Trip Trap!

Trip Trap!

R Azka

4.8

Jurus jitu saat patah hati, ya, melarikan diri.

Kurang lebih begitulah yang tertanam di kepala Nadia sejak mendapatkan undangan pernikahan dari sahabat–sekaligus orang yang selama ini disukainya. 

Peduli setan masalah pekerjaan. Saat ini yang Nadia butuhkan hanyalah waktu untuk sendiri demi mengobati patah hatinya.

Kok tega banget, sih, Tian?

Padahal sudah rahasia umum kalau Nadia itu menaruh rasa suka kepada Tian. Bahkan Nadia secara terang-terangan memperlakukan Tian dengan spesial, melebihi label sahabat yang selama ini membatasi mereka. 

Sayangnya, masalah hati tidak bisa dipaksakan. Tian hanya menganggap Nadia sahabat, tidak lebih dan tidak kurang. Perjuangan Nadia tak berbalas apa-apa, selain dianggap angin lalu.

Dengan lesu, Nadia menggeret koper–super besar–nya mendekati petugas imigrasi. Gadis dengan rambut berwarna hitam kecokelatan yang tergerai lurus hingga punggung itu mengangsurkan paspornya dengan ogah-ogahan.

“Indonesian?” tanya petugas imigrasi berbadan tinggi besar di hadapan Nadia. Alih-alih terkesan menakutkan, dalam pandangan Nadia justru terlihat menyebalkan. Kalau saja pria itu tak lebih tua dari Nadia, sudah pasti gadis berponi itu akan menatapnya dengan sinis.

Demi menjaga kesopanan, Nadia menipiskan bibirnya yang merona karena polesan liptint, lalu sebisa mungkin menarik setiap sudutnya hingga membentuk sebuah senyuman yang–dipaksa–manis. Ia mengangguk malas sambil memperhatikan si petugas yang kembali asyik membolak-balik paspornya. 

“Hendak bercuti atau tinggal?”

“Liburan.”

“Berapa lama Anda mahu tinggal?”

Nadia mengernyit kesal. Padahal baru saja ia mengatakan bahwa dirinya tidak berniat untuk tinggal, tetapi hanya sekadar liburan. Apakah pendengaran pria tua itu sudah kehilangan fungsinya dengan baik? 

“I will not stay here for long,” tegas Nadia.

Memang rencananya Nadia hanya staycation selama dua mingguan. Itu pun bukan hanya satu tempat. Ia akan menghabiskan tiga hari pertamanya untuk berada di Kuala Lumpur, lalu setelahnya ia akan melanjutkan perjalanan ke Selangor karena memiliki janji dengan seseorang.

Pria tua yang bertugas untuk memeriksa Nadia tampak kurang puas. Pria itu kemudian meminta barang-barang Nadia yang telah selesai di-scan untuk kembali diperiksa.

What the hack!

Kayaknya ada yang pernah mengatakan sebuah mitos kepada Nadia bahwa petugas imigrasi Malaysia itu suka bikin emosi. Wah, ternyata fakta, lho. Nadia tak menyangka kalau dibuat emosi saat baru datang.

Nadia kesal bukan main. Bagaimana tidak kesal ketika melihat koper–super besar–ditambah sebuah ransel miliknya digeledah oleh petugas hingga isinya menjadi acak-acakan. 

Ini sebenarnya si petugas yang emang rese atau Nadia yang sedang sewot-sewotnya? Niat hati ingin healing, tetapi baru mendarat saja sudah bikin pening.

Semoga nggak salah pilih tempat liburan, batin Nadia berdoa.

Sebenarnya wajar jika ia dicurigai. Karena sebagai solo traveler, bawaannya kayak boyongan satu keluarga. Mungkin ia dicurigai sebagai tenaga kerja ilegal atau bisa jadi membawa barang-barang dari luar negeri yang akan diperjualbelikan secara bebas sesampainya di sini. 

Akan tetapi, kenyataannya koper besar milik Nadia hanya dipenuhi stok makanan yang sengaja dibawanya demi menghemat keuangan selama liburan.

