cover book

Satu

Buku: After Marriage

"Jadi, gimana rasanya?"

"Apa?"
"Jadi seorang suami."

Leo menatap Abi dengan tatapan jengkel. Sahabatnya itu menyeringai kecil. Seringaian yang membuat Leo ingin sekali melempar kaleng sodanya ke wajah Abi.

"Biasa aja."

"Yakin?"

"Hm. Memangnya lo mau gue jawab apa? Menikah atau nggak, gue udah biasa sama Rere."

Abi mengangguk pelan meski masih mengamati wajah Leo yang saat datang ke rukonya jam sembilan malam seperti saat ini, terlihat keruh. Dia bahkan sejak tadi terus menatap layar ponselnya yang mati.

Dan tidak lama berselang, ponsel itu menyala. Secepat kilat Leo mengangkat panggilan yang masuk meski dengan suara ketusnya yang khas.

"Apa? Nggak, sama Abi. Ya terus?"

Abi mengernyit meski tanpa bertanya pun dia tahu siapa si penepefon itu.

Leo berdecak lalu mendengus kuat. "Kan kamu yang lebih mentingin rapat di luar jam kantor. Jadi kamu mau aku nungguin kamu di rumah kayak orang bego, sedangkan kamu lagi enak-enakan sama cowok lain?"

Sekarang Abi tahu apa masalahnya. Sambil melipat kedua tangannya tanpa mau mengalihkan perhatian dari Leo, lelaki itu menyeringai semakin lebar.

"Justru karena dia duda dan udah hampir kepala empat makanya aku nggak suka. Berapa kali aku bilang sama kamu, aku nggak mau kamu masih kerja di atas jam lima. Masih ngerti bahasa Indonesia kan kamu?

"Re! Kamu nggak setiap hari ada sama aku. Minggu depan juga udah pergi ke—ck! Iya, aku tahu tinggal beberapa bulan. Tapi—apa?! Hei, kenapa jadi kamu yang marah dan ngancem aku?!"

Dahi Leo berkerut kentara selagi mendengar ucapan istrinya. "Malam ini?! Jangan macem-macem kamu!" Leo mengacak kasar rambutnya lalu menyambar kunci mobilnya dari atas meja sebelum berdiri. Saat dia kembali bicara, suaranya terdengar lebih lunak dan lembut dari sebelumnya. "Jangan. Iya .... Oke .... Aku yang salah. Maafin aku. Aku pulang sekarang, kamu jangan ke mana-mana."

Setelah memutuskan panggilan, Leo beranjak pergi.

"Hoi," panggil Abi.

Leo sudah hampir menyentuh kenop pintu, tapi terpaksa berbalik untuk menatap Abi.

"Mau ke mana?"

"Pulang."

"Tumben cepet banget."

Leo menghela napas gusar. "Lo tahu, Bi,  nggak ada yang buat gue lebih stres kecuali semua ancaman bini gue yang selalu mau pergi setiap kali kita berantem. Bahkan semua kasus sialan di meja gue juga nggak."

Abi tertawa pelan. "Ya terus kenapa lo mau menikah?"

Leo mengerjap sekali sebelum menjawab pertanyaan itu dengan santai. "Gue cinta dia. Mau gimana lagi." Setelah mengedikkan kedua bahunya pasrah, kini Leo benar-benar pergi, menyisakan Abi yang terkekeh pelan dan geli.

Abi menggelengkan kepala, mengisap vape di mulutnya dan membuangnya ke udara.

"Dasar bucin tolol," gumamnya geli.

***

Leo meraih ponselnya begitu Adi keluar dari ruangannya setelah menyerahkan sebuah laporan. Sudah pukul setengah dua belas siang, tapi Rere masih belum menelepon ataupun mengiriminya pesan. Biasanya istrinya itu memberi kabar kalau dia akan segera datang membawakan makan siang.

Namun, sudah dua kali melakukan panggilan, Rere masih belum juga menjawabnya. Leo berdecak kesal. Satu hal baru yang akhir-akhir ini sering Rere lakukan dan itu membuat Leo tidak suka adalah terlalu lama mengangkat telepon darinya.

Dan seperti biasa, jika Rere tidak bisa dihubungi maka Leo mencari bantuan pada Gisa.

            [Apa?]

