cover landing

My Sexy Admirer

By gabrielinked


"Ah, mnghh… ahhhshhhh!" lenguh Elena ketika Sam memasukan miliknya. Saat ini mereka tengah berada di kolam air panas. Elena tidak menyangka dirinya merasa sangat senang ketika Sam menatap matanya penuh perhatian.

Sam mencium bibir Elena, tanpa melepas miliknya di bawah sana yang masih keluar-masuk di dalam milik Elena. "Ckck... mmmh… nngh." Bunyi decakan, ciuman, serta desahan terdengar begitu merdu di telinga keduanya.

"Bukankah suaramu terlalu berisik, hm?" goda Sam dengan wajah meledek Elena.

"Ini pertama kalinya aku ah... nggh… melakukan hal seperti ini di tempat umum. Kamu pikir mudah menahan desahan di saat milikmu hnng... yang besar dan panjang ini masuk begitu dalam ke dalam sini?" Elena menatap wajah Sam yang memerah karena berkeringat dengan kesal.

Setelah selesai dengan kolam air panas, mereka kini berada di bilik toilet untuk orang mandi dan berganti baju.

"Kenapa kamu tersenyum?" tanya Elena ketika melihat bibir merah ranum milik Sam terangkat lebar ke atas seperti sengaja ingin menggodanya.

"Berbaliklah, aku akan memasukanmu dari belakang." Perkataan Sam membuat Elena hanya bisa menurut dan mengikuti arahan pria tersebut tanpa sebab. Dia seperti tengah disihir oleh lelaki tampan yang kini berada di belakangnya.

Sam berusaha memasukan miliknya yang besar itu ke dalam milik Elena yang di bawah sana masih sangat sempit.

"Pelan-pelan,” pinta Elena. Protes itu membuat Sam menciumi pundak telanjang wanita yang kini membelakanginya hingga kejantanan jumbo tersebut berhasil masuk ke milik Elena. Tangan pria itu juga tidak segan meremas salah satu dada milik wanita itu sampai membuat Elena mendesah untuk kedua kalinya.

"Ah… ngh! Kenapa cepat sekali… ugh!" lenguh Elena yang kini kedua tangannya berpegangan di besi yang berfungsi untuk menggantung barang di samping pintu.

Gerakan pinggul Sam sangat cepat sampai-sampai wanita itu harus mengalungkan satu tangannya di leher pria tersebut. Saat Elena akhirnya berbalik, mereka saling menatap dan berciuman seakan kedua saling mencintai.

"Ahhh! Sam! Sam! Ah... heung… mmmhhh!" Elena kembali menghadap belakang karena Sam kini memegangi pinggang Elena sembari menggerakan pinggulnya.

Sam yang mendengar lenguhan Elena pun semakin menjadi.

"Kamu bilang, denganku adalah pertama kalinya, tapi kenapa melihatmu sekarang ini membuatku sulit memercayai ucapan itu?" Perkataan Elena membuat Sam menghentikan gerakannya dan memilih duduk di atas dudukan kloset. Pria itu lantas meminta Elena duduk di atas pangkuannya.

"Kamu pasti sulit memercayainya, tapi aku hanya mengikuti naluriku saja. Bercinta denganmu, sejak awal membuatku sangat bersemangat,” kata Sam yang kembali meminta Elena untuk duduk di pangkuannya

"Coba gerakan sendiri tanpa bantuanku,” titah Sam membuat Elena sempat ragu karena merasa tidak akan bisa melakukannya. Namun, Sam justru menggenggam tangan wanita itu dan menciuminya beberapa kali sampai Elena sedikit percaya diri untuk mencoba.

"Mmmhh… bagus, Elena. Kamu berhasil memasukannya,” puji Sam ketika miliknya baru saja masuk ke tubuh sang wanita yang tengah dipangkunya.  Pria itu segera meminta Elena untuk menggerakan pinggulnya ke atas dan ke bawah secara perlahan.

Elena pun mempraktikkannya sampai Sam menyerah karena merasa miliknya dijepit oleh Elena dengan kuat.

"Ah… sshh… gilas… shh… mnghh. Biarkan aku bergerak sekarang," racau Sam yang ikut menggoyangkan pinggul. Menurutnya, tubuh Elena tidaklah berat mengingat dirinya suka berolahraga di waktu senggang.

"Ah, Sam!" lenguh Elena saat milik Sam menusuk begitu dalam.

Sam mempercepat gerakannya karena merasa akan sampai, begitu juga dengan Elena yang sebetulnya sudah satu kali keluar karena tangan nakal Sam yang suka aktif ikut mencubit puncak buah dadanya.

"Ini terlalu gila, Elena. Aah! Argggh!" lenguh Sam yang tak lama disambung oleh Elena.

