Unpredictable Wedding

Unpredictable Wedding

Ria Indria

4.5

 

“Hey! Ngelamun aja. Kesambet baru tau rasa, lo."

Dengan suara super kencang dan kemunculannya yang tiba-tiba, Revan berhasil membuat Keyna hampir terkena serangan jantung mendadak. Hobi mengagetkan orang dalam dirinya masih tidak berubah. Kepalan tangan Keyna hampir mengenai muka gantengnya. Tapi, lagi-lagi dia bisa menghindar.

“Kalem dikit lah jadi cewek,” tegur Revan.

“Jangan jadi cewek jagoan. Gue kan juga pengen sekali-kali lihat lo jadi cewek feminin,” lanjutnya sambil menata posisi duduknya di samping Keyna. Kemudian terdengarlah tawa mengejek dari suara baritonnya, Revan Aditya, seorang cowok idaman para cewek di sekolah. Bukan hanya di sekolah, di pusat perbelanjaan, bahkan di toilet umum pun dia bisa mencuri perhatian dan menjadi idaman setiap orang. Khususnya yang berjenis kelamin perempuan. Terlihat terlalu berlebihan, kan? Tapi itulah kenyataannya.

Keyna tak habis pikir, apa yang dikagumi dari sosok Revan? Baik? Tidak juga. Tak jarang dia bersikap jahil. Setia? Tidak sama sekali. Dengan sederet daftar cewek yang dia kencani, julukan playboy ganteng kerap melekat pada dirinya. Ganteng? Hmm...untuk yang satu ini, Keyna harus berkata iya. Kalau Keyna boleh kasih nilai, Revan mendapat sembilan dari batas maksimal sepuluh. Hampir sempurna. Dengan tinggi seratus delapan puluh sentimeter, berkulit putih, berlesung pipit dan bermata cokelat membuat dia lebih menonjol dari teman-teman yang lainnya.

“Gue nggak bisa kalem kalau lagi di dekat lo. Mungkin, emang gue ditakdirkan punya kekuatan ekstra untuk ngehadepin keusilan lo,” sahut Keyna kesal saat Revan menyenggol lengannya.

Setelah sepersekian detik mengeluarkan nada bicara satu oktaf lebih tinggi dari biasanya, Keyna kembali menstabilkan kadar emosinya. Ia memasukkan buku bacaan yang dari tadi hanya ia anggurkan ke dalam tas selempang kesayangannya. Keyna sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Apaan sih yang lagi lo pikirin? Lo nyembunyiin sesuatu dari gue, ya?” Sepertinya Revan mulai menyadari perubahan sikap Keyna yang sedikit berbeda dari biasanya. Revan mulai menebak-nebak apa yang Keyna rasakan sekarang.

“Hmm... enggak ada apa-apa," kelit Keyna.

"Jangan bohongin gue, Keyna Patricia!" tegas Revan sambil mencolek hidung Keyna yang bangir.

Keyna masih terdiam. Menumpukan kedua telapak tangan di atas bangku panjang bersemen yang ia duduki. Menengadah ke atas, memandangi langit yang sedang bermain-main dengan gumpalan awannya yang cantik.

“Keyna, cerita. Gue bakalan dengerin dan bantu sebisa gue kalau lo ada masalah,” ucap Revan dengan mimik serius. Sedetik kemudian tiba-tiba kedua bola mata Revan hampir tidak terlihat, matanya menyipit penuh prasangka dan akhirnya berucap, “Jangan bilang kalau lo mau nembak gue?”

Tak perlu waktu lama untuk melihat tawa cowok itu lagi. Ya, untuk kesekian kalinya Revan Aditya kembali menertawai Keyna. Seorang gadis tomboy yang terkadang terlihat manis di mata Revan.

“Ngaco banget sih, lo. Nggak lucu tau,” ucap Keyna sebal sambal meninju pelan lengan kokoh Revan.