            Pertanyaan bernada ketus itulah yang pertama kali Leo dengar setelah Gisa menjawab panggilannya. Sudah biasa, Leo tidak perlu merasa terganggu. Toh yang membayar jasa Gisa bukan dirinya, melainkan papa mertuanya. Kalau Adrian memberinya wewenang membayar jasa Gisa untuk menjaga Rere, sudah Leo pastikan gadis itu akan dia tendang kembali ke kampung halamannya.

Hanya Gisa yang berani bersikap sewenang-wenang pada suami bosnya sendiri.

Cih.

“Rere di mana?”

[Ada.]

Leo menahan decakannya. “Di mana?”

[Memang lo nggak bisa, ya, telfon istri lo sendiri dan nanya sendiri sama dia? Kenapa sih akhir-akhir ini lo ribet banget, Manusia Kaku? Dikit-dikit nanya Rere di mana, ngapain, lagi sama siapa. Dulu aja lo sok nggak peduli. Eh, tapi, lo sekarang ini memang benar-benar berubah atau cuma akting sih, Manusia Kaku? Kalau cuma akting, kok totalitas—]

Leo memutuskan panggilan. Gisa sialan! Semakin hari sulit sekali mengajak gadis itu bekerja sama. Menahan erangan kesalnya, Leo memutuskan melacak di mana keberadaan Rere melalui ponselnya.

Sebuah restoran di sebuah hotel.

Satu alis Leo terangkat. Istrinya sedang makan siang di sebuah hotel? Tentu saja, insting sialan Leo yang semakin aneh segera bekerja. Untuk itu, dia lekas memakai jasnya dan memelesat keluar dari kantornya.

Selagi mengendarai mobil, Leo kerap kali mengamati ponselnya. Memastikan Rere tidak meninggalkan restoran itu agar Leo tidak perlu lagi membuang waktu mencarinya.

Lalu, begitu Leo sampai di sana, matanya bekerja cepat mencari di mana keberadaan istrinya.

Ketemu.

Di salah satu meja, Rere duduk berdua, berhadapan dengan seorang lelaki. Keduanya tampak santai berbincang sambil menikmati makanan mereka masing-masing. Kedua mata Leo menyipit detik itu juga, mengamati siapa sosok yang sedang berbincang bersama istrinya.

Laki-laki itu tampak seumuran dengannya, berperawakan lumayan dengan wajah lebih tegas dibandingkan dirinya. Kemudian Leo berpindah mengamati Rere, istrinya itu menyimpan sejumput rambut ke balik telinga ketika dia tersenyum.

Sebuah senyuman manis khas milik Rere.

Dan sialnya sangat tidak ingin Leo bagi dengan siapa pun.

Sayangnya, Leo bukanlah tipe lelaki yang terlampau reaktif. Mungkin, kebanyakan suami akan langsung mendatangi istri mereka ketika menemukan sang istri sedang berduaan bersama lelaki lain. Mungkin juga mereka akan menyeret pergelangan tangan istrinya, atau memukul wajah lelaki itu, atau yang lebih drama lagi membuat pertengkaran di muka umum.

Sebagai aparat penegak hukum, yang juga tidak menyukai drama murahan di kehidupannya, Leo menepis semua itu meskipun dia ingin. Maka, yang dia lakukan adalah kembali menghubungi istrinya, kembali mengamati apa yang dilakukan Rere di sana.

Rere tampak mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, namun hanya meliriknya sekilas dan kembali menyimpan benda pipih itu di dalam tas. Leo tertawa sinis, rahangnya mengetat, wajahnya memerah kesal.

Luar biasa sekali Rechelle Kanaya Barata ini.

Sepertinya Leo memang harus melakukan sebuah drama murahan untuk kali ini.

***

“Pak Kevin benar nggak apa-apa kalau besok saya bawa ke sana?” tanya Rere pada lelaki di depannya. Kevin, lelaki yang bekerja sebagai manajer di sebuah bank itu mengangguk yakin. “Saya tahu, sepertinya saya terlalu memaksa Bapak, tapi—”

“Nggak apa-apa, Bu Rere. Dari awal, saya memang nggak mau cuma diam dan menutup mata. Tapi saya bingung dan nggak tahu harus memulai dari mana. Maka dari itu ....” Kevin yang tadinya menatap lurus ke arah Rere mengedarkan tatapan bingungnya pada seluruh pengunjung yang tampak panik meninggalkan restoran.

