
Sepasang suami istri baru saja keluar dari dalam kantor polisi. Raut wajah mereka menunjukan kecemasan yang teramat jelas. Suami istri tersebut melaporkan sebuah kasus atas menghilangnya putri semata wayangnya, yang sudah menghilang selama 3 hari. Sebut saja suami istri itu Ruman dan Saras.
Kejadian hilangnya putri semata wayangnya yang bernama Mawar, bermula saat Mawar meminta restu atas hubungannya dengan Marsel kekasihnya. Tetapi Ruman dan Saras tidak memberinya restu, alasanya karena Marsel hanyalah seorang karyawan pabrik. Mawar kecewa atas keputusan orang tuanya, sehingga Mawarpun pergi dari rumah dan tidak kembali sampai sekarang.
Ruman dan Saras sudah berusaha menghubungi nomor ponsel Mawar namun nomornya tidak bisa dihubungi. Bahkan semua teman-teman Mawar sudah mereka hubungi juga. Termasuk Marsel kekasih Mawar, namun hasilnya nihil.
Marsel sendiri tidak tau perihal Mawar yang meminta restu kepada orang tuanya.
Hujan terus mengguyur kota K selama 3 hari ini, hujan turun dengan deras tanpa berhenti. Untung tidak mati lampu saja sudah bersyukur karena biasanya, jika hujan deras disertai angin pasti mati lampu.
Ditengah hutan yang begitu gelap dan sunyi, hanya ada pepohonan tua seperti beringin dan pinus yang menjulang tinggi disekelilingnya. Terdengar sayup-sayup lolongan anjing serta serigala, terlihat seorang laki-laki paruh baya tengah menyeret seorang gadis muda. Laki-laki tersebut menyeret jaket sang gadis ditengah hujan deras seperti ini. Laki-laki itu memasuki sebuah gerbang yang dijaga oleh 2 patung yang seperti manusia banteng sambil memegang kampak. Patung tersebut bermata merah menyala. Tatapanya sungguh mengerikan. Namun lelaki tersebut tidak merasa takut sedikitpun. Ternyata ditengah hutan seperti ini ada rumah seperti castle yang menjulang tinggi namun bangunanya terlihat tua dan menyeramkan. Lampu yang dipasang disana-sini tidak membantu penerangan sedikitpun. Laki-laki tersebut memasuki Castle dan meletakan gadis itu dilantai begitu saja. Tampak di depan laki-laki tersebut ada wanita tua namun masih terlihat energik, mengenakan kebaya, dengan rambut dsanggul, persis seperti pengantin adat jawa. Matanya tajam dan menakutkan. Wanita itu tersenyum melihat laki-laki tersebut yang datang membawa seorang gadis. Namun senyumannya terlihat sangat menyeramkan.
"Saya membawa satu pasukan lagi Ndoro" kata laki-laki tersebut memberi hormat kepada wanita yang tengah duduk disinggasananya. Wanita tersebut turun dari singgasananya dan berjalan mendekati gadis yang tergeletak dilantai. Wanita tersebut tersenyum menyeringai.
"Cantik, putih dan bersih, segera bersihkan dia" perintahnya dengan nada yang lembut namun tetap terdengar seram.
"Baik Ndoro." Pria paruh baya tersebut bertepuk tiga kali, lalu datanglah 3 dayang dengan wajah judes dan berpakaian kebaya juga menghampiri gadis tersebut, lalu membawanya menaiki tangga menuju lantai 4. Kamar yang memang sudah disiapkan untuk para mangsa baru seperti gadis tersebut.
"Siapa yang memancingnya Han?" Tanya wanita tua itu kepada abdinya.
"Mira Ndoro,"
"Oh, gadis itu, ternyata dia sungguh-sungguh ingin keluar dari sini, hahahahaha" suara tawa wanita tua tersebut menggema diruangan yang besar itu. Sesiapa yang mendengarnya pasti akan merasa merinding. "Sudah berapa gadis yang ia dapatkan Han?" Tanya wanita tua itu lagi kepada abdi kepercayaannya yang diketahui bernama Burhan.
"4 gadis terakhir yang saya bawa Ndoro"
"Hahahahahhaha, dasar bodoh, usahanya akan sia-sia saja, dia tidak akan bisa keluar dari tempatku ini, hahaha" wanita tua tersebut tertawa kembali. Sementara diluaran sana suara anjing dan serigala melolong bersahutan. Entah berapa jumlahnya yang jelas terdengar sangat riuh.
Dilantai 4 terlihat para dayang tengah memandikan gadis tersebut didalam sebuak bak besar yang berisi banyak kembang mawar, kenanga dan kantil.
Setelah selesai membersihkan gadis tersebut mereka segera membalut tubuh gadis itu dengan busana kebaya yang sama dengan mereka, dan meletakannya diatas tempat tidur lalu menutupnya dengan selimut. Ke 3 dayang tersebut segera pergi dari ruangan itu setelah tugasnya selesai.