Meskipun masih muda, Revan sudah rajin menjaga kebugaran demi menunjang dirinya sebagai atlet basket. Tak heran, dia menjadi atlet basket yang dielu-elukan di sekolah. Selain permainannya yang sangat bagus dan selalu membawa nama sekolah menjadi juara, dia juga memiliki badan yang bagus dan memiliki wajah yang tampan. Anugerah istimewa yang telah diberikan Tuhan untuk seorang Revan.

“Gue bingung. Gue nggak yakin dengan pilihan yang gue ambil.” Keyna kembali terdiam. Menengadahkan wajahnya ke atas, melihat gumpalan awan menjadi hal yang bisa menghiburnya saat ini. Cantik.

“Pilihan apa?" tanya Revan bingung.

"Kuliah," jawab Keyna singkat.

 

"Oh, gue kira apaan.” Revan tersenyum tipis. Menerawang jauh. Pandangannya terlempar ke atas, mengikuti tatapan Keyna ke langit. “Bukannya lo sudah keterima, dan itu jurusan yang lo pengenin dari dulu, kan? Biar lo bisa menjadi orang yang membela orang-orang tak berdaya. Tapi kenapa sekarang berubah nggak yakin gini?”

Revan mengembalikan pandangannya, menatap Keyna penuh selidik. Sedangkan Keyna hanya tertawa gamang saat melihat tatapan Revan yang mulai mencoba menginterogasi dirinya.

“Mama pengen gue jadi dokter. Tapi papa ngebebasin gue untuk menjadi apapun yang gue mau.”

“Key, lo harus jadi diri sendiri untuk bisa dapetin apa yang lo inginkan. Dengerin hati nurani dan lo akan dapetin jawabannya. Dulu, itu yang pernah lo bilang ke gue, kan? Nah, sekarang lo yang harus terapin dalam hidup lo. Kalau lo mau, gue bantuin ngomong sama nyokap lo deh,” sahut Revan panjang lebar sambil menepuk halus pundak Keyna, kemudian beralih menggenggam erat kedua tangannya. Seketika rasa nyaman mulai menjalar dalam diri Keyna.

Meskipun dia memiliki sifat super jahil yang menyebalkan, di balik itu semua, harus Keyna akui kalua Revan lebih tenang saat menghadapi masalah atau suatu pilihan yang tidak mudah. Dia bisa berubah menjadi sosok lelaki dewasa, meskipun usianya masih menginjak delapan belas tahun.

“Makasih, Rev. Meskipun lo sering jahatin gue, tapi harus gue akui kalau nggak akan ada yang bisa ngegantiin lo sebagai sahabat terbaik gue.”

“Tentu dong! Gue gitu, Revan Aditya!” sahut Revan tersenyum dengan gaya congkaknya sambil menepuk pelan dada bidangnya.

“Haduh, mulai. Nggak usah lebay gitu deh,” protes Keyna dengan alis terangkat dan bibir yang sedikit mengerucut.

Revan menarik tubuh Keyna ke dalam pelukannya. Aroma parfum yang maskulin dan segar menguar, mulai merasuki lubang hidung Keyna.

 

“Gue sebisa mungkin selalu ada buat lo, Key. Lo sahabat terbaik gue. Kita akan jadi sahabat selamanya.”

We are friends forever. Janji?”

“Oke, gue janji," balas Revan sambil menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Keyna.

Meskipun mereka sedekat ini, tapi Keyna sama sekali tidak memiliki perasaan suka, cinta, atau apapun namanya terhadap Revan, begitu pula sebaliknya. Revan dan Keyna memiliki kriteria pasangan berbeda, yang tidak ada dalam diri mereka masing-masing. Mereka merasa nyaman dengan kedekatan yang terjadi sekarang. Seorang sahabat. Tanpa ada embel-embel lainnya.

