorang wanita sudah seharusnya memelihara rambut hingga terurai panjang. Panjang rambut itulah yang akan membedakan kaum laki-laki dan kaum perempuan. Hal selaras juga berlaku bagi Zaki. Jafar tidak akan pernah membiarkan anak sulungnya itu memanjangkan rambut. Menyerupai lawan jenis adalah hal yang secara tegas dilarang oleh agama, begitu paham yang dianut Jafar.

“Ayah hati-hati. Jangan ngebut.”

Saran Sas itu diikuti dengan lambaian tangan yang mengantar kepergiaan Jafar menjauhi gerbang sekolah. Setelahnya Sas segera memasuki lapangan sekolah. Akan selalu ada ritual rutin yang dilakukan Sas sebelum ia memasuki kelas.

Ia akan menepi dan mengarahkan langkah menuju bangku-bangku besi yang memang ditata rapi mengelilingi lapangan sekolah. Di sana, Sas akan selalu berpura-pura sibuk membetulkan tali sepatu hingga seseorang yang ia tunggu tiba. Biasanya, tujuh menit sebelum bel berbunyi, sosok yang ditunggu-tunggu Sas akan datang.

Tidak berselang lama, penantian Sas berakhir. Seorang laki-laki dengan jaket hitam polos yang membalut tubuh atletisnya mulai memasuki lapangan. Selanjutnya, Sas mulai berhitung hingga hitungan kedelapan. Saat selesai, ia beralih menggerakkan kaki untuk berjalan mengikuti lelaki yang telah ia kagumi diam-diam sejak kelas 10 itu.

Sekarang, sebagai siswi tingkat akhir di SMA ini, Sas masih belum bisa berhenti dari kegilaannya yang satu itu. Tidak ada yang mengira, Sas yang bertopeng gadis lugu, pendiam, dan manis dapat menjelma menjadi seorang penguntit andal.

Bertahun-tahun menjadi penggemar rahasia, tentu saja ada banyak hal yang sudah Sas ingat dengan sangat baik. Muhammad Aidan. Satu-satunya lelaki yang ikut memutari hari-hari Sas selama di SMA. Aidan adalah lelaki pertama yang membuat Sas menyadari bahwa selalu ada perasaan yang dirasakan pada kali pertama.

Walaupun demikian, Sas juga menyadari bahwa jatuh hati haruslah tetap tahu diri. Kesadaran itu pula yang menjadi satu-satunya alasan Sas betah menjadi seseorang yang eksistensinya tidak perlu Aidan ketahui. Sas sangat tahu diri, ada seseorang yang bisa dikagumi tanpa harus melibatkan harapan-harapan untuk memiliki. Sas juga sangat tahu diri, ia tidak akan pernah bisa menjadi sosok yang diharapkan oleh Aidan.

Setelah mengikuti langkah Aidan, Sas akan bersiap melapangkan dada. Seperti ritual yang masih saja dipertahankan Sas, Aidan juga memiliki ritual tersendiri yang rutin dilakukannya sejak kelas 11. Bagian dari sekolah yang jarang dilalui karena berada di dekat selokan yang selalu mengeluarkan bau tidak sedap memudahkan Aidan melakukan rutinitas itu.

Setelah berhasil menjangkau kursi panjang di bawah tangga menuju koridor kelas 11, Sas menghentikan langkah dan berpura-pura sibuk dengan novelnya. Sas selalu melakukan kegiatan penuh kepura-puraan itu ketika melihat Aidan mulai memperlambat langkah. Dari jarak yang dianggap aman oleh Sas, gadis itu bisa memperhatikan dengan sangat jelas gerak-gerik Aidan.

Sejak kelas 11, lelaki itu secara rutin menyelipkan selembar kertas berwarna hijau ke dalam salah satu loker yang pada bagian sudut kanan atasnya tertempel stiker bergambarkan galaksi. Dengan gerakan cepat, sebelum orang lain mengetahui tindakannya, Aidan akan memelesat menuju ruang kelas.

Bersama sesak yang selalu saja mengencangkan laju detak jantung Sas, gadis itu beranjak dari tempat pengamatannya. Dia menuju ke arah yang sama, loker yang menjadi tempat Aidan menyelipkan kertas berwarna hijau. Semua mata kecuali milik Aidan akan tahu bahwa kertas itu mudah saja jatuh hanya dengan satu sentuhan jari tangan.

"Dasar ceroboh," gumam Sas sembari mendorong kertas hijau itu hingga memasuki loker sepenuhnya.

cabaca-guritaLanjut Baca Gratis disini Download di Play Store