cover book

The Moment

Buku: Predestinasi

Andai saja saat ini dia bisa menghilang, Cedric Alessandre rela membayar berapa pun sebagai imbalannya. Duduk berhadapan dengan Becca dan Nestor Aditama bukanlah hal yang diinginkan lelaki itu. Cedric jauh lebih suka jika harus bekerja keras memutar otak atau bertinju di sasana. Kedua aktivitas itu lebih produktif dibanding yang dilakukannya saat ini.

Lelaki itu memang memandang ke arah pasangan yang duduk di depannya. Dia bertanya-tanya sendiri, kapan Becca dan Nestor akan berhenti berbasa-basi dan langsung menyinggung poin yang ingin mereka bicarakan.

“Kami sebenarnya pengin membahas sesuatu sama kamu, Ced. Menurut Mama dan Papa, ini cukup penting, sih,” kata Nestor dengan senyum ramah yang justru membuat Cedric menegakkan tubuh. Akhirnya!

“Soal apa, Pa?” tanya Cedric dengan suara sedatar mungkin. Dia tersenyum tipis.

Nestor sempat saling pandang dengan istrinya selama beberapa detik sebelum pria itu menjawab. “Soal … hmmm … barang-barang milik Arantxa.”

Cedric memilih untuk berpura-pura bodoh. “Maksud Papa pakaian dan perhiasannya? Semua udah disumbangin, Pa. Kalau nggak salah ingat, saya udah pernah ngomong ke Mama dan Papa soal ini sebelumnya, deh.” Untuk melengkapi sandiwaranya, Cedric mengerutkan kening. Menunjukkan bahwa dia sedang mengingat-ingat dengan serius.

“Oh, bukan itu yang dimaksud Papa, Ced,” sela Becca, tak sabar. Perempuan paruh baya itu berdeham, tampaknya sudah memutuskan untuk mengambil alih perbincangan itu.

“Jadi, barang-barang yang mana ya, Ma?” balas Cedric.

“Gini, kamu sama Arantxa kan nikahnya lumayan lama. Tujuh tahun kan, Ced? Selama itu pula, Arantxa udah mendampingi kamu sampai bisa sesukses sekarang.” Ada jeda selama dua denyut nadi. Cedric tidak membuka mulut dan mempertahankan ketenangannya. Meski sudah tahu apa yang diinginkan Becca dan Nestor, dia berusaha untuk bersabar dan menunggu.

“Arantxa pernah bilang sama Mama dan Papa, kalau dia punya rumah di Sentul. Juga tanah yang lumayan luas di daerah Lido. Maksud Mama, milik pribadi Arantxa sebagai hadiah dari kamu selama kalian menikah. Itu betul kan, Ced?”

“Betul, Ma,” sahut Cedric. Di saat yang sama, pelipis Cedric seakan ditusuki beribu jarum dalam waktu bersamaan. Dia buru-buru menambahkan untuk menghentikan ombak kata-kata dari bekas mertuanya. “Iya, Ma. Bukan cuma itu yang pernah saya kasih ke Arantxa. Dia juga punya ruko di daerah Cibinong.”

Mata Becca dipenuhi binar, membuat perut Cedric mual seketika. Perempuan itu berujar, “Mama malah baru tau. Dia nggak pernah cerita soal itu.”

Cedric memaksakan senyum. “Mungkin karena kemarin itu dia fokus sama pengobatan. Nggak mikirin semua harta yang dia punya. Apalagi, Mama sama Papa kan juga sibuk, makanya jarang banget ngeliat Arantxa,” sindirnya telak.

Lelaki itu menyaksikan wajah kedua orang di depannya berubah pasi. Namun hal itu tidak menggembirakan hati Cedric sama sekali. Dia malah jauh lebih kesal dibanding bayangannya.

