cover landing

Fucking the Playboys

By amysastrakencana


Helen

 

Aku nggak akan pernah lupa kejadian hari itu, sampai kapan pun, selama aku hidup. Salah satu hari bersejarah dalam hidup, karena saat itu aku benar-benar dengan sadar dan bodoh menjatuhkan diri ke dalam dosa dan masalah hidup yang ruwetnya macam mencari jarum di tumpukan jerami.

Hari itu hari Kamis. Hujan turun dengan lebat sehari sebelumnya dan membuat aku berharap hari ini tidak akan terjadi hal yang sama karena ‘stok’ air hujan di langit sana sudah habis hari sebelumnya. Sewaktu tadi siang aku berangkat bekerja, masih ada beberapa genangan air dan cuaca masih terasa lembap. Sisa hujan kemarin. Aku harap sewaktu aku pulang nanti malam, bekas-bekas sudah sirna sehingga aku bisa pulang dengan aman.

Pekerjaanku adalah sebagai Floor Director di salah satu televisi terkenal di Indonesia, PTV. Banyak orang dengan pemikiran menakjubkan di sini sehingga meskipun pekerjaanku terkesan ‘biasa saja’ tanpa jenjang karier yang signifikan, aku menikmatinya. Aku bisa berinteraksi dengan berbagai departemen di PTV, baik Produksi, Talent, Marketing, Brand, dan lain sebagainya. Aku juga bisa berkenalan dengan para selebriti yang tampil di PTV. Aku juga sering bisa terlibat dalam acara-acara sampingan yang diselenggarakan PTV.

Beban kerja pun tidak perlu terlalu berat yang membuat aku harus membawa pulang pekerjaan kemudian stres berhari-hari. Salah satu hal yang kurang menyenangkan, kalau bisa disebut, adalah shift kerja. Kadang aku harus berada di kantor sejak pukul enam pagi. Kadang aku mendapat shift siang dan harus bertahan di kantor hingga tengah malam. My circadian rhythm is a mess. Tapi kalau menyingkirkan soal itu, aku benar-benar senang dengan pekerjaanku sekarang.

Hari Kamis ini, aku masuk siang dan bertugas pada sebuah acara talk show unggulan PTV. Lokasi syutingnya terletak di gedung yang berbeda dengan gedung perkantoran utama PTV. Lokasi studio berada di area yang sama, masih satu kecamatan, namun jaraknya masih sekitar satu kilometer. Aku selesai menjadi lead floor director pukul sembilan tepat. Aku masih harus membereskan segala urusan produksi dan akhirnya baru benar-benar menyelesaikan urusan pukul setengah sepuluh.

Barang-barangku disimpan di loker yang berada di gedung utama PTV, mengingat kami sebagai kru di lapangan cenderung tidak memiliki meja sendiri. Jadi sekarang untuk pulang, aku harus mengambil barangku ke gedung utama dulu. Biasanya ada mobil shuttle dari studio ke gedung utama. Aku sudah menunggu di depan studio, siap menaiki mobil shuttle tercepat yang muncul. Namun sepuluh menit aku menunggu, tidak ada satu pun mobil yang datang. Hujan turun lagi dengan deras sekarang. Perkiraanku bahwa hari ini akan kering, meleset.

Dengan mobil yang tak kunjung tiba dan hujan yang tidak main-main, aku mulai cemas dan kesal. Seorang Satpam akhirnya menghampiri.

“Mbak Helen nunggu apa?”

Shuttle, Pak. Kok nggak ada ya?” Kulirik jam tangan dan Satpam tersebut bergantian.

Beliau menggeleng. “Rute biasa kena banjir, Mbak. Mobil shuttle nggak ada yang lewat.”

Tubuhku rasanya langsung lemas tapi otakku langsung berputar cepat. Alternatifnya adalah kembali dengan melewati jalan tikus alias rumah-rumah dan warung di sekitar studio. Hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki. Aku mengucapkan terima kasih dan segera melesat pergi. Dengan berbekal jaket sebagai pengganti payung, aku berlari menerobos hujan untuk ke gedung utama.

Seperti sudah diduga, tentu saja tubuhku basah kuyup semua. Dari atas sampai sepatu. Dari luar sampai bra. Aku tidak berhenti. Begitu sampai di lantai dasar, aku langsung memasuki lift dan melesat naik, mengambil barang-barangku, lalu nanti akan memesan taksi dan akhirnya beristirahat di rumah. Untunglah besok jadwalku libur (walaupun aku akan masuk lagi hari Minggu nanti).

