cover landing

Bedfriend for 365 Days

By LoVelly_vel


Dinginnya udara malam menusuk kulit Elina. Bahkan jaket lusuh hadiah dari pembelian motor tidak bisa menangkisnya. Dengan sisa tenaga, Elina mendorong motor untuk masuk ke rumah berukuran sangat minimalis. Hanya terdapat dua kamar tidur, ruang tamu yang difungsikan untuk menonton televisi sekaligus tempat parkir motor matik yang starter tangannya sudah tidak berfungsi. Sepetak dapur dan satu kamar mandi yang cukup untuk ditinggali Elina bersama sang nenek. Orang tua Elina sudah meninggal 2 tahun yang lalu, meninggalkan utang sebesar 1,5 miliar.

“Mbah. Mbah putri sampun sare? (Mbah putri sudah tidur?)”  lirih Elina sambil berjalan ke kamar sang nenek. Membuka pintu yang tidak terkunci dan mendapatinya sudah terlelap.

Tubuh renta itu tertutup kain jarik berlapis selimut untuk menghalau dinginnya malam kota Solo. Sejak sore hujan mengguyur cukup deras dan mereda sekitar pukul delapam malam. Sementara saat ini jarum jam sudah menunjuk pada angka lewat tengah malam.

Kembali menutup pintu lantas bergegas membersihkan diri. Inilah rutinitas kegiatan Elina setiap hari. Harus bangun ketika azan berkumandang dan membantu neneknya untuk memasak bubur beserta sayur tumpang. Dilanjutkan bekerja sebagai public relation di sebuah hotel bintang 3 kawasan Slamet Riyadi. Sorenya Elina bekerja sebagai pelayan kafe Sehidup Semati hingga dini hari.

Langkah Elina menuju ke kamar terhenti ketika melihat lantai basah karena atapnya bocor. Ia menghela napas pelan. Meletakkan tas selempang di kursi lalu meraih kain lap dan mengepel lantai tersebut. Pinggangnya yang terasa mau putus tidak dirasa. Elina berusaha untuk tidak mengeluh. Karena memang tidak guna.

Sudah dua tahun Elina berusaha membayar utang orang tuanya dengan cicilan. Tetapi utang itu tidak kunjung berkurang, justru semakin bertambah setiap hari. Dari nominal 750 juta sekarang berkembang biak menjadi 1,5 miliar. Well, itulah risiko meminjam kepada lintah darat. Semakin lama membayar, maka bunga yang dibebankan kian menggunung dan mencekik leher.

“Nduk, lagi balik? (Nak, baru pulang?)”  Suara Suparni mengagetkan Elina.

“Mbah Putri kok bangun?”

“Iya, denger suaramu. Wes (Sudah) sini biar Mbahe aja, kamu buruan mandi air anget terus istirahat.” Suparni merendahkan tubuh dan berniat merebut kain pel dari tangan Elina. Namun, sang cucu lantas membawanya duduk di kursi busa ruang tamu.

“Sampun, Mbah (Sudah Mbah), Mbahe lanjut istirahat saja,” pinta Elina.

Tangan kasar Suparni lantas meraup wajah sang cucu diikuti tatapan nanar. “Ealah Nduk, seng sabar. Insya Allah uripmu bakalan kepenak. (Yang sabar Nak, mudah-mudahan hidupmu akan lebih membaik.)”

Elina tersenyum samar seraya menggenggam tangan Suparni yang sudah berkerut dimakan usia. “Amin. Mpun, Mbah Putri sare malih mawon. (Simbah kembali tidur saja.)”

“Tak godokne banyu ya, Nduk. Dinggo adus. (Aku hangatkan air untuk mandi.)”

“Mboten usah, Mbah. Mangkih Elina godog piyambak. (Tidak usah Mbah, nanti Elina rebus sendiri.)”

Melihat sang cucu yang keras kepala, Suparni mengangguk paham dan berjalan ke dalam kamar untuk beristirahat. Lalu Elina berlari kecil ke kamar mandi dan membasuh diri tanpa menghangatkan air terlebih dahulu. Menggigil tentu saja.

