Summer Fever

Summer Fever

Azerani

5

Segala jenis lelah terbayarkan setiap melihat wajah manisnya. Aku bisa melihat jelas wanita itu bergerak ke sana kemari dengan lincah. Suara indahnya bagai nyanyian malaikat yang menyejukkan jiwa. Sekalipun jarak yang terbentang di antara kami sangat nyata, aku tetap memilih untuk mencintainya tanpa syarat.

Dia di atas panggung sementara aku duduk di kursi penonton. Itulah hubungan kami. Aku tidak ingat dengan pasti tanggal semua kegilaanku terhadap wanita itu dimulai. Yang pasti aku bukanlah laki-laki yang murah senyum. Setiap hari yang kujalani hanya hari-hari yang membosankan.

Kemudian suatu hari itu aku terjebak. Berawal dari temanku yang mendadak harus lembur sementara dia sudah membeli tiket konser penyanyi idolanya.

“Taewoon, kumohon, aku beri gratis deh, sayang sekali kalau tiket ini hangus.” Laki-laki itu menyatukan tangannya. Di kantor ini Lee Taewoon, alias diriku, terkenal tidak bisa berkata ‘Tidak’. Karena itu aku jadi sasaran semua orang untuk memenuhi permintaan mereka. Mulai dari membeli kopi, memoto kopi berkas, hingga menjemput anak mereka di sekolah. Padahal posisiku cukup senior di sini. Namun, inilah nasibku. Aku tidak pernah menyukai kelemahanku ini.

Sayangnya untuk urusan konser ini aku harus berkata, “Mohon maaf, aku tidak bisa.” Tepatnya aku tidak mau. Sebab aku sama sekali bukan tipe orang yang menyukai budaya pop. Terutama dari negaraku sendiri. Aku tidak peduli meskipun industri hiburan Korea Selatan saat ini menjadi salah satu kontribusi terbesar di negara ini. Aku lebih suka menikmati musik-musik klasik yang bisa membuat pikiranku tenang. Bukan musik yang alirannya tidak jelas juga berisik. Di tambah, aku tidak suka keramaian. Aku tidak akan mau berdesak-desakan kemudian harus terjebak di antara remaja bau keringat yang histeris hanya karena melihat orang bernyanyi sambil menari.

“Taewoon… kumohon, hanya kamu yang tahu aku seorang fanboy, kalau aku minta yang lainnya aku bisa ketahuan. Mereka pasti akan menertawakanku!” Laki-laki itu malah berlutut. Kepalaku mendadak pusing. Dia saja malu mengakui hobinya, bagaimana dia bisa berlutut di hadapanku seperti itu tanpa malu?

“Baiklah, baiklah, cepat berdiri!” Lagi-lagi aku kalah. Jungho, laki-laki itu segera berdiri. Wajahnya seketika berubah sumringah.

“Kamu memang yang terbaik!” Dia hampir meninggalkan ruanganku sebelum ia kembali dan menanyakan apakah aku butuh lightstick, dia bersedia meminjamkannya. Aku hanya bisa mendengus pasrah.

Beberapa jam kemudian aku setengah sadar berdiri di antara antrian. Malam itu malam jumat, tepat sekali besoknya akhir pekan dimulai. Harusnya aku bisa menikmati malam jumat di rumah dengan bermain game online hingga larut atau tidur seharian, tapi di sinilah aku, berdiri dengan bodoh memegang lampu senter dengan ujung kepala berbentuk aneh. Entah ini simbol apa mereka tampak rumit tapi aku cukup kagum dengan perancangnya. Ketika dinyalakan lampu senter ini akan mengeluarkan warna-warna pastel yang sangat cantik.

Wajah wanita-wanita cantik dan bertubuh seksi tampak menghiasi venue. Remaja laki-laki baik perempuan memenuhi antrian. Namun tidak sedikit juga yang berusia lebih tua bahkan aku melihat seorang laki-laki paruh baya mengantri dengan atribut lengkap, kaos, papan dengan tulisan menyala, dan ikat kepala. Mereka membuatku tidak bisa berkata-kata lagi.

Setelah hampir 2 jam di antrian, akhirnya konser dimulai. Lampu dipadamkan, lampu sorot di atas panggung mulai menyala. Konser dibuka dengan pertunjukkan panggung hidrolik yang membawa naik empat wanita berkaki jenjang. Kemunculan mereka membuat seisi stadion menyerukan namanya.

“SaGyeol! SaGyeol! SaGyeol!”

