Tired of being a wife

Tired of being a wife

Intan rachele

5

Di sebuah perusahaan yang terlihat sangat  megah, nampak banyak karyawan berlalu-lalang. Di situlah tempat Isabel bekerja. Isabela adalah seorang wanita karir, tidak hanya parasnya yang cantik, Isabela di kenal sebagai orang yang cukup kompeten.

Disanalah dia mengenal laki laki bernama Rico Herlambang. Rico dikenal sebagai orang yang sangat baik, sudah sejak setahun yang lalu Rico mengejar Isabela, hingga akhirnya Isabela luluh juga. Dan mau berpacaran dengan Rico.

Isabela sangat amat menyayangi Rico, Isabela sangat bahagia saat berada di dekat Rico. Bagi Isabela Rico bagaikan pengganti sosok seorang ayah untuknya.

Sedari kecil dia tinggal bersama dengan ibunya, di rumah yang terbilang sederhana. Di rumahnya yang dulu Isabela dan ibunya selalu di kucilkan oleh para tetangganya, entah apa sebabnya. Mereka terus saja memojokan ibuku.

Mereka selalu saja menyebutku anak haram. Sewaktu aku kecil aku tak mengetahui, apa artinya  itu anak haram. Hingga aku beranjak dewasa, akhirnya aku tau.

Setelah aku lulus sd. Ibuku mengajakku untuk pindah ke Jakarta, ibuku menjual rumah satu satunya peninggalan orang tuanya. Demi memenuhi kebutuhan hidupku, sesampainya di Jakarta. Ibuku membeli rumah yang terbilang sangat kecil, bahkan di rumah ini hanya ada satu ruangan, tanpa adanya ruang tamu.

Kamar dan ruang tamu menjadi satu. Bahkan untuk kamar mandi pun terbilang sangat kecil . Tapi aku masih tetap bersyukur karna aku masih memiliki tempat tinggal .

Di rumah inilah aku tumbuh menjadi dewasa. Ibuku adalah sosok yang sangat aku kagumi, di saat susahpun ibuku  mampu menyekolahkan ku hingga aku lulus SMA. Dan aku di terima kuliah di salah satu universitas terkemuka di Jakarta. Berkat usaha dan kerja keras ku aku bisa mendapatkan beasiswa,

Setelah aku lulus S1, aku memutuskan untuk melamar kerja, dan aku di terima di salah satu  perusahaan ternama, walaupun jabatan aku di sana sebagai office girl, tapi aku menikmati pekerjaanku , tanpa mengeluh dan tanpa mengenal lelah. 

Hingga akhirnya aku naik jabatan, menjadi resepsionis. Karna kerjaku yang kompeten, sebagian orang mungkin merasa iri denganku tapi ada juga yang kagum.

Aku bekerja tanpa kenal lelah, bahkan di saat waktu luang aku berkerja part time, semua itu aku lakukan untuk ibuku.

Dan alhamdulilah. sekarang aku sudah bisa membelikan ibuku rumah yang terbilang layak, tak seperti sebelumnya. Kini kami mempunyai tempat tinggal yang nyaman.

" Isabela... Sayang ayo ." Ajak Rico.


" Iya, tunggu sebentar ya yang! aku mau beresin meja kerjaku dulu  ."

" Iya jangan lama lama ya. Aku tunggu di parkiran ."

" Iya ." Isabela pun membereskan tempat kerjanya dengan terburu buru. Dan setelah selesai Isabela pun langsung beranjak turun ke arah parkiran. 

" Sayang, Ayo ." Kata Isabela, Karna melihat Rico melamun.

" Ayo.. tapi sebelum aku anterin kamu, aku mau kamu mampir dulu ke suatu tempat ."

" Mau ke mana yang?".

" Ada deh, ikut aja yuk!".

" Mau kemana sih kamu bikin aku penasaran aja ."

" Ayo. Ikut aja, tapi sebelum itu kamu tutup mata kamu dulu ya ."

Akhirnya Isabela pun ikut dengan Rico, sambil matanya di tutup. Ada apa sih tumben Rico begini. Gak kayak biasanya, tapi aku tak mau banyak bertanya, karna aku takut membuat dia marah.

Tak lama kemudian ....

" Ayo! Kita udah Samapai."

" Kamu turunnya pelan pelan ya, sini pegangan tangan aku."

Isabela pun hanya bisa menurut saja. Dia memegang tangan Rico dengan senang hati, 

" Nah Tuan putri kita sudah sampai ."kata rico, sambil membuka penutup di mata Isabela .

Isabela di buat kaget, syok, dan bahagia bercampur menjadi satu, melihat semua ini .

" Isabela . Will you marry me ?". Isabela tak bisa menjawab, dia hanya bisa menganggu kan kepalanya. Dan Rico pun memeluk Isabela.

