cover book

Malam Merah : 1

Buku: Iblis Keluarga

“I do not fear death. I had been dead for billions and billions of years before I was born, and had not suffered the slightest inconvenience from it.” -    Mark Twain

 

Darah telah membanjiri malam ini, tanpa mereka ketahui.

Kerumunan langkah itu mendekati sebuah rumah kayu reyot di ujung hutan. Entakannya memecah keheningan yang tadinya diperkirakan abadi. Gemercik air terhempas dari genangannya. Kegelapan hidup di antara orang-orang itu, menyamarkan purnama yang bersinar terang di atas langit.

Tangan kanan para polisi itu memegang revolver berkaliber .44 dan senter kecil di tangan kiri. Mereka berharap akan jaminan nyawa karena tidak ada satu dari mereka yang tahu, siapa atau apa yang akan menyambut di depan. Mereka sangat yakin, eksploitasi fisik dan mental selama bertahun-tahun dapat menggaburkan rasa takut dalam diri mereka masing-masing. Keberanian militer yang dianggap melebihi masyarakat umumnya tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga beban. Beban hebat yang terjadi karena rasa sombong dalam benak mereka sendiri.

Briptu Hanif akhirnya merasakan giliran malam pertamanya setelah dilantik menjadi seorang polisi dua minggu yang lalu. Lamunan keseharian Briptu Hanif di depan layar TV menjelang malam terhenti setelah salah satu rekan seniornya menelepon. Sakit menjadi alasan kuat teman picik itu agar Briptu Hanif mau mengisi shift malamnya. Kenyataannya, barisan botol vodka dan tumpukan domino sudah menunggunya di gudang rahasia. Namun hal itu juga tidak juga menjadi pembenar kalau Briptu Hanif sepenuhnya tidak salah. Dia terlalu polos dan memiliki informasi yang sangat dangkal. Miskin akan realitas institusi yang ia singgahi.

Sebuah panggilan datang tepat pada pukul 12 malam di Polres Ketapang. Terdengar suara pelan seorang laki-laki yang memberitahukan letak di mana dia berada. Ketika ditanya apa keluhannya, suara meredup dan sambungan terputus begitu saja. Kabar yang sedikit kabur itu justru membuat para petugas mencium sesuatu yang salah. Lima orang petugas langsung berangkat dengan berbagai peralatan lengkap termasuk rompi anti peluru. Semua itu dijelaskan oleh Harianto Galih, seorang pengacara handal, di bukunya yang paling populer mengenai insititusi peradilan Indonesia. Tercantum, ‘polisi bergerak bukan karena otak mereka, tapi karena insting’. Entah itu pujian atau sindiran, tergantung dari interpretasi pembacanya.

Mereka telah sampai, di depan rumah kayu itu. Di mana ranting dan daun pohon menutupi atapnya. Yang berbentuk seperti rumah panggung. Yang tiang-tiangnya terbuat dari pohon kayu ulin berjejak, berbaris, dan berkumpul untuk membentuk fondasi agar bangunannya berdiri.

Tiang-tiangnya menginjak sebuah genangan air, membuat struktur kayunya lebih kuat. Dinding rumah sudah tak sempurna, digigiti oleh koloni rayap. Garis silang merah tergambar di sebagian permukaan pintu depan. Pada layang-layang pintu, bergantung berbagai macam tulang hewan yang dijadikan hiasan. Baik itu tangan, rangka, ekor, dan yang bagian tubuh lain. Tengkorak seekor tikus hutan menjadi yang paling menonjol di sana. Mulutnya terbuka lebar seakan berniat meraung sekencang mungkin dengan keterbatasannya.

Briptu Hanif berada di baris nomer dua. Tepat di belakang seorang Bripka yang otomatis menjadi pemimpin karena pangkatnya yang paling tinggi. Mereka berhenti di bawah sebuah undakan kecil rumah. Sang Bripka menoleh ke belakang, mengisyaratkan agar yang lain bersiap. Briptu Hanif mengangguk dengan sarat kelugasan, yang lain menyusul dengan cara yang sama. Mereka berjalan pelan, mencoba mengurangi perhatian. Namun, suara decitan pelan masih terdengar secara bergantian saat langkah kaki mereka menaiki undakan itu.

Bripka mendorong pintu rumah yang tidak tertutup. Kegelapan yang lebih pekat seakan-akan telah menunggu mereka dan kini mengucapkan ‘selamat datang!’. Kelima polisi itu masuk ke dalam. Lampu senter membantu mereka mengamati setiap sudut rumah, menangkap debu yang beterbangan di mana-mana.

Senter mereka satu per satu mati tanpa sebab sebelum mereka melihat lebih jauh,. Dan angin kencang pun berhembus.

Pintu lantas tertutup keras! Tak sedikitpun memberi mereka celah kecil untuk bersentuhan dengan dunia luar. Beberapa mengayunkan senjata ke arah pintu. Kewaspadaan menyerang. Seorang polisi berteriak kecil. Terkejap dengan rasa takut yang tidak terhingga, seragamnya yang dipakai kini tidak lebih dari sekedar kostum 17-an. Gelap tidak menjadi penghalang, suara melengkingnya yang khas membuat rekannya yang lain tahu bahwa yang berteriak adalah dia.