“Sudah ah, Rev. Malu tuh dilihatin sama anak-anak.” Keyna mendorong pelan badan Revan, berusaha melepaskan pelukannya yang berhasil membuat Keyna merasa tenang. Sangat nyaman.

“Baiklah, gue mau latihan basket dulu,” ucap Revan sambil tersenyum memerlihatkan lesung pipitnya. “Lo mau bareng gue nggak pulangnya?” tanya Revan, kemudian beranjak menuju ke tengah lapangan basket, bergabung dengan teman-teman lainnya yang sudah menunggu.

“Iya... gue tunggu di perpus aja ya!” sahut Keyna setengah berteriak.

Setelah merapikan roknya, Keyna berjalan dengan santai menuju perpustakaan, ruangan yang terdapat di ujung lantai satu. Melewati ruang konseling, laboratorium dan tata usaha.

Ah, gue bakalan ngerinduiin ruangan-ruangan ini semua, batin Keyna.

Tak terasa, sebentar lagi Keyna meninggalkan sekolah ini.Tempat yang sudah mempertemukannya dengan Revan Aditya, seorang sahabat yang selalu ada buatnya. Terasa berat meninggalkan ini semua. Terlalu nyaman dengan situasi seperti ini, daripada harus memasuki dunia yang baru.

Keyna tidak yakin akan mendapatkan sahabat seperti Revan. Meskipun mereka diterima di universitas negeri ternama yang sama di Jakarta, tapi jalan yang mereka ambil berbeda. Revan memutuskan memperdalam kemampuannya untuk menjadi seorang arsitek, sedangkan Keyna memutuskan untuk menekuni dunia hukum.

Keyna menyusuri lorong rak buku, mencari buku bacaan yang cocok untuk menghabiskan waktu sampai Revan selesai bermain basket. Matanya kemudian tertuju pada novel remaja berjudul Best Friend. Lagi-lagi sebuah novel persahabatan yang berhasil menarik perhatiannya.

Keyna berjalan menuju meja yang kosong dan strategis untuk membaca. Tidak jauh dari pintu masuk. Dengan begitu, Revan akan mudah menemukannya. Keyna menarik kursi dan menata posisi duduk senyaman mungkin.

“Hey, gue boleh duduk di sini?” tanya seorang cowok ganteng berkacamata tiba-tiba saat Keyna sudah bersiap membuka halaman pertama novelnya.

“Silakan,” jawab Keyna singkat sembari tersenyum ramah, mengalihkan pandangannya sejenak ke arah Dio.

“Terima kasih. Lo sendirian?”

“Iya, seperti yang lo lihat sekarang,” jawab Keyna mulai malas karena waktu bacanya terganggu dengan pertanyaan tidak pentingnya.

“Oh, gue kira sama pacar lo,” sahut Dio. Ada sedikit kelegaan yang tergambar dari wajahnya.

“Pacar? Maksud lo?” tanya Keyna memastikan.

“Iya, pacar. Cowok yang selalu ke mana-mana berdua sama lo, itu pacar lo kan?”

Seketika Keyna tersenyum geli. Kalau tidak ingat ini perpustakaan, mungkin ia akan tertawa sampai perutnya terasa sakit. “Revan maksud lo?” Tebakan Keyna berhasil membuat cowok itu mengangguk.

"Dia sahabat gue, bukan pacar gue.”

“Gue kira kalian pacaran. Kenapa kalian nggak jadian aja? Kalian sangat serasi.”

Keyna melihat ekspresi aneh di wajah Dio. Meskipun dia menyarankan supaya Keyna dengan Revan pacaran, tapi Keyna tahu kalau tujuan sebenarnya bukanlah itu. Keyna merasa kalau Dio sedang meyakinkan dirinya sendiri kalau Keyna dan Revan tidak akan pernah pacaran. Keyna bisa membaca itu semua dari raut wajah Dio.

“Oh iya, gue duluan ya. See you next time, Keyna,” ucap Dio tanpa basa-basi lagi sambil menarik tubuhnya dari kursi di hadapan Keyna.

