cover landing

Git and Ran's Marriage

By signaturecoffee


BRIGITA

Aku sudah memastikan diriku cukup rapi saat tiba di pelataran restoran. Aku sedang ada janji penting dan istimewa dengan seseorang. Setelah beres berbenah, cepat-cepat aku turun dan memasuki restoran. Tak sulit menemukannya, dia memilih duduk di koridor belakang restoran.

“Hai, Opa ….” sapaku ceria.

Opaku, Bapak Aswindo yang sangat kusayang, menatapku dengan wajah penuh senyumnya. Dia kemudian memintaku duduk di seberangnya. Seperti biasa, Opa memesan minuman manis untukku. Itu minuman wajib dan pembuka untuk mengusir dahaga.

“Opa tumben banget minta ketemu Gita di tempat gaul begini sih?”

Opa tersenyum lembut, “Kalau di sini aman. Nggak ada yang mau nguping.”

Aku tertawa mendengar perkataan Opa. Celetukan Opa barusan memang benar, banyak yang selalu tertarik setiap kali melihat aku mengunjungi Opa di kantornya. Mendadak aku merasa seluruh dinding memiliki kuping dan pintu serta jendela punya mata.

“Gimana kabar kamu?” tanya Opa sembari menatapku layaknya aku masih bocah kecil diikuti senyum kasih sayangnya.

“Baik. Opa gimana?’

Opa membuka telapak tangan seolah mengatakan ‘kamu lihat kan? Opa sama baiknya dengan kamu.’ Aku tersenyum melihat gesture itu.

“Opa banyak senyum ya, pasti ada sesuatu yang bikin bahagia. Tapi,” aku memicingkan mata, “Gita bakal bahagia kalau bisa dibagi cerita yang bahagia.”

Opa sangat penting untukku, terlalu penting bahkan. Sehingga senyum dan kebahagiaannya selalu menjadi hal yang kuperhatikan. Bahkan aku rela melakukan apapun yang bisa kulakukan untuk membuat penyelamatku ini bahagia dan tersenyum terus.

“Ada banyak hal yang bisa disyukuri dan membuat Opa tersenyum. Bisa-bisa kita sampai malam di sini kalau ingin membicarakannya.”

Aku tertawa, “Ah, benar. Gita nggak bisa sampai malam di sini, banyak kerjaan.”

Opa mengangguk setuju, “Ngomong-ngomong, gimana kerjaan kamu?”

“Baik. Menyenangkan. Kadang membosankan.”

“Sama saja dengan kerjaan Opa ternyata.”

Aku tergelak. Mana bisa dibandingkan? Kerjaan Opa levelnya itu pusing banget banget sebanget-bangetnya.

“Kalau rencana menikah gimana? Kamu ada rencana menikah dalam waktu dekat?”

Lho kenapa jadi ada pertanyaan itu? Tumben-tumbenan Opa nanya beginian.

Aku menatap Opa dan menggeleng, “Nggak ada karena Gita nggak percaya dengan pernikahan, Opa.”

“Kenapa nggak percaya? Masa orang kerja jadi wedding planner kok nggak percaya pernikahan?”

“Ya justru karena Gita kerja beginian, Gita jadi nggak percaya. Buktinya masih lebih banyak jumlah perceraian daripada pernikahan,” gerutuku.

Opa tertawa dan mengelap sudut mulutnya, “Beda orang beda cerita, Gita. Lagian, kegagalan masa lalu cukup berhenti di masa lalu. Jangan  mematahkan kamu terlalu lama. Sudah waktunya mencari suami.”

“Mungkin karena belum bertemu dengan orang yang tepat aja, Opa. Mungkin.”

Aku mengatakan itu hanya untuk membuat Opa tenang. Aku yakin Opa tidak siap mendengar bahwa cucu kesayangannya ini berniat melajang seti hidup. Itu bisa merusak reputasi keluarga Aswindo.

