cover book

Menikah

Buku: I Found You

“Bagaimana aku bisa menemukannya?” Wanita berkebaya biru langit itu menarik sedikit kain batik bercorak bunga bangkai sampai sebatas lutut, dirinya berjalan jongkok menyusuri lantai Gold Grand Ballroom berlapis karpet yang dipenuhi dengan taburan kelopak bunga mawar putih. Jemari lentiknya bergerak lincah mencari benda penentu masa depan sang adik ditumpukkan kelopak bunga mawar putih.

Sudah dua puluh menit, namun benda yang dicarinya tak kunjung ditemukan. Bagaimana bisa ia menjatuhkan benda penting itu, sedangkan acara pernikahan adiknya akan segera dimulai. Wanita berkulit eksotis itu memijat pelan keningnya, keringat mengucur deras dari pelipis, netranya terus menjelajah mencari benda yang tidak sengaja ia jatuhkan saat membantu merapikan meja yang akan dijadikan sebagai tempat akad nikah. Semua orang yang ada di sana berusaha membantu, tetapi benda kecil itu terlalu sulit untuk ditemukan.

Seorang pria pemilik tinggi seratus delapan puluh tiga senti, yang terlihat tampan dengan balutan jas warna navy berdiri di depan pintu. Bibir tipisnya membentuk bulan sabit terbalik. “Yaya Sayang, aku temukan cincinnya!” teriaknya dengan tangan mengacungkan cincin emas berhias batu permata pada bagian depan, yang berkilau saat terkena cahaya lampu.

Yaya menoleh dan segera menghampiri pria yang telah menolongnya, terbebas dari amukan ayah dan adiknya. “Makasih, Noell. Untung aja ....” Dahi Yaya mengerut saat Noell, sahabatnya itu malah memasukkan cincin pernikahan milik sang adik ke jari manisnya sendiri. “Kok kamu pakai sih? Cepat lepas!” perintahnya dengan tangan berusaha merebut cincin tersebut.

“Iya iya, tunggu. Aku hanya ingin tahu aja, gimana sih rasanya pakai cincin kawin. Ternyata ... biasa aja,” ujar Noell sembari melepas cincin dari jari manisnya.

Wanita cantik yang sudah mengenal Noell sejak SMP itu langsung mengambil cincin tersebut, dengan cepat ia memasukkan kembali ke dalam kotak yang sudah dihias dengan pita berwarna kuning. “Jelaslah rasanya biasa, cincin itu kan bukan punya kamu. Nanti juga kalau kamu nikah, pasti rasanya akan beda,” jelasnya dengan tangan memasukkan kotak cincin ke dalam sling bag agar tidak terjatuh lagi.

Noell menurunkan kacamata hitam sebatas batang hidung, lalu ia merangkul bahu Yaya dengan senyum lebar yang tersungging di bibir tipisnya yang merah merekah. “Kalau gitu, ayo kita coba?”

Yaya menurunkan tangan Noell. “Sebaiknya kamu bantu periksa bagian makanan, udah siap atau belum? Aku mau pergi ke tempat Max dulu.”

Baru beberapa langkah, Noell langsung memegang lengan Yaya. Tangan kirinya dengan cepat merangkul kembali bahu Yaya, sedangkan tangan kanan sibuk memasukkan kacamata hitam ke dalam saku jas. “Semua udah selesai seperti yang kamu inginkan, Bidadariku Sayang. Jadi aku boleh ikut, dong?”

Good job!” Yaya menepuk-nepuk pundak Noell.

Good job aja nih? Yakin, enggak ada yang lain?” Tunjuknya pada bibir tipisnya yang bergerak maju-mundur, seperti cumi-cumi yang bersiap untuk menyemprotkan tinta.

Yaya mengabaikan candaan Noell, ia memilih untuk meneruskan langkahnya menuju ruang rias Max yang berada di ujung lorong dengan tangan sibuk membalas pesan dari orang sekitar yang mengucapkan selamat dan doa.