Beberapa orang yang masih bertahan di kantor memandangku dengan tatapan aneh karena aku seperti keluar langsung dari pancuran. Aku membalas dengan tawa dan buru-buru mengambil tas berisi barang-barang dan yang terpenting: kunci rumah. Begitu tas berada di pundakku, aku kembali masuk lift dan berjalan ke lobi.

Baru sekaranglah aku mengeluarkan ponsel dari saku celana. Kutekan tombol samping untuk membuka kunci. Layar aktif. Namun saat aku menyentuhkan jempol untuk membuka kunci, layar bergoyang aneh dan ponselku langsung mati.

“What?!”

Baterai ponselku tidak habis. Dia baru selesai diisi daya saat tadi aku syuting tadi. Charger pun masih di saku celanaku. Kemudian aku sadar bahwa ponselku basah. Benar-benar kuyup. Kuraba charger di saku. Nasibnya pun sama.

Aku langsung tertunduk lemas. Sedih dan lama-lama kesal. Bagaimana bisa aku bernasib begini?!

“Ahhhh!” Kujambak rambutku sendiri karena stres. Banyak alternatif yang bisa kupikirkan tapi kepalaku mendadak mumet sekali.

Tiintiiin!

Mendongak. Aku melihat sebuah mobil berhenti di depanku. Kaca penumpangnya terbuka. Si pengemudi mencondongkan tubuhnya ke arahku.

“Helen? You okay?”

“Alex! Hai!” Melihat Alex seakan memberikan harapan baru. Kuhampiri mobilnya.

“Lo kelihatan sangat… basah.” Alex bahkan turun dari mobilnya dan menghampiriku.

Perkenalkan, ini Alexander Nataprawira. Kami biasa memanggilnya Alex. Dia satu angkatan denganku sewaktu kami masuk PTV melalui jalur Television Development Program. Kami juga di kelompok yang sama saat wajib militer hingga project-project untuk menentukan kelulusan kami di program tersebut. Alex memulai kariernya sebagai reporter. Mencari berita ke berbagai kota dan lokasi. Mengolahnya di kantor untuk jadi berita berkualitas. Setelah kami bekerja dua tahun, dia mulai dipercaya untuk menjadi presenter juga. Mulai dari berita tengah malam dan dini hari. Sekarang, setelah kami lima tahun bekerja di PTV, dia sudah mulai dipercaya membawakan berita pagi alias di waktu prime time.

Perkenalkan juga ini Alex, laki-laki yang kusukai sejak kami sama-sama masih lusuh dan coreng moreng saat wajib militer.

“Gue kehujanan dari studio ke sini dan HP gue mati total. Kebasahan. Gue mau pulang tapi…”

“Masuk,” Alex mengedikkan kepalanya ke dalam mobil. “Di apartemen gue ada beras. Lo bisa naro HP di beras. Sambil lo mandi dan ngangetin diri. Lo bisa sakit kalau basah kayak gitu terus. Mana ini hujan nggak bakal reda cepet.”

Kami sama-sama melirik ke jalan. Hujan masih turun dengan sangat deras dan bahkan baru saja terdengar suara petir menggelegar.

“Kalau nggak ngerepotin…” ujarku pelan.

Alex hanya tersenyum, menepuk kepalaku pelan, lalu masuk ke mobilnya. Aku mengekor.

***

Apartemen Alex terletak tidak jauh dari PTV. Meskipun keluarganya juga berada di Jakarta, Alex sengaja memilih tempat tinggal sendiri yang dekat dengan kantor supaya memudahkan mobilitasnya. Dia sering berangkat sebelum matahari terbit atau pulang terlalu larut malam. Dengan tinggal sendiri dan jarak yang dekat, dia tidak perlu khawatir di jalan dan tidak perlu mengganggu keluarganya.

Apartemen satu kamar ini terlihat bersih dan rapi. Ada banyak barang-barang namun semuanya tetap rapi. Sepatu yang berjejer di dekat pintu. Action figure di atas TV. Foto-foto selama dia bekerja di PTV yang dicetak dan diberi pigura di satu dinding sendiri. Mataku refleks menyapu semua foto itu.

“Ada muka lo kok.” Alex nyengir. “Tapi jangan harap ada foto keluarga.”

Aku ingin bertanya kenapa. Tapi rasanya itu privasi Alex. Jadi aku hanya tertawa lalu menemukan wajahku. Foto kami saat wajib militer. Foto kelompok kami saat pementasan sebagai tugas akhir. Foto kami saat Alex menjadi presenter berita untuk pertama kalinya dan aku berada di studio meskipun bukan jadwalku bertugas.

“Len, jangan terlalu asyik liatnya. Mending lo mandi dulu.” Alex sudah menyodorkan satu setel kaus dan celana pendek. “Ini baju buat lo pake. HP lo siniin, gue coba selamatkan.”

