cover book

Chapter 1

Buku: Poor Love

Seorang gadis cantik berjalan dengan santai menuju taman belakang mansion menggunakan dress pendek di atas lutut berwarna putih bersih. Rambutnya dibiarkan tergerai  tertiup oleh semilirnya angin. Ia tersenyum saat melihat kebun favoritnya yang kini banyak ditumbuhi berbagai macam mawar kesukaannya.

Tangan putihnya memetik setangkai mawar dengan hati-hati agar  tidak terkena duri yang tajam. Ia tersenyum saat tangannya sudah memegang mawar merah.

Gadis itu mendekatkan hasil petikannya ke hidung mancung miliknya untuk mencium aroma alami mawar k sambil memejamkan matanya yang indah. Meskipun hari sudah terlihat petang, namun gadis itu masih setia untuk berada di kebun mawar favoritnya. Baginya hanya tempat itulah yang paling tentram dan mampu mengembalikan suasana hatinya yang memburuk.

"Alex." Gadis itu menoleh saat ada seseorang yang memanggil namanya. Dilihatnya wanita yang masih terlihat cantik walau usianya kini sudah berkepala empat sedang berjalan ke arahnya.

"Mom, ada apa?" tanyanya pada wanita di hadapannya yang ia panggil 'Mom'.

"Apa kau akan terus-terusan berada di sini? Mommy khawatir kau akan sakit nantinya," ucapnya seraya mengelus-elus rambut putrinya sayang.

Alex tersenyum tipis dan memegang tangan Mommy-nya untuk berhenti mengelus rambutnya.

"Mommy tidak perlu khawatir, Alex bisa jaga diri sendiri," balasnya meyakinkan Mommy-nya yang kini juga membalas senyuman Alex.

"Ya sudah, Mommy masuk dulu ke dalam dan jangan lupa untuk ikut makan malam di meja makan. Kasihan daddy-mu karena merindukan putri kecilnya ini," ucapnya sambil mencubit pipi tembam Alex hingga membuat empunya meringis kesakitan.

Alex hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti, sedangkan mommy-nya langsung pergi meninggalkan Alex sendiri di kebun mawar favorit anaknya itu.

Alex duduk di bangku yang berada di dekat kebun mawar miliknya dan masih membawa setangkai mawar yang ia petik tadi.

Dalam hatinya, Alex sangat bersyukur memiliki orang tua yang sangat menyayangi dan peduli terhadapnya. Walaupun ia tahu kedua orangtuanya adalah orang sibuk. Namun, mereka tahu waktu untuk berkumpul dengan keluarga dan memanjakan putri mereka saat sepulang kerja.

Sejak kecil Alex tidak pernah keluar dari mansion. Ia sendiri pun tidak tahu mengapa, yang jelas Alex sangat tidak menyukai suasana berisik dan ramai, baginya itu sangat tidak nyaman. Bahkan dalam menempuh pendidikan pun, Alex menggunakan home schooling sampai usianya sekarang sudah menginjak 18 tahun.

Alex tidak merasa keberatan, karena menurutnya dengan cara seperti itu membuatnya merasa tenang dan tidak terganggu. Lain dengan dengan kedua orangtuanya yang masih tidak rela dengan keputusan yang diberikan Alex sendiri. Karena bagaimanapun, Alex adalah makhluk sosial yang butuh orang lain untuk membantunya. Namun pada kenyataannya, Alex adalah anak yang sangat sulit untuk diajak bersosialisasi.

Alex beranjak dari bangku dan menuju ke mansion karena hari sudah gelap, dilihat jam tangannya yang sekarang tepat pukul 6. Ia memasuki kamarnya dan meletakkan setangkai mawar yang ia petik di atas nakas, kemudian Alex membaringkan tubuhnya ke ranjang miliknya. Rasa nyaman sedang menelingkupinya. Matanya menatap atap kamarnya dengan datar, seolah tidak ada yang ia pikirkan.

Tak lama, pintu kamarnya diketuk dari luar yang membuat Alex berdecak sebal. "Masuk," titahnya.

"Maaf Nona, Anda di panggil Tuan untuk segera menuju ke meja makan karena makan malam akan dimulai," kata pelayannya dengan kepala yang masih menunduk.