Para penggemar meneriakan nama grup mereka. SaGyeol atau 4Seasons Girls dalam bahasa inggris. Masing-masing anggotanya mewakilkan empat musim. Mereka pun diberikan nama panggung berdasarkan nama musim yang mereka wakilkan seperti, Kyeoeul(Winter), Bom(Spring), Yeoreum(Summer), dan Kaeul(Autumn). Jungho sudah memberikanku pelajaran singkat sebelum pergi ke konser. Namun sepertinya tidak berguna, aku tetap tidak bisa mengenali mereka.

Tadinya aku tidak mengerti kenapa mereka bisa seheboh ini, tetapi saat musik mulai terdengar, para wanita itu mengeluarkan pesonanya. Tarian mereka yang lincah dan nada tinggi yang membuat sekujur tubuhku merinding. Salah satu yang rambutnya berwarna terang semakin terang berkat pantulan lampu sorot. Begitu menyilaukan. Tatapan matanya yang tajam membuatku terkunci.

Ketika lagu yang dibawakan selesai, gadis berambut terang itu tersenyum. Tidak pernah aku melihat senyuman secerah dan seindah itu. Tubuhku terasa membeku hingga detik berikutnya rasa hangat mengalir di aliran darahku aku menyadari bahwa,

Aku telah jatuh cinta.

***

“Taewoon!”

Suara atasanku menggema di ruang rapat. Aku segera menghapus bayang-bayang Yeoreum, gadis berambut blonde itu, dari kepalaku dan menegakkan punggung. Atasanku yang berwajah keras itu menatap sengit.

“Aku ingin notulensi rapat ini ada di mejaku 15 menit lagi, pastikan tidak ada yang terlewat!” titahnya padaku sebelum meninggalkan ruangan kemudian karyawan yang lain ikut membubarkan diri. Seperginya aku menghela napas berat. Akibat terlalu banyak melamun aku melewatkan beberapa poin penting selama rapat. Matilah aku.

“Hei, Taewoon.” Jungho menggeser kursinya di sampingku. Kami semakin akrab setelah dia mengetahui bahwa aku menyukai SaGyeol sepulang konser hari itu. Dia dengan gesit menjejaliku dengan berbagai macam informasi serta konten tentang grup wanita itu hingga aku jatuh semakin dalam.

“Aku punya catatan rapat yang lengkap,” kata Jungho setelah melihat notulensi rapat di layar laptopku. Aku langsung menatapnya penuh harap. Jungho kemudian mengulurkan tangan kosongnya padaku. “Photocard Yeoreum dengan bunga matahari,” sambungnya membuatku mendengus. Dia tahu cara memeras dengan baik.

“Lebih baik gajiku dipotong.” Aku menyahut sambil menutup laptop. Tidak akan kuserahkan salah satu koleksi langkaku itu padanya. Aku sudah mendapatkannya dengan susah payah. Jungho segera mengejarku sambil terkekeh.

“Biar kutebak, kau tadi pasti terlalu asyik memikirkan Yeoreum, kan?” Jungho merangkul leherku. Aku tidak menjawab, tapi aku yakin Jungho menyadari wajahku yang memerah sekarang. Jungho kemudian tertawa. Tangannya menepuk-nepuk pundakku dengan kencang.

“Benar-benar, temanku satu ini sudah terkena summer fever!” serunya lalu kembali ke kubikelnya. Aku sendiri kembali ke kubikelku. Kupandangi meja itu sejenak. Dulu area ini merupakan area paling membosankan. Maksudku, aku orang yang rapi. Semua harus berada pada tempatnya. Aku bahkan menyiapkan papan khusus untuk menempelkan post it, agar tidak menyebar di banyak tempat. Tidak pernah ada benda lain selain peralatan kantor dan barang pribadiku. Sekarang berbagai pernak-pernik yang berhubungan dengan SaGyeol, terutama Yeoreum, menghiasi kubikelku. Beberapa foto terbaiknya kupajang menggunakan bingkai sebagai penyemangat kerja. Aku meraih salah satunya dan menghela napas.

Wanita ini mengubah hidupku yang tadinya abu-abu menjadi lebih berwarna. Seperti namanya dia telah membawa warna-warna cerah musim panas ke dalam hidupku.

“Taewoon, notulensi.” Tetangga kubikelku mengingatkan. Aku segera meletakkan kembali foto Yeoreum ke meja.