“Papa punya banyak kerjaan, Ced. Mama sendiri pun nggak jauh beda. Selain masalah kantor, juga ada urusan lain yang nggak bisa ditinggalkan,” ujar Becca, tanpa memberi penjelasan lebih detail. “Selain itu, kami berdua nggak tega juga ngeliat kondisi Arantxa. Sejak kecil, dia hampir nggak pernah sakit. Lalu tau-tau semuanya udah parah.”

Kali ini, Cedric membenarkan kalimat terakhir Becca. Kondisi Arantxa memang begitu cepat menurun, melenyapkan semua kekuatan fisik yang pernah dimilikinya. Kanker otak yang tak pernah terdeteksi, baru ketahuan setelah memasuki stadium lanjut yang tak bisa disembuhkan. Menurut Arantxa, selama ini dia tidak merasakan keluhan apa pun di area kepalanya. Semuanya terasa normal dan baik-baik saja.

Yang paling mencubit hati Cedric, perempuan yang pernah begitu dicintainya itu mulai pelupa, mengalami gangguan konsentrasi, meningkatnya intensitas tidur, penurunan berat badan, hingga kesulitan untuk bicara dengan jelas. Semuanya terjadi dalam kurun waktu kurang lebih setahun. Dalam sekejap, hidup mereka berdua pun berubah drastis.

Upaya mati-matian yang dilakukan Cedric untuk menyembuhkan Arantxa menemui jalan buntu. Apalagi perempuan itu memohon padanya agar Cedric membiarkan dirinya dirawat di rumah saja. Arantxa memang selalu takut jika sudah berkaitan dengan dokter dan rumah sakit. Cedric tidak punya pilihan kecuali menuruti keinginan perempuan itu.

Selama Arantxa sakit, kedua orangtuanya hanya beberapa kali datang menjenguk. Kesibukan selalu dijadikan kambing hitam. Adik perempuan Arantxa yang berwajah mirip dengan perempuan itu menetap di Singapura sehingga tak sempat bertemu kakaknya sebelum berpulang.

Meski begitu, Cedric dan Arantxa tidak merasa keberatan. Sejak dulu hubungan perempuan itu dengan keluarganya memang tak pernah benar-benar dekat. Kali ini, Cedric sengaja menyinggung masalah itu untuk membuat mertuanya kesal. Karena dia benar-benar muak pada Nestor dan Becca yang tak sungkan menunjukkan sisi materialistisnya.

Buktinya, hanya berjarak tiga bulan setelah derita Arantxa berakhir, mendadak orang tua perempuan itu mulai menyinggung tentang harta yang dimiliki putri mereka. Tentu saja Cedric sudah menebak hal itu saat Nestor menghubunginya kemarin. Namun, tetap saja dia kaget saat mendapati bahwa dugaannya memang tepat.

Dia tak bisa mencegah dirinya bertanya-tanya. Mengapa orang rela menanggalkan harga diri dan rasa malu untuk sesuatu yang bernama materi? Apalagi, keluarga Aditama tidak tergolong miskin. Mereka bahkan cukup sejahtera, jika tak mau dibilang hidup berlimpah uang.

“Arantxa pasti bahagia kalau lebih sering dikunjungi, Ma.” Akhirnya Cedric menggumamkan kalimat itu dengan suara rendah.

Tangan kanannya menjangkau gelas berisi air putih. Restoran bernama Khatulistiwa yang dipilih oleh Nestor sebagai tempat pertemuan mereka. Cedric sendiri belum pernah mendatangi tempat yang terkenal dengan koleksi anggurnya itu. Dia sudah tidak pernah lagi mengonsumsi anggur sejak menikah. Apalagi minuman keras. Semua sudah ditinggalkannya sejak menjadi seorang suami.

“Jadi, sebenarnya Mama dan Papa ngundang makan malam karena mau membahas soal harta pribadi yang saya hadiahkan untuk Arantxa?” Cedric tak tahan untuk terus berpura-pura bodoh. “Memang kalau dijumlahkan, nilainya gede juga. Totalnya bisa di atas satu M,” katanya tanpa merinci lebih detail.

