
" Aku Lilis," Tepatnya Lilis setiaNingsi, tapi panggil aja Lilis, nama Lilis itu di ambil di nama belakang ibuku. Usiaku 15 tahun dan aku kelas sepuluh
Di swasta katolik di Jakarta timur,
"Hingga kemarin di akhir bulan juni,
Aku hanya seorang anak remaja yang bahagia, di saat remaja lain tenggelam dalam masalah orang dewasa dan tertekan lalu terjebak dalam kondisi dolep, aku merasa baik-baik aja. Bahkan berfikir, kehidupanku akan selalu baik, aku bahkan jadi anak kebanggaan ayah dan bunda. Dan kaakak yang di idolakannya oleh ke dua adikku. Yang bernama : satria dan lela,
" Setelah hari pertama orientasi ,aku merasa bosen hari-hari ku, duniaku yang indah. Masa remaja yang cerita. Dan kata bunda masa SMA tak bisa terlupakan menjadi abu- abu. Tak ada lagi warna ceria lagi, sungguh, ini tidak pernah terpikirkan akan seperti ini,
******************
* Satu *
Kalau gejela menolak permintaan Ceraiku, aku akan pindah agama.dan menikahi Aisyah , "
**********
" Terlahir di sebuah keluarga katolik yang tidak mengijinkan perceraian membuat aku bangga,
" Aku selalu berfikir akan tinggal bersama ayah dan bunda. Dan tinggal satu atap bersama hingga aku menikah nanti,
" Meskipun sering bertengkar, salah satu orang tua ku tidak pernah pergi dari rumah apalagi mengucapkan kata CERAI, Namun malam itu. Kata terkutuk yang sangat di benci anak- anak itu terlontar begitu aja dari mulut ayah, bergetar di setiap inci rumah, frisataku mulai buruk bahwa keluargaku tidak akan utuh lagi,
" Ayahku, lelaki yang selama ini aku idolakan.dan malem itu ayah memutuskan untuk pergi dari rumah ini dan tinggal di studio foto, ia ayah seorang fotografer senior di sebuah majalah terkenal, karya- karya ayah yang di abdikan adalah motret model- model cantik yang kadang bikin aku IRI , Tapi sekarang aku tidak mau iri lagi pada model-model cantik itu, aku bahkan menjadi benci profesi itu dan orang - orang yang terlibat,
" Alesan sederhana bagiku, ayah menjauh dari rumah karna trobsesi pada pekerjaannya , entah apa malah yang sebenarnya, aku tidak mau tau. Bagiku ayah mencintai Profesinya hingga sering lupa waktu,rumah, anak-anak ,dan Bunda
" BUNDA "
" Sejak pertengkaran seharian sebelum MOS, aku juga jarang melihatnya, Terakhir kali melihatnya lebih dekat saat ia membantu. Merapikan rambutku pada hari pertama sekolah. Hanya itu, setelahnya aku hanya melihatnya makan dengan sembunyi- sembunyi di dapur seperti pencuri, ia sangat pucat dan tidak terurus. Aku ingin mengajaknya bercerita tetapi Bunda selalu menghindar,
" Di depan kamarnya hampir dua Minggu ini di psang papan kecil seukuran sejengkal tangan orang dewasa yang bertulis " DL. DEADLINE", artinya kami tidak boleh mengetuk pintu, tidak boleh membuat keributan yang menganggu aktivitasnya.
" Bunda adalah seorang penulis Novel yang beralih menjadi editor Naskah juga kadang menjadi penerjemah lepas. Jika sudah mendapatkan permintaan dari Klien yang biasanya datang dari penerbit buku ataupun dari penulis, ia akan meletakkan tanda, " DL "
* Sudah Dua Minggu tanda itu terpasang di daun pintu yang terkunci, aku rindu padanya, Lela dan sakti pun juga rindu. Kamu memang serumah tapi kami rindu,
" Aku rindu masakan bunda, keluh lelah pagi saat kamu menghabisi sarapan sandwich buatan ku,"
" DL " Le , kamu tau artinya kan, aku mencoba jawab sewajar aku
Lela mendengus kesel, iya. aku tau, kak tapi tidak seperti biasanya. Bunda hanya menutup pintu setelah kita berangkat sekolah, sebelum makan malem, bunda sudah ada di dapur menyiapkan makanan. Sekarang apa? Bahkan sarapan aja kak Lilis yang buatkan , rok sekolah Lela jadi longgar, kak.
" Adik prempuan, anak bungsu sembilan tahu itu memang Cerdas, dan sulit di membohongi keadaan yang sudah tidak sama lagi di dalam rumah, bahkan kemarin sempat nolak di antar Grab di hari pertama masuk sekolah,
" Ini bukan hal yang biasa, tetapi hal membahagiakan, sejak dulu, saat hari pertama masuk sekolah ayah dan bunda selalu mengantar kamu ke sekolah.ayah membantu sakti, sedangkan ibu mengurus Leli dan menilai penampilanku.sambil menyiapkan segala keperluan kami bahkan seminggu sebelum sekolah di mulai, itu dulu, dulu yang selalu di inggat dan di inginkan Lela,Satria dan juga aku,
" kak ," kenapa Ayah Sekarang tidak pernah pulang-pulang? Kalau ayah sibuk biasanya hanya sehari atau dua hari aja, nih skrng knpa jadi lama ?..
" Gadis kecil itu memainkan pensil sketsanya, ia mengangkat wajar dari hadapan buku yang bergambar ayah dan bunda. Hasil karya kreatif tangannya, ia memang sangat gemar dan berbakat itu. ia pasti merindukan lelaki itu,
" Mungkin, ayah banyak pekerjaan, Le. sabar aja nanti juga akan pulang.?
" Kapan, kak. ? Ia mengacak poni yang menutupi dahinya sambil menggeleng keles.rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya, manis sekali,
" Mungkin", beberapa hari lagi De," aku menjawab Tyang tak pasti."
" MUNGKIN !! "
" Iya, De. Sekarang tutup buku sketsa dan belajar kakak juga banyak PR. "
" Aku terpaksa mengakhiri percakapan atau akan berakhir marah karna di desak olehPertanyaan, tanpa aku tidak tau jawaba,"
" Jika di rumah terlalu sering terjadi Pertengkaran , lalu kabur dan berhari- hari tidak pulang maka akan menjadi biasa tanpa banyak pertanyaan mengapa ?" Tetapi rumah yang sangat hangat dan tenang, penuh cinta dan pengertian lalu tiba-tiba semua menjadi Dingin, Pergi dan Menghilang, akan menjadi perubahan yang sangat sulit untuk di pahami, apalagi untuk anak seusia Lela , aku yang sudah remaja dan menjadi sulung dalam keluarga aja belum mengerti,
" Aku menggalihka. Perhatian dan pertanyaan pada tugas bahasa Indonesia, tetapi pikiranku melayang jauh. Pada kata yang di ucapkan oleh ayah. Cerai."
" Apakah semudah itu, ? Apa sebenarnya masalah antra orang tuaku ?,
" Bunda tidak banyak bicara mungkin sudah Tumpah kekesalan dan kemarahannya di dalam kamar mereka