Wish Upon A Star

Wish Upon A Star

Eve Natka

4.6

Katia meghempaskan tubuhnya di tempat tidur, memandang rapor mid-semesternya dengan kecewa. Rambut panjangnya masih basah karena keringat, tapi ia tak peduli. Ia berbaring sambil menatap malas pada sehelai kertas bercap lambang sekolah di tangannya. Masih memakai seragam sekolah, ia memelototi satu persatu angka rapor itu.

Siang tadi dia dan teman-temannya baru saja menerima rapor bayangan, hasil Penilaian Tengah Semester (PTS) Satu. Sebenarnya, semua nilai PTS Katia bagus, kecuali pada satu mata pelajaran, yaitu Fisika. Pandangan gadis berkulit putih itu terhenti pada angka enam puluh, nilai Fisikanya. Bibirnya terkatup rapat, seolah dengan melakukan itu, angka enam puluh akan berubah menjadi sembilan puluh, nilai yang selalu dia dapat selema kelas 10 dan 11. Heran, kok susah banget sih, Fisika kelas dua belas ini? dongkolnya. Gadis bertubuh mungil itu mengeluh lagi. Enam puluh. Jelek banget ini buat anak jurusan IPA!

Ditaruhnya rapor itu di ranjang. Lalu, beralaskan lengan, ia menatap langit-langit kamar. Pandangannya menerawang. Rapornya harus ditunjukkan pada Ibu. Katia bukan khawatir ibunya marah, bukan. Ia hanya merasa malu. Ibu tidak pernah memaksanya menjadi juara. Tetapi mungkin karena itulah ia selalu juara. Tak ada paksaan, tak ada beban. Ibu tak pernah marah saat nilai Katia ataupun Kimani, kedua putrinya, tidak bisa semuanya bagus. Setiap orang punya bakat dan minat berbeda, begitulah kata Ibu. Yang penting, mereka sudah berusaha sebaik-baiknya.

Andai Ayah masih ada, lirihnya. Ia teringat sosok pria yang hanya dikenalnya selama sembilan tahun. Ayah pasti ingin aku mengejar impian. Ayah pasti mengusahakan supaya aku bisa kuliah tahun depan. Tapi, aku harus bagaimana? Biaya kuliah itu mahal. Ibu hanya seorang janda almarhum pegawai negeri. Belum lagi tahun depan Kimani masuk SMA. Butuh banyak uang. Semua pikiran itu melintas di benak Katia.

Dibalikkannya tubuhnya ke samping. Hatinya gundah. Ia makin tak yakin bisa kuliah, karena masalah biaya. Kimani harus melanjutkan sekolah. Itu lebih penting. Katia tidak rela kalau adik semata wayangnya itu hanya lulusan SMP.

Gusar, ia bangkit dan duduk. Kebingungan selalu membuatnya ingin main gitar. Mata bulatnya yang indah memandang sebuah gitar tua yang tergantung di dinding. Alat musik berwarna coklat mahoni itu penuh dengan stiker yang sudah terkelupas di sana sini karena termakan usia. Gitar milik almarhum ayahnya. Katia menolak menggantinya dengan yang baru, karena benda itu merupakan kenangan bersama ayahnya. Lagipula, ia tak sanggup menabung untuk membeli yang baru.

Tangannya meraih gitar dan membawanya ke pangkuan. Jemarinya yang lentik memainkan dawai perlahan, membuat kamar penuh dengan suara merdu petikannya. Terdengar senandung pelan dari bibirnya. Bukan lagu khusus, hanya mengikuti berbagai kunci nada. Namun Katia sangat menikmati momen itu. Ia seakan terhisap ke dalam nada-nada ciptaannya.

Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Katia mengangkat wajah. Ibu melongok dari balik pintu. Melihat putrinya sedang santai, ia masuk. Jari Katia berhenti memetik senar.

“Kenapa, Bu?” Tak biasanya Ibu datang ke kamarnya. Jadi kalau ibunya masuk, pasti ada hal penting yang ingin disampaikan, pikir Katia.

