SENGKUNI

SENGKUNI

Sim Prabu

0

Sore itu, pada sekitar bulan Agustus Rendi baru saja selesai latihan basket dengan teman-temannya. Ia melewati koridor sekolah yang sudah sepi.

Sepertinya dia adalah manusia terakhir yang berada di sekolah saat itu. Suasananya mencekam. 


Hembusan angin menerpa wajahnya. Rambut acak-acakannya menari, bulu kuduk berdiri. Leher belakang terasa panas dingin. 


Tidak biasanya ia begini. 


Tiba-tiba ia merasa kalau dirinya harus segera pergi dari tempat itu. Sekarang juga.


Rendi mulai merinding. Buru-buru ia berjalan setengah berlari. Sambil komat-kamit mengucapkan segala doa, termasuk doa makan, dan doa tidur. 


"Rendi.... " panggil seseorang yang Rendi pun tidak tahu siapa gerangan. Langkah kakinya mulai melambat untuk memastikan bahwa yang memanggilnya barusan adalah benar-benar manusia. Celigukan menoleh kanan-kiri. 


"Siapa?" balas Rendi dengan suara lirih, hampir menangis.


"Ren...... "


"........ "


Dug


Rendi merasa tangan orang dewasa menepuk pundaknya dari belakang. Takut-takut ia menoleh pelan. 


"Kamu kenapa sih, kok kayak ketakutan gitu?" tanya Pak Budi, selaku guru bahasa Arab.


"Pa-pak Budi, ngagetin saya aja, Pak," ujar Rendi masih ngos-ngosan. Segera ia mengusap keringat di pelipisnya dan mengibas-ngibaskan kaos olahraganya. Dalam hati ia merasa beruntung karena ternyata dia tidak sendirian. 


"Ah, enggak. Saya dari tadi manggil kamu. Kamunya saja yang kelihatan ketakutan," balas Pak Budi.


Rendi balas dengan cengiran yang dipaksa. Ia masuk agak takut rupanya. 


"Jadi gini, bapak mau minta tolong kamu buat angkat meja di ruang perpustakaan. Bapak nggak bisa angkat kalau cuma sendirian. Kamu bisa bantu bapak?"


"O-oh, i-iya, Pak. Bisa. Bisa."


Melihat Pak Budi yang terlihat butuh bantuan sekali, membuat Rendi tidak bisa menolak. Ia pun akhirnya memutuskan untuk membantu Pak Budi sebentar. Lagipula ia merasa sungkan apabila menolak untuk tidak menolong gurunya itu. 


***


"Ada lagi, Pak, yang harus dipindahin?" tanya Rendi setelah selesai mengangkut meja ke luar ruangan. 


Pak Budi menatap Rendi lumayan lama dengan tatapan aneh. Pak Budi mengangguk pelan juga dengan gerakan patah-patah. 


"Udah, ini dulu, yang lainnya besok bapak minta tolong sama Pak Andik saja. Kasian kamu nanti pulang ke sorean," jelas Pak Budi. 


Rendi mengangguk setuju.


Ketika baru saja ia akan melangkah keluar. Tiba-tiba dari ekor matanya ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah patung sebesar gelas terlihat sangat indah dengan pelitur yang cukup mengilat. 


Padahal patung tersebut terletak cukup jauh dari pintu keluar perpustakaan. Entah hawa apa yang membuat Rendi sampai tiba-tiba merasakan kalau benda itu memiliki daya tarik hingga membuat Rendi menoleh pada benda tersebut. 


Dengan langkah pasti Rendi berjalan menuju patung tersebut. Ia menatapnya dengan takjub. Seperti terhipnotis, entak kenapa Rendi sangat ingin memilikinya.


"Ini apa, Pak?" tanya Rendi, ia memegang patung tersebut sambil diarahkan kepada Pak Budi. Memperlihatkan dengan tangan teracung. 


Pak Budi hanya menatap datar. 


"Yang mana? Oh itu cuma hiasan miniatur Wayang Sengkuni doang. Kalau kamu mau, bawa aja."


"Boleh Pak?"


"Iya. Bawa aja."


Rendi tersenyum senang. Segera ia memasukkan miniatur wayang Sengkuni tersebut ke dalam tasnya. Tanpa ia sadari Pak Budi Tengah menatapnya dengan senyuman yang sangat mengerikan. Tersirat makna tanda tanya di ekspresi wajahnya yang Rendi tak pernah tahu.


"Iya, Pak. Terimakasih. Rendi pamit pulang dulu, Pak."


"Iya, terimakasih udah mau ngebantu. Hati-hati di jalan kamu."


Rendi segera pergi dari ruangan itu. Buru-buru setelah berlari supaya Pak Budi tidak berubah pikiran. Hal umum yang sering terjadi, Rendi adalah salah satu murid yang sebenarnya berusaha menghindar apabila disuruh-suruh oleh guru. 


Pak Budi yang masih menatap Rendi dengan tajam, lambat laun hilang ditelan kabut. 


***


Di perjalanan pulang. Rendi merasa montornya amat berat, seperti membonceng seseorang yang bertubuh gemuk. 


Perasaan tidak enak Rendi semakin meyakinkan ketika ban motornya terlihat kempes belakang. Bukan bocor. Tapi kempes, namun tidak sampai habis. 


Padahal tadi pagi, ketika akan berangkat sekolah, ia tidak lupa untuk mengisi angin ban sepeda motornya.


Rendi juga merasakan bagian pundaknya yang pegal. Padahal biasanya selesai latihan basket, ia tidak pernah merasa pundaknya nyeri seperti itu. 


Perasaannya mengatakan tas ranselnya bertambah semakin berat. Padahal ia cukup tahu kalau miniatur wayang Sengkuni yang ia bawa tadi sangat ringan. Sebenarnya ada apa ini. 


"Ah, biarin ah. Nanti kalau udah sampai rumah suruh Mama buat mijetin badanku. Untuk sekarang, yang penting cari bengkel dulu buat nambah angin ban. Sayang banget nih velg baru nanti rusak kalau dipaksa buat jalan," ujarnya pada diri sendiri. 


Rendi terus menaiki motornya. Berjalan pelan sambil mencari bengkel terdekat. Namun tiba-tiba pikirannya melalang buana kembali ke beberapa jam lalu sebelum pulang sekolah. Ia baru ingat, hari ini pak Budi selaku guru bahasa Arab tengah cuti di karenakan anaknya sakit. Lalu siapa tadi yang bersama Rendi? 


Bersambung.