Bahkan kini Rere pun ikut melakukan hal serupa. “Loh, kenapa ... orang-orang pada pergi?gumamnya pelan. Belum sempat Kevin menanggapi, seorang pelayan datang dengan wajah panik menghampiri mereka.

“Pak, sebelumnya saya minta maaf atas ketidaknyamanan pelayanan kami. Tapi ... untuk sementara restoran ini akan ditutup. Kami mohon kesediaan Bapak untuk meninggalkan tempat ini,” ucap pelayan itu dengan nada sopan dan penuh rasa bersalah.

“Ditutup?” tanya Rere.

“Iya, Ibu.”

“Kenapa?”

Pelayan itu menggaruk pelipisnya yang tampak mengeluarkan keringat dingin. “Ada petugas yang datang, mau memeriksa sesuatu.”

“Petugas?” ulang Kevin.

“Iya, Bapak.”

Kevin dan Rere bertukar pandang. Rere menganggukkan kepalanya pada Kevin sebagai persetujuan agar mereka meninggalkan tempat itu. Namun, ketika mereka berdua beranjak dari kursi mereka, pelayan itu kembali bersuara.

“Hm .... Maaf, Ibu. Bisa Ibu tetap duduk di sini?”

“Saya?” tanya Rere terkejut.

“Iya, Ibu.”

“Loh, kenapa saya harus duduk di sini? Tadi kan Mbak bilang kami harus pergi.”

“Iya, eh, maksud saya .... Yang pergi Bapak saja, Bu. Ibu tetap di sini.”

“Kenapa?”

“Karena ... petugas itu bilang harus memeriksa Ibu.”

“Saya?!” Rere kembali bertanya dengan kedua mata terbelalak, juga telunjuk teracung ke wajahnya sendiri.

Pelayan itu mengangguk takut. Bukan apa-apa, tapi dia baru saja dengar dari salah satu temannya yang bekerja di sana kalau Rere adalah anak salah satu pemegang saham terbesar di hotel itu. Lalu, ketika dia diperintahkan untuk menahan Rere di sana karena akan ada petugas yang memeriksa Rere, pelayan itu takut bukan main. Bagaimana kalau Rere marah dan meminta orangtuanya untuk memecatnya?

“Sebentar,” sela Kevin. “Kenapa Bu Rere harus diperiksa? Memangnya Bu Rere ini salah apa?”

Pelayan itu menggeleng dengan wajah cemas. Kevin ingin kembali mengatakan sesuatu tapi Rere menahannya. Dia merasa kasihan melihat wajah pelayan itu yang tampak tertekan. Lagi pula Rere merasa tidak melakukan kesalahan apa pun yang melanggar hukum. Jadi untuk apa dia takut?

“Pak Kevin, nggak apa-apa. Bapak pulang saja duluan, saya akan menyelesaikan masalah ini.”

“Tapi, Bu ....”

“Nggak apa-apa. Oh iya, Mbak, saya akan tunggu di sini. Bisa segera panggilkan petugasnya?”

Pelayan itu mengangguk kemudian segera pergi. Kevin berpamitan pada Rere. Setelah itu, Rere kembali duduk di kursinya. Saat dia mengeluarkan ponsel, matanya mengitari seluruh ruangan. Kosong, tidak ada siapa pun selain dirinya.

Jujur saja, ada rasa cemas yang Rere rasakan. Namun, dia tidak mau panik atau dia akan semakin kebingungan. Maka, yang Rere lakukan adalah menelepon pengacaranya untuk berjaga-jaga. Siapa tahu saja, semua ini jebakan dari seseorang yang tidak menyukainya.

[Halo, ada apa, Re?]

“Halo, Om. Rere—Loh!” Rere terpekik saat tiba-tiba ponselnya direnggut dari arah belakang. Dia memutar kepalanya dengan wajah kesal, namun kekesalannya sirna dan langsung digantikan tatapan bingung pada suaminya, Leo, yang kini dengan santai menarik kursi di hadapan Rere dan mendudukinya dengan cara paling menawan yang pernah dia lakukan.

“Sayang, kok ... kamu ada di sini?” tanya Rere bingung.