"Heung… aaah… Sam!"

***

Beberapa menit kemudian mereka keluar dari bilik kamar mandi. Ternyata ada satu orang yang ternyata sedari tadi mengantre untuk masuk ke dalam.

Elena menutup wajahnya karena malu, sedangkan Sam masih dengan percaya dirinya tersenyum, walaupun sebetulnya wajahnya tampak memerah.

"Maaf, kamu masih pengantin baru," kata Sam kepada wanita paruh baya di hadapan mereka.

Elena mengerutkan kening. "Kamu gila ya?" bisik Elena membuat Sam terdiam sesaat.

"Apa besok sepulang kantor ada waktu? Aku mau mengajakmu berkencan." tanya Sam kepada Elena yang mengedipkan mata berkali-kali. Tak menyangka di hidupnya akan ada pria yang mengajak dia berkencan.

"Berkencan? Bukankah Sam suka pria?" tanya Elena dalam hati.

Apakah Agatha menipu dirinya selama ini dengan berbohong mengatakan tentang Sam yang menyukai pria dan tidak tertarik sama sekali dengan wanita?

Semua ini bermula di hari itu.

***

Beberapa hari sebelumnya.

 

Elena pergi ke sebuah kafe seraya membawa koper di tangannya untuk menemui sang sahabat.

"Elena!" Panggil seorang wanita di salah satu tempat duduk dekat jendela.

Elena tersenyum seraya menghampiri wanita tersebut. "Sudah menemukan rumahnya?" tanya Elena yang baru saja duduk di hadapan wanita yang memanggilnya barusan.

"Agatha, aku bicara denganmu." Nada kesal dalam suara Elena membuat Agatha mengangguk seraya tersenyum lebar.

"Jujur, aku baru mau menawarimu tidur di tempatku. Tapi berhubung aku telah menemukan tempatnya, sepertinya tidak jadi,” celetuk Agatha.

"Hm, bagus kalau begitu. Aku tidak enak jika menumpang di rumahmu. Oh iya, mengenai foto SMA-ku. Kenapa kamu menyebarkannya? Rambut ku dulu masih diponi dan itu terlihat tidak cocok tahu," protes Elena membuat Agatha menggeleng.

"Kamu yang seperti itu saja masih bisa dapat pacar, tandanya kamu cantik. Jangan merendahkan diri sendiri. Eh, atau mungkin kamu sengaja menyindir wajahku?" balas Agatha sembari memberikan ponselnya pada Elena. "Itu apartemennya. Kurang lebih luarnya begitu. Aku langsung chat oran nya dan langsung dibalas. Tenang saja, dia salah satu kenalanku." Ucapan Agatha membuat Elena mengangguk.

"Teman serumahku wanita, kan? Jangan sampai seorang pria, karena aku tidak akan mau,” selidik Elena seraya memberikan kembali ponsel milik Agatha.

"Biar aku tanyakan,” respons Agatha yang dengan cekatan segera menanyakan hal tersebut lewat chat.

Namun kali ini, meski cukup lama menunggu, mereka belum mendapat respons. "Aku akan keluar negeri selama sebulan kurang lebih. Pekerjaan seperti ini tidak bisa aku tolak, bagaimanapun tawaran bonusnya menggiurkan. Jaga dirimu saat aku tidak ada, ya?" Wanti-wanti Agatha membuat Elena memganggukan kepala.

"Terima kasih karena sudah mengurus kepindahanku yang mendadak ini,” ujar Elena. Perkataan sahabatnya itu membuat Agatha mengangguk.

"Dia bilang pria ini gay. Maksudku, teman satu apartemenmu." Agatha tampak sedikit ragu.

Elena menaikan satu alisnya. "Apa tidak masalah jika pria itu gay? Haruskah aku menolaknya?" Pertanyaan Elena pada dirinya sendiri yang terdengar hingga ke telingan sahabatnya membuat Agatha menggeleng.

"Lebih baik terima saja.” Agatha tahu tidak mungkin lagi mencari tempat tinggal dengan mudah di daerah kantor baru Elena, apalagi harganya sangat murah.

Elena menghela napas pasrah. "Baiklah, aku akan ke sana setelah ini,” putus Elena seraya menatap koper besarnya dan Agatha bergantian.

"Kalau ada masalah, kamu bisa hubungi aku,” tawar Agatha yang disetujuiElena.

Elena tak pernah menyangka jawaban atas persetujuannya akan ide Agatha itu akan membawanya ke kehidupan yang melenceng seratus delapan puluh derajat bersama pria yang katanya penyuka lelaki.

Haruskah aku menyesalinya atau malah mensyukurinya?

***