 

***

 

Suasana kini hening, hanya ada suara dentingan sendok yang beradu dengan piring. Tak ada yang berbicara, karena mereka sendiri pun masih sibuk dengan makanan masing-masing.

"Aku sudah selesai," ujar Alex seraya beranjak dari tempat duduknya. Namun, sebelum ia berjalan lebih jauh tiba-tiba suara baritone menghentikan langkahnya.

"Tunggu, Alex!" Alex menoleh ke sumber suara dan mendapati daddy-nya tengah memanggilnya.

"Duduklah, Daddy ingin bicara," titahnya pada Alex, sedangkan yang disuruh hanya diam dan langsung kembali duduk.

Alex melirik Mommy-nya yang masih sibuk dengan makanannya yang belum habis. Alex menghela napas panjang, ia tak suka menunggu terlalu lama. Baginya, itu sama saja membuang waktu. Pandangannya teralih kepada daddy-nya yang juga masih sibuk dengan makanannya yang sialnya belum habis.

"Alex kamu tahu umurmu berapa?" Alex mengernyitkan dahi bingung dengan pertanyaan daddy-nya yang cukup terbilang aneh.

"18 tahun," jawabnya singkat.

"Daddy minta setelah kamu menginjak usia yang ke 20 tahun, kamu akan mengurus perusahaan Daddy."

Sejenak Alex terdiam, bingung harus menjawab apa. Sungguh, baru kali ini ia sama sekali tak menyetujui keputusan Daddy-nya.

"Aku tidak mau, dan-tidak-akan-mau!" ujar Alex dengan memberikan penekanan di setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya.

"Sayang, turuti saja ucapan daddy-mu. Kami hanya ingin yang terbaik untuk dirimu dan masa depanmu. Lagi pula, selama ini kami tidak pernah meminta apa pun padamu, Princess?" Kali ini bukan daddy-nya yang berbicara, melainkan mommy-nya yang berbicara dengan tatapan sendu.

Alex menghela napas panjang. "Entahlah, Dad, Mom, aku akan memikirkanya dulu," ucapnya lalu beranjak dari tempat duduk dan pergi menuju kamarnya.

"Sudah aku bilang kalau Alex tidak mungkin mau menerima keputusan yang kita ambil ini," sembur wanita itu kepada suaminya.

"Aku tahu, Clariss, tapi mau bagaimana lagi? Kita tidak punya penerus lainnya, dan hanya ada Alex, putri kita." Clariss menatap Jonathan, suaminya  dengan sendu.

"Kau tahu kan, Jo, jika putri kita itu memiliki sikap yang berbeda dari yang lain? Aku hanya takut jika dia tidak bisa menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitarnya nanti. Apalagi selama ini Alex tidak pernah keluar mansion dan bahkan dia tidak pernah sekalipun mengenal dunia luar."

Jonathan mengembuskan napas kasar, ia tahu bahwa putrinya sedikit berbeda. Namun, dia sendiri pun mencoba untuk membuat Alex berubah dengan caranya. Walau cara yang digunakannya sedikit menekan putri semata wayangnya itu.

"Sudahlah, Clariss, aku tak mau berdebat denganmu. Lebih baik kita kembali ke kamar, aku lelah," ujar Jonathan kepada Clariss.

Di sisi lain, Alex masih tidak bisa tidur karena sibuk memikirkan perkataan daddy-nya untuk mengurus perusahaan saat usianya menginjak 20 tahun. Ia tak tahu alasan daddy-nya mengapa bisa memberi keputusan itu. Bahkan, daddy-nya pun tahu bahwa dirinya tidak menyukai keputusan tersebut, apalagi mommy-nya membela daddy yang membuat Alex semakin terpojok.

Pikiran Alex berkecamuk, hingga dia sendiri pun tak menyadari bahwa matanya telah terpejam menuju ke alam mimpi.

 

***

 

     Sudah seminggu ini Alex tidak keluar dari kamarnya, bahkan untuk pergi ke kebun mawar belakang mansion. Pikirannya berkecamuk tentang perkataan Jonathan tempo hari.

Alex sendiri enggan untuk melakukannya, karena ia sendiri tak yakin bahwa dirinya bisa mengurus perusahaan besar keluarganya – bukan hanya ada satu, melainkan puluhan perusahaan. Bayangkan saja! Seminggu ini juga daddy dan mommy-nya selalu datang melihat Alex di kamar, namun yang dilihat hanya diam tak membalas perkataan mereka.