Leo hanya diam dengan kedua tangan terlipat di dada. Ponsel Rere dia letakkan di meja. Leo menatap Rere dengan kedua mata tenangnya yang menakutkan.

Dahi Rere berkerut samar selagi dia berusaha memikirkan sesuatu. Lalu kedua matanya melebar saat akhirnya dia menyadari …. “Jangan bilang kalau semua ini kerjaan kamu.”

“Iya,jawab Leo singkat.

Astaga, batin Rere.

“Kamu sampai ngusir semua orang di sini cuma buat .... Tunggu, kamu pakai alasan apa sama pihak restorannya?”

“Jadi ini alasan kamu nggak mau angkat telfon aku?” Bukannya menjawab pertanyaan Rere, Leo malah mengajukan pertanyaan yang membuat dahi Rere semakin berkerut. Leo mendorong ponsel Rere hingga benda itu berada di depan pemiliknya. “Periksa, berapa kali aku telfon kamu.”

“Sayang, aku punya alasan—”

“Ya, dan alasannya karena kamu lagi makan siang bareng laki-laki tadi itu. Hebat ya, Re.”

Rere menggelengkan kepalanya sambil menghela napas pelan. Mereka sudah menikah selama enam bulan, dan selama itu pula Leo banyak sekali berubah. Sebuah perubahan yang lima puluh persen terasa positif dan membuat Rere merasa senang, sedang lima puluh persennya lagi membuat Rere sering merasa kesal.

Leo Hamizan yang dingin dan cuek itu berubah menjadi luar biasa posesif, protektif, dan, astaga ... sangat pencemburu.

Rere bermain ponsel sambil tersenyum saja Leo pasti curiga kalau Rere sedang meladeni lelaki yang sedang merayunya di media sosial. Bahkan, yang dulunya Leo tidak pernah peduli soal media sosial milik Rere, kini berubah sebaliknya. Semua akun media sosial Rere harus bisa Leo akses juga, dan dia memberi akses serupa untuk Rere terhadap media sosialnya sendiri.

Awalnya Rere senang diperlakukan seperti itu. Perhatian Leo menggambarkan rasa cintanya yang benar-benar besar untuk Rere. Walau begitu, tetap saja, Rere juga kesal kalau Leo sudah mulai keterlaluan.

Seperti saat ini.

            “Kami sedang membicarakan hal penting tadi,” ucap Rere hati-hati.

“Sepenting apa sampai kamu menolak ajakan makan siang suami kamu sendiri? Aku telfon berkali-kali kamu juga sengaja nggak mau mengangkatnya, kan?”

“Sayang—”

“Kamu juga sengaja nggak mau diikutin Gisa, dan nyuruh dia nggak bilang apa pun ke aku, kan?”

“Kamu lagi coba interogasi aku?”

“Jawab aja pertanyaan aku, Re.”

“Pertanyaan yang mana, Bapak Leo Hamizan? Dari ketiga pertanyaan kamu tadi, aku harus jawab yang mana dulu?” tanya Rere sambil menahan senyuman gelinya. Dia bahkan sengaja melipat kedua tangan di depan dada agar terkesan memancing amarah suaminya itu.

Dan benar saja, kilatan di kedua mata Leo sudah menggambarkan semuanya. Rere tidak mau terlalu lama bermain dengan emosi suaminya. Siapa pun juga tahu bagaimana Leo Hamizan ini kalau sedang emosi.

Maka itu, Rere segera beranjak dari duduknya, menghampiri Leo dan memeluknya dari belakang. “Itu tadi Pak Kevin, dia manajer di bank.”

“Aku nggak nanya,kata Leo ketus berusaha menepis pelukan Rere.

Kekehan geli Rere lolos begitu saja, tapi dia tetap berusaha memeluk suaminya yang sedang merajuk itu. “Kamu rugi loh, Sayang, kalau nggak mau tahu soal Pak Kevin.”

“Selingkuhan kamu maksudnya?”

“Saksi mata sekaligus pemilik bukti kuat kasus yang bikin kamu uring-uringan terus beberapa hari ini.”

Kasus? Bukti?

Leo langsung menoleh. Emosi dan kekesalannya seketika menguap, berubah menjadi sebuah ketertarikan khas seorang Leo Hamizan.

