
[Cerita ini murni dari imajinasiku sebagai seorang penulis, atau hanya fiktif belaka. Tidak berhubungan sama sekali dengan kehidupan nyata. Jadi jangan anggap semua ini adalah nyata, karena aku yakin akan banyak hal yang kurang masuk akal untuk mendukung berjalannya cerita. Harap maklum dan selamat menikmati cerita ini-salam author, atau kalian bisa panggil Chey agar terdengar lebih akrab.]
Jika kamu memaksakan diri untuk mendapatkan itu semua sekaligus, percayalah waktu 24 jam dalam sehari tidak akan cukup. Belum lagi usaha yang harus dilakukan, walaupun berjuang hingga jungkir balik, bahkan hingga kaki berpindah posisi dengan kepala, tidak akan bisa mendapatkan semua itu dalam sekali jalan.
Setidaknya hanya beberapa hal yang bisa didapatkan, dan aku yakin itu tidak bisa bertahan selamanya. Oh, percayalah, dunia ini sangat kejam. Bahkan oksigen yang kita hirup terkadang berhianat karena tercampur dengan racun dan virus tanpa kita sadari, hingga akhirnya masuk melalui hidung, kemudian ke tenggorokan, dan berakhir mengendap di paru-paru. Akan banyak hal yang terjadi jika si virus sudah memutuskan untuk tinggal dan menetap disana, entah kematian yang mendadak atau secara perlahan karena virus yang perlahan diam-diam menghancurkan organ vital kita.
Jangan bertanya apa yang aku inginkan saat ini, karena semua yang aku sebutkan di atas bukanlah yang ingin aku wujudkan dalam hidup. Maksudku untuk sekarang ini, tentu saja dulu aku pernah menginginkan salah satu atau salah dua dari yang aku sebutkan di atas. Tetapi untuk sekarang, kurasa tidak sama sekali. Karena aku memiliki tujuan hidup yang lebih penting.
Satu hal yang menjadi tujuan ku saat ini adalah mengakhiri hidup dengan damai dan bermanfaat untuk orang lain. Itulah mengapa aku mendaftarkan namaku menjadi pendonor di salah satu rumah sakit, aku berpesan pada seorang dokter yang aku percaya, jika nanti aku mati, lalu organ ku ada yang masih bagus dan bisa di berikan pada orang yang membutuhkan, maka ambil lah sebanyak apapun itu.
Karena bagiku tidak masalah jika harus di makamkan dengan tubuh yang tidak utuh, toh semua itu akan membusuk dan tidak berguna nantinya. Jadi selagi masih bermanfaat untuk orang yang membutuhkan kenapa tidak di berikan?
Persetujuan dari keluarga? Oh, aku tidak membutuhkan itu. Karena bagiku, tubuhku adalah milikku. Mereka tidak berhak melarang apa yang ingin aku lakukan.
Ehm, baiklah kurasa ini saatnya untukku memperkenalkan diri pada kalian.
Aku adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Orang tuaku memberikan nama Claire Tanaka padaku, karena ibuku berkebangsaan Italia, dan ayahku dari Jepang jadi mungkin namaku terdengar sedikit aneh. Yang unik adalah mereka bertemu di Indonesia, hingga memutuskan menikah dan tinggal di negara yang menjadi saksi pertemuan keduanya. Melahirkan lalu membesarkan anak mereka di negara ini juga, lalu pada akhirnya mereka kembali ke negara masing-masing, meninggalkan kedua anaknya di negara yang 'katanya' menjadi saksi tumbuhnya benih cinta mereka. Baiklah, itu tidak penting, karena kata cinta sudah tidak layak lagi untuk mereka ucapkan satu sama lain.
Tentu saja bukan hanya satu nama yang aku punya, tidak banyak yang mengetahui nama asliku karena aku lebih sering menggunakan nama samaran. Dan itu sangat di perlukan, mengingat kini aku bekerja menjadi seorang detektif di sebuah perusahaan yang diam diam menjadi markas untuk kami para detektif.
Sudah pasti tanpa se pengetahuan orang pemerintahan, atau sebut saja ini adalah ilegal. Walaupun ilegal, kami tidak pernah merugikan pihak manapun, karena kami bekerja dengan bersih. Jadi tolong jangan bilang pada siapapun ketika kalian mengetahui hal ini, oke?
Aku biasa di panggil dengan nama agen Cleo jika di markas, pada awalnya aku memperkenalkan diri sebagai agen Cleora ketika sudah resmi di terima menjadi anggota di markas, tapi mereka lebih suka memanggilku dengan Cleo agar terdengar lebih akrab.