Alex keluar dari kamarnya dan melihat suasana mansion yang terlihat sepi seperti tak berpenghuni. Tapi, suasana seperti ini yang selama ini ia cari.

Saat ia berjalan menuju dapur, beberapa pelayan sedang sibuk menyiapkan makan malam. Tapi anehnya, kali ini masakan yang mereka buat sangat banyak dan terlihat lezat bahkan dari aromanya saja.

Alex membuka kulkas dan mengambil air minum dan meneguknya. Tenggorokannya kini seperti dialiri oleh derasnya air. Ia menghampiri  pelayan  yang sedang bekerja dan yang dihampiri pun kaget dan langsung menunduk hormat.

"Kenapa kau menundukkan kepalamu? Angkatlah, kau lebih tua dariku!" gertak Alex dengan dingin.  Pelayan  tersebut mendongakkan kepalanya yang langsung bertemu dengan mata biru safir milik Alex. Sangat cantik, batin sang  pelayan .

"Ada apa ini? Mengapa kalian membuat masakan yang sangat banyak?" tanyanya masih dengan nada dingin.

"Nanti malam akan ada tamu rekan bisnis Tuan Jonathan, Nona. Jadi Tuan memerintahkan kami untuk memasak banyak karena mereka akan makan malam bersama," jawab  pelayan  tersebut. Alex hanya ber-oh ria menanggapinya. Lalu ia pergi meninggalkan  pelayan  tersebut untuk kembali ke kamarnya.

 Pelayan  tersebut mengelus dada sambil memejamkan matanya. Seperti selamat dari ancaman maut. Bagaimana tidak? Jika ditatap mengintimidasi dan diberi pertanyaan dengan nada sedingin itu oleh seseorang, apalagi seseorang itu adalah gadis muda yang umurnya jauh di bawahnya.

 

***

 

"Masuk!" titah seorang gadis di dalam kamar saat mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar. Tak lama kemudian muncul wanita paruh baya dengan senyumnya yang menawan.

Wanita itu menghampiri gadis yang masih terduduk di ranjang bersama novel yang dibacanya.

"Alex," panggil wanita itu kepada Alex. Sedangkan yang di panggil masih diam.

Akhirnya wanita itu memilih duduk di samping Alex. "Princess, kamu masih marah dengan kami, ya?" tanyanya pada Alex dengan lirih.

"Tidak," jawabnya singkat.

"Mommy tahu kalau kau masih marah dengan kami, tapi percayalah, kami melakukan itu juga untuk kebaikanmu, Sayang. Bukan bermaksud untuk tujuan negatif. Jadi, jangan marah lagi ya? Daddy dan Mommy tidak tahan dengan kemarahanmu, Princess." Alex menghela napas panjang, menatap mommy-nya yang kini juga menatapnya dengan sendu.

"Aku kecewa pada kalian, kalian tahu kan bagaimana sikap Alex dan kalian pun tahu Alex tidak bisa bersosialisasi dengan baik. Aku takut, Mom, aku belum siap. Jadi mengertilah," ucap Alex.

"Baiklah, lagi pula masih ada waktu dua tahun untuk mempersiapkan itu semua. Dan setelah itu, kami mohon padamu untuk menerima keputusan daddy-mu." Clariss beranjak dari ranjang dan pergi keluar, namun pada saat ingin membuka pintu, ia kembali berbalik ke arah Alex, putrinya.

"Nanti malam ikutlah makan malam bersama kami karena akan ada tamu dari rekan bisnis Daddy. Mommy harap kau datang dan mau bergabung dengan kami," ujarnya lalu pergi dan menutup pintu dengan pelan agar tidak menimbulkan suara berisik.

Alex menatap kepergian Clariss dengan datar lalu menghembuskan napas kasar. Makan malam? Dengan rekan bisnis daddy-nya yang tak lain adalah orang asing? Sungguh, Alex sangat membeci orang asing.

 

***

 

"Bagaimana, apakah kau akan tetap melakukannya?" tanya seorang pria kepada atasan sekaligus sahabatnya.

"Ya," jawab pria itu singkat lalu tersenyum misterius seperti akan melakukan sesuatu yang bersifat rahasia.

Sedangkan temannya hanya menghela napas panjang lalu menatap sahabatnya yang kini masih bergelut dengan laptopnya.