Pasangan Aditama kembali saling pandang sebelum ada yang merespons ucapan Cedric.

“Hmmm, ya. Begitulah kira-kira, Ced. Mama dan Papa berniat mau memanfaatkan peninggalan Arantxa. Apalagi kalau bisa dijual dan jumlahnya besar. Sayang kalau propertinya dibiarin gitu aja, kan? Mungkin bisa dimanfaatin untuk sesuatu yang penting.”

Telinga Cedric terasa berdengung. Dia tidak lagi mendengarkan ucapan Becca meski matanya memandang ke arah perempuan itu. Saat itu, dia benar-benar ingin muntah. Ketika merasa kesabarannya sudah musnah dan dia tak bisa tetap duduk di kursinya, Cedric berdiri dengan gerakan mengejutkan.

“Maaf Ma, Pa, saya harus balik ke kantor sekarang. Ada kerjaan penting yang udah nunggu. Saya udah terlalu lama berada di sini. Nanti aja kita bahas soal hartanya Arantxa. Kapan-kapan.” Cedric mengusap wajah dengan tangan kiri, merasakan keringat dingin membasahi kemejanya.

“Tapi, ini udah jam delapan lho, Ced!” sergah Becca buru-buru. Perempuan itu juga berdiri, diikuti oleh Nestor. “Kamu jangan kerja melulu, dong. Bisa rontok badanmu kalau diforsir terus. Kita kan udah lama banget nggak pernah makan malam kayak begini.”

Cedric tak bisa tersenyum meski ingin. “Justru saya senang kerja, Ma. Saya nggak suka buang-buang waktu.” Lelaki itu mengangguk pada pasangan di depannya. “Maaf Pa, kali ini tolong Papa yang bayar, ya? Tadi saya buru-buru ke sini, dompet saya ketinggalan di kantor,” dustanya.

Dengan langkah-langkah panjang, Cedric menuju pintu keluar. Orang tua Arantxa pasti akan merecokinya lagi. Cedric hanya perlu menyiapkan semua dokumen yang dibutuhkan supaya mereka tidak mengganggunya terus-menerus.

Namun, dia memang sengaja tidak mau memberi tahu Nestor dan Becca tentang yang terjadi sebenarnya. Menunda sedikit untuk membuat keduanya kesal, rasanya cukup menyenangkan. Anggap saja sebagai “pelajaran” agar keduanya menyesali apa yang sudah mereka lakukan pada Arantxa.

Jika saja dia lebih muda lima tahun atau tidak peduli dengan aturan sopan santun, sudah pasti Cedric takkan pergi begitu saja. Paling tidak, dia akan mengucapkan kalimat-kalimat makian di depan orang tua yang sama sekali tidak perhatian pada putrinya sendiri itu. Dia benar-benar merasa jijik dengan hasrat Nestor dan Becca menguasai harta Arantxa.

Lelaki itu mengepalkan tangan hingga telapaknya terasa nyeri. Orangtuanya dan Arantxa memiliki cara sendiri untuk mengacaukan hidup Cedric. Namun, dia tidak pernah menyesali pilihan yang sudah dibuat saat jatuh cinta pada Arantxa enam belas tahun lampau. Suka atau tidak, masa lalulah yang sudah membentuknya hingga seperti sekarang.

“Aku nggak menyesali yang udah terjadi, Xa. Kamu nggak perlu minta maaf terus-menerus. Sekarang ini, kamu harus fokus pada pengobatan supaya cepat sembuh. Jangan pernah merasa kehilangan harapan,” bujuk Cedric saat Arantxa berkali-kali menggumamkan penyesalan menjelang akhir hidupnya.

Cedric berjalan melintasi halaman depan restoran sebelum berbelok ke kiri. Karena tiba di restoran saat jam sibuk, dia diarahkan untuk memarkir mobil di area samping Khatulistiwa yang sepi dan agak gelap. Lelaki itu merogoh saku celana, hanya berjarak dua meter dari mobil sedannya. Cedric baru saja hendak mengangkat tangan kanan sebelum menekan remote kunci mobil ketika perhatiannya teralihkan.

