cover landing

Everlasting Maker

By HygeaGalenica


"Generalized anxiety disorder?" tanya Endro sembari memainkan pulpen di sela jari. Terdengar nada penuh penasaran dari perkataannya.

"Iya, Pak. Biasanya disebut gangguan kecemasan. Terkadang saya bisa terlihat gugup atau tidak fokus dalam beberapa keadaan. Jika itu terjadi, mohon untuk dimengerti. Saya juga berusaha untuk mengendalikan diri," jelas Michel dengan memilih kata-kata yang paling mudah dipahami.

Penyakit yang diderita Michel benar-benar menyusahkan. Masyarakat pada umumnya masih jarang mengenal tentang penyakit yang namanya sering disingkat sebagai GAD. Istilah ini juga terdengar asing di telinga mereka. Alhasil, ada saja orang yang meremehkan penyakit tersebut dengan menyamakannya sebagai stres atau ketakutan biasa. Dan lebih parahnya lagi, mengira Michel adalah gadis yang lemah imannya.

Setiap mendengar seseorang menyindir penyakitnya—sengaja maupun tidak, dalam diam, Michel berusaha menahan denyutan di dahinya. Bagaikan tertanam sebuah bom waktu di balik tempurung kepalanya dan dia harus menahannya setiap hari untuk tidak meledak.

Hanya dirinya saja yang bisa menjinakkannya. Namun sayang, mau dihentikan berkali-kali, pasti detakan itu akan muncul kembali.

Michel tentu pernah mencoba menjelaskan situasinya kepada kerabat, keluarga besarnya, agar mereka bisa memahami apa yang dia rasakan. Di hadapan bibi serta sepupunya, Michel menerangkan hasil pemeriksaannya secara mendetail, dengan bahasa ilmiah yang kadang dapat mengerutkan kening pendengarnya. Ditambah dengan psikiater Michel yang meminta sang bibi untuk ikut menemaninya selama terapi. Setidaknya, sebagai wali sementara, dia harus mendengarkan saran dari dokter kejiwaan itu demi kesehatan keponakannya.

Sayangnya, manusia sudah dibangun dengan keinginan yang instan.

Tidak suka penjelasan yang rumit.

Terlalu malas berpikir.

Menurut mereka, Michel terlalu sering mengeluh, paranoid yang berlebihan. Seakan dia takut akan masa depan. Mempertanyakan segala hal sehingga semua pekerjaan tidak selesai sebagaimana mestinya.

Pada akhirnya, Michel hanya bisa menelan kekecewaan karena jawaban yang sama selalu dilayangkan kepada dirinya. "Masa gitu aja tidak bisa ditahan," kata bibinya sembari berlalu.

"Jadi, itu alasan kamu tidak ikut masa orientasi dan kuliah sepanjang semester satu?" tanya Endro lagi. Pria itu mencodongkan tubuh ke depan dan mengatup kedua tangan untuk menahan dagu menonjolnya.

"Ah—Iya, Pak." Cepat-cepat Michel menjawab setelah tersadar dari lamunan. "Saat itu, saya dalam masa pemulihan dan tidak bisa keluar dari rumah selama berbulan-bulan. Saya harus menjalani beberapa sesi terapi agar ketika kembali lagi ke lingkungan perkuliahan, efek kecemasannya tidak muncul secara berlebihan."

"Artinya, kamu sudah melewati masa yang sulit, ya. Saya bersyukur kita masih bisa dipertemukan di sini." Senyuman hangat di wajah Endro yang bersih tanpa jerawat ataupun rambut halus sempat membuat Michel terpesona.

"I-iya ...." Michel mengalihkan pandangan dari Endro. Jantungnya berdebar cepat.

Apakah dia paham dengan penjelasan dari Michel? Kenapa dia bisa mudah memahaminya sedangkan orang lain tidak? Pertanyaan demi pertanyaan mulai mengerumuni benaknya.

"Bagaimana dengan keluargamu? Apa mereka mengizinkanmu tinggal di kosan?" Endro menyandarkan punggung ke sandaran kursi.

"Ah, kalau itu, psikiater yang sempat merawat saya sudah mengizinkan. Dengan alasan saya memiliki akses lebih mudah untuk pulang pergi ke kampus. Selain itu, bibi saya mencarikan tempat tinggal yang tidak jauh dari sini. Kos putri yang saya tinggali sekarang ada di belakang fakultas, lewat jalan tembus di samping tempat parkir."