Kuserahkan ponselku yang gelap seperti ponsel dummy dan kuraih pakaian yang diberikan Alex. Tanpa berkata atau bertanya, aku masuk ke kamar mandi dan langsung melepas seluruh pakaian yang basah lalu menjemurnya. Kamar mandi Alex memiliki water heater sehingga aku mandi air panas dan rasanya nyaman sekali. Meskipun nyaman, aku tidak bisa berlama-lama. Segera aku berpakaian dan keluar.

Semoga Alex tidak keberatan aku tidak memakai apa-apa lagi di balik kaus dan celana pendeknya ini.

“HP lo di sini,” Alex menunjuk sebuah mangkuk berisi beras. Tidak terlihat ponselku sama sekali. “Kerendem.”

“Thanks, Lex.” Aku berdiri di samping Alex, di depan meja dapur. “Lo lagi buat apa?”

“Lagi bikin air panas. Lo mau teh atau kopi?”

“Oh, thanks. Teh aja. Kalau kopi, gue takut nggak bisa tidur.”

Alex menyeduhkan teh manis untukku dan kopi untuknya sendiri. Meskipun tidak jauh dari tempat kami ada sofa yang nyaman, kami malah sama-sama bersandar di dapur.

“Kalau lo mau nginep, nggak masalah.” Kalimat pertama Alex setelah kami sama-sama diam sambil menikmati minuman hangat.

“Hmm.”

“Gue akan tidur di sofa,” Alex menunjuk dengan cangkirnya. “Maksud gue, sambil nunggu HP lo bener dan baju lo kering.”

Mengingat besok aku tidak punya jadwal, sebenarnya tidak masalah. Maka aku pun mengangguk.

“Baiklah. Kalau lo maksa.” Aku menjulurkan lidah, pura-pura terpaksa menerima tawarannya.

Alex terbahak. Dia menyenggol pundakku sampai hampir menjatuhkan teh. “Gue mandi dulu deh.”

Alex pun masuk ke kamar mandi. Aku menghabiskan isi gelas lalu beranjak ke kamar tidur. Kubuka pelan pintunya dan tertegun melihat isi kamar Alex. Kalau di depan begitu ‘ramai’, di kamar malah cenderung senyap. Barang-barang di kamar Alex hanya ada tempat tidur yang dilapisi seprai hitam dengan dua bantal dan satu guling, satu lemari pakaian dengan tiga pintu, meja kerja dengan laptop di atasnya, satu kursi yang biasa digunakan pemain game, satu lukisan pepohonan, dan satu rak di samping tempat tidur. Di atas rak ada lampu tidur dan beberapa buku.

Rasanya tempat ini yang lebih menggambarkan diri Alex. Sederhana, tenang, jujur.

Pelan aku melangkah masuk dan mengelus bed cover yang senada dengan seprai. Kubayangkan setiap malam Alex mengistirahatkan tubuhnya di sini. Kain ini menjadi saksi bisu apa yang dilakukan Alex untuk melepas penatnya.

Bukannya naik ke tempat tidur, aku malah duduk di lantai. Meskipun dingin, tidak masalah. Kuletakkan tangan dan kepalaku di tempat tidur. Momen ini membuatku mengingat perasaanku kepada Alex. Perasaan yang seharusnya aku kubur dan berhenti aku pikirkan.

Aku menyukainya. Mencintainya, mungkin. Sosok yang selalu terlihat ramah dan berjuang paling keras di antara sesama reporter. Terbukti temannya banyak, kelompok kami selalu unggul, dan dia sendiri jadi satu-satunya reporter yang sukses menjadi presenter dalam dua tahun. Mendapat rekomendasi penuh dari Mas Dadang selaku Kadiv Produksi khusus berita, Bang Zaid selaku presenter eksternal dan senior, dan Mas Tommy selaku produser merangkap presenter.

Dan Alex yang sudah wara-wiri di televisi masih Alex yang sama yang sering tertidur di kantor, bangun dengan liur yang kadang menetes, yang kadang malas mandi kalau sudah begadang di kantor.

“Len, kok di lantai?”

Alex berdiri di ambang pintu. Melongok heran ke arahku. Dipergoki Alex, aku segera mengubah posisiku.

“Eh nggak. Tadi lagi liat buku apa di rak lo.”

“Oh. Kalau mau baca, baca aja. Gue tidur di luar ya. Tapi kalau lo mau keluar dan liat gue, um,” Alex terlihat bingung. “Jangan kaget pokoknya. Night, Len.”

Aku tidak mengerti kenapa dia bisa bilang begitu. Kuputuskan untuk mengabaikannya lalu masuk ke balik selimut, berusaha memejamkan mata.

***