Briptu Hanif yang berada tepat di depan pintu keluar, berbalik cepat dan mencoba untuk membukanya. Namun, berkali-kali dia menekan gangggang pintu, berkali-kali pula pintu tak menuruti kemauannya.

“Sersan?” tanya Briptu Hanif. Lebih tepatnya memohon bimbingan.

Bripka terdiam.

Jujur, Bripka itu tidak ingin ada satu pun anak buahnya yang mencoba bertanya sekarang, apalagi menyerahkan nasib padanya. Akal sehatnya tidak lagi berperan seperti yang lain.

Terpaan angin datang. Auranya yang dibawa kembali mengingatkan Bripka itu tentang dongeng jahat dari ayahnya mengenai kampung asli mereka, Jalang. Dongeng tentang sudut desa di kota Ketapang, Kalimantan, yang jarang dibicarakan, diabaikan, dan dilupakan. Sebuah cerita yang menyebar pelan dan menghilang dengan cepat. Sebuah cerita yang membuat dia tidak dapat tidur selama dua hari tiga malam tanpa ditemani guling kesayangannya dan sang ibunda. Cerita mengenai seorang perempuan pengembara yang banyak menyelamatkan orang. Untuk mewujudkannya, perempuan itu harus ‘merampas’ tubuh perempuan lain yang tidak bersalah. Ada kabar kalau pengembara itu mencari tubuh sempurna, ada juga yang mengatakan kalau ia memang hobi menghillangkan nyawa. Sekarang, di sinilah Bripka itu, persis berada di tempat yang telah menjadi bayangan trauma masa kecilnya. Ia berusaha membuka pelan-pelan bibirnya.

Kita pergi dan cari bantuan, satu kalimat yang hanya bisa ia ucapkan dalam hati.

Hingga keajaiban datang.

Lampu senter yang mereka bawa kembali menyala. Membuat cahaya merebakkan terangnya kemana-mana.

Terang cahaya yang menenangkan.

Terang cahaya yang…bukan. Bukan yang seperti ini.

Cahaya justru menampakkan sebuah pemandangan kejam yang menjatuhkan rahang mereka. Membelalakkan mata mereka satu persatu. lukisan perempuan telanjang disalib dengan dada terbelah hingga terlihat rangkanya; tengkorak seorang manusia yang berada di atas sebuah almari hitam tua, seakan tersenyum ke arah mereka; organ jantung yang tergantung di dinding dan masih berdenyut.

Sementara itu, Sang Bripka melihat gambar seorang anak kecil di dinding yang menangis seperti sebuah refleksi terhadap masa lalunya yang memilukan.

Mereka semua tersiksa karena pemandangan ini.

“Panggil bantuan!” seru Briptu Hanif.

“Bantuan..,” jawab Bripka parau. Sebuah repetisi yang menunjukkan kebimbangan.

Sang Bripka mengambil radio miliknya dan mencari frekuensi stasiun kantor. Kegelisahan menyebabkan kejernihan berpikirnya mengeruh, dia tidak ada ubahnya seperti anak kecil yang sedang mencari mainannya yang hilang.

Seorang polisi di samping Bripka terlihat sangat cemas. Napasnya terengah-engah, bola matanya berputar-putar cepat memastikan apa yang ia lihat. Kakinya bergetar hebat. Ia mengusap keringat dingin di keningnya tapi malah tidak sengaja menyenggol radio yang dipegang Bripka. Radio terjatuh, terpental tiga kali sebelum mendarat di ubin. Pengatur suaranya tiba-tiba berputar ke volume tertinggi tanpa sebab. Suara bising yang memekakan dan menyakiti teling terdengar keras.

Ada suara lain yang memasuki area pendengaran mereka di sela-sela suara bising itu,. Suara tangisan yang memilukan, menyedihkan, dan membuat polisi di samping Bripka bergetar lebih hebat.

Suara rengekan PEREMPUAN itu terdengar, mengaduh campur dengan suara gemerisik radio.

Para polisi terdiam di tempat. Termangu dengan suara tersebut. Rengekan itu terdengar semakin jelas, membawa mereka ke alunan imajinasi tentang ketidaksendirian. Sang Bripka tidak lagi berjuang seorang diri, semua yang ada di ruangan itu memiliki sensasi perasaan yang sama dengan apa yang dia rasa sekarang. Gigi mereka saling tekan, bibir mereka terkatup rapat-rapat. Tangan mereka menggenggam pistol lebih erat. Tapi apakah makhluk yang mereka bayangkan sekarang dapat roboh dengan lima peluru?

Seketika perasaan heroik Briptu Hanif datang dan segera bertindak. Ia memejamkan matanya, memusatkan perhatian ke indera pendengaran. Ia pun berburu suara rengekan melalui kegelapan dalam dirinya, menapaki setiap isi rumah.