"Apa kamu yakin bisa tinggal sendirian? Apalagi di lingkungan baru?"

"Kalau ditanya yakin atau tidak … saya juga masih ragu. Tapi saya tidak ingin menyusahkan Bibi terus. Apalagi saya sudah terbiasa tinggal sendirian … semenjak Ibu meninggal.” Terdengar nada pilu di suara Michel. “Penyakit ini pun baru muncul setelah lulus SMA. Jadi ... saya akan berusaha untuk kembali sedia kala."

"Bagaimana dengan ayahmu?"

Michel terdiam sebentar, menelan ludah pahit di tenggorokannya. "Beliau ... sudah menikah lagi."

"Oh—astaga. Maafkan saya yang sudah bertanya hal sensitif kepadamu."

"Ah, iya. Tidak apa-apa, Pak." Michel membalas dengan senyuman kecil.

Endro menutup buku catatan yang tergeletak di atas meja kerjanya. "Baik. Kita akhiri saja sesi konsul hari ini. Kalau ada perlu, kamu bisa menghubungi saya melalui WhatsApp. Kamu sudah menyimpan nomor saya, kan?"

"Ya, Pak. Sudah."

"Bagus. Kalau kamu ingin bertemu dengan saya, jangan lupa japri dulu. Jadwal saya sering penuh, jadi kamu harus mengabari saya satu hari sebelumnya, oke?"

"Siap, Pak." Michel memperbaiki posisi duduknya agar lebih tegak. Semacam memberi penghormatan sebelum mengakhiri konsul hari ini.

"Dan satu lagi."

"Ya?"

"Bisa kamu tidak memanggil saya bapak? Saya ini masih muda dan single, belum bapak-bapak." Endro terkekeh-kekeh menjelaskannya. "Panggil saja Kak Endro. Tapi ingat, saya tetap dosen pembimbing akademikmu. Tetap jaga sikap walau kamu memanggil saya kakak."

***

Baru saja Michel keluar dari ruang prodi, nuansa di luar begitu berbeda dengan kesunyian di dalam sana.

Tabuhan drum dan dengungan gitar listrik memekakkan gendang telinga. Kolaborasi dari vokal tenor dan mezzo-sopran semakin memeriahkan suasana fakultas yang begitu riuh dan penuh dengan aura bersemangat. Sekumpulan mahasiswa sedang mempersiapkan diri jauh hari sebelum pentas seni yang akan diadakan bulan depan, memperingati ulang tahun dari fakultas kebanggan mereka.

Gadis berambut panjang dan berponi lurus itu mempercepat langkahnya menyusuri lorong fakultas. Ujung pita yang tersemat di blouse scuba merah bata menari-nari di udara. Bunyi langkah dari sepatu pantofel bergema sepanjang jalan. Dia ingin menjauhi alun-alun fakultas yang digunakan sebagai tempat latihan Jurusan Etnomusikologi.

Beberapa mahasiswi yang mengenakan selempang warna-warni yang melingkar di pinggangnya menguasai lobi fakultas yang sudah lengang. Gerakan elok nan lentur mereka tunjukan dengan penuh penjiwaan. Siapa pun yang melihatnya pasti akan berdecak kagum.

Michel terpaksa memutar karena tidak bisa lewat. Padahal jalan pulang tepat di luar lobi. Dia berjalan menyusuri lorong di sayap kanan gedung. Kalau tidak salah, ada pintu besi yang akan tembus ke tempat parkir.

Suara pria dengan penuh hentakan dan hayatan terdengar di salah satu barisan kelas. Kursi-kursi kuliah terlipat dan digeser ke salah satu sudut ruangan. Berkumpul sebuah kelompok besar yang membuat lingkaran dengan tiga orang yang berdiri di tengah, saling bersahutan dalam membawakan sebuah puisi.

            Keringat yang luruh di dahi bukanlah hal yang akan mengganggu akting yang begitu memukau. Emosi yang begitu dalam mereka pancarkan dari seluruh titik wajah, aura yang menekan begitu terasa hingga ke luar ruangan.