Perempuan itu duduk di tepi tempat tidur, tersenyum kecil pada Katia.

“Kat, kamu udah pikir-pikir soal kuliah?” suara Ibu terdengar serius.

Katia tersentak tak menyangka akan ditanya secepat ini. Baru saja ia memikirkan masalah kuliah. Ibu punya telepati, simpulnya tak percaya.

“Emang kenapa, Bu?” tanyanya. Suara Katia terdengar tak bersemangat. Ia sengaja melakukannya. Ia tak tega bicara soal kuliah, sementara keuangan mereka tidak memungkinkan.

“Ya, Ibu tahu kamu pasti ingin kuliah, Sayang,” sahut Ibu sambil membelai rambut hitam panjang putri sulungnya yang menjuntai sepanjang punggung.

Katia berusaha tersenyum setulus mungkin. “Nggak kok, Bu. Katia pingin Kim aja yang lanjut sekolah. Mana bisa dia dapat kerja kalau cuma lulusan SMP, Bu.”

“Betul. Tapi nggak berarti kamu jadi harus berhenti usaha, Kat,” sahut Ibu lagi. Ia memandang Katia dengan sayang. “Tante Via tadi nelpon. Ibu cerita tentang kamu yang tahun depan sudah harus kuliah. Sarannya, kamu coba cari beasiswa, Kat. Mungkin aja ada dari sekolah. Coba kamu tanyain, apa aja syaratnya.”

Katia menepuk jidatnya pelan. “Beasiswa! Kok Katia nggak kepikiran ya? Tante Via ajaib betul bisa tahu apa yang Kat pusingin,” kini suaranya berubah ceria. Harapan untuk kuliah memenuhi hatinya. Matanya berbinar senang dan penuh semangat. Ibu tersenyum, entah senang, entah geli.

“Iya. Coba tanya-tanya dulu ke sekolah, Kat. Mungkin kamu harus juara umum atau apa,” kata Ibu sambil memperbaiki poni Katia yang basah keringat itu dengan jari. “Yang penting, kita udah usaha. Soal dikasih sama Tuhan atau enggak, lain perkara, oke?”

Katia tersenyum lebar. Kepalanya mengangguk setuju.

“Keramas, gih! Nanti rambut kamu jadi ketombean loh, Kat!” Ibu mengacak poni Katia gemas. Lalu ia berdiri dan meninggalkan putrinya itu.

Senyum Katia belum hilang. Beasiswa. Kenapa dia belum pernah memikirkan itu?!

***

Rosalin memandang teman sebangkunya dengan heran. Di sebelahnya, Katia terus-menerus bergerak gelisah. Matanya menatap jam di dinding depan kelas sesekali. Namun Rosalin tak berani bertanya apa-apa, sebab Pak Andika, guru Bahasa Inggris, masih mengajar.

Akhirnya, bel penanda istirahat kedua berbunyi. Katia menyimpan alat tulis dan segera berdiri, bersiap ke luar.

“Katia, kamu nggak makan? Mau kemana sih, buru-buru banget? Tunggu aku bentar,” cegah Rosalin. Katia menghentikan langkahnya, menunggu gadis itu beres. Lalu keduanya menuju pintu kelas.

“Aku mau cari Pak Kepsek dulu, ya. Tadi katanya lagi pergi, tapi sekarang harusnya udah balik.”

“Emang mau ngapain? Makan siang dulu, kali. Daripada kamu kena maag?!” Rosalin masih berusaha sambil memegangi lengan Katia.

“Duh, sorry banget, Lin. Aku ada urusan maha penting. Ada yang mau ditanya,” sahut Katia dengan mata meminta maaf pada gadis berkacamata di hadapannya. Rosalin tersenyum.

“Ya udah, aku ke kantin ya! Kalo keburu, nyusul,” kata gadis bertubuh mungil itu sambil melambaikan tangannya sekilas.

“Siap, Bos. Daah!” balas Katia.