“Aku suka kamu,” lanjut Dio sangat lirih hampir tak terdengar dengan tatapan teduh.

Seketika rasa hangat menjalar di sekujur tubuh Keyna.

“See you.” Hanya kata itu yang tiba-tiba keluar dari mulut Keyna dan seketika bibir Keyna membentuk senyuman kecil. Keyna menatapnya sampai bayangan tubuh Dio menghilang dari hadapannya. Ah, seandainya saja Dio tahu kalau Keyna juga menyukainya.

Keyna mengarahkan pandangan ke sekeliling ruang baca. Meskipun ini hari Sabtu dan sudah cukup siang, tapi ruang baca di perpustakaan ini masih terbilang lumayan ramai. Keyna melirik jam tangan putih yang melingkar manis di pergelangan tangannya, jarum jam masih betah menunjuk angka 3. “Masih ada 1 jam lagi gue menunggu,” pikir keyna.

Perlahan mata Keyna terasa cukup berat, Keyna membuang napas kasar. Ternyata membaca dengan perasaan yang tidak nyaman membuat rasa kantuk menyerang semakin kuat. Keyna meletakkan buku yang sedang ia baca, kemudian menumpukan kepalanya di atas tumpukan kedua tangannya di meja dan sedetik kemudian ia menutup mata. Berharap bisa berkelana di dunia mimpi yang menyenangkan.

 

***

 

Sentuhan halus membuat mata Keyna terbuka kembali. Keyna menemukan telapak tangan Revan masih menyentuh pipi kanannya. Keyna tidak lagi berada di perpustakaan sekolah, tapi di dalam sedan mewah keluaran teranyar yang nyaman.

Ah, ternyata mimpi,” batin Keyna.

Keyna tersenyum kecil. Rupanya Keyna membiarkan Revan sepanjang jalan menjadi sopir yang ditinggal penumpangnya berkelana sendiri di dunia yang berbeda.

“Kita sudah sampai,” ucap Revan sambil melepas seat belt yang masih terpasang.

“Maaf, Rev. Gue ketiduran. Gue capek banget.” Keyna membela dirinya agar terhindar dari ocehan Revan.

“Iya, enggak apa-apa. Tau kok, yang sekarang jadi wanita karir, sibuknya pake banget,” ucap Revan mulai menyindir Keyna.

“Apaan, sih? Biasa aja kali,” sahut Keyna malas. Revan hanya tertawa mendengar sahutan sahabatnya itu.

“Gue enggak enak bangunin lo tadi. Kayaknya lo kurang tidur, ya?”

“Iya. Ada beberapa kasus yang ngebuat gue peras otak lebih keras biar cepet kelar,” sahut Keyna sambil memijit kedua pelipis matanya.

“Eh, lo kenapa nggak ajak langsung Naya ke sini? Kenapa harus gue?” kata Keyna tiba-tiba saat membuka sabuk pengaman yang sedari tadi masih menempel di tubuhnya.

“Dia lagi sibuk. Lagian gue memang mau kasih kejutan ke dia,” terang Revan sambil membuka pintu mobil. “Ayo! Atau lo mau terus di sini ngebiarin gue milih cincin sendirian?”

Badan Keyna sepertinya masih lengket dengan kursi empuk itu. Terasa berat untuk melangkah turun. Tapi, kalau tidak segera turun, akan lebih panjang lagi omongan Revan dan pastinya akan membuat telinga Keyna panas. Lebih baik menuruti permintaan Revan sekarang, karena Keyna sedang tidak berminat untuk berdebat.

Keyna melangkahkan kaki mengikuti arah Revan pergi, sedikit berjalan cepat untuk menyeimbangkan langkah Revan.

“Lo kalau jalan udah kayak dikejar setan aja, Rev,” ucap Keyna jengkel saat Keyna berhasil menjajarinya. Revan hanya tertawa kecil, dan mengurangi kecepatan berjalannya.