Selang beberapa menit, gadis tersebut perlahan membuka matanya. Tangan kanannya memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing. "Aku ada dimana?" Gadis tersebut melihat kesekeliling. Semuanya terlihat remang-remang, memang ada lampu, tapi cahayanya tidak seterang lampu pada umumnya. Begitu gadis tersebut bisa jelas melihat, gadis itu langsung kaget dan langsung bangun dari tempat tidurnya. Nafasnya seketika terasa ngos-ngosan. Gadis itu memandang busana yang ia kenakan. Seluruh badanya merinding, dia mengamati setiap sudut ruangan tersebut. Lemari dengan ukuran besar, meja rias beserta cerminya, kamar yang ia gunakan untuk tidur tadi, meja dan kursi yang ada tepat diujung tempat tidur. Lalu ada satu pintu lagi yang gadis itu tak tau isi dalamnya. Perlahan gadis itu membuka pintu tersebut dengan nafas yang terasa sesak. Ruangan tersebut cukup pengap. Setelah terlihat jelas, ternyata itu bilik kamar mandi, ada bak besar untuk mandi, dan juga toilet untuk keperluan BAB. Gadis tersebut segera menutup pintu dan kembali ke kamar. Dia mendekati gagang pintu kamarnya, belum sempat ia membuka pintunya, dari luar sudah ada orang yang membuka pintu kamarnya lebih dulu. Gadis itu merasa kaget. Salah satu dayang yang mengurusnya tadi masuk sambil membawa bubur, ayam goreng dan juga air putih. Dayang tersebut meletakanya diatas meja. Gadis tersebut segera mencegah dayang itu untuk ia tanyai. "Maaf mba, ini saya ada dimana mba?"
Dayang tersebut menatap gadis itu dengan tatapan kosong, wajahnya tampak judes. Gadis itu cukup merinding dengan tatapan kosong dayang itu. Dayang tidak menjawab pertanyaan gadis tersebut malah berbalik dan keluar. Setelah kepergian dayang itu, Wanita Tua muncul bersama abdinya. Gadis itu mundur beberapa langkah melihat Wanita Tua dan abdinya yang bertubuh kekar dan tinggi mendekatinya. Gadis tersebut merinding. Wanita Tua itu tersenyum.
"Jangan takut Nak, saya Kusuma pemilik rumah ini, dan dia abdi saya, Burhan namanya" kata wanita tua itu alias Kusuma sambil menunjuk Burhan. "Abdi saya yang menemukanmu dan membawamu kesini"
Mendengar penjelasan Kusuma, gadis itu kemudian berterimakasih, separuh ketakutanya mulai hilang. Sepertinya wanita tua didepannya ini baik, meskipun terlihat menyeramkan. Tapi gadis itu tetap berhati-hati.
"Terimaksih Bu, karena sudah menolong saya"
"Panggil saya Ndoro Kusuma"
"Maaf Ndoro, saya tidak tau, terimakasih karena sudah menolong saya"
"Makanlah dulu Nak, mari" Kusuma merangkul pundak gadis itu, lalu meniup telinganya. Gadis itu merasakan tubuhnya merinding lalu seketika menuruti semua yang di perintahkan Kusuma. Kusuma menuntun Gadis itu menuju kursi untuk makan.
"Silahkan dimakan Nak" Kusuma tersenyum senang. "Siapa namamu?"
"Mawar Ndoro"
"Nama yang cantik seperti orangnya, ayo habiskan Mawar"
Mawar mengangguk dan segera menghabiskan bubur dan ayam yang ada didepannya. Lalu air yang ada didalam gelas ia minum habis.
Kusuma tersenyum menyeringai.
"Lekaslah tidur kembali Mawar" perintah Kusuma, Mawar segera berjalan dan naik diatas ranjangnya dan mengambil selimutnya. Tatapan matanya kosong. Kusuma lalu beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan kamar Mawar. Salah satu dayang masuk untuk membereskan piring bekas makan Mawar. Sesudah dayang itu keluar, Burhan segera mengunci kamar Mawar. Mawar melihat langit-langit kamarnya, tatapan matanya masih kosong. Beberapa detik kemudian iapun tersadar kembali. Beberapa kali Mawar membuka dan menutup matanya. Dia merasa aneh dengan dirinya sendiri. Lalu Mawar menyandarkan tubuhnya. Mawar ingin melihat situasi diluar jendelanya.
Saat tirai dibuka, Mawar merasa tercengang, jarak antara tanah dengan kamarnya sungguh jauh. Bahkan sekelilingnya hanya ada pepohonan besar yang menjulang tinggi-tinggi. Tidak ada cahaya lampu lain selain lampu dari rumah Ndoro Kusuma. Cahaya lampu yang ada di rumahnya Ndoro Kusuma juga tidak terlalu terang. Mawar bergidik ngeri, seketika ia merasakan ketakutan lagi. Banyak suara lolongan anjing dan serigala. Ditambah burung hantu dan juga gagak yang saling bersahutan. Mawar segera menutup tirai jendelanya. Dia mengelus dadanya yang terus berdebar kencang.
"Ya Alloh, dimana sebenarnya aku, Ayah, Ibu, Marsel, tolongin Mawar"
Mawar berkata dalam hatinya. Mawar merasa jika dirinya merasa bahaya berada ditempat ini. Mawar mendekati gagang pintu kamarnya, Mawar mencoba untuk membukanya namun tidak bisa. Mawar mencoba mendobraknya tetapi tidak bergeming sedikitpun, yang ada malah lengannya yang merasa sakit. Mawar lalu menuju ranjangnya lagi, dia meringkuk didalam selimut. Meski ketakutan Mawar mencoba untuk tenang. Diingat-ingatnya kejadian sebelum ia sampai disini.
Malam itu, Mawar pergi dari rumahnya dalam kondisi hujan deras. Mawar mengendarai sepeda motornya menuju jalan tanpa arah, tanpa sadar, Mawar sudah berada dijalan aspal yang tiada ujungnya, kanan kirinya hanya pepohonan tinggi-tinggi, berjajar rapi ditiap kanan dan kirinya. Mawar lalu bertemu dengan seorang gadis seumuranya lalu berhenti untuk bertanya arah jalan. Mawar disuruh untuk jalan lurus terus lalu berbelok kiri. Setelah belok kiri, Mawar menabrak sosok tinggi hitam berbulu. Mawarpun pingsan seketika. Sampai disitu Mawar sudah tidak ingat apa-apa.