“Ya, tunggu!” teriak Noell.

“Kamu periksa tempat lain aja, ya. Pokoknya jangan ikuti aku,” perintah Yaya sambal melambaikan tangan kanan sebagai kode agar Noell tidak terus mengekornya.

Noell mengerucutkan bibir. Udah rapi, wangi, keren ... masih aja dianggurin. Kapan sih kamu sadar, Ya? Ia memerhatikan Yaya yang keluar dari Gold Grand Ballroom tanpa menoleh sedikit pun.

 

***

 

Yaya berjalan dengan cepat, melewati lorong Hotel Gold yang cukup panjang. Suara gaduh hak sepatu tujuh sentinya beradu dengan lantai marmer, menggema di sepanjang lorong hotel yang sudah berdiri sejak lima belas tahun lalu. Hotel bintang tiga yang letaknya tak jauh dari Kebun Raya Bogor itu tidak hanya memamerkan kemewahan, tetapi juga menawarkan sentuhan seni yang terasa sangat kental, dapat dilihat dari banyaknya lukisan dan patung kayu yang terpajang di dalam hotel. Perpaduan kemewahan dari warna keemasan dengan desain interior seni klasik, menjadi daya tarik para pasangan untuk menggelar acara lamaran atau pernikahan di hotel tersebut.

Sinar sang mentari terasa lebih hangat, seolah mewakili perasaan Yaya saat mengamati adik bungsunya dari celah pintu. Mata bulat dengan manik hitam itu terus memandang ke arah pria yang sedang berusaha keras mengenakan kain batik, yang akan dikenakan saat proses akad nikah. Ia menarik kedua sudut bibir ke atas, saat melihat adiknya protes karena kain batik yang dikenakan terlalu menekan perut hingga menyulitkan saat ingin duduk dan berjalan.

“Kenapa berdiri di situ terus sih? Dicomot security baru tahu rasa,” ucapnya ketika melihat Yaya dari pantulan cermin. Ia meminta Yaya untuk segera masuk daripada mengintip sambil senyum-senyum tidak jelas seperti orang aneh di depan pintu.

Yaya ingin sekali mencubit pipi Max, tetapi wanita yang masih terlihat seperti anak remaja di usia dua puluh delapan tahun itu harus bisa menahan keinginannya. Ia menarik kursi yang berada di dekat pintu, dan duduk dengan tangan terlipat di depan dada.

“Ternyata seorang Max kalau dipoles ... oke juga,” ungkapnya sambil mengangguk.

Max langsung mengerutkan dahi, ia menarik kursi untuk duduk di samping Yaya. “Dari lahir aku udah ganteng kali,” balasnya. Yaya tidak bisa menahan diri lagi, tangannya segera mencubit pipi Max yang kenyal dan sedikit berisi, memainkannya seperti squishy.

“Aku bukan anak kecil lagi, Kak Yaya!” protesnya, berusaha menjauhkan tangan Yaya yang akan merusak penampilannya.

“Maaf, Max. Setelah kamu nikah, pasti kakak enggak bisa mencubit pipi kamu sebebas tadi.” Yaya menggeser kursi, agar bisa duduk lebih dekat lagi.

“Oh ya, gimana perasaan kamu? Pasti tegang, ya? Mau kakak ambilkan sesuatu?”

“Biasa aja,” jawab Max dengan santai.

Yaya mengernyit. “Masa sih? Kata orang, biasanya tuh muncul perasaan tegang atau ...”

“Itu perasaan mereka, kalau aku sih biasa aja.” Max melirik jam tangan yang melingkar di tangan kiri. Dengan terburu-buru ia mengambil botol berwarna keemasan yang berada di atas meja, menyemprotkan ke arah ketiak sebelah kanan. Hidungnya mengendus aroma asing dan agak aneh.

