cover book

Sembilan Belas Tahun

Buku: Chosen

Seloyang kue spons dengan krim dan tatahan stoberi tersimpan manis di meja makan. Mengelilingi meja itu, duduk Natania dan kedua orang tuanya. Pak Eisorez merapatkan bibir dan matanya berkaca-kaca. Bu Eisorez menyeka air mata dengan saputangannya. Saputangan itu, berikut saputangan milik seluruh anggota keluarga Eisorez, disulam sendiri oleh sang ibu.

Hari ini memang hari yang spesial. Orang bisa melihat tanda-tanda spesial itu dari kue yang dipersembahkan khusus untuk Natania. Di Aprabeia, mentega dan gula bukanlah bahan makanan yang murah. Masyarakat kelas menengah ke bawah seperti keluarga Eisorez harus berpikir dua kali untuk membelinya. Waktu masih berumur lima tahun, Natania sampai bercita-cita bekerja di pabrik mentega dan gula supaya bisa menikmati dua produk itu sepuasnya. Natania kecil terlalu polos untuk menyadari bahwa di Aprabeia, hanya kalangan bangsawan yang bisa menikmati apa pun sepuas mereka.

Namun, hari ini keluarga Eisorez tidak memusingkan harga makanan ataupun kelas sosial mereka. Hari ini Natania Eisorez berulang tahun yang kesembilan belas. Bagi masyarakat Aprabeia, sembilan belas adalah lambang kedewasaan dan gerbang menuju kehidupan yang sesungguhnya. Sembilan belas adalah usia ketika seseorang diizinkan mencari nafkah. Sembilan belas adalah usia ketika seseorang bisa memutuskan hidup sendiri tanpa dikira bermasalah dengan keluarganya.

Sembilan belas juga menjadi usia minimal yang diwajibkan untuk ikut serta dalam Pemilihan Jodoh.

Bagi Natania, praktik Pemilihan Jodoh jauh lebih konyol daripada kedengarannya. Pemuda-pemudi berusia 19-24 tahun dari seluruh penjuru Aprabeia diharuskan mengikuti Pemilihan. Profil-profil mereka akan diseleksi oleh pihak keluarga Kerajaan dan bangsawan yang membutuhkan pendamping hidup.

"Memangnya mereka tak bisa mencari sendiri?" gerutu Natania suatu kali.

Natania merasa Pemilihan Jodoh merampas hak warga biasa seperti dirinya. Bagaimana jika ia jatuh hati pada sesama warga biasa? Bagaimana jika ia terpilih dan tak menyukai calon suaminya? Natania sering mendengar rumor tentang kehidupan pernikahan mereka yang terpilih dalam Pemilihan. Tak semuanya buruk. Namun perbandingan kabar baik dengan kabar buruk hanya satu banding sekian.

Natania pernah mendengar si A yang tak dihormati oleh istri bangsawannya. Sang istri berfoya-foyamenghamburkan uangdan mengingatkan siapa yang lebih kaya jika sang suami menegurnya. Ada pula kisah si B yang suaminya jarang pulang ke rumah. Ditengarai suami si B hobi minum-minum dan merayu setiap perempuan yang ia temui di bar. Yang paling parah adalah si C. Beberapa orang bersaksi perempuan malang itu sering keluar dengan lebam-lebam di wajah. Mereka yakin, perempuan itu adalah korban dari aksi kekerasan suaminya sendiri. Suaminya memang dikenal sebagai orang yang keras dan angkuh.

Tentu saja, mereka bangsawan dan rakyat Aprabeia diajari bahwa bangsawan dan keluarga Kerajaan adalah manusia suci. Tak boleh ada yang menjelekkan mereka. Tak boleh ada yang memberitakan keburukan mereka. Jika ada yang melanggar, Humas Kerajaan akan segera memanggil dan menindak mereka. Tak pernah ada yang tahu tindakan macam apa yang diberlakukan Humas Kerajaan. Namun, sudah jadi rahasia umum kalau Humas berhasil menjinakkan penentang paling keras sekalipun menjadi sepatuh anjing piaraan.