Sebelum bergegas untuk tidur, Elina mencuci wajah dengan sabun muka seharga lima ribu rupiah. Tidak ada facial wash atau krim malam dari dokter kecantikan seperti milik sahabatnya, Serafina. Beruntung sang ayah mewariskan kulit putih keturunan Tionghoa yang tidak rewel.

Netra Elina menatap pantulan wajahnya dari cermin. Kantung mata yang tercetak di bawah mata sipit itu tampak jelas. Lalu menyeka wajah dengan handuk kasar.

“Semangat, El!” ucap Elina menyemangati dirinya sendiri. Ia hanya memiliki semangat dan tenaga untuk bisa melanjutkan hidup. Meskipun terkadang rasa ingin menyerah tebersit di benak.

***

Melihat Elina yang baru saja mematikan motornya, Serafina lantas berlari kecil menghampiri. Langkah Serafina tampak buru-buru.

“El, pokoknya kali ini kamu harus bantuin aku,” ujar Serafina tergesa. “Aku mau nemuin temennya Dennis. Dia bilang mau kasih tahu keberadaan Dennis.”

“Terus?” Salah satu alis Elina naik ke atas tidak paham. Setelah mendapatkan telepon dari Serafina 30 menit yang lalu, Elina langsung melaju ke lokasi. Kebetulan hari ini libur kerja di hotel.

“Gini….” Serafina menjeda ucapannya sebentar. “Kita kan punya ukuran baju yang sama. Kamu gantiin aku fitting di sini ya, please. Bentar lagi Jimmy bakalan nyampek.”

“Hah? Wes gendeng kowe (sudah gila kamu), Fin? Nggak!”

“Sekali wae (saja),” ujar Serafina mengiba. Ia memasang wajah memelas yang sulit ditolak oleh Elina.

“Tapi Fin, aku ngomong apa sama Jimmy? Kowe ojo ngawur! (Kamu jangan sembarangan!)”

“Wes (Sudah), Jimmy biar aku yang urus. Makasih ya Elina!” Serafina langsung berlari menghampiri ojek online yang baru saja datang. Memakai helm lantas membonceng di belakang.

“Loh! Fin! Serafina!” seru Elina yang diabaikan oleh sang sahabat. Ojek online itu sudah membawa Serafina pergi begitu saja.

“Aduhhh! Fina cari masalah aja!” lirih Elina bingung. Jika tidak merepotkan Elina, maka itu bukan Serafina, sahabat sejak mereka belajar di bangku SMA.

Langkah Elina maju-mundur di depan butik yang dipenuhi dengan kebaya serta gaun pernikahan di etalase kaca. Suara mobil yang berhenti tertangkap oleh rungunya. Ia menoleh dan mendapati sebuah mobil BMW hitam berhenti tidak jauh dari sana.

Seorang pria dengan rambut tebal yang tersisir rapi ke belakang turun dari mobil mewah tersebut dengan ponsel menempel di salah satu telinga. Alis dengan cetakan rambut yang berjejer rapi tampak mempertegas struktur wajah galak itu. Kemeja warna putih dengan lengan yang dilipat hingga siku membungkus tubuh proporsionalnya. Inilah pria yang akan menikahi Serafina satu bulan lagi, Jimmy Hartawan. Putra dari pemilik Hartawan Mall di Solo yang sudah menggilai Serafina sejak berusia 8 tahun. Terkadang Elina masih heran, umur sekecil itu apa paham dengan makna cinta?

Raut wajah Jimmy mengeras setelah menerima panggilan. Elina menebak jika pria itu baru saja menerima panggilan dari Serafina. Kilatan amarah sekilas tampak di irisnya yang gelap. Sementara itu Elina masih berdiri di depan butik tanpa bergerak. Ia menundukkan pandangan dan menatap sandal jepit yang digunakan.

“Kamu mau berdiri di situ aja?” ujar Jimmy seraya melirik dari ekor matanya.

“Oh, i-iya aku masuk,” jawab Elina tergagap. Rasanya sangat canggung berbicara langsung dengan Jimmy meskipun mereka sempat menjadi teman dunia maya. Well, bukan sebagai Elina, tetapi Serafina.