Wanita paruh baya yang bertugas untuk membantu merias dan memakaikan kain batik pada Max berdehem cukup keras, Max dan Yaya segera menoleh ke belakang—tempat di mana penata rias sedang membereskan semua kuas dan alat make up lainnya.

Punten, Kang Max ... semprotan itu teh buat rambut supaya enggak berantakan. Sanes dikanggo di kelek atuh(bukan buat dipakai di ketiak),” jelasnya.

Yaya yang mendengar hal tersebut langsung memerhatikan botol keemasan yang masih berada di tangan Max, ia pun tertawa terpingkal-pingkal hingga kedua sudut matanya basah.

Max langsung membaca tulisan pada botol berwarna keemasan itu, tanpa berkata apa-apa ia segera menaruh kembali botol tersebut di atas meja. Pria yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan itu tetap bersikap tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Dengan santai tangannya merogoh saku tas ransel miliknya untuk mengambil parfum yang biasa dikenakan.

“Kaku-kaku tuh bulu ketek,” ledek Yaya sembari menyeka sudut mata yang semakin basah.

Max segera mengabil beskap dan blangkon yang masih tergantung di dekat sofa, dengan cepat ia masuk ke toilet dan meninggalkan kakak serta penata rias yang masih asyik tertawa.

Ponsel Yaya berbunyi, menampilkan beberapa chat dari saudara kembarnya yang menyampaikan pesan dari keluarga besar yang ingin bertemu. Ia segera mengusap lembut sudut matanya yang basah, dan meminta penata rias untuk membenarkan riasan matanya yang sedikit meleber karena tingkah konyol Max.

 

***

 

Jarum pendek jam sudah mengarah ke angka sepuluh, dengan jarum panjang terarah tepat ke angka dua belas, sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan. Acara akad nikah Max berlangsung dengan khidmat.

Yaya duduk bersama sang ayah dan Noell, sedangkan saudara kembar Yaya beserta suaminya duduk bersama keluarga besar dan tamu lain di seberang. Mereka menyaksikan Max yang melepas masa lajang bersama wanita yang sangat ia cintai, perasaan pun jadi campur aduk.

Walau sudut bibir Yaya tertarik lebar ke atas, namun cairan sebening kristal yang sedari tadi tertahan di kelopak mata akhirnya mengalir deras membasahi pipi.

“Makasih ya, Noell.” Yaya langsung menyeka air mata dengan saputangan yang disodorkan oleh sahabatnya.

Pria bermata minimalis itu mencondongkan sedikit tubuhnya ke samping. “Menyesal, ya? Makanya jangan terlalu lama pacaran sama si Tembok Berjalan, jadi dilangkahi lagi, ‘kan.”

Yaya memberikan tatapan sebal dengan dahi mengerut ke arah Noell, kemudian ia mengembalikan saputangan yang telah digunakan. Noell mengambil dengan mimik jijik ke arah saputangan yang Yaya kembalikan—sudah basah terkena air mata dan ingus, serta kotor karena noda eyeliner dan blush on yang menempel. Saputangan berwarna putih itu kini sudah ternodai.

“Jammy, bukan si Tembok Berjalan!” sahutnya setengah berbisik. “Jangan sok tahu deh! Aku tuh begini karena terlalu bahagia. Akhirnya, mereka bersatu juga.”

Noell mengembalikan saputangan yang tadi Yaya gunakan.

“Bidadariku Sayang, kalau bahagia itu ....” Ia mendekatkan wajahnya dengan kedua sudut bibir tertarik ke atas, “tidak dengan air mata, tetapi tersenyum selebar-lebarnya,” paparnya. Ingin sekali Yaya menyumpal mulut sahabatnya itu dengan saputangan yang sudah basah dan kotor, namun urung dilakukan karena celetukkan sang ayah.

“Ayah tidak menyangka kalau Max yang akan lebih dulu menikah daripada kamu, Ya.” Pak Irham melipat kedua tangan di depan dada.