Langkah kakinya yang cepat meledakkan bom di keheningan. Ia masuk lebih jauh ke dalam rumah, meninggalkan rekan-rekannya yang masih terpaku di tempat mereka. Keberanian membenamkan dirinya menembus koridor-koridor rumah yang berbau busuk. Ia tidak sadar, kakinya menginjak puluhan bangkai burung gagak yang mati tanpa sebab di sana.

Ia terus bergerak, mencari sebuah pintu keluar yang mendekatkannya ke suara perempuan itu. Bergerak dan bergerak sekilat yang ia bisa. Usahanya terhalang oleh koridor rumah yang tampak seperti lingkaran tanpa ujung. Tanpa ia sadari, Briptu Hanif sampai ke teras belakang rumah, ke sebuah ruang terbuka yang bersinggungan langsung dengan hutan gelap.

Briptu Hanif berjalan pelan menuruni undakan teras menuju sebuah taman. Tanahnya yang berlumpur membuat langkahnya sedikit lebih berat. Semilir angin datang lagi dan menembus pori-pori kulitnya yang terlindungi oleh seragam kebanggaan. Ia harus berusaha mengeluarkan keberanian dua kali lebih dari biasanya atau dia akan berakhir dalam penderitaan yang sama seperti yang lain.

Lima langkah ke depan.

Seorang laki-laki tergeletak di sana. Terlentang di tanah dengan kepala menghadap ke langit. Matanya tertutup, tidak lagi menandakan adanya isyarat kehidupan. Merah darah bergumul di dadanya, mewarnai kemeja putih bergaris vertikal yang kontras. Seketika Briptu Hanif terkesiap dan mengangkat tegap revolvernya. Ada lima peluru di dalamnya, setidaknya itu cukup untuk melindungi dirinya.

Sumber suara itu berada tepat di depannya. Berasal dari seorang perempuan yang tersungkur di tanah, di samping laki-laki itu. Rambut panjangnya terjulur menutupi wajahnya, yang juga ia tutupi dengan telapak tangan kanannya. Ia memakai kaos dan celana jins seperti gadis kebanyakan. Badannya yang sedikit kurus tampak basah dan lusuh.

Ya, dia manusia.

“Nona,” panggil Briptu Hanif.

Perempuan itu tidak menyimak sedikitpun. Tetap sibuk meratapi kemalangan dan air matanya yang terus mengalir. Ia menutupi wajahnya entah karena malu atau memang sengaja menyimpan rahasia.

Briptu Hanif berjalan sedikit lebih jauh—mendekati. Sebuah lubang yang cukup panjang dengan galian dalam telah terbentuk di belakang perempuan itu. Sikunya mengerucut seperti peti, menyerupai kuburan. Briptu Hanif melihat bergantian ke laki-laki yang roboh dan perempuan itu. Tangan kiri sang perempuan memegang sebuah pisau yang dibanjiri darah segar. Titik-titik merahnya masih menetes pelan-pelan.

“Jatuhkan pisaunya!” teriak polisi muda itu. Tangannya memgang erat revolver kaliber .44, mengarah tepat ke kepala perempuan itu. Telunjuknya tinggal menekan pelatuk dan satu timah panas siap menembus dahinya.

“Jatuhkan!”

Tangisan perempuan itu terhenti.

Teriakan Briptu Hanif seakan membuatnya terkejut dan membangunkan kesadarannya. Pisau itu dijatuhkan ke tanah. Telapak tangan kanannya menjauh pelan dari wajahnya. Pelan-pelan kepalanya mendongak ke Briptu Hanif yang berdiri tegak. Di antara celah rambutnya yang terurai, mata mereka saling bertemu.

Selama hidupnya, Briptu Hanif telah menghadapi berbagai rona kehidupan. Ia sudah melihat kesedihan, ketakutan, kesenangan, ataupun kebahagiaan. Semua diperolehnya dari sebuah pelatihan militer yang membentuknya sekarang ini. Menjadikannya seorang laki-laki dengan perawakan besar dan keteguhan tinggi.

Tapi dia tidak pernah melihat apa yang ada di depannya saat ini.

Perempuan itu.

Arti dari ungkapan wajahnya, ekspresinya menakzimkan Briptu Hanif hingga meruntuhkan keyakinan bahwa dirinya telah menjadi seorang laki-laki sempurna. Mata yang memperlihatkan sebuah kesedihan dan penyesalan terdalam. Bibir perempuan itu menekuk, membentuk sebuah senyuman pahit. Melukiskan kebahagiaan kejam yang tidak mungkin pernah dicapai satu orangpun di muka bumi. Seperti kegembiraan yang jarang ditemukan di tengah prosesi pemakaman. Melahirkan purnama yang datang di kala waktu tertentu, menunggu hadirnya orang terpilih untuk melahirkan yang telah mati.

Di malam merah ini, dia bangkit, yang dimakan api.

***

cabaca-guritaLanjut Baca Gratis disini Download di Play Store