Mereka berpisah di pintu kelas. Yang satu berbelok ke kiri, menuju lapangan olahraga dan kantin, yang satu lagi belok ke kanan, menuju area depan sekolah, yaitu lokasi kantor guru dan Kepala Sekolah berada. Kelasnya terletak cukup jauh dari area kantor, sebab sekolah ini adalah komplek bangunan yang sangat luas.

Pak Darius, Kepala Sekolah SMA Pelita Bangsa, ternyata sudah datang. Katia mengetuk pintu ruangannya yang tidak tertutup itu. Pria berusia lima puluhan itu menoleh.

“Oh, Katia!” sapanya ramah. “Ayo, masuk aja.”

Dengan sopan Katia masuk, lalu duduk di hadapan kepala sekolahnya setelah dipersilakan. Pak Darius menanyakan maksud kedatangan Katia, dan gadis itu menerangkan dengan singkat.

“Hmm... beasiswa, ya?” Pak Darius menyandarkan punggungnya ke kursi. “Syaratnya sama seperti tahun lalu, Kat. Juara umum dapat hadiah uang tunai, bisa kamu pakai untuk bayar biaya masuk universitas. Untuk dapat beasiswa penuh, kamu harus hubungi universitas tujuan, lalu tanya syarat-syaratnya. Nanti pihak sekolah akan memberikan surat rekomendasi atau dokumen semacamnya yang diperlukan.”

Katia menggigit bibir. Masalahnya, ia belum tahu universitas mana yang ada jurusan Musik.

“Kalau saya pingin dapat beasiswa dari sekolah, saya harus juara umum?” tanyanya.

“Betul. Kamu harus naikan total nilai. Juara umum dapat beasiswa ke Universitas Dharma Bangsa, satu yayasan dengan sekolah kita. Kamu mau ambil jurusan apa?” tanya Pak Darius.

“Musik, Pak.”

Pria itu terdiam sejenak, mengingat-ingat sesuatu. “Sepertinya belum ada sih, jurusan musik di Dharma Bangsa. Selain jurusan musik, kamu nggak punya cadangan?”

“Hmm... ada, Pak. Jurusan Elektro.”

“Nah, kalau Teknik Elektro sih ada di Dharma Bangsa. Mungkin kamu bisa coba ke situ.” Pak Darius memandang Katia yang sedang terpekur. Lalu ia berdiri. “Bawa rapor mid? Kita lihat nilai mana yang perlu kamu perbaiki kalau ingin jadi juara umum.”

Katia menyerahkan laporan mid-semester yang telah disiapkannya sedari tadi. Kepala Sekolah menyimak selama beberapa detik, lalu menunjuk nilai-nilai Katia. Gadis itu ikut melihat deratan angka yang ditunjuk. “Nilai kamu bagus semua, kecuali Fisika, ya. Ini paling kecil. Makanya total nilaimu hanya sekian.” Beliau menunjuk angka paling bawah. “Bedanya cukup jauh dengan kelas 11 kemarin, Katia.”

“Iya, Pak. Memang semester ini Fisika sulit buat saya. Nanya ke teman, sama aja. Saya tetap nggak paham. Saya ingin les, tapi nggak mampu bayar.”

Situasi menjadi hening. Pak Darius masih melihat beberapa nilainya.

“Begitu, ya.” Pria itu sangat mengerti dilema Katia. Pengalaman sebagai Kepala Sekolah selama enam tahun terakhir telah membuatnya tahu banyak tentang siswa-siswinya. Beberapa dari mereka tidak ragu menceritakan tentang kesulitan dalam belajar. Pak Darius sangat mau mendengarkan keluhan mereka dan selalu berusaha memecahkan masalah sebaik mungkin.

Ia tahu kondisi Katia. Gadis ceria dan pintar itu mendapat bantuan uang sekolah sejak kelas 10 karena prestasinya sangat baik. Katia juga aktif dalam kelas ekstrakurikuler, dan selalu menjadi siswa terbaik di sana.