Nadia mengembuskan napas ketika mengingat kondisi keuangannya. Ia berlibur ke luar negeri memang dengan modal nekat. Selama ini ia bahkan tak pernah ke luar kota tanpa pengawasan keluarga–dengan biaya dari keluarga pula. Namanya juga bungsu dan anak perempuan satu-satunya.

Ya ... minimal harus ditemani sama Tian, sih.

Tian lagi, Tian lagi.

Mau bagaimana lagi? Nadia dan Tian itu sudah jadi sohib sejak zaman putih biru alias semasa SMP. Di mana ada Nadia, di situ ada Tian. Begitu pula sebaliknya.

Mereka berdua hampir tak pernah terpisahkan. Masing-masing juga sudah akrab dengan keluarga dan sering pula main ke rumah. Sejak berkawan di SMP, mereka selalu menempuh pendidikan dalam satu instansi yang sama. Paling mentok terpisahkan oleh jurusan.

Saking soulmate-nya, bekerja saja mereka masih satu tempat. Nadia bahkan rela menyokong usaha Tian dan menolak tawaran-tawaran pekerjaan yang lebih menjanjikan dari luar. Demi apa? Ya, demi Tian lah! Sayangnya, si cowok yang didukung setengah mampus itu tak tahu diri. Ujung-ujungnya perjuangan Nadia jadi sia-sia.

Jadi, bagaimana mungkin Nadia tak terjebak perasaan, sedangkan kebersamaan mereka saja tak bisa dihitung lagi. Namun, apalah artinya rasa suka jika ujungnya tak terbalas.

Ibarat kata pepatah, "Bersakit-sakit dahulu, sakit hati kemudian." Eh, kata pepatah apa bukan, ya? Pokoknya, Nadia menyesal karena tak mengindahkan wejangan salah satu iparnya yang katanya, “Jangan mau menemani lelaki dari nol. Soalnya kalau dia udah sukses, seleranya udah ganti. Kalau lo nggak berproses juga, lo makin tertinggal jauh.”

Pada akhirnya, di sinilah Nadia berada. Dengan modal petuah sang Mama, “Kalau masalah enggak ada jalan keluarnya, berarti kita yang harus keluar untuk jalan-jalan. Cari angin. Biar lebih gampang cari solusi, soalnya otak jadi lebih fresh.” Nadia pun memutuskan untuk jalan-jalan untuk menjernihkan pikiran.

Tak tanggung-tanggung, sekalinya jalan-jalan, langsung terbang ke luar negeri.

Rasanya Nadia ingin menertawakan diri sendiri. Tabungannya selama bekerja lima tahun terakhir harus terkuras untuk pelarian berkedok jalan-jalan ini.

Nasib, nasib. Nasibmu apes banget, Nad, batin Nadia sambil menghela napas berat berkali-kali.

“Pokoknya ini semua gara-gara Tian,” gerutu Nadia saat ia telah berhasil lolos dari petugas imigrasi–yang super menyebalkan tadi. Gadis itu memasang kacamata hitam seraya mengentak-entakkan kaki berbalut sneaker-nya. “Kalau aja dia nggak nikah sama cewek lain, aku nggak bakalan ada di sini.”

Mendadak pikiran Nadia kembali terngiang dengan kartu undangan berwarna hijau toska berbalut ornamen emas yang diterimanya seminggu lalu. Ia merasa dikhianati, tetapi kemudian sadar diri kalau status hubungannya dengan Tian tak lebih dari sahabat. Rasanya nano-nano. Nadia kecewa karena selama ini Tian juga tak pernah sekalipun mengenalkannya dengan kekasih yang akan dinikahinya.

“Kalau udah dikenalin dari dulu, kan, aku nggak bakalan sekaget ini. Seenggaknya bisa lebih menguatkan hati. Dan yang lebih penting, aku enggak akan taruh harapan tinggi-tinggi ke dia.” Nadia masih berjalan dengan kesal seraya menarik kopernya. Tak kuasa menahan kekesalan, Nadia memilih berteriak saat tubuhnya telah mencapai pintu keluar.

Bodo amat dikira gila. Toh, gak ada yang kenal aku.


[]