Sketch Within Words

Sketch Within Words

Misaka Takashi

0

Papan pengumuman dipenuhi oleh para peserta. Mereka saling dorong mendorong tiada hentinya. Di antara kerumunan itu, Elaina berusaha menyibak para peserta lainnya untuk melihat nama dalam papan itu.

Digital Art Competition, itulah nama kompetisi yang saat ini tengah diikuti oleh Elaina. Pada akhirnya, Elaina berhasil berdiri di depan papan pengumuman. Dia berusaha mencari namanya. Tertulis di papan itu “20 besar karya terbaik”. Perlahan Elaina mulai mencari nama dirinya dengan mengurutkan dari teratas.

Ketika sampai di urutan terakhir, wajah Elaina seketika berubah drastis. Tidak ada bentuk lengkukan pada bibir. Wajahnya perlahan tertunduk, tangan mengepal erat. Saat dia masih berdiri di sana, seseorang menabraknya hingga terjatuh.

“Kamu baik-baik saja kan?” orang itu menjulurkan tangan pada Elaina.

Namun, Elaina mengangguk sembari berusaha bangkit sendirian. Dia tidak meraih tangan orang yang membuatnya terjatuh itu. Elaina mulai melangkah meninggalkan kerumunan itu. Semua yang masuk dalam daftar 20 peserta terbaik itu bahagia, bahkan ada yang tertawa. Apakah ini sudah waktunya untuk berhenti? Elaina selalu bertanya demikian.

Kompetisi ini menjadi ajang terakhir bagi Elaina. Tiga tahun sudah masa SMP berakhir dengan warna abu-abu. Tidak ada yang perlu diperjuangkan lagi. Padahal dia sudah berusaha mati-matian untuk meningkatkan kemampuannya. Namun, mengapa hasilnya sama saja?

Setibanya Elaina di rumah, dia mengurungkan diri di kamar. Duduk di depan pintu sembari memeluk kedua lututnya. Air mata tak terbendung itu berjatuhan membasahi pipi. Isak tangis itu mewarnai heningnya kamar yang gelap gulita nan lengang.

Terdengar ketukan dari luar.

“El, kamu baik-baik saja kan?” Ayah berusaha menghibur Elaina.

Namun, tidak ada balasan dari Elaina.

Kedua orangtua Elaina sedikit khawatir dengan Elaina yang tiada henti menangis.

Apakah sudah waktunya untuk berhenti? Sekali lagi Elaina bertanya pada diri sendiri. Perlahan, Elaina mulai mengatur napas. Membulatkan tekad untuk melupakan segala impian dan melangkah maju ke depan. Impian yang dia bawa selama ini hanyalah ilusi yang tidak pernah terealisasikan.

***

Tiga bulan kemudian....

Memasuki tahun ajaran baru, seluruh siswa yang berada di tahun akhir bangku SMP mulai mengubah seragam dari berwarna putih dan biru menjadi putih dan abu-abu. Pada awal semester siswa baru menjalani kegiatan MOS sebagai pengenalan dengan lingkungan baru sekolah.

Siswa-siswa baru memenuhi gerbang sekolah. Hingga pada depan sekolah dipenuhi oleh kendaraan yang membuat macet jalan raya. Namun, sudah biasa pagi dan sore, dua waktu yang selalu saja memadati jalanan di Kota Surabaya.

Sebuah mobil sedan berwarna hitam tengah berhenti di depan gerbang sekolah.

“Baiklah El, kita sudah tiba,” kata Ayah sembari menekan tombol buka pintu.

Wajah Elaina yang putih bersih itu tampak muram.

“Ada apa nak?” tanya Ayah.

“Gaada apa-apa kok, cuma memikirkan sesuatu.”

“Memikirkan soal kompetisi digital art itu ya? kamu bisa memulai lagi dari nol sih. Lagi pula tidak apa-apa kalau gagal, toh selama suka juga pasti akan ditekuni.”

Elaina menatap Ayah sembari menyunggingkan bibir. Ayah tidak pernah gagal dalam menasihati Elaina. Namun, tetap saja Elaina tidak ingin kembali ke dunia yang pernah dia dambakan sebelumnya.

