
EARWORM
29 Juni 2019
Semesta berpihak padaku dengan cara-caranya yang magis. Semesta mengembalikan bahagia dengan mengatur sebuah pertemuan denganmu. Berlanjut pada benang-benang kisah sentimental yang terajut di antara kita. Bermuara pada sebuah perayaan terhadap kembalinya perasaan. Dan kelak berakhir bak cerita dongeng, tentang hidup bahagia selamanya. Kuharap begitu.
***
“Lila? Lila? Halo? Earth to Khalila Maharani!!”
Rissa menarikku kembali pada kenyataan bahwa aku masih berada di kantor pada hari Sabtu yang indah nan cerah ini. Semestinya aku bekerja, bukan malah menulis sesuatu yang puitis begini, seperti sedang menghabiskan waktu di hari libur saja. Laptop segera kututup untuk berjaga-jaga jika Rissa, teman sekantorku itu, akan mengintip tulisanku dari samping. Walaupun kutahu dia bukan seseorang dengan tingkat keingintahuan yang tinggi. Tetap saja, aku agak risih.
“Yuk, meeting. Semua orang sudah pergi ke ruang rapat, tuh.”
Telunjuk Rissa mengarah pada ruang rapat berukuran kecil tepat di seberang ruangan departemen HRD, tempatku berada sekarang. Baru sadar, tidak ada siapapun lagi disini kecuali kami berdua. Semua orang sudah pindah kesana. Ah, hampir saja aku lupa. Hari ini akhir pekan di akhir bulan –waktunya rapat kinerja bulanan. Kenapa aku tidak ingat? Ada apa denganku? Biasanya aku tidak pernah lupa rapat ini. Apa karena pekerjaan yang menumpuk dan menggeliat di bawah tenggat waktu, karena jadwal audit yang berkelanjutan di minggu depan, atau–
Ah, tidak. Kepalaku menggeleng, berupaya menepis adanya sangkaan lain. Sebagai pengalihan, aku mengambil buku catatan dan pulpen dari dalam laci, bersiap mengikuti langkah Rissa menuju ruangan rapat. Setibanya disana, sudah tidak ada kursi tersisa lagi. Terpaksa aku dan Rissa berdiri menempel pada pintu yang sudah ditutup. Aku selalu sebal jika harus rapat di ruangan ini. Kapasitas kecil dibandingkan dengan tim HRD yang berjumlah lima belas orang. Ruangan terasa penuh dan sesak. Tapi mau bagaimana lagi, hanya disini satu-satunya ruang rapat di gedung ini. Jika ingin yang lebih besar, kami harus pindah ke gedung seberang yang jaraknya lumayan. Apalagi jika ditempuh di bawah matahari yang menyorot cerah pada pukul sepuluh pagi, bisa dipastikan kami sudah kesal karena kelelahan sebelum rapat.
Kuperhatikan Erin, teman dekatku lain, sudah duduk manis di depan Pak Sagara –sang asisten manajer HRD. Erin dan aku terbiasa bersama-sama. Berangkat dan pulang bekerja, makan siang ke kantin atau sekadar membeli cemilan ke depan kantor. Namun tidak ketika rapat internal. Erin akan menjadi orang pertama yang melesat meninggalkan ruangan HRD, melupakanku bahkan mengabaikan sesibuk apapun pekerjaannya, demi mendapatkan tempat sedekat mungkin dengan beliau.
“Pak Sagara itu paket lengkap! Udah ganteng, masih muda, pinter, ramah, bijaksana, nggak pernah marah-marah lagi! Baik pake banget, tapi tegas dan teguh pendirian. Pokoknya, dia itu seratus persen lelaki idaman gue!”
Begitulah kira-kira kalau Erin sedang bicara tentang Pak Sagara. Selalu bersemangat. Berapi-api. Kedua matanya berkobar-kobar dipenuhi perasaan kagum dan cinta (dia menyebutnya begitu), dan senyum tidak pernah hilang dari wajahnya. Wajah memerah, tersipu malu. Dia seperti anak sekolah yang baru mengenal cinta.
Ketika seseorang mengingatkan bahwasanya Pak Sagara sudah beristri, Erin bersikap tidak peduli. Dia selalu bilang jangan khawatir, gue cuma kagum, nggak ada niatan untuk merebut beliau, saat kembali diwanti-wanti agar tidak tenggelam terlalu dalam di ember imajinasi tentang Sagara. Tetapi alih-alih berhenti, Erin tidak habis memuji Pak Sagara, dan sambil bercanda, dia berandai-andai apakah mungkin Pak Sagara bisa bercerai dan melihatnya sebagai seorang perempuan, bukan sebagai bawahan.
Sepanjang rapat, kudengarkan seksama mengenai target kerja bulan depan dan sejumlah pekerjaan yang harus ditindaklanjuti oleh setiap divisi. Sesekali kucatat hal-hal penting. Bu Olivia, manajer HRD, menjabarkan beberapa rencana perusahaan yang harus didukung dan dilaksanakan oleh tim. Lalu berlanjut pada diskusi mengenai permasalahan yang kami temui dalam sebulan terakhir. Sesekali Pak Sagara menimpali, memberi saran, menjawab pertanyaan. Dan setiap kali beliau bicara, Erin tampak berbinar. Dia mengedipkan matanya padaku, memamerkan kebanggaan bisa berada sedekat itu dengan beliau.
Saat divisi Industrial Relation sedang mencurahkan permasalahan mereka kepada Bu Olivia, ponsel di genggamanku bergetar dan menampilkan sebuah pesan baru.
Dari seseorang yang kuberi nama kekasihku.
“Pulang kerja, kita makan yuk.”
Isi pesan itu langsung membuatku sumringah. Balasan super cepat langsung kukirimkan.