"Lalu bagaimana rencanamu?"

"Kau tidak perlu tahu, pergilah lanjutkan pekerjaanmu!" titahnya dingin dan langsung di angguki oleh pria depannya.

Setelah sahabatnya itu keluar, pria yang masih di dalam ruangan tersenyun miring. "Lihatlah, aku akan menghancurkan semua perusahaanmu Jonathan Federick Johnson."

 

***

 

Hari sudah petang dan kesibukan para  pelayan  kian bertambah. Sedangkan Alex hanya mendengkus sebal, siapa tamu yang akan datang sehingga harus diperlakukan seistimewa ini?

Bahkan orangtuanya pun sampai menyuruhnya berdandan. Tentu saja Alex menolak mentah-mentah, karena ia sendiri pun tidak suka memakai  make up. Baginya itu terlalu berlebihan, lagi pula ini hanya makan malam biasa, hanya saja akan ada orang asing yang akan datang.

Sudah pukul tujuh malam dan tamu daddy-nya akan datang sebentar lagi. Sedangkan Alex masih sibuk dengan buku novelnya yang masih di bacanya. Terdengar ketukan pintu yang membuat Alex membuang napas kasar. Itu pasti Mommy, batinnya. Namun yang datang kali ini adalah seorang pria paruh baya yang terlihat masih tampan, tak lain adalah daddy-nya. Beliau berjalan menghampiri Alex dan ikut duduk bersama di sofa dekat ranjang.

"Sayang, kenapa belum siap-siap?" tanyanya pada Alex.

"Ya, Dad, sebentar lagi," jawab Alex tanpa melihat ke arah Jonathan.

Ia dapat mendengar suara helaan napas daddy-nya yang sedikit lelah, kemudian Alex mengalihkan pandangannya kepada Jonathan yang berada di sampingnya.

"Memangnya siapa, Dad, yang datang?" tanya Alex penasaran.

"Rekan bisnis Daddy, dia akan berkunjung kemari dan membicarakan tentang kerja sama perusahaan." Alex hanya ber-oh ria menanggapi jawaban yang di berikan daddy-nya.

"Tapi mengapa harus seistimewa ini, dia kan hanya rekan bisnis dan tidak lebih dari itu."

"Daddy tahu, Sayang, jika dia hanya teman rekan bisnis Daddy, tapi perusahaannya lebih besar dari kita padahal usianya baru 25 tahun. Daddy hanya bangga dengannya karena di usianya yang masih muda dia bisa sukses dan menjadi seorang billionaire, oh bukan lebih tepatnya dia seorang trilionaire ternama."

Alex diam dan tak membalas perkataan Jonathan, walaupun dia mendengarkan perkataannya.

"Namanya Javier Agusto Rodriguez, dia yang akan berkunjung kemari dengan temannya yang bernama Gilbert Fransisco," lanjut Jonathan.

"Baiklah, aku akan berganti pakaian dan Daddy bisa menungguku di meja makan. Aku akan datang ke sana," ucap Alex malas. Dilihatnya Jonathan yang tersenyum senang, ia pun hanya bisa membalasnya dengan senyuman tipis.

Setelah kepergian daddy-nya, Alex langsung menuju walk in closet untuk memilih pakaian yang akan ia kenakan malam ini. Pilihannya jatuh pada dress pendek di atas lutut berwarna hitam. Dress tersebut tidak memiliki lengan, hanya ada tali yang dikenakan di leher dan sedikit memperlihatkan punggung putih mulusnya. Sangat cantik.

Rambutnya ia sanggul dan memberi sisa helai pada samping telinga agar terkesan glamor. Bibirnya ia beri sedikit polesan lipstik berwarna pink dan selesai. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, sungguh menakjubkan. Alex sangat cantik dan memesona. Namun tetap saja, wajahnya tidak menyiratkan tanda-tanda ada kehidupan. Pandangannya kosong dan ekspresinya juga datar.

"Masuk,” titahnya saat mendengar pintunya diketuk.

Di lihatnya seorang  pelayan  datang menghampirinya dan sedikit membungkukkan badan. "Maaf, Nona, Anda sudah ditunggu di meja makan karena tamunya sudah datang.”

“Baiklah, kau boleh pergi.”

***

cabaca-guritaLanjut Baca Gratis disini Download di Play Store