Untuk sekarang aku menggunakan nama Chelsea sebagai nama samaran, karena aku sedang menyamar sebagai seorang pelajar SMA. Sssstttt..... ini rahasia di antara kita, jangan beritahu siapapun. (Lagi)
Kakak ku bernama Clarise Tanaka, dia adalah seorang dokter bedah di salah satu rumah sakit di tempat aku mendaftarkan nama sebagai pendonor seperti apa yang aku jelaskan tadi. Hanya dia yang mengetahui profesi asliku, dia bukan orang yang suka melarang atau mengekang adiknya. Bahkan dia tau tentang aku yang siap mendonorkan seluruh organ tubuhku di rumah sakit tempat dia bekerja. Apakah dia melarangku? Tentu saja jawabanya adalah tidak, dia sama sekali tidak melarangku. Karena dia tau aku ingin mengakhiri hidup, jadi dipersilahkan saja. Asal jangan sampai lupa pulang kerumah (ketika aku masih hidup), walaupun sangat jarang dan bisa di hitung dengan jari dalam sebulan.
Ibuku bernama Arianna, sedangkan Ayahku bernama Tanaka Hiroki. Karena kedua orang ini lah yang membuatku tidak ingin hidup lebih lama, mereka selalu bilang jika mereka mencintai aku dan kakakku. Tapi selalu saja pembahasan tentang ingin bercerai yang muncul ketika mereka bertemu. Bahkan sudah tiga tahun mereka tidak saling sapa, tapi masih belum mendaftarkan nama di pengadilan untuk bercerai.
Sangat mengherankan, mengapa menunda hal yang sudah lama di inginkan? Dasar orang tua yang labil.
Baiklah mari kita mulai cerita mengapa aku ingin mengakhiri hidup di usia yang masih terbilang muda ini.
Semuanya berawal sejak aku masih berada di sekolah dasar. Pertengkaran demi pertengkaran mulai terjadi setiap mereka bertemu, ayahku memiliki sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penambangan batu bara. Jangan tanyakan kekayaan yang di miliki oleh keluargaku, karena aku pun tidak tau pastinya.
Sedangkan Ibuku dia adalah seorang wanita karir yang memiliki dua restaurant makanan Italia, ehm bukan bermaksud sombong tapi restoran milik ibuku sangat besar. Menurutku bintang lima bisa menjadi tolak ukur se berapa mewahnya restoran itu.
Pekerjaan yang mereka miliki, itulah yang membuat keduanya sibuk hingga tidak memiliki waktu luang untuk anak anaknya.
Padahal anaknya hanya dua, bisa di bayangkan jika mereka memiliki lima anak? Sudah pasti semuanya terlantar. Ah salah, lebih tepatnya menjadi anak suster yang bertugas mengurus kami.
Baiklah, cukup sampai disini cerita tentang aku dan keluarga ku. Ah satu lagi, aku memanggil kedua orang tuaku dengan sebutan Mami Papi, sangat khas indonesia sekali. Oke, kali ini benar-benar cukup kurasa.
Yang mengatakan jika menjadi orang kaya sangat enak, sini mendekatlah. Aku akan menjelaskan bahwa kehidupan orang kaya tidak selalu enak, kelebihannya hanyalah kita bisa membeli semua yang kita inginkan. Selain itu nol, bahkan keharmonisan sebuah keluarga tidak dapat dibeli dengan uang.
Ketika pekerjaan yang beresiko tinggi adalah pilihan.
Bukan tanpa alasan aku memilih menjadi detektif, sebenarnya aku ingin segera mengakhiri hidupku. Tapi aku tidak ingin mati sia sia dan dikenang karena bunuh diri. Aku ingin mati dalam keadaan estetik, bertarung melawan pencuri, mati karena melindungi seorang anak kecil yang akan di culik, atau menolong orang yang hendak bunuh diri dan ikut tercebur kedalam jurang misalkan.
Apapun itu, aku ingin sekali berjasa atau setidaknya bermanfaat untuk orang lain sebelum benar-benar pergi dari dunia ini.
Sudah berkali-kali aku kerumah sakit karena ingin mendonorkan jantung, ginjal, atau hati yang aku miliki, bahkan sumsum tulang belakang juga aku tawarkan. Namun selalu ditolak oleh dokter, alasannya karena semua organ tubuhku sangat sehat jadi sayang jika harus mengorbankan diri hanya untuk mendonorkan pada seseorang. Lalu seorang dokter memberikan saran padaku, jika ingin donor organ tubuh, minimal sudah dalam keadaan meregang nyawa. Maka dokter akan dengan senang hati menerima pendonor yang seperti itu, itulah mengapa aku memilih pekerjaan yang cukup beresiko tinggi ini agar segera bisa melaksanakan hal yang sangat mulia itu.
"Padahal aku bakalan masuk surga kalau mau donorin organ buat orang yang membutuhkan." ucapku pada dokter yang menolak pemberian ku.
"Perbuatanmu memang sangat mulia, tapi Tuhan akan tetap memperhitungkan semua hal buruk yang pernah kamu perbuat ketika masih hidup. jadi perbaiki diri kamu, teruslah berbuat baik hingga saatnya nanti untukmu dipanggil kembali oleh Tuhan." sungguh aku sangat kagum dengan dokter yang satu ini, karena ucapannya aku mendapat sedikit motivasi untuk bertahan hidup. Benar, hanya sedikit.