Akhirnya rico pun memakaikan cincin Kejari manis Isabela, Isabela sangat sangat senang sekali, dia tak bisa mendeskripsikan perasaanya. Akhirnya dia di lamar oleh kekasih yang sangat dia cintai.


" Isabela, ahh.... Aku gak tahu bagaiman cara mendeskripsikan perasaan ku. Aku sangat bahagia sekali."


" Aku juga Rico. Aku juga sangat bahagia sekali, aku senang sekali akhirnya kita bisa bersama, dalam ikatan pernikahan."


" Iya, kamu tunggu aku besok ya! Besok aku akan datang, bersama keluargaku untuk menentukan tanggal pernikahan kita."


" Kamu serius! Secepat ini ?".


" Iya, aku sudah tak sabar untuk mempersunting kamu. Aku tak sabar untuk menjadikan kamu hanya untukku seorang."


" Iya aku juga sayang, Tapi bagaimana dengan pekerjaan aku? Apakah aku boleh tetap bekerja, setelah kita menikah nanti?".


" Kalo kamu udah nikah sama aku. Kamu gak usah capek capek kerja sayang, kamu tak perlu capek mengurusi pekerjaan kantor, kamu hanya perlu mengurus segala keperluan aku."


" Tapi bagaimana dengan ibuku? Ibuku sudah sangat rentan, dan dia masih membutuhkan biaya dariku, apalagi dia sekarang sedang sakit sakitan!".


" Kamu tak perlu khawatir soal itu, ibu kamu ibu aku juga, jadi soal keperluan ibu kamu aku yang urus, kamu hanya perlu bersantai di rumah dan melayani aku sebagai suami kamu. Apakah kamu bersedia menjadi pendamping hidupku."


" Iya sayang aku mau ." Akhirnya mereka pun berpelukan.


" Ya udah yuk! kita pulang."


" Tapi Kamu belum makan yang ?".


" Aku tadi sudah makan, yang di kantor jadi aku masih kenyang, sebaiknya aku pulang saja, dan aku ingin mengabarkan orang tuaku tentang kabar baik ini."


" Baiklah ... Ayo!! Sepertinya kamu bersemangat sekali."


" Iya, aku sangat senang hari ini, jadi aku harus segera bertemu ibuku untuk memberitahukan kabar baik ini."


 " Baiklah ayo Tuan putriku ."


Kamipun menaiki mobil menuju ke arah rumah Ku. Di perjalanan aku terus saja berpegangan tangan dengan Rico, dia menyetir menggunakan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya dia gunakan untuk memegangi tanganku, 


Entah mengapa, Rico bertingkah seperti takut kehilangan aku, dia terus saja memegang tanganku, padahal aku tak kemana mana, dan sebentar lagi aku akan menjadi istrinya, apakah ini perasaan sebelum aku melepas status lajang ku. Perasaan ini Sulit di jabarkan.


Sampailah kami di rumah ku, ibuku rupanya sedang menungguku di teras rumah. Ibuku ini, sudah berkali kali aku bilang untuk tetap di dalam masih saja, aku tak bisa marah padanya.


" Sayang kamu gak mau mampir dulu?".


" Aku langsung pulang saja, aku ingin memberitahukan mamah dan papaku kabar baik ini."


" Baiklah, hati hati di jalan ya ."


" Iya, ." Saat isabela akan berbalik Rico berteriak." Sayang . I LOVE YOU."


" LOVE YOU TOO."kata ku .


akupun masuk ke dalam rumahku dengan perasaan bahagia, pipiku menjadi merah merona.


" Kamu baru pulang bel?".tanya ibuku sambil memegang tanganku.


" Iya Bu . Bu aku punya kabar baik ."kataku dengan wajah yang berseri seri.


" Ayo masuk dulu ." Kata ibu sambil membawaku masuk Kami pun masuk ke dalam rumah, di dalam aku menceritakan kabar baik ini.


" Bu lihatlah." Kataku sambil memperlihatkan cincin di jari manis ku. "Bu besok keluarga, Rico akan datang untuk membicarakan pernikahan ."kataku pada ibuku. 


" Apa !! Kenapa secepat ini! Apakah kamu sudah memikirkannya Matang matang?" 


" Sudah Bu, ibu tenang saja. Walaupun aku sudah menikah, aku tak akan melupakan kewajibanku pada ibu." Kataku menatap mata ibuku, dengan penuh keyakinan.


" Bukan itu bel. Apakah kamu sudah siap dengan konsekuensinya ?". Ibuku nampak terlihat cemas.


"Insya allah siap Bu, aku sudah memikirkannya Matang matang ."


" Baiklah kalau itu mau kamu, ibu ikuti saja keputusan kamu ."


" Terima kasih Bu. ibu selalu mendukung keputusan aku. Aku sayang ibu." Kamipun bepelukan