Suara pekikan dan makian membuat Cedric menyipitkan mata dan berhenti. Beberapa meter dari tempatnya berdiri, tiga orang pria tampak sedang mengerubungi seorang perempuan. Wajah mereka tidak terlihat jelas karena pencahayaan yang temaram. Yang pasti, perempuan yang rambut panjangnya diikat satu itu berusaha melawan mati-matian sambil menyumpah-nyumpah. Sementara salah satu pengganggunya malah membuka pintu mobil dan berusaha menarik perempuan itu.

Pernah merasakan hidup di jalanan, Cedric tahu pasti apa yang akan terjadi jika tidak ada yang menyelamatkan perempuan itu. Tanpa berpikir dua kali, lelaki itu berderap ke arah kerumunan di sebelah mobil sport mewah itu, melewati tempat sedannya terparkir.

“Hei, berhenti! Jangan cuma beraninya sama cewek, keroyokan pula. Sini, aku pengin tau kalian memang laki-laki atau banci kaleng,” teriaknya.

Ketiga lelaki itu serempak menoleh ke Cedric, kaget. Sementara perempuan yang dipaksa masuk ke mobil memanfaatkan momen itu untuk menendang salah satu penyerangnya. Suara sumpah serapah pun terdengar lagi.

Perempuan yang diserang itu tampaknya cukup tangguh, tidak menunjukkan rasa takut. Malah terkesan murka. Makiannya nyaris membuat Cedric tersenyum.

Lelaki itu menunjuk dengan dagunya sambil terus melangkah. “Mobil aja yang mahal, tapi untuk dapetin cewek yang sukarela aja kalian nggak mampu. Apa nggak punya duit untuk ke rumah bordil atau bayar pelacur?”

Segala energi dan emosi negatif yang sudah bergumul di pembuluh darahnya sejak menerima telepon dari Nestor, seolah menemukan pelepasan. Lelaki itu membuka jaket sport yang dikenakannya. Lalu dilemparkannya benda itu begitu saja ke tanah. Memanggil petugas keamanan adalah cara paling aman. Namun, saat ini Cedric ingin sedikit berkeringat. Lagi pula, dia tidak pernah bisa memaafkan laki-laki yang bersikap kasar pada kaum hawa.

“Jangan suka ikut campur urusan orang. Pilihannya cuma dua, mati atau masuk penjara,” salah satu pria yang berkaus hitam menjawab dingin. Temannya yang mengenakan jaket motif loreng mulai memasang kuda-kuda.

“Jangan suka memaksa perempuan yang udah jelas-jelas menolak. Pilihannya cuma dua, mati atau masuk penjara,” Cedric membeo. “Tapi, karena aku baik hati, ada pilihan ketiga. Babak belur.”

Cedric mengabaikan makian dan ancaman yang dilontarkan kepadanya. Tak ada setitik pun rasa takut karena harus menghadapi dua orang laki-laki sekaligus. Sebab pria ketiga terlalu sibuk menangkis serangan dari si perempuan. Dengan membabi buta si korban menendang dan meninju orang yang berusaha memeganginya.

Cedric menggerakkan jari-jarinya dan melemaskan bahu sembari maju. Si jaket loreng yang bertubuh kurus langsung menyerang, mengarahkan tinjunya ke mata kiri Cedric. Bagi lelaki yang biasa berlatih tinju minimal dua kali seminggu sejak lima tahun terakhir, gerakan itu tidak ada artinya sama sekali. Dia mengelak dengan cepat sebelum menyarangkan uppercut di dagu lawannya dengan tangan kiri, disusul tinju yang mengenai perut.