Ngomong-ngomong soal reputasi keluarga, kalau saja bukan karena Opa, pasti sudah sejak lama aku menghapus nama keluarga Aswindo dari diriku. Sejujurnya, menyandang nama itu sungguh beban yang luar biasa menyiksaku. Meskipun aku sudah nyaris memutus semua komunikasi dengan keluarga Aswindo—kecuali Opa tentu saja, aku merasa tetap dibayang-bayangi tekanan semua orang. Ya, jadi seorang cucu Aswindo itu harus sempurna.

“Minggu ini kamu datang kan ke acara ulang tahun Opa?”

Untunglah topik pernikahan tak perlu dibahas lagi. Aku tidak suka harus berkelit, berbohong, atau memutar topik pembicaraan ke topik lainnya.

“Itu ... Gita ….”

Opa mengernyit dalam, “Lho, kenapa ragu? Kamu nggak berniat nggak datang kan?”

Aku memainkan jemariku dengan gelisah. Aku tak pernah melewatkan pesta ulang tahun Opa setiap tahunnya. Meskipun aku hanya datang beberapa menit untuk mengucapkan selamat dan pulang, aku selalu ada di sana. Hanya saja kejadian tahun lalu membuatku berpikir dua kali untuk datang.

“Kejadian tahun lalu kamu lupakan saja ya,” ujar Opa seolah bisa membaca kekhawatiranku.

Kejadian tahun lalu itu saat Papa mengetahui kandasnya hubunganku dan Jose, yang keluarganya cukup terpandang. Aku benar-benar malu karena Papa memarahiku selama kurang lebih sepuluh menit di depan orang banyak karena hubungan kami usai. Aku trauma dan marah, seharusnya aku mengingat bahwa segala sesuatu yang melibatkan aku dan Papa—sekecil apapun itu—bisa berakhir dengan mengerikan.

“Gita masih  malu Opa kalau ingat kejadian itu. Gita sudah nyaris tiga puluh tahun dan dimarahi seperti itu di depan orang banyak.”

Opa menepuk punggung tanganku pelan, “Opa tunggu ya. Karena ada seseorang yang harus kamu temui.”

“Seseorang? Siapa?”

Opa menarik satu sudut bibirnya, “Seseorang yang Opa harap jadi ‘orang yang tepat’ buat kamu. Oh, tapi mungkin itu bukan jadi pertemuan pertama kalian. Sepertinya begitu.”

Aku menerawang sesaat kemudian menatap Opa tak percaya, “Opa jodohin Gita? Astaga.”

Aku mulai panik, membuka tutup mulutku, tapi tak satu pun kata keluar. Mungkin aku terlihat sangat bodoh, Opa justru tersenyum-senyum.

“Dia sepertinya akan segera menemui kamu. Nggak lama lagi.”

“Ya amp- Asta- Ya Tuhan!” Aku meletakkan siku di meja dan memijat pelipisku.

“Kamu nggak punya banyak waktu untuk memutuskan, Git. Jadi setelah pertemuan kalian, baiknya kamu segera memutuskan ya.”

Aku mengangkat tatapanku dan mendesah, “Opa ini pernikahan lho, bukan kejar-kejaran, nggak perlu buru-buru.”

“Kali ini perlu,” Opa menatapku tajam, “Dia kandidat yang sempurna. Opa yakin kalian akan serasi.”

Lagi-lagi aku cuma bisa mendesah kesal.

“Lagipula, kamu nggak akan mengecewakan Opa kan? Opa tahu kamu menyayangi Opa dan akan melakukan apapun untuk Opa.”

Kali ini mataku melebar tak percaya. Aku pasti tak salah, Opa sedang mengancamku!

“Gita nggak bisa, Opa. Pernikahan itu hal yang ….”

Aku mengedarkan mata, berusaha mencari elakkan yang paling tepat, tapi tak terlalu menohok.

“Temui dia dulu. Dengarkan ceritanya. Baru ambil keputusan. Ingat ya, keputusan kamu akan berdampak besar untuk semua orang. Keputusan kamu juga tidak boleh terlalu lama diambil.”

“Gita yakin laki-laki itu pasti … Nggak menarik,” ejekku.

“Sok tahu kamu ini,” balas Opa.

“Opa yakin kalian akan serasi sekali.”