“Maksud kamu, Pak Kevin itu ada hubungannya sama kasus tabrak larinya Chandra?” tanya Leo. “Kamu bilang dia punya bukti? Bukti apa?”

Satu alis Rere terangkat menatap wajah serius Leo yang penasaran. “Coba lihat, siapa tadi yang ngomel-ngomelin istrinya? Terus cemburuan nggak jelas. Sekarang malah nanya-nanya informasi,cibir Rere.

“Re, aku serius. Jangan bercanda.”

“Dari tadi aku juga serius. Kamunya aja yang marah-marah,balas Rere. Kini dia berpindah ke pangkuan suaminya. Memeluk leher Leo sambil memainkan jemarinya di helai rambut suaminya. “Jadi, aku tuh ikutan stres lihat kamu yang stres mikirin kasus sampai tidurnya aja nggak nyenyak. Kebiasaan buruk kamu banget kalau ada kasus yang lama diselesaikan. Terus, kemarin aku minta dianterin Gisa ke TKP, coba-coba jadi detektif dadakan, siapa tahu—”

“Kamu ke TKP?!” tanya Leo setengah membentak. Rere mengangguk polos dan itu membuatnya semakin berang. “Re, aku kan udah bilang sama kamu, jangan pernah lagi ikut campur sama kerjaan aku! Kamu tahu kan kalau itu—”

“Iya, iyaaa .... Maaf, ih! Aku kan kepikiran sama kamu.”

“Ya tapi bukan berarti—”

“Aku sama Gisa kok ke sananya.”

“Dulu juga kamu sama Gisa, tapi apa? Tetap aja kan—”

“Kan ini kasusnya beda, cuma tabrak lari. Nggak ada pembunuhan. Jadi aku pikir—”

“Korban yang Chandra tabrak meninggal di tempat. Itu bukan pembunuhan namanya?!”

Rere menggigit bibirnya pelan selagi berpikir. “Iya, ya? Memang itu disebutnya pembunuhan juga, Sayang?”

“Re!” bentak Leo.

Mencebik kuat karena terkejut mendengar bentakan Leo, Rere memukul pelan bahu suaminya. “Apa sih teriak-teriak? Kamu kalau marah terus aku nggak mau cerita.”

Dengan menahan emosi dan rasa penasarannya akibat ulah sembrono sang istri yang luar biasa, Leo menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan sambil memejamkan mata. “Oke, sekarang ceritakan semuanya,ucapnya dengan suara tenangnya yang membuat Rere tersenyum puas.

Rere pun mulai bercerita. Semua berawal dari kasus yang Leo tangani. Tabrak lari yang dilakukan seorang aktor besar di Indonesia, Chandra Alderic, yang menewaskan seorang pengendara motor. Kebetulan, di TKP tidak ada CCTV yang bisa dijadikan barang bukti. Hanya ada lima orang saksi mata, itu pun mereka semua adalah tunawisma yang sedang beistirahat di jalan.

Kejadiannya sekitar pukul setengah dua pagi. Jalanan sudah sepi. Sebuah mobil yang melaju kencang tiba-tiba saja sedikit oleng ke kanan. Dan kebetulan dari arah berlawanan ada sebuah motor yang juga berkendara di jalan itu. Mereka bilang mobil hitam itu masuk ke jalur yang salah dan menabrak sepeda motor itu.

Mereka juga bilang Chandra sempat keluar dari mobilnya untuk melihat korban yang tergeletak bersimbah darah, sebelum akhirnya kembali masuk ke mobilnya dan melarikan diri.

Begitu mendapat keterangan, Leo segera menyuruh timnya untuk memeriksa Chandra. Sayangnya, tidak ada satu pun bukti yang bisa digunakan. Chandra bersikeras malam itu dia ada di rumahnya, saksinya adalah orangtuanya sendiri. Saat petugas memeriksa semua mobilnya, tidak ada satu mobil pun yang mirip dengan keterangan saksi. Bahkan tidak ada mobil yang lecet akibat benturan.

Dan seperti biasa, ketika kesulitan menyelesaikan kasusnya, Leo Hamizan pasti tidak bisa tidur dengan nyenyak. Selalu berkutat dengan semua itu tanpa lelah. Dan itu membuat Rere ikut frustrasi.