Wajarlah jika kini Natania menatap kuenya dengan muka masam, padahal kue yang dipersembahkan untuknya ini adalah kue favoritnya. Sama seperti pemberitaan mengenai keluarga bangsawan, Pemilihan Jodoh bukan hal yang bisa ia langgar. Petugas dari pihak Kerajaan rutin mengadakan sensus tahunan. Mereka akan tahu siapa saja yang telah menginjak usia sembilan belas tahun. Jika Natania menolak ikut serta, ia dan keluarganya harus rela mendekam di penjara.

"Sembilan belas ...," isak Bu Eisorez. "Kau sudah bisa ikut Pemilihan, Sayang!"

Tanpa sadar Natania mengepalkan tangan. Berlawanan dengan dirinya, Bapak dan Ibu Eisorez selalu berpikir Pemilihan Jodoh adalah hal baik. Kedua orang tuanya selalu ingin agar keluarga mereka naik derajat. Mereka ingin harga-harga bahan pokok tak lagi menjadi sesuatu yang perlu dirisaukan. Di Aprabeia menikahi bangsawan menjadikan seseorang bangsawan juga, begitu juga dengan seluruh keluarganya.

Keinginan ini tak mampu dikabulkan dua kakak lelaki Natania. Lieb, kakak pertama, gagal dalam dua kali Pemilihan saat usianya berada dalam rentang 19-24 tahun. Tak ada Pemilihan ketika Nomrel, kakak kedua, berada di rentang usia tersebut. Kini Lieb menikah dengan Amy, warga biasa dari keluarga penenun, sedangkan Nomrel masih asyik membujang. Ia tinggal mengontrak dengan teman-temannya di Ibu Kota, mengadu nasib sebagai fotografer lepas.

Natania ingin nasibnya seberuntung kedua kakaknya. Ia berharap usianya langsung 25 tahun saja agar tak perlu mengikuti Pemilihan. Meski belum ada pernyataan resmi dari pihak Kerajaan, desas-desus bahwa Pemilihan akan digelar tahun ini telah beredar.

"Mari kita iris kuenya dan berdoa agar putri cantik kita mendapatkan seorang pangeran!" seloroh Pak Eisorez sambil tergelak.

Natania tak tahan lagi. Ia berkata lirih, "Apa Ayah berpikir aku akan bahagia kalau aku lolos Pemilihan?"

"Tentu saja! Kau akan tinggal di rumah yang indah. Kebutuhanmu akan dipenuhi dengan segera. Kau akan makan makanan enak sebanyak yang kau mau!"

"Hanya itu? Pernikahan bukan sekadar rumah indah, kebutuhanku, dan makanan enak, bukan?"

Gelak tawa Pak Eisorez mereda.

"Ayah hanya ingin kau bahagia," ucapnya. "Bangsawan Aprabeia memiliki segala keistimewaan yang bisa ditawarkan negeri ini. Ayah mana yang tak mau melihat putrinya diperlakukan seperti itu?"

"Bagaimana kalau aku tak menyukai suamiku?"

"Oh, kau pasti akan menyukainya." Bu Eisorez melambaikan tangan seolah hal itu bukan masalah. "Kau pasti akan mendapat lelaki yang cocok untukmu. Jika dia memilihmu, maka dia merasa cocok denganmu. Dia pasti akan mencintaimu dan memperlakukanmu dengan baik."

"Ibu .... Tidakkah Ibu pernah dengar rumor tentang mereka yang lolos Pemilihan?"

Natania mulai sedih karena orang tuanya terkesan menyepelekan perasaannya. Ini tak sepenuhnya benar, sebab kini Bapak dan Ibu Eisorez menatap Natania dengan agak muram.

"Selalu ada yang baik di antara yang buruk," jawab sang ibu. "Ibu tahu rumor jelek sering terdengar daripada yang baik-baik, tetapi yakinlah kalau akan mendapat yang baik, Sayang."