Kalau boleh jujur, satu-satunya Aswindo yang kusayang saat ini mulai terasa sama menyebalkannya dengan Aswindo yang lainnya deh.

***

Aku cukup terkejut dengan pemberitahuan Opa kalau akan menjodohkanku dengan siapapun itu. Aku dan Opa memang sangat dekat, tapi Opa bukanlah orang yang suka mencampuri urusan percintaanku. Malahan sekarang dia mengatakan ingin menjodohkanku. Bahkan dari kata-kata Opa tadi sepertinya Opa sangat yakin kami akan cocok. Sebenarnya aku agak takut jika itu benar, karena penilaian Opa jarang salah. Hanya saja … Dijodohkan? Di jaman sekarang? Oh Tuhan, ini bukan jaman Siti Nurbaya! Aku memang menyayangi Opa, aku bahkan akan mengusahakan mewujudkan hal-hal yang membuatnya bahagia. Tapi pernikahan adalah pengecualian, aku tidak bisa mengabulkannya.

Ada dua alasan kenapa aku tak mempercayai pernikahan. Alasan pertamaku adalah karena kegagalan pernikahan orang tuaku. Melihat seorang pria tega meninggalkan wanita yang ternyata sakit-sakitan dengan dua anak yang harus dibesarkan adalah hal yang menyiksa. Mama bekerja, menjadi ibu, dan menjadi orang sakit pada saat bersamaan. Kalau saja Opa tidak ada dan membantu kami, entah apa yang terjadi.

Dari orang tuaku aku percaya bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini, bahkan cinta. Semua bisa hilang dalam satu kerjapan mata. Itulah mengapa aku tak pernah menjalani hubungan yang serius karena tahu itu cuma sementara. Semua akhirnya berubah saat aku bertemu dengan Jose, yang sialnya dia justru menjadi alasan keduaku tak mempercayai pernikahan.

Ya, alasan keduaku tak mempercayai pernikahan adalah karena aku telah ditipu laki-laki yang kupercayai. Laki-laki yang kukira berbeda dari Papa dan bisa menjagaku seumur hidup justru menjadi pelengkap alasan untukku tak mempercayai pernikahan. Dia meninggalkanku padahal kami sudah bertunangan.

Percayalah, Brigita Yuan Aswindo dan pernikahan bukanlah dua hal yang bisa hidup berdampingan.

Meskipun tak mempercayai pernikahan, aku justru bekerja sebagai wedding planner. Sudah nyaris lima tahun aku mengurus usaha perencanaan pernikahan. Bersama dua sahabatku, Kayla dan Bella, aku membangun Blossom Wedding Planner. Awalnya ide mendirikan usaha ini karena usul Bella dan karena niat kami, Opa bahkan ikut berinvestasi membantu kami. Usaha kami sekarang sudah berkembang cukup pesat, bolehlah disombongkan. Kami sudah menangani berbagai pernikahan dari kelas menengah atas bahkan juga artis dan orang penting di Indonesia.

Mengurus pernikahan seseorang bukan hal sederhana. Banyak tahapan yang dilalui. Pendek kata, akan ada banyak meeting, penawaran, meeting, konsep, meeting lagi, penawaran atau konsep lagi, dan seterus-terusnya hingga akhirnya hari-H tiba. Sama seperti pekerjaan lainnya, selalu ada resiko pekerjaan ini. Ketidakberuntungan bisa saja terjadi saat mengerjakan satu pernikahan dan itu bisa terjadi kapan pun. Contohnya seperti tidak sengaja bertemu dengan seseorang yang paling tidak kami inginkan, dan parahnya jika mereka menjadi klien kami. Dalam kasusku, sialnya, klien itu adalah orang yang membuatku tak mempercayai pernikahan.

What the fuck,” desisku tepat setelah memasuki ruang meeting.

Setelah berpisah dengan Opa tadi, aku menerima telepon dari Kayla. Dia memintaku segera kembali ke kantor. Segera, itu pesannya. Aku bergegas, aku pikir ada sesuatu yang penting untuk dilakukan. Ternyata, bukan penting, tapi mengerikan. Bisa dikatakan ini lebih mengerikan daripada topik perjodohan dan pernikahan yang tadi kubahas dengan Opa.