Tangan Elina meremas tas selempangnya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh bagian butik. Segala jenis gaun dan kebaya melekuk apik tubuh manekin di setiap sudut ruangan. Indah sekali.

“Selamat siang, Mas Jimmy. Ngapunten (mohon maaf), Bu Desi hari ini ada acara. Beliau tidak bisa ikut bantu fitting, karena Mas Jimmy mendadak ganti jadwal,” jelas seorang wanita dengan seragam bertuliskan Rosemary Butik dan papan nama Wulan di dada kanannya.

“Mana setelan saya?” tanya Jimmy tanpa berbasa-basi.

“Oh baik Mas, sudah kami siapkan. Silahkan ke arah sini,” tutur Wulan seraya menunjukkan jalan kepada Jimmy. “Untuk gaun pengantin di sebelah sini, Mbak.” Wulan juga menunjukkan ke sisi yang berlawanan arah kepada Elina.

Kebaya model merak dengan ekor yang menjuntai panjang warna putih, membuat kedua mata Elina berbinar kagum. Tambahan payet pada bagian dada menambah keindahan kebaya tersebut.

“Wah,” ucap Elina kagum.

“Silakan, Mbak.”

Elina lantas mencoba kebaya tersebut di dalam ruang ganti. Elina hanya bisa mengagumi betapa indah kebaya tersebut tanpa berani memimpikannya. Karena ia tidak mau terlalu berkhayal seperti Cinderella.

“Wah, cantik banget Mbak. Ini sudah pas ya?” puji Wulan. Lalu ia berjalan mendekati Jimmy yang terlihat gagah dengan setelan warna silver-nya. “Permisi Mas, mau lihat calon pengantinnya?”

“Dia bukan calon istri saya, yang penting udah pas aja,” jawab Jimmy ketus.

“Oh baik, Mas,” ucap Wulan seraya berjalan mendekati Elina. Ia baru bekerja satu minggu di sana, sehingga belum tahu bagaimana rupa calon istri Jimmy. Pun Serafina baru sekali ke butik tersebut untuk memilih model kebaya akad nikah.

Sebelum melepaskan kebaya tersebut, Elina menyempatkan waktu untuk mengabadikannya. Kapan lagi ia berkesempatan pakai kebaya mahal.

“Astaga! Mata kamu itu di mana!” Suara Jimmy membuat Elina lantas mendekat setelah berganti pakaian.

Seorang anak berusia sekitar 5 tahun menangis terisak dengan tangan yang penuh dengan es krim cokelat. Sementara itu Jimmy bangkit dari duduknya dan melihat jijik pada lengan yang penuh dengan noda cokelat.

“Ma-maaf Mas Jimmy, anak saya pasti tidak sengaja,” ucap Wulan dengan rasa bersalah.

“Kamu kerja bawa anak? Nggak profesional banget! Saya adukan sama bos kamu ya! Kamu tahu nggak, ini saya harus ketemu sama klien. Kamu buang-buang waktu saya aja!” seru Jimmy tidak terima. “Dasar karyawan nggak becus!”

Mendengar kalimat yang terucap dari mulut Jimmy, Elina menggeleng tidak percaya. Pria yang ramah dan menyenangkan ketika bercerita tentang keindahan Edinburgh, sekarang terlihat sangat emosional.

“Saya bersihkan, Mas.” Tangan Wulan terulur spontan dan berniat menyeka noda cokelat itu dengan menggunakan tisu.

“Jangan, Mbak,” cegah Elina. “Nanti tambah ke mana-mana nodanya. Biar aku aja yang bersihkan.”

Elina lantas mendekati Jimmy. Pria itu tampak bingung dengan gerakan tangan Elina yang akan membuka kancing kemeja Jimmy. “Kamu mau ngapain!”

“Aku mau bantu bersihin kemeja kamu. Kalau nggak dilepas, gimana bersihinnya?” terang Elina.

Kedua pasang mata itu saling bersirobok cukup lama. Ternyata benar jika belum bertemu secara langsung, maka tidak bisa mengetahui bagaimana sifat asli seseorang. Seperti pertemuan pertama Elina dan Jimmy kali ini.

***