Sang putri sulung menyahut dengan santai, “Tuhan udah atur semuanya, Ayah. Tenang aja.”

“Tuhan memang sudah mengatur semuanya, tapi manusia juga harus berusaha. Kalau kamu tidak berusaha, kapan bisa menyusul dua adik kamu? Sampai kapan ayah harus menunggu, sepuluh tahun lagi atau dua puluh tahun lagi? Memangnya usia ayah bisa sepanjang itu?” Perkataan Pak Irham seperti busur panah yang langsung melesat dan menancap tepat di hati Yaya.

“Bener itu, Om. Memang si Tem ..., maksudnya Jammy. Kalau dia beneran cinta sama Yaya, harusnya dia kasih kejelasan. Mereka kan udah lama pacaran, masa” Perkataan Noell yang seperti petasan banting itu mendadak berhenti, karena tangan Yaya dengan sigap membekap mulut Noell. Lalu ia menatap Noell dengan tatapan tajam seperti pemburu yang ingin mengiris-iris tipis hasil buruannya, Noell pun mengangguk dan memilih untuk menutup rapat mulutnya.

“Usiamu sudah sangat matang untuk membina rumah tangga, mau tunggu apalagi, Ya?”

“Begini Ayah—”

“Harapan terakhir ayah, hanya ingin melihat semua anak hidup lebih bahagia,” potong Pak Irham. Tangannya mengusap pundak Yaya dengan sangat lembut. “Terutama mengantarkan putri sulung kesayangan ayah menikah,” ucapnya dengan mata yang mulai memerah.

Yaya merangkul pundak Pak Irham yang tidak lagi sekekar dulu. “Aku pasti nikah kok, Yah. Tapi saat usia aku udah dua puluh sembilan tahun,” jelasnya.

Dahi Pak Irham mengerut. “Kenapa harus dua puluh sembilan tahun?”

“Aku udah buat list keinginan dalam buku catatan, dan aku enggak mau mengacaukannya. Lagi pula, keinginan aku tuh sama dengan rencana Jammy, Yah,” sahut Yaya sembari menarik kedua sudut bibir ke atas.

“Oke, ayah akan tagih janji kamu tahun depan.”

Deal!” balas Yaya dengan sangat percaya diri. Kemudian ia bersandar di pundak pria yang tidak hanya berperan sebagai ayah, tetapi juga sebagai ibu.

Setelah akad nikah selesai, pengantin melanjutkan dengan acara sungkeman kepada orang tua untuk meminta doa dan nasihat agar rumah tangga mereka selalu berjalan harmonis dan bahagia. Diiringi dengan alunan musik yang mendayu-dayu dari tiupan suling bambu, petikan kecapi, serta gendang, membuat suasana Gold Grand Ballroom sesaat penuh haru biru.

Noell menyodorkan lengan jas, agar Yaya bisa mempergunakan sebagai pengganti saputangan.

“Enggak usah, makasih,” tolaknya. Jari-jari lentiknya perlahan menyeka sudut mata yang basah.

Noell yang sedari tadi tidak sengaja mendengar percakapan Yaya dan Pak Irham mencolek lengan sahabatnya. Yaya menyodorkan telinga kiri ke arah Noell.

“Yakin, si Tembok Berjalan mau ajak kamu menikah tahun depan?” tanyanya, sangat penasaran.

Yaya mengangguk. “Makanya kamu nabung dari sekarang, siapkan budget khusus untuk hadiah pernikahan aku nanti. Kalau bisa sih hadiahnya peralatan masak yang belum aku punya, lumayan ada beberapa yang udah aku list,” balasnya. Lalu menarik kedua sudut bibirnya dengan sangat lebar, hingga memperlihatkan deretan giginya.

Noell memutar bola mata dengan malas, Yaya terkekeh.

 

***

cabaca-guritaLanjut Baca Gratis disini Download di Play Store