cover book

Igo Casanova

Buku: Rewind

Prolog

 

Subuh itu, sirine polisi mengaung di sepanjang Jalan Kenjeran. Mobil patroli itu berbelok lalu berhenti di depan sebuah taman. Yudha, seorang polisi muda dengan pangkat inspektur dua turun dari mobil. Usianya masih awal dua puluh tahun.

Polisi yang baru saja lulus dari akademi kepolisian tahun lalu sebagai lulusan terbaik itu, mengamati TKP yang begitu ramai. Pemandangan matahari terbit yang begitu indah tidak dihiraukan oleh orang-orang. Barisan polisi dengan pangkat lebih rendah sudah datang lebih dulu dan memasang police line. Tim dari laboratorium kriminal dan forensik juga tampak sibuk bekerja.

Yudha menghampiri seorang wanita berambut bob dengan jas lab warna putih yang mengenakan masker dan sarung tangan. Namanya, Dokter Sasa Ayuwandira, seorang dokter polisi dengan pangkat inspektur satu yang terkenal cukup eksentrik, namun memiliki kepiawaian yang tidak dapat diragukan. Mata wanita itu menyipit ketika melihat kehadiran Yudha, tetapi senyumannya tertutupi oleh masker yang dia kenakan.

"Kamu telat banget sih, Yud," ejek Sasa.

"Polda kan lumayan jauh dari sini, Dok. Gimana hasil inspeksinya?" tanya Yudha.

Sasa memandang jasad seorang gadis yang terbaring di hadapannya. Gadis itu duduk dengan mata terpejam. Tangan kanannya menggenggam cutter sementara di tangan kirinya ada bekas sayatan dengan darah yang sudah mengering.

"Aku belum bisa menyimpulkan," ujar Sasa.

 

***

 

Igo Casanova

 

Surabaya, kota Metropolitan terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Pada salah satu sudut gang, di warung kopi dekat Pasar Kenjeran, duduklah empat orang pria berbeda generasi. Pak Dahlan, berusia enam puluh tahun, berprofesi sebagai pengemudi bentor. Dia memakai topi jerami yang dikaitkannya di leher dan menggantung di punggungnya. Di samping kirinya duduk Pak Wagimin, hampir empat puluh dan berbadan agak gemuk. Dia memakai rompi warna oranye dengan tulisan "Juru Parkir" di punggungnya. Di samping Pak Wagimin, ada Pak Suprapto. Dia masih awal tiga puluh tahun, karyawan swasta sebuah bank yang memakai pakaian necis dengan harga diskon.

Lelaki terakhir yang duduk di hadapan Pak Dahlan adalah Igo Casanova. Dia baru lima belas tahun, namun tinggi badannya sudah menjulang sekitar seratus delapan puluh sentimeter. Postur tubuhnya ideal, tapi penampilannya membuat orang enggan melirik. Rambutnya berwarna merah agak gondrong dan berantakan. Bukan karena diwarnai, melainkan memang sudah berwarna seperti itu sejak lahir, mungkin karena kekurangan gizi. Wajahnya kusam dan agak berminyak karena sudah satu minggu tidak mandi. Bajunya dekil dan kusut, satu kancing bajunya lepas. Celananya yang berwarna abu-abu sudah kusam dan sobek-sobek pada bagian lututnya. Seragam SMA yang dipakainya itu adalah seragam yang baru dipungutnya tadi pagi dari tempat sampah karena tidak punya uang untuk membeli seragam baru. Empat lelaki itu duduk melingkar di pinggir jalan sambil memandangi kartu brigde dalam genggaman masing-masing dengan serius. Empat orang berbeda generasi itu sedang bermain judi chapsa. Salah satu permainan judi yang terkenal dari Cina.