Pak Darius menatap Katia lebih serius. “Yakin, kamu mau masuk Elektro? Kamu suka nggak dengan pelajaran itu?”

“Suka, Pak,” jawab Katia tegas.  “Memang saya lebih suka jurusan musik. Tapi, Ibu nggak akan sanggup bayar kuliah saya, Pak. Adik saya sebentar lagi lulus SMP. Dia juga harus terus sekolah. Saya harus ngalah.”

“Bapak suka semangatmu,” puji Pak Darius.

“Saran Bapak, kamu belajar sama teman. Kebetulan tahun ini Bapak sudah merencanakan program baru. Guru bidang studi sebetulnya akan menjelaskan di kelas minggu depan. Tapi, saya jelaskan dulu sama kamu, supaya paham.” Ia mencondongkan badannya ke depan.

“Jadi gini.” Pria itu berdehem.

“Tahun ini, Bapak bikin program Tutor Sebaya.”

Katia menyimak, “Tutor Sebaya? Apa itu, Pak?”

“Tutor Sebaya itu begini, guru bidang studi pilih tiga sampai lima murid yang nilainya paling tinggi untuk pelajaran tertentu. Mereka disebut tutor. Mereka akan diminta untuk bantu teman yang nilainya masih kurang. Dan, mereka harus bertanggungjawab. Ada penghargaan untuk tutor terbaik, teman atau murid bimbingan yang paling rajin, dan kelompok tutor sebaya yang berhasil.

“Nah, untuk pelajaran Fisika di kelas 12, ada beberapa anak yang bisa jadi tutor. Ada Rafiq, Ella, Daniel, Jovanka, Angga, dan Joshe. Saran Bapak, kamu menghadap guru Fisika dulu, karena beliau yang tahu siapa saja yang semester ini bersedia jadi tutor. Kami memberi kebebasan pada calon tutor untuk menerima atau menolak, karena mereka juga punya kesibukan di luar sekolah.”

Katia lega. Ia kenal beberapa nama itu, terutama Jovanka. Jovanka sekelas dengannya. Tapi, Jovanka adalah musuh bebuyutannya sejak mereka kelas 10. Katia tidak berani membayangkan dirinya minta bimbingan pada cewek ketus itu.

Tapi ia tidak kenal Joshe. Rasanya ia pernah mendengar nama itu, tapi herannya, selama dua tahun di SMA, Katia belum pernah bertemu teman bernama Joshe ini. Pasti mereka tak pernah sekelas, sehingga Katia tidak kenal sama sekali.

“Ada yang mau kamu tanyakan lagi, Katia?” Pak Darius mengejutkannya. Katia menggeleng.

“Tidak, Pak. Nanti saya temui Pak Leo, guru Fisika saya, untuk konsultasi.”

Katia pamit dan kembali ke kelas. Ia melirik jam tangannya. Bel tanda masuk kelas akan berbunyi sebentar lagi. Ia bergegas ke kantin, berharap masih sempat mengisi perutnya sebelum dua jam pelajaran terakhir dimulai.

Kantin sudah tidak ramai. Kebanyakan siswa sudah berdiri di depan kelas mereka. Katia segera menuju penjual risol. Ketika menunggu uang kembalian, seseorang menepuk pundaknya. Katia menoleh cepat.

“Eh, Ben!” serunya.

Ben yang bernama lengkap Ebenezer, melepas earphone-nya. Makhluk ajaib dari surga, kata Katia dalam hati. Ia tersenyum pada Ben. Ben balas memberi senyuman, membuat wajah tirusnya terlihat tampan.

“Kat… aku mau minta tolong, boleh ya?” tanyanya. Ia merapikan rambutnya yang termasuk gondrong. Dia benar-benar idola para cewek. Jangkung, tampan, berambut panjang, dengan sinar mata kalem yang membius. Ben Chronicle, itulah julukan cowok yang selalu memakai jaket bertudung itu. Chronicle adalah nama band sekolah mereka.