Dengan sikap yang sama, Michel segera menjauh dari sana. Tanpa melihat aksi sandiwara anak Jurusan Sastra Bahasa yang dapat menggentarkan sanubari.

Sedangkan Jurusan Seni Rupa—yang Michel ikuti—sudah kabur duluan dari hiruk pikuk Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Clarius Jaya.

Jurusannya dikenal berisi orang-orang yang cinta akan kedamaian, menghindari tempat penuh kebisingan untuk mencari inspirasi. Berbeda dengan jurusan lain yang berbagi gedung yang sama.

Teman-teman sekelas Michel lebih memilih menyendiri bersama alam. Enggan berkumpul dalam lingkungan yang ramai. Membuat kelompok kecil dan menghabiskan waktu di dalam museum atau galeri seni yang tenang.

Tur singkat Michel pun berakhir. Pintu menuju jalan pulang terbuka lebar. Sinar matahari senja menyambutnya penuh suka cita.

Setelah kuliah perdananya di kelas, berkenalan dengan teman sekelas, serta bertemu dengan Endro; Michel memutuskan untuk pergi ke indekos yang belum sempat dia kunjungi. Dia hanya pernah ke sana sekali saat bibinya mengantarkan kopernya tadi pagi.

Michel puas dengan kamar yang dilengkapi dapur mini dan kamar mandi dalam. Tidak perlu parno untuk mengantre di kamar mandi atau dapur umum yang juga tersedia di indekos tersebut.

Baru dua menit menjauhi gedung fakultas, Michel merasa sudah berada di tempat yang berbeda lagi. Wilayah di belakang fakultasnya sangat sepi. Hanya suara angin yang menerpa rimbunan pohon, bergerimisik menemani Michel selama di jalan. Tidak ada kendaraan yang lewat di sana. Berkat perbaikan jalan secara besar-besaran, membuat mahasiswa yang membawa kendaraan harus memutar ke jalan alternatif.

Sedikit lagi Michel akan sampai ke tempat tujuan. Namun, perjalanannya mulai terusik akan sesosok laki-laki misterius yang mengenakan denim longgar, jaket hitam, dan kupluk abu-abu yang akan dia lewati beberapa langkah ke depan. Dia sedang mengais-ngais di pinggir jalan, seperti sedang mencari sesuatu.

Gadis berponi lurus itu ingin mengabaikannya, tetapi hati kecilnya mengatakan bahwa itu adalah tindakan yang tidak sopan.

Beberapa meter lagi, Michel akan mendekati punggung lelaki yang sedang berjongkok itu.

Kabur adalah pilihan yang bebas dari masalah. Keputusan yang sangat menggoda untuk Michel.

Namun, dia segera teringat kembali petuah psikiaternya untuk tidak menggunakan pilihan itu terlalu sering. Apalagi jika berkaitan dengan masalah kecil.

"Cobalah lebih percaya diri, percaya kepada orang lain. Berikan mereka kesempatan untuk melakukan hal baik kepadamu dan kamu juga coba melakukan hal yang sama. Pelan-pelan … hadapi rasa takutmu." Nada bicara dokter yang lembut dan bersahaja itu selalu dia putar berulang dalam ingatannya.

Akhirnya, Michel mencoba memberanikan diri. Tekadnya sudah bulat.

"Apa Anda sedang mencari sesuatu?" tanya Michel sembari membungkuk dan menatap laki-laki itu dari samping. Dia bisa melihat secara jelas wajah kebingungan dari lelaki yang sedang meraba-raba tanah itu.

Lelaki itu mendongak. "Oh, ada cewek."

Michel mengerutkan kening sesaat mendengar ucapan pertama yang dilontarkan lelaki itu. Dari nada bicara dan sikapnya yang tanpa malu melihat tubuh Michel dari bawah ke atas, membuat gadis itu merasa sial telah menanyakan keadaannya.

Kemungkinan dia adalah cowok SMA nakal, suka menggoda mahasiswi yang biasa lewat di jalan. Meskipun dilihat secara saksama, wajahnya lumayan juga untuk ukuran bocah.

Sambil menyeka keringat, cowok itu lanjut berkata, "Kancing. Kamu melihat kancing berwarna pink?"