Maka dengan sikap bak pahlawan, Rere yang sudah menerima omelan Gisa saat meminta Gisa mengantarnya ke TKP, pergi ke tempat itu dengan niat ingin menemukan sesuatu. Dan memang benar, dia menemukan Kevin.

Sebelumnya mereka memang saling mengenal. Tempat Kevin bekerja adalah salah satu bank yang bekerja sama dengan perusahaan Rere. Saat mereka bertemu di sana, Kevin tiba-tiba saja mengajak Rere bicara serius.

Kevin bercerita, pada malam kejadian itu, pukul dua pagi, Kevin yang sebelumnya mendapat telepon dari mantan istrinya mengenai anak mereka yang sedang sakit, langsung pergi ke rumah mantan istrinya untuk membawa anaknya ke rumah sakit. Dia memarkirkan mobilnya di depan rumah mantan istrinya, lalu masuk ke dalam rumah untuk menggendong anaknya ke dalam mobil.

Saat itu Kevin tidak sengaja melihat dua orang anak muda tampak bersitegang. Mereka menghentikan pembicaraan saat melihat Kevin dan mantan istrinya masuk ke dalam mobil. Salah satu laki-laki itu, teman Chandra, menegur mantan istri Kevin dan sempat menanyakan keadaan anak mereka. Hanya berupa basa-basi singkat sebelum Kevin pergi mengendarai mobilnya.

Keesokan harinya kabar mengenai Chandra yang diduga melakukan tabrak lari mulai berembus kencang. Kevin pun turut mengikuti beritanya. Saat kepolisian tampak kesulitan menangkap Chandra, Kevin yang menduga memang Chandra adalah pelakunya berusaha mengingat-ingat.

Lalu akhirnya dia memeriksa sesuatu.

Kamera DVR mobil.

Dan benar saja, lima menit setelah Kevin sampai di rumah mantan istrinya, sebuah mobil lain berhenti di depan mobil Kevin. Mobil berwarna hitam yang pelatnya terlihat jelas di kamera. Chandra keluar dari sana, disambut oleh temannya yang tampak marah padanya. Mereka terlihat berdebat sengit sambil melihat keadaan mobil bagian depan.

Menurut Kevin, rekaman itu bisa dijadikan bukti. Untuk itu dia bersyukur bertemu dengan Rere di TKP, karena sejujurnya Kevin juga bingung harus melakukan apa.

“Di mana Kevin sekarang? Aku harus bicara dengan dia,ujar Leo.

Rere mengernyit. “Bukannya tadi baru aja kamu usir secara halus, ya? Saking halusnya, niatnya cuma mau ngusir Pak Kevin, tapi malah jadi ngusir seluruh pengunjung. Awas aja kalau uang bulanan aku kamu potong gara-gara ganti rugi ke restoran ini. Kamu juga nggak aku kasih jatah bulan ini!”

Leo ingin sekali mengumpat. Kalau dulu dia tidak perlu berpikir dua kali untuk mengumpat di depan Rere, sekarang dia selalu berusaha meredamnya. Rasanya tidak pantas mengumpat di depan wanita yang dia cintai ini.

Tapi Rere benar, ini memang salah Leo. Kecemburuannya membuatnya melakukan hal tolol yang selama ini tidak pernah terlintas di kepalanya.

“Tadi aku sama Pak Kevin udah janjian, kok. Besok aku temenin Pak Kevin ke kantor kamu untuk menyerahkan bukti,ucap Rere saat melihat Leo hanya diam tanpa mendebat. “Jadi ....” Rere mencubit gemas sebelah pipi Leo. “Mulai besok suaminya aku nggak akan lagi lebih betah nongkrong di ruang kerjanya daripada tidur sama istri di kamarnya sendiri.”

Leo menyentuh lembut jemari Rere di wajahnya, mengecupnya pelan dan tersenyum bersalah. “Maaf, gara-gara sibuk kerja aku jadi lupain kamu.”

“Udah biasa sih, Sayang. Jadi aku udah kebal, kamu jangan sungkan,jawab Rere dengan sarkasme yang semakin mahir dia lakukan.

Leo tertawa pelan lalu menghadiahi Rere dengan sebuah ciuman lembut di dahi. “Nanti aku ganti.”

“Apanya?”

“Waktu kamu yang terbuang selagi nungguin aku ngurusin kerjaan.”