“Minta tolong apa, Ben? Aku kan nggak pinter …” Katia teringat nilai Fisikanya. Sambil menikmati risol, ia mendengarkan Ben. Keduanya berjalan santai menuju deretan kelas 12 IPA.

“Minta tolong sesuatu yang aku tahu kamu bisa lakuin, pastinya. Tapi nggak sempat jelasin sekarang, udah mau bel.” Ben melihat jam tangannya. “Secepatnya aku hubungi kamu lagi ntar.”

Dengan mulut penuh sambil mengunyah cepat, Katia tak bisa bertanya lebih banyak. Ia hanya mengangguk. Ben tertawa kecil melihatnya.

“Kayak badut, mulut penuh nggak bisa jawab. Lucu, tauk!” selanya. Katia memukul lengan Ben pelan. Namun setelah itu ia terbatuk. Ben menawarkan minumannya. “Nih, belum aku minum. Daripada nanti kamu keselek.”

Sambil mengunyah cepat-cepat, Katia menerima air mineral pemberian Ben. Diteguknya air itu seperti orang yang sudah lama tidak minum. Setelah lega, ia tersenyum pada cowok di sebelahnya.

Thanks, ya. Kamu penyelamat hidupku banget,” katanya. Ben nyengir lebar. Tangannya merangkul gadis yang hanya sepundaknya itu, lalu menariknya ke dada. Itu biasa dilakukannya sejak mereka masih SMP kelas delapan. Mereka berasal dari sekolah yang sama.

“Belum aja aku susahin nanti,” katanya dengan nada licik, namun matanya menggoda Katia. Bel tanda istirahat berakhir berbunyi nyaring. Ben melepas tangannya lalu menggandeng Katia. “Cepetan, kelas kita masih jauh! Lomba, yuk!”

Mereka lari sambil tertawa. Sebenarnya itu bukan lomba. Mereka berbeda kelas, walau sama-sama jurusan IPA. Namun ajakan Ben cukup berguna. Katia tidak terlambat masuk kelas. Rosalin telah duduk tenang di bangkunya. Katia berjalan ke arahnya.

“Ntar aku mau tanya, yah. Habis pelajaran,” bisik Katia. Pak Rosyid, guru Kimia, masuk ke kelas beberapa saat kemudian.

***

Bel panjang berbunyi mengakhiri pelajaran hari itu. Seluruh murid kelas 12 IPA 5 langsung menarik napas lega. Dua mata pelajaran terakhir itu benar-benar menguras otak. Sejak dulu, semua murid sependapat, bahwa seharusnya pelajaran terakhir adalah pelajaran yang santai dan menyenangkan.

Katia dan Rosalin membereskan buku dan alat tulis pelan-pelan. Mereka tak suka keluar kelas pertama-tama, sebab riuh sekali. Tunggu sekitar tiga menit, barulah kelas lebih lega.

“Kenal Joshe nggak, Lin?” tanya Katia tiba-tiba. Rosalin menoleh, alisnya berkerut.

“Kenal gitu-gitu aja, nggak deket. Kenapa? Tumben lu nanyain Joshe,” sahut gadis itu. Ia menunggu hingga Katia selesai merapikan meja, lalu berdiri, bersiap meninggalkan kelas. Katia mengikutinya. “Kalo nggak salah, nama lengkapnya Reynando Joshe Adinata. Sering ikut lomba sains, setahuku. Sibuk banget. Tapi denger-denger sih anaknya baik, paling enggak kata Meydi, begitu. Meydi dari dulu naksir Joshe. Cuma, Joshe nggak suka sama cewek!” Rosalin memelankan suaranya, seperti membisikkan suatu rahasia penting.

Kedua bola mata Katia yang berwarna coklat tua itu terbelalak. Langkahnya terhenti. Ditatapnya Rosalin dengan kening berkerut, rasa ingin tahu yang dalam, dan sedikit rasa jijik.

“Maksud kamu, dia gay? Masa sih?” Katia ikut berbisik.