"Lagi pula kau gadis yang kuat. Ayah masih ingat bagaimana kau mengusir anak-anak yang lebih tua darimu karena mereka mengganggu seorang anak kecil." Pak Eisorez tertawa sedikit. "Kau tentu takkan membiarkan suamimu berlaku semena-mena padamu, kan?"

Itu benar. Meski dari luar terkesan lembut dan manis, Natania bukan tipe gadis yang bisa ditindas. Dulu ia memang cengeng, tetapi setelah kedua kakaknya mengajaknya berlatih bela diri ia jadi lebih berani meski latihan itu hanya latihan ala kadarnya. Karena tak punya uang untuk ikut klub, Eisorez bersaudara patungan menyewa video latihan bela diri berikut alat pemutarnya. Waktu itu, usia Natania masih sebelas tahun.

"Tentu tidak, tapi aku juga ingin merasa dicintai."

Tiba-tiba Natania merasa amat nelangsa. Air matanya mulai mengalir. Tak pernah sebelumnya ia menangis di hari ulang tahunnya sendiri.

"Kau akan mendapat suami yang baik," ujar sang ibu. "Kau pasti akan mendapatkan yang baik. Ibu mendoakanmu selalu agar kau mendapat yang baik."

Bu Eisorez bangkit dan mencium puncak kepala Natania. Wajah Pak Eisorez tampak kaku saat ia berkata, "Lagi pula belum tentu kau akan terpilih. Bisa jadi kau akan sama beruntungnya dengan Lieb dan Nomrel."

Ada kegetiran dalam suara Pak Eisorez saat mengatakan beruntung. Natania menyadari itu, tetapi ia memilih mengabaikannya. Suasana hatinya kini tak mengizinkan dirinya berempati pada sang ayah.

"Sudahlah, kita bisa memikirkan Pemilihan nanti," ucap Bu Eisorez. "Sekarang ayo iris kue spesialmu, Sayang! Ibu sengaja bangun pagi-pagi sekali untuk membuatnya."

"Oh, terima kasih, Ibu," balas Natania. "Rasanya pasti sangat enak."

Membuat kue memang keahlian Bu Eisorez. Tak heran jika ia menjadi pegawai kesayangan Nyonya Calassia si pemilik toko kue, sedangkan Pak Eisorez mencari nafkah dengan bekerja di peternakan domba milik Tuan Habben. Tuan Habben bukanlah tipe majikan yang berperangai indah. Mukanya masam dan bicaranya kasar. Namun ia cukup baik mengizinkan pegawainya membawa pulang sebotol susu domba setiap dua minggu sekali.

Natania sendiri masih bekerja serabutan sejak lulus SMA. Sambil mencari pekerjaan tetap, ia memenuhi panggilan tetangga untuk membantu pekerjaan rumah mereka. Terkadang ia juga dipanggil untuk mengajarkan pelajaran sekolah pada anak-anak yang lebih kecil, tetapi untuk jasa ini panggilannya tak terlalu banyak. Tetangga tak enak hati membayar Natania sekadarnya, padahal Natania tak keberatan dengan bayarannya yang pas-pasan. Ia senang mengajar dan menyukai anak-anak. Kalau Natania punya uang berlebih, ia pasti sudah kuliah dan melanjutkan mimpinya menjadi guru. Natania bukannya tak pernah mencoba mengiklankan jasanya pada keluarga-keluarga kaya. Namun, ia selalu ditolak lantaran tak punya gelar Sarjana Pedagogi.

Untuk sementara keluarga Eisorez melupakan segala hal yang berhubungan dengan Pemilihan Jodoh. Mereka menyantap kue ulang tahun Natania dengan hati gembira. Kue itu pasti ludes jika mereka tak ingat menyisakan dua potong untuk Lieb dan Amy. Kakak dan ipar Natania itu tak bisa hadir pagi ini karena Lieb harus bekerja di ladang jagung milik keluarga Tavourn.

cabaca-guritaLanjut Baca Gratis disini Download di Play Store