Seharusnya kewajiban seorang siswa SMA seperti Igo adalah sekolah dan belajar, tetapi sekolah bukan tempat yang menyenangkan baginya. Sekolah tidak menghasilkan uang, sementara Igo yang hidup sebatang kara harus memenuhi semua kebutuhannya sendiri. Ibunya sudah meninggal sejak dia masih duduk di kelas dua SMP karena kanker rahim. Ayahnya, sudah menghilang sejak dia masih umur lima tahun dan tak pernah kembali. Belum lagi orang tua itu meninggalkan setumpuk utang yang tiap minggu harus dicicil oleh Igo. Maka bermain judi seperti ini adalah hiburan tersendiri baginya. Dia bisa mendapatkan uang dengan mudah. Ada satu trik istimewa yang membuatnya tak pernah kalah dalam berjudi. Trik apakah itu? Rahasia. Igo tidak akan memberitahukan hal itu pada sembarang orang.

Tiba-tiba saja Igo dengan mantap melempar lima buah kartu sekaligus ke tengah, kartu itu berupa 6 speed, 6 heart, 6 clover, 6 diamond, dan 3 clover. Pak Dahlan, Pak Suprapto dan Pak Wagimin melotot sampai mata mereka hampir keluar melihat kartu itu.

"Siki! Putar balik!" seru bocah itu sambil tersenyum puas.

Melihat ekspresi tiga lawannya itu, Igo tahu bahwa dia menang lagi.

"Ah! Kalah lagi!"

"Aduh, bangkrut!"

"Parah!"

Bapak-bapak itu mengeluh. Entah mengapa mereka tak pernah kapok bermain dengan Igo padahal tak satu pun dari mereka pernah menang melawannya. Tiga orang itu menggerundel sendiri. Igo cengar-cengir sambil mengulurkan tangannya. Dengan terpaksa mereka masing-masing meletakkan selembar uang lima puluh ribu rupiah di telapak tangan Igo. Pemuda itu menerimanya dengan senang hati.

"IGO!"

Empat orang itu tertegun mendengar suara cempreng yang mereka kenali. Seorang gadis manis yang seumuran dengan Igo, berdiri sekitar lima meter dari mereka sambil berkacak pinggang. Tinggi gadis itu sekitar 160 cm dan bertubuh atletis, rambutnya yang agak ikal, hitam dan panjang sepinggang, selalu dikucir satu mirip buntut kuda. Dia mengenakan seragam SMA yang sama dengan seragam Igo namun dengan kondisi yang lebih baik. Dia adalah sahabat baik Igo dari TK, namanya Mashita Prasetya atau biasa dipanggil Shita.

"Jadi kalian di sini? Kalian main judi lagi, ya?" bentak cewek itu.

Dia menghampiri Igo dan para remaja akhir pekan itu dengan garang. Empat orang itu langsung kalang kabut. Pak Dahlan, Pak Suprapto dan Pak Wagimin lari terbirit-birit sambil merebut uang taruhan mereka kembali dari tangan Igo.

"Utang dulu, Go!"

"Hei, Pak! Jangan curang, dong!" Igo tidak terima.

"Tenangkan dulu pacarmu!" teriak Pak Dahlan.

"Lain kali kita main lagi," kata Pak Suprapto.

"Pastikan jangan sampai dia melapor pada Kombespol Adam ya!" seru Pak Wagimin. Kombespol Adam Prasetya adalah ayah Shita, Direktur Reskrimum Polda Jatim, sekaligus pemilik Rusun Sejahtera, yang mereka huni bersama.

Igo mendengus kesal. "Sudah kubilang dia bukan pacar—" Sebelum Igo menyelesaikan kalimatnya, sebuah tinju melayang ke wajahnya. Cepat-cepat Igo menghindar. Shita adalah juara pertama O2SN Karate Kumite tingkat SMP. Bisa gawat kalau tinju itu mengenai mukanya yang sudah pas-pasan itu.

Tinju Shita meleset, tapi masih menyerempet wajah Igo. Aliran listrik voltase kecil mengalir dari sentuhan itu. Seketika sebuah gambaran muncul di hadapan Igo. Pemuda itu melihat Shita yang hanya mengenakan baju handuk, tersenyum sambil membawa celana dalam warna pink bergambar Pucca. Igo termenung.