Rosalin terbahak keras. Katia merengut.

“Ha ha ha! Bukan, ih! Dia dingin sama cewek, gitu aja. Denger-denger sih karena dia terlalu serius belajar sampe lupa cara naksir cewek,” sahut gadis berkulit sawo matang itu, menahan geli.

“Ya ampuun … aku kira nggak suka cewek itu maksudnya suka sama cowok. Ngeri, ah.” Katia bergidik, namun kemudian tertawa bersama Rosalin. ”Makanya, kamu kalo ngomong yang jelas dong, jangan ambigu begitu.”

Mereka melangkah pelan-pelan di koridor sekolah, menikmati angin sore yang bertiup pelan. Sekolah masih cukup ramai. Banyak siswa sedang duduk di taman, membahas tugas kelompok, latihan menari untuk tugas kelas, atau sekadar saling bertukar cerita dan bercanda. Banyak juga murid yang duduk selonjoran di lorong sekolah, tak peduli pakaian mereka kotor.

“Jadi, Joshe ini kelas IPA berapa, Lin?” tanya Katia lagi.

“IPA 1, kayaknya. Kelasnya juga di daerah depan, terisolir dari IPA 2 sampai 5. Nggak heran kalo kita nggak bisa liat cowok-cowok keren di IPA 1,” jawab Rosalin. Nada suaranya seperti menyesali kelas IPA 1 yang jauh terpisah dari kelas lain.

“IPA 1 kan siswa pilihan,” ujar Katia lagi. Walaupun kata guru-guru hal itu hanya rumor, dan bahwa murid-murid pintar disebar sama rata di kelas IPA 1 sampai IPA 5, tetap saja banyak orang percaya bahwa siswa IPA 1 adalah siswa-siswa paling pintar. Para juara kelas berkumpul di sana. Nilai rata-rata kelas mereka pun lebih tinggi daripada kelas-kelas lainnya.

“Jadi kalau pilihan, mereka harus lebih dekat dengan ruang guru?” Rosalin mencibir tak setuju. “Harusnya, IPA 5 dong yang deket ruang guru. IPA 5 siswanya paling ndableg.”

“Loh, kita kan IPA 5!” Katia mengingatkan temannya, kalem.

Rosalin menepuk jidat dan tertawa. “Ya ampuun … bener juga! Ralat, deh! IPA 5 bukan yang paling ndableg!” Ia memandang ke gerbang pelataran parkir sekolah. Johan, kakaknya, sudah menunggu di motor. “Eh, aku udah dijemput. Balik duluan, ya!”

Katia membalas lambaian tangan gadis berambut cepak yang sedang berlari ke motor penjemputnya, lalu melanjutkan langkah ke halte di depan sekolah. Pikirannya penuh dengan Universitas Dharma Bangsa, penjelasan dari Pak Darius tadi.

Tampaknya, Sabtu ini ia harus ke kampus itu untuk mencari informasi. Informasi beasiswa biasanya lekas ditutup, karena itu dia tak mau terlambat.

Setengah melamun, ia menuju bangku halte yang penuh. Tak ada tempat duduk. Terpaksa ia berdiri sambil memandang ke jalan, melihat nomor mobil angkutan umum yang sedang ngetem di sana.

“Kalo nginjek jangan lama-lama, Mbak! Sakit, tauk!”

Teguran pelan namun tajam dari seorang cowok mengagetkan Katia. Refleks, ia mengangkat kaki. Matanya memandang turun, ke arah seorang remaja berseragam SMA Pelita Bangsa dan berjaket coklat sedang duduk di halte. Cowok itu balik memandangnya dengan sinar mata tak suka. Sebagian wajah tampannya tertutup poni yang cukup panjang, nyaris menyetuh bibir.

Mendengar suara yang terdengar ketus, Katia ketakutan. Si cowok tetap menantang matanya, seolah ingin melabrak lagi. Jantung Katia berdebar begitu kencang. Belum pernah ia diomeli seketus itu oleh siapapun.

***