Mereka memasuki pusat perbelanjaan mewah di daerah Jakarta Selatan. Menjelajah seisi pusat perbelanjaan dan akhirnya menemukan toko perhiasan mewah yang ia cari di ground floor. Sebenarnya rasa malas masih menggelayut manja saat menemani Revan untuk kali ini. Meskipun sebentar lagi Revan akan menikah, mereka berdua tetap dekat. Hampir lima puluh persen Keyna membantu Revan menyiapkan acara pernikahannya di sela-sela kesibukannya.

Tak jarang, Keyna terkena sasaran kecemburuan Naya, calon istri Revan. Naya menganggap mereka terlalu dekat untuk ukuran sepasang sahabat. Namun, Keyna selalu bisa menanggapinya dengan santai saat Naya mulai mengeluarkan api kecemburuannya.

Keyna selalu meyakinkan Naya kalau ia dan Revan hanyalah sepasang sahabat yang tidak akan pernah punya perasaan mencintai. Bagi Keyna, memberikan penjelasan yang sama dan selalu berulang itu sangatlah membosankan. Tapi sekarang, akhirnya Keyna bisa bernapas lega. Revan dan Naya akan menikah tiga minggu lagi, tepat sehari sebelum keberangkatan Keyna ke Amsterdam.

“Key, itu bagus nggak?” tanya Revan sambil menunjuk sebuah cincin emas bermata mutiara kecil di tengahnya.

Keyna menggeleng. “Itu nggak cocok untuk orang nikah.”

“Terus? Atau yang itu?” tanyanya lagi sambil menunjuk cincin berwarna putih.

Keyna tetap menggeleng. Ia mengedarkan pandangan ke arah etalase, mencari cincin yang cocok untuk mereka dan akhirnya pandangan Keyna terhenti.

“Coba yang ini, Mbak,” ucap Keyna sambil menunjuk cincin yang ia maksud ke arah pramuniaga.

“Bagus?” Keyna memperlihatkan sebuah sepasang cincin berwarna perak dengan sedikit sapuan warna emas. Desainnya bergelombang, seperti ombak yang sangat menawan bermatakan berlian di tengahnya.

Simple, tapi elegan dan masih kerasa kesan sakral dan mewahnya,” lanjut Keyna.

Revan mengamati cincin itu kemudian tersenyum. “Enggak salah memang kalau gue ngajakin lo ke sini.”

“Saya ambil yang ini, terus di ukir inisial namanya juga ya di masing-masing cincinnya,” terang Revan panjang lebar kepada pramuniaga yang masih setia melayani kemauan pengunjungnya.

 

“Makasih ya, Key. Gue enggak tau gimana jadinya kalau tanpa lo.” Ucapan Revan terlalu berlebihan. Revan merengkuh Keyna ke dalam pelukannya. Membuat Keyna merona malu karena orang di dalam toko melihat mereka dengan tersenyum.

“Lebay lo, Rev. Lepasin. Gue jadi artis dadakan nih, gue dilihatin. Malu tau," cerocos Keyna sambil berusaha melepaskan diri dari rengkuhan Revan.

Sorry, gue terlalu senang,” sahut Revan tersenyum nakal tanpa ada rasa malu. “Habis ini lo udah nggak balik ke kantor, kan? Masa, seorang bos seperti karyawan yang kerja rodi?” tanya Revan berentetan.

“Enggak. Kenapa memangnya?”

“Gue mau ngajakin lo ke suatu tempat.” Tanpa mendengar persetujuan Keyna terlebih dahulu, Revan langsung menggandeng tangan Keyna keluar dari toko perhiasan.

“Kita mau ke mana?” Keyna menghentikan langkah dan melepaskan genggaman tangan Revan.

“Bersenang-senang,” jawabnya singkat sambil mengerling nakal ke arah mata Keyna.

 

***