“Sudah jangan murung terus, tersenyumlah. Masa SMA merupakan masa yang indah,” ucap Ayah sembari ikut tersenyum.

“Oke, sampai ketemu nanti sore.” Elaina turun dari mobil, melangkah masuk melalui gerbang sekolah.

Rambut panjang Elaina yang terurai itu melambai-lambai tertiup angin kencang. Elaina tersenyum memandang langit. Hanya saja....

Ketika sudah berada di lingkungan baru, Elaina lebih cenderung diam. Lupa kalau dirinya sendiri sebenarnya sulit berbaur dengan orang-orang baru. Kelemahan yang sudah melekat pada dirinya jauh sebelum berurusan dengan dunia ilustrasi.

Elaina tiba di kelas kelompok MOS, dia menelan ludah sebelum masuk ke kelas. Perlahan, Elaina mulai memberanikan diri memasuki kelas. Suasana kelas masih tampak lengang, beberapa siswa-siswa di kelas itu sudah memenuhi bangku belakang. Elaina mengambil bangku paling depan. Bangku depan biasanya jarang ada peminat, karena yang duduk di bangku depan terkena kutukan.

Berselang belum lama, Elaina duduk. Laki-laki lain masuk ke dalam kelas, menghampiri bangku yang diduduki oleh Elaina.

“Permisi, aku boleh duduk di sampingmu?” tanyanya.

Elaina mengangguk dengan pelan. Tidak masalah sih juga ada laki-laki yang mau duduk berdampingan dengan Elaina. Hanya saja terkesan jarang. Pasti ada maksud lain mengapa dia ingin duduk di bangku depan.

Laki-laki yang duduk di samping Elaina rambutnya sedikit berantakan, seragamnya rapih. Kulit sawo matang, lebih tinggi dari Elaina. Standar untuk anak SMA paling-paling 165 cm. Elaina sendiri tingginya baru saja menyentuh 159 cm.

Tidak lama, kakak kelas masuk ke kelas, walau sebenarnya masih belum waktunya untuk masuk. Namun, biasanya mereka akan berinteraksi dengan biasa seperti berkenalan sembari menunggu siswa lain yang datang.

Tidak ada perbincangan di antara keduanya. Elaina hanya terdiam sembari bermain ponsel. Sedang teman laki-laki sebangku itu mengeluarkan buku tulis kosong dan pena. Dia mulai menulis. Elaina yang penasaran, melirik teman sebangku itu sembari memainkan ponsel. Selang lima menit, tulisan itu selesai.

Cepat sekali, pikir Elaina.

Lalu, teman sebangkunya itu menoleh pada Elaina. “Kamu mau mencoba membacanya?”

Tanpa berpikir dua kali, Elaina mulai membaca tulisan itu. Dia mulai membaca dengan pelan setiap kata. Namun, tiba-tiba saja mulut Elaina terbuka, kalimat yang dibentuk itu sangatlah indah. Bahkan membuat dirinya tidak dapat berkata-kata.

“Bagaimana?” tanyanya.

“Indah,” balas Elaina.

“Terima kasih, tapi itu masih belum selesai.” Dia mulai menjulurkan tangan pada Elaina. “Namaku, Ali.”

“Elaina,” balas Elaina dengan pelan.

“Nama yang bagus ternyata, ini baru pertama kali aku mendapat pujian di luar keluargaku.” Ali terkekeh.

“Jadi, kamu seorang penulis ya, pasti sudah banyak karya.” Elaina menopang dagu.

“Dibilang banyak juga tidak sebenarnya. Sebelum aku lulus, aku kalah dalam kompetisi lomba menulis cerita pendek. Namun, aku masih belum memutuskan untuk berhenti.”

Mendengar Ali terus bercerita, menumbuhkan satu pertanyaan kembali pada Elaina. Memilih untuk diam, atau lanjut? Rasanya ingin kembali seperti dahulu.

Entah siapa yang berada di sampingku saat ini, membuat aku ingin kembali ke dalam dunia yang pernah aku impikan. Inilah kisahku, kisah kembali melawan rasa takut, kecewa.