Kerutan alis tebal Michel semakin mendalam. Kancing? Pink? Sejak kapan preman tengil suka mencari kancing yang terjatuh di jalan? Sudah pasti cowok tidak beres.

"Oh, tidak. Aku baru saja lewat sini. Kalau gitu, aku permisi." Michel memutuskan berjalan kembali. Dia tidak mau berurusan dengan cowok tidak jelas.

Tiba-tiba telapak tangan yang dipenuhi dengan pasir meraih pergelangan tangan Michel. Membuat gadis berambut panjang itu hampir terjungkal ke belakang. "Bantu aku, dong! Aku tidak bisa tidur nyenyak kalau enggak dapat itu."

Orang aneh. Begitu pikir Michel.

"Ayo, dong ... kalau sama-sama cari, pasti cepat ketemu."

Michel mencoba untuk menarik diri dari lelaki asing itu, namun genggaman tangannya begitu kuat. Spontan pikiran-pikiran negatif mulai memenuhi kepalanya. Dia takut hal buruk akan menimpanya.

Dia juga berada di posisi yang kurang beruntung, berada di tengah-tengah antah berantah.

Ingin sekali berteriak, tetapi tidak ada tanda kehidupan di sekitarnya. Indekos dan fakultas terasa sangat jauh dari jangkauan.

"Ba-baiklah. Tapi sebentar saja." Michel menjawab dengan takut-takut.

"Asyik! Makasih, Cantik."

Kesan Michel ketika disebut cantik olehnya malah terasa menjijikan. Gadis itu terpaksa menuruti permintaan cowok yang namanya saja tidak dia ketahui itu.

"Kamu cari di sekitar trotoar. Aku di jalan. Kancing pink, oke?"

Michel mengangguk kecil. Dia tidak mau asal berbicara. Sebisa mungkin meminimalisir kesalahan tanpa menurunkan kewaspadaannya.

Selang beberapa menit, Michel mulai merasa tidak ada gunanya berada di sana. Bantuan tidak akan datang. Tidak ada orang yang berani lewat di sini.

Apakah karena mereka sudah melihat cowok ini dari kejauhan? Sial sekali nasibnya.

Michel menyusuri trotoar dengan perasan kesal. Manik kecokelatannya sekejap menangkap sebuah benda yang tersangkut di celah retakan trotoar—sebuah tutup botol air mineral. Celah itu lumayan besar untuk ukuran jari manusia. Ketika dia menarik plastik biru itu, tampak kancing yang tergelatak di dalam sana. Kancing berwarna merah muda dengan motif bunga sakura yang mungil.

"Keren! Kamu menemukannya. Terima kasih." Cowok itu langsung berjingkrak kegirangan dan merampas kancing itu dari jari Michel.

Tidak sopan sekali, pikir Michel dengan kesal.

"Itu bukan kancingmu, kan? Untuk apa kamu cari benda yang harganya enggak sampai seribu gitu?" tanya Michel sebal, tidak tahan melihat tingkah laku cowok itu.

"Kamu mau tau, ya?" Cowok itu tersenyum miring dan mulai menggoda Michel seolah-olah dia punya sebuah rahasia yang sangat menarik. Gigi gingsul mengintip dari balik bibirnya. Walau dia menyebalkan, Michel memberi satu poin untuk gingsulnya yang manis.

"Tidak juga. Sudah, kan? Aku mau pulang, udah mau Magrib," pamit Michel sembari mengambil langkah besar dan menjauh.

Sekitar sepuluh meter jarak di antara mereka berdua, cowok itu pun meletakan kedua tangan dekat dengan mulutnya, seolah dia berteriak dari kejauhan. "Ini bukan kancingku! Ini punya cewek yang menghilang satu tahun yang lalu!"

Bulu kuduk Michel spontan berdiri tegak. Dia cepat-cepat menoleh ke arah cowok itu dan melihat senyuman paling mengerikan yang pernah ada.

Berlatarkan langit jingga yang bergradasi dengan warna ungu, sosok kurus itu malah merusak keindahan kanvas alam yang ada. Bibirnya melebar hingga muncul lesung pipi yang dalam, namun matanya sama sekali tidak menunjukan ekspresi apa pun. Kosong. Seperti mata ikan yang sudah lama mati.

“Sampai jumpa lagi, Cantik!”

***