Cedric bergerak lagi, setengah berputar, lalu menendang pinggul si kaus hitam yang agak sempoyongan. Kemungkinan besar karena mabuk. Lelaki itu langsung ambruk ke tanah sambil memekik kesakitan.

Cedric berbalik secepat kilat untuk menghadapi si jaket loreng yang melompat ke arahnya. Bahu Cedric terasa nyeri karena dia terlambat sedetik untuk bergerak. Namun, tentu saja dia tidak sudi mendapat pukulan begitu saja. Dengan siku kiri dia menyodok dada musuhnya, membuat jeritan si jaket loreng pun ikut pecah. Lalu tinju kanannya menghantam pipi atas laki-laki itu dengan kekuatan maksimal.

Sedetik kemudian, Cedric berdiri menatap dua lawannya yang sudah berada di tanah. Si kaus hitam tampaknya terlalu mabuk untuk bisa bangkit. Ada rasa tak puas karena Cedric bahkan belum mengeluarkan keringat. Namun sedetik kemudian dia teringat akan perempuan yang hendak ditolongnya. Cedric tercekat melihat perempuan itu menelungkup di tanah dengan kepala terdongak karena rambutnya ditarik oleh pria pengecut yang tersisa.

Darah Cedric mendidih melihat pemandangan itu. Dengan dua lompatan dia berhasil menarik lelaki berkaus lengan buntung itu, menjauh dari korbannya. Lalu mulai memukuli lawannya hingga buku-buku jarinya mulai terasa nyeri. Dua lawannya tidak berani bergerak, memandang ngeri ke arah Cedric dan korbannya yang sudah berlumuran darah.

“Silakan kalau ada yang mau lapor polisi. Kita liat siapa yang bakalan masuk penjara.” Cedric melemparkan kartu nama yang ditariknya dari dompet. Lalu dia memotret nomor polisi mobil sport itu. Dia mengabaikan kemejanya yang terciprat darah.

Setelah yakin tidak ada lawannya yang berani bergerak, Cedric menghampiri si korban yang sudah duduk dengan rambut acak-acakan. Saat itu, kemarahan Cedric menggandakan diri karena baru menyadari bahwa orang yang baru ditolongnya itu masih begitu belia. Mungkin bahkan masih duduk di bangku SMA.

“Kamu nggak apa-apa?” Cedric berjongkok. Dia bisa melihat gadis itu masih ketakutan dengan pupil mata melebar. Ada darah yang membasahi sudut bibir dan dagu gadis itu. Cedric mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya, membersihkan darah yang mengotori wajah gadis itu. Tanah yang menempel di rambut gadis itu pun tak luput dari perhatiannya.

“Jangan takut, aku bukan orang jahat. Aku nggak akan bikin kamu celaka,” katanya dengan suara selembut mungkin. Cedric menahan geram dan rasa takut yang membuat tulang-tulangnya seakan siap untuk dipatahkan.

Jika dia tidak menolong gadis belia ini tepat waktu, Cedric tak sanggup membayangkan apa yang terjadi. Menjadi korban pemerkosaan hanyalah salah satu kemungkinan belaka. Dia baru saja hendak berbalik dan memberi tambahan pelajaran pada tiga pria berengsek itu saat Cedric mendengar derum mesin mobil meninggalkan tempat tersebut. Tampaknya ada yang memutuskan bahwa kabur adalah langkah bijak.

“Kita ke rumah sakit, ya? Biar diperiksa dokter, takutnya ada yang butuh perawatan. Aku tadi ngeliat kamu … dijambak. Bibir kamu pun masih berdarah.” Cedric kembali memusatkan konsentrasi pada gadis di depannya yang belum membuka mulut sejak tadi. Tangan kanannya menekankan saputangan di bibir atas gadis itu yang mulai membengkak dengan lembut. “Namaku Cedric. Kamu?”

“Hildy.”

Suara gadis itu terdengar serak. Entah karena terlalu banyak berteriak atau menangis. 

***

cabaca-guritaLanjut Baca Gratis disini Download di Play Store