“Tunggu aku!” gumamku. Lonjakkan energi dalam diriku membuatku bekerja cepat. Aku harus pulang cepat. Beristirahat agar bisa menghadiri acara fansign besok dalam keadaan segar.

***

Paginya aku sudah siap. Aku bahkan mandi tiga kali untuk memastikan tidak ada bau badan yang tersisa. Aku juga pergi lebih awal agar mendapatkan antrian di depan pintu. Sebelum matahari terbit aku sudah menuju lokasi. Perutku seperti ada puluhan kupu-kupu berterbangan saat menunggu pintu gerbang tempat acara fansign itu diselenggarakan. Ini pertama kalinya aku akan berhadapan dengan wanita itu secara langsung. 

Biasanya aku hanya melihatnya dari kursi penonton atau dari balik layar. Dia yang berada di atas panggung boleh jadi tampil mempesona dan seksi. Tetapi saat berada di balik panggung, menurutku dia hanya gadis pemalu yang memiliki kepribadian lembut. Dia wanita yang tidak pandai memasak, itu terlihat saat dirinya di tantang di salah satu acara televisi untuk memasak makan malam. Dia juga wanita yang penyayang dengan binatang. Dia pernah menjadi sukarelawan untuk mengurus hewan-hewan terlantar di salah satu penampungan. Semua sisi yang ia perlihatkan dengan nyata membuatku semakin salut.

Seandainya saja, ini bukan cinta yang mustahil aku pasti akan membuatnya menjadi istriku. Namun aku cukup sadar bahwa aku bukan siapa-siapa.

“Hai!” Suara yang sangat kuhapal itu menyapa. Dia sangat manis dengan sweater berwarna putih itu. Matanya pun berbinar indah. Jarak kami sangat dekat sekarang, tapi aku justru membeku. “Kau baik-baik saja?” tanyanya lembut. Wajah khawatirnya membuatku langsung bergeleng.

“Ya! Maaf, maksudku ya, aku baik-baik saja,” kataku cepat. Dia tersenyum maklum sambil membuka sembarang halaman dari album yang kubawa.

“Baiklah, siapa namamu?”

“Lee Taewoon.”

“Kau ingin aku menulis apa di sini?” tawarnya sambil memiringkan kepala. Oh tuhan, dia benar-benar menggemaskan.

Aku pun pura-pura berpikir. “Tulis saja, ‘Semangat kerja, ya, kumpulkan uang yang banyak untuk menikahiku.’ begitu, kalau kau tidak keberatan….” Aku menyesali ucapanku detik berikutnya karena itu sangat memalukan. Aku mencoba menatap wajahnya lagi dengan takut. Dia saja tersinggung tetapi wanita itu justru tertawa.

Tawa yang sangat lepas. Ada rasa bangga saat melihatnya.

“Ya, kau harus kumpulkan uang yang sangat banyak untuk menikahiku, seleraku mahal,” candanya sambil menulis. Setelah itu ia juga memberikan kecup bibir di bawah tanda tangannya. Aku hampir menjerit. Kabarnya kecup bibir itu spesial, tidak semua bisa mendapatkannya.

Kemudian dia tersenyum padaku saat menyerahkan album itu. “Apakah kita akan bertemu lagi?” tanyaku dengan gugup. Yeoreum mengangguk semangat.

“Pasti.”

Rasa hangat menjalar di seluruh tubuhku. Rasanya aku ingin berlama-lama berdiri di depannya tetapi para petugas sudah memintaku untuk menyingkir. Keluar dari antrian aku tidak henti-hentinya memandang tulisan serta kecup bibirnya. Cinta yang kumiliki memang cinta yang mustahil. Namun nyata rasanya.

Terima kasih Yeoreum, meskipun dirimu tidak bisa kumiliki, setidaknya dirimu sudah membuatku bisa merasakan apa yang namanya cinta tanpa syarat. Serta semangat yang kamu tularkan sudah membuat hidupku menjadi lebih berarti.

Sekali lagi, terima kasih sudah menjadi alasanku untuk tersenyum setiap hari. 

***

Glosarium:

Fanboy: sebutan untuk penggemar laki-laki.

Lighstick: sebuah lampu berbentuk tongkat yang biasa digunakan saat konser. Setiap fandom memiliki warna dan bentuk berbeda.

Fansign: acara penandatangan album yang dilakukan selama masa promosi album tersebut.  Ada jumlah minimum pembelian album untuk menghadiri acara ini tetapi bisa juga tiketnya didapatkan melalui undian.