"Berani sekali kamu, masih memprovokasi orang-orang bermain judi!" Hardikan Shita mengembalikan kesadaran Igo ke dunia nyata. Igo mengerjap-ngerjap dan memandang Shita.

"Umur berapa masih pakai celana dalam bergambar Pucca, seleramu payah!" olok Igo.

Wajah Shita seketika memerah. Dari mana Igo tahu kalau dirinya sekarang sedang pakai celana dalam bergambar Pucca?

"IGO MESUM!" Shita mengarahkan tinjunya lagi pada Igo. Pemuda itu menghindar dan berlari kabur.

 

***

 

Haru duduk di sebuah kafe di dekat Pasar Kenjeran sambil meminum cokelat panas. Cowok berusia enam belas tahun itu memiliki wajah yang lumayan tampan. Tingginya sekitar 170 cm. Proporsi tubuhnya ideal, kulitnya putih terawat untuk ukuran seorang cowok. Wajahnya yang agak oriental membuatnya tampil seperti personil boyband Korea, Sehun EXO.

Dia memakai benda-benda bermerek mahal dari ujung rambut sampai ujung kaki seperti Channel, Guest, D&G, Nike, dan lain sebagainya. Mulai dari kaos, jaket, celana jeans, sepatu kets, dan jam tangannya—semuanya adalah barang impor yang dijual dengan harga ratusan dolar. Di lehernya melingkar sebuah headphone.

Di depannya duduklah seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun yang memakai pakaian resmi berupa setelan jas warna hitam dilengkapi dasi yang membuatnya terlihat formal. Rambutnya yang kelimis disisir ke belakang dan dia memakai kacamata tebal yang membuatnya terlihat agak culun. Dia adalah Johan, sekretaris pribadi Haru.

"Pendapatan perusahaan minggu ini mengalami kenaikan lebih dari 30%, Presdir," jelas Johan dengan ekspresi serius.

"Bagus." Haru melenggut lalu meminum cokelat panasnya.

Haru tak tertarik dengan apa yang dikatakan Johan. Sambil bertopang dagu dia mengawasi luar jendela dan melihat orang-orang yang lalu lalang di jalan, sementara Johan terus saja mengoceh tentang perusahaan dan segala permasalahannya.

Tak jauh dari tempat duduk Haru, seorang gadis berambut panjang sepinggang baru saja selesai sarapan dan membayar di kasir. Gadis itu melewati bangku Haru dengan lunglai. Tepat saat lewat di samping Haru, dia menabrak bahu Haru pelan. Haru tertegun karena sentuhan itu dan menatap si gadis. Raut gadis itu terlihat sembap, tatapannya kosong seakan tubuhnya tidak memiliki jiwa. Gadis itu pergi begitu saja tanpa meminta maaf. Haru terus mengamati kepergian gadis itu tanpa berkomentar.

"Presdir, Anda mendengarkan saya?" tegur Johan yang akhirnya sadar bahwa Haru sama sekali tak menggubrisnya.

"Sebentar," kata Haru. Dia terus mengawasi gadis yang menabraknya tadi. Gadis itu keluar dari kafe lalu menaiki jembatan penyeberangan yang tepat berada di depan kafe. Haru tersenyum kemudian meneguk cokelat panasnya.

"Kita akan melihat pemandangan yang menarik, Pak Johan." Haru menunjuk gadis berambut panjang sepinggang yang menabraknya tadi—gadis itu sudah menaiki anak tangga ketiga. "Gadis itu akan melompat dari sana," tambah Haru dengan senyuman sinis.

Johan terperangah, dia menatap gadis yang ditunjuk oleh Haru itu dengan pandangan tak percaya. Benarkah gadis itu akan melompat dari jembatan penyeberangan itu? Kenapa?

 

cabaca-guritaLanjut Baca Gratis disini Download di Play Store