“Diganti dengan apa?”

“Selesai kasus ini, aku ambil cuti dua hari. Kita quality time berdua.”

Rere tersenyum lebar. “Boleh diganti aja nggak, Sayang?”

“Diganti?” tanya Leo bingung.

Rere mengangguk kuat. “Hm .... Kebetulan, aku belum bisa libur kerja sampai satu harian. Masih lumayan sibuk. Jadi ... sebagai gantinya ....

“Apa?” desak Leo. Perasaannya sedikit memburuk melihat gelagat istrinya yang tersenyum-senyum bahagia itu.

“Kemarin, Gucci baru aja—”

“Nggak!” potong Leo cepat. “Udah ya, Re. Aku tuh pusing tau nggak nontonin kamu belanja.”

“Ih .... Kan bulan lalu nggak.”

“Iya, tapi awal bulan ini kamu belanja udah tiga kali lipat dari biasanya. Dan sekarang, mau belanja apa lagi? Tas? Sepatu? Baju? Yang di rumah itu semua mau diapain? Mau dibuatin pameran?”

Rere yang kesal mendengar ucapan Leo segera melompat turun dari atas pangkuan suaminya. “Oh .... Jadi selama ini kamu keberatan belanjain aku? Nggak ikhlas? Ya udah, nanti aku ganti uang kamu!”

“Kok kamu jadi bawa-bawa uang? Kapan aku bilang keberatan? Nggak ikhlas?”

“Itu tadi! Kamu bilang—”

Leo memijat pangkal hidungnya frustrasi. “Maksud aku nggak gitu, Re. Kita kan jarang bisa punya waktu buat sama-sama. Jadi, maksud aku, kalau lagi quality time, ya udah, kita jalan, pacaran atau apalah. Nggak usah dulu kamu belanja ini-itu. Kamu kan tahu, kalau udah masuk satu toko, kamu bisa ngabisin minimal tiga jam di sana. Dan selama itu aku cuma bisa nontonin kamu bongkar toko kayak orang bego. Coba kamu bayangin, tiga jam itu memang bukan waktu yang banyak, tapi untuk kita, itu berarti banget, Re. Kita bisa pakai tiga jam itu untuk membicarakan apa aja tentang kita.”

Rere mengerucutkan bibirnya dan membuang muka. Pertanda kalau dia sudah kalah tapi gengsi untuk mengaku.

“Re ....”

“Nggak tau, ah! Mau pulang,cebik Rere merajuk. Dia sudah menyambar tasnya dan beranjak pergi. Meninggalkan Leo yang mengusap wajah putus asa.

Leo mengikuti Rere setelah meminta pelayan mengantarkan tagihan restoran ke rumahnya. Saat dilihatnya Rere ingin menelepon Gisa, Leo segera menarik tangan Rere dan menurunkan ponsel itu dari telinganya. “Mau balik ke kantor? Aku anterin, ya?”

“Nggak. Gisa aja.”

“Re ....”

“Lagian kamu nggak ikhlas kan? Ya udah, nggak usah!”

Astaga .... Kalau sudah begini, ingin sekali rasanya Leo meninju seseorang.

“Ya udah iya. Nanti kita beli.”

Wajah Rere yang sejak tadi tertekuk kesal sedikit berubah saat dia melirik Leo. “Beli apa?”

“Gucci, apa pun. Yang penting sekarang kamu stop ngambeknya.”

Senyuman tertahan kini terpatri di bibir Rere. “Bener?”

Leo menahan geramannya susah payah. Dan lebih memilih mengangguk daripada menjawab.

“Makasih, Sayang!” pekik Rere lalu menghambur memeluk suaminya dan mengecup pipinya berkali-kali. “Ih, suaminya aku baik banget, sih .... Jadi makin sayang. Eh iya, Sayang, tapi itu harganya seratus atau dua ratus jutaan. Nggak apa-apa, kan?”

Leo tersenyum malas. “Nggak apa-apa. Beliin satu benda yang harganya lima ratus juta buat kamu aja aku pernah, kan? Dua ratus juta itu nggak ada artinya kok, Re.”

Rere tersenyum semakin manis pada Leo, sedangkan Leo mengumpat dalam hati.

cabaca-guritaLanjut Baca Gratis disini Download di Play Store