Semua orang yang hidup di dunia ini tentu ingin bahagia, apalah daya aku tidak mendapatkan hal itu. Jadi untuk apa aku hidup jika hanya luka yang aku dapatkan?
Mungkin ini terdengar sangat lemah dan cengeng, tetapi tolong jangan lihat seberapa kecil masalah yang aku alami satu ini, tetapi lihatlah dari segi psikis yang sangat lemah dan harus melalui hal yang menurutku sangat ekstrim ini. Kalian tidak akan pernah tau jika tidak merasakannya sendiri, jadi jangan anggap remeh masalah seseorang hanya dari sudut pandang kita.
Aku sudah bekerja menjadi detektif kurang lebih sekitar dua tahun, masih sangat baru. Walaupun begitu, aku sudah berhasil mendapat dua penghargaan. Yang pertama adalah penghargaan ter cermat, karena aku bisa memecahkan kasus korupsi sebuah perusahaan hanya dalam kurun waktu 20 jam. Karena biasanya kasus seperti itu akan memakan waktu paling tidak satu pekan.
Penghargaan kedua aku dapatkan ketika berhasil melawan seorang penipu yang memiliki sabuk hitam, dia kalah telak ketika bertarung denganku. Darimana aku tau jika dia memiliki sabuk hitam? Sangat terlihat dari caranya bertarung tentu saja, karena aku tidak mungkin menanyakan atau bahkan memeriksa kerumahnya apakah dia seorang pemegang sabuk hitam atau bukan. Dan aku bisa menghabisinya dengan tangan kosong, oh betapa keren nya aku, tolong beri tepuk tangan untuk diriku yang merasa bangga dengan kemampuan diri sendiri.
Tapi tidak dengan kedisiplinan, aku sangat minim dengan yang satu itu. Karena prinsip hidupku adalah jika bisa berangkat mepet waktu yang di tentukan kenapa harus berangkat lebih awal? Benar, aku suka mengulur waktu berangkat. Mau itu berangkat bertugas, ataupun berangkat sekolah.
Ketika aku kuliah, jurusan sastra Jepang adalah pilihanku. Sungguh tidak nyambung dengan pekerjaanku saat ini, jadi mari di sambungkan saja walau sedikit memaksa.
Olah raga bela diri sudah menjadi ke gemaranku sejak sekolah menengah, apakah bela diri termasuk olah raga? Anggap saja iya, karena kita banyak menggerakkan badan saat praktek. Dan tentu saja pelajaran bela diri lebih banyak praktek dari pada teori, karena buku yang aku bawa saat pelajaran itu hanya berisi nama, kelas, dan sekolah. Selebihnya halaman buku tidak terisi apapun selain garis yang memang berasal dari buku tulis itu sendiri.
Jadi sekarang kalian sudah tau darimana aku menguasai ilmu bela diri? Di tambah dengan aku yang diam diam mengikuti kursus bela diri di luar jam sekolah. Jangan berharap kedua orang tuaku akan memberikan ijin, bahkan mereka juga tidak mengetahui hal itu. Hingga akhirnya anak bungsunya ini memiliki sabuk hitam yang benar-benar hitam seperti milik gurunya sandy si tupai sahabat spongebob. Anggap saja begitu.
Aku berperan menjadi berbagai karakter, jika di depan orang tuaku, aku akan menjadi gadis ceria yang penurut dan juga anggun. Jika didepan kakakku, dia bahkan tidak menganggap aku adalah perempuan seutuhnya karena aku lebih sering memakai hoodie dan juga celana daripada dress atau gaun yang biasa di kenakan oleh para perempuan lainnya, dan kami berdua sama sama absurd, namun tetap saling menyayangi. Di depan para rekan agenku, aku adalah manusia yang absurd, random, dan menjadi seperti yang aku inginkan. Bisa di ibaratkan, didepan mereka aku bisa menjadi diriku sendiri.
Berbeda lagi ketika aku sedang melakukan misi, aku bisa berperan menjadi siapapun seperti yang di butuhkan. Ya, bisa dibilang, aku pandai bermain peran. Mungkin jika di sandingkan dengan aktor Lee minho, aku bisa menjadi lawan mainnya. Sayangnya aku tidak tertarik menjadi aktris, aku lebih suka tidak banyak yang mengenalku. Karena berperan hanya satu karakter di dunia ini sangat tidak cukup untuk menghadapi betapa kejamnya manusia di bumi ini. Percayalah.
Seperti saat ini, aku menjadi seorang pelajar yang tidak mencolok. Hanya menjadi manusia normal yang membalas sapaan, itu pun menunggu orang lain yang menyapa terlebih dahulu. Tidak terlalu pandai walaupun aku bisa menjawab berbagai soal yang diberikan. Kecuali matematika atau hal yang berhubungan dengan angka dan rumus, ugh mendengarnya saja sudah membuatku sakit kepala.
Bagaimana jika kita langsung lanjut ke cerita yang sebenarnya? karena aku yakin kalian akan bosan jika terus membaca cerita hanya tentangku.
Oke let's Go, ah maksudku mari ke Bab selanjutnya.
@Chey