“Git, hm, ini klien kita.”

Kayla jelas terbata-bata saat ingin mengatakan nama dua orang di depanku. Sepasang kekasih itu menatapku. Satu tersenyum, tentu saja sang wanita. Satunya … Entahlah, aku tak menatapnya.

“Kayla sudah bercerita akan mengerjakan pekerjaan lain, sehingga kami diberi penawaran untuk ganti wedding planner,” ujar si wanita, Renawan.

Aku melirik Kayla sekilas dan mengangguk.

“Kami ...” Dia menunjuk diri dan pasangannya, “Ingin kamu yang menangani pernikahan kami.”

Dang!

Aku merasa sesuatu memukul kepalaku. Meskipun sakit, aku berharap sekalian pingsan saja sekarang.

“Apa?”

Dia meraih tangan prianya dan tersenyum ke arahku, “Ya. Kami ingin menggunakan jasa kamu.”

“Sayang, sebaiknya kita menggunakan jasa Bella aja ya? Kan–”

Aku yakin laki-laki itu mengatakan banyak hal untuk membuat si perempuan merubah keputusannya. Aku tak bisa mendengar dengan seksama karena fokusku justru teralih ke tautan tangan mereka. Rasanya sakit melihat kemesraan kecil itu.

“Kenapa dengan Brigita? Ada masalah? Aku rasa dia sempurna.”

Sempurna.

Aku mendongak dan tak sengaja membuat kontak mata dengan laki-laki itu. Aku mendapati rasa keberatan yang besar disana. Di mata Jose.

“Bella,” gumamku, “Saya rasa kinerja Bella juga bagus. Kebetulan saya sedang overload,” ujarku.

Aku mengelak menerima job ini untuk kenyamananku sendiri bukan kasihan dengan Jose. Tentu saja menangani pernikahan dia adalah hal yang tak mampu kulakukan. Bagaimana aku bisa merancangkan pernikahan pria yang masih kucintai? Bagaimana bisa?

Wajah Renawan langsung masam, “Seharusnya kamu nggak menolak job ini! Saya sudah bayar full lalu kalian memberitahu saya akan ada perubahan wedding planner. Saya sudah berbaik hati mau menerima keputusan itu dan bernego loh! Apa justru sebaiknya saya mundur dan menarik uang? Kalian yakin?”

“Sabar, Ren. Karena begini, peralihan waktu itu super mendadak dan juga Gita lagi repot jadinya–” Akhirnya Kayla bersuara.

“Repot?” Renawan mendengus kesal, “Pernikahan kami ini pernikahan besar. Kalian juga tahu siapa saya dan Jose. Bayangkan kalau kami mundur, saya yakin orang-orang akan mencari tahu dan mempertanyakan profesionalisme Blossom!”

“Saya tahu ini semua kesalahan saya dan tim. Makanya kita berkumpul sekarang di sini. Pertama-tama kami mau meminta maaf dan kedua kami berjanji berkomitmen untuk membantu kalian. Ya kan, Git?” todong Kayla.

Aku menunduk sebentar dan menatap mereka. Sungguh ini usaha yang besar.

Profesionalisme Blossom.

Image Blossom.

Popularitas Renawan.

Dampak penolakan job ini.

Semua hal-hal mengenai itu berputar di otakku selama beberapa saat.

Apakah aku harus mengorbankan Blossom hanya untuk urusan perasaanku?

Tapi bukankah yang paling penting adalah perasaanku?

Tapi bagaimana jika nama Blossom jadi jelek karena Renawan mengatakan penolakan ini ke publik? Dia kan fashionista terkenal.

“Git,” bisik Kayla sambil menyenggol pelan.

“Kalian yakin ingin menggunakan jasa saya?” kataku pelan.

Setelah aku menutup mulutku, aku bisa melihat dengan jelas senyum licik Renawan diikuti anggukannya. Perasaanku memang penting. Tentu saja. Namun, Blossom Wedding Planner jauh lebih penting. Salah satu hal yang tak bisa kukorbankan demi keegoisanku ya usaha ini.