“Pasta, ya?”
Aku sudah membayangkan sepiring fusilli carbonara atau spagethi aglio olio ada di hadapanku, memuaskan rasa lapar yang hanya terganjal dengan dua bolu kukus dan dua lemper isi ayam tadi pagi. Plus ditemani segelas soda dingin, pasti sempurna.
Ponselku bergetar lagi.
“Anything for my love.”
Aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan setelah membacanya. Mukaku memerah. Jantungku berdetak cepat dari biasa. Aku reflek tersenyum. Tetapi itu tidak berlangsung lama, sebab Bu Olivia sudah bersiap-siap untuk menyudahi rapat.
“Duh, hampir lupa,” ucapan Bu Olivia menghentikan gerakan semua orang yang bersiap-siap meninggalkan ruangan. “Erin, persiapan family gathering untuk minggu depan sudah beres semua, kan? Ada kendala?”
Erin, sebagai ketua kegiatan tersebut, menjelaskan dengan detail mulai dari susunan acara selama dua hari satu malam, jenis kegiatan yang dilakukan selama disana, sampai tempat oleh-oleh mana saja yang direncanakan untuk didatangi. Semua sudah siap, tinggal menunggu keberangkatan saja, jelas Erin dengan penuh percaya diri. Bu Olivia mengangguk puas dan memuji kinerja Erin serta timnya karena telah bekerja keras mempersiapkan acara yang sudah direncanakan dua bulan sebelumnya.
“Erin…”
Setelah rapat selesai, aku, Rissa dan Erin berjalan beriringan kembali ke ruangan. Namun tiba-tiba dari belakang, Pak Sagara memanggil Erin dan sontak menghentikan langkah kami bertiga.
“Ya, Pak?” balas Erin, seketika mencoba bersikap anggun dan menawan. Dia sempat meremas tanganku saat mendapati kemunculan samar-samar lesung pipit milik Pak Sagara begitu beliau tersenyum.
“Soal acara gathering minggu depan, ternyata istri saya mau ikut. Bisa kan kalau ditambahkan satu orang lagi? Kalau memang bujetnya sudah lebih, nanti saya tambahin dari kantong saya sendiri. Tolong ya diurus, dan saya juga minta maaf karena perubahan ini mendadak sekali.”
Lucu sekali melihat perubahan drastis raut muka Erin. Dari manis menjadi masam. Dari tersenyum lebar menjadi mengerucut kesal. Rissa hampir tidak bisa menahan untuk mengikik dari belakang.
“Saya usahakan, Pak. Nanti saya coba atur lagi, dan kalau sudah oke, saya beritahu Pak Sagara.”
“Oke, terimakasih ya,” kata beliau sambil menepuk lengan Erin, kemudian berlalu melewati kami untuk kembali ke ruangan.
Erin tidak henti mengomel tentang rencananya yang gagal untuk mengenal Pak Sagara lebih dekat lagi pada acara gathering nanti. “Mana bisa gue deket-deket Pak Sagara kalau ada istrinya. Yang ada kepala gue digetok karena nempel terus.” Katanya penuh kekecewaan. Aku jadi ingat kira-kira sebulan lalu betapa gembiranya Erin saat Pak Sagara bilang hanya dia sendiri yang akan ikut gathering. Tanpa istrinya. Erin senang sepanjang hari, sepanjang waktu. Frekuensinya membicarakan Pak Sagara beserta rencana yang akan dilakukan selama acara, jadi bertambah dua kali lipat. Rissa sampai harus mengingatkan berulang-ulang kali bahwa Pak Sagara sudah punya istri dan nampak sangat mencintainya. Erin tidak akan punya kesempatan.
“Yah, who knows, nanti mereka berpisah, lalu ada kesempatan buat gue bersama Pak–”
Rissa menasihati sekali lagi. “Jangan berharap yang aneh-aneh. Lagipula nggak baik mendoakan kehancuran pernikahan seseorang lho.”
Erin masih saja berharap. “Yaa, siapa tahu, kan. Nggak ada yang bisa menebak takdir.”
Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas –tinggal setengah jam lagi menuju waktu pulang. Rissa dan Erin sudah kembali ke mejanya masing-masing, menyelesaikan pekerjaan dengan sisa waktu yang tidak banyak. Aku duduk terpekur di depan laptop, berpura-pura bekerja padahal sudah tidak ada lagi yang bisa kulakukan pada masa ini. Kuputuskan untuk kembali menulis. Kukeluarkan semua isi pikiran. Kutuangkan dalam sejumlah paragraf. Tinggal sepuluh menit lagi ketika kupikir tulisanku sudah sempurna. Aku membereskan meja, menaruh beberapa barang ke dalam tas, ketika sebuah pesan baru masuk.
“Tunggu di parkiran seperti biasa, ya.”
Aku berbohong pada Erin dan Rissa. Aku berdalih akan dijemput Ibu, jadi kusuruh mereka pulang duluan dan tidak perlu menungguku. Untungnya mereka tidak curiga. Tentu saja karena ini hari Sabtu. Semua orang ingin segera sampai rumah untuk menikmati sisa akhir pekan yang sudah berkurang setengah hari.
Setelah cukup sepi, aku beranjak keluar dari ruangan. Sempat kulirik kedua atasanku yang masih berkutat dengan pekerjaan di meja masing-masing, ditemani dengan suara mesin pencetak. Kuikat rambut sebahuku, kusampirkan tas di bahu dan aku berdendang menuju parkiran khusus mobil. Tidak banyak mobil tersisa, jadi aku bisa dengan cepat menemukan mobil Fortuner hitam dengan plat nomor yang sudah sangat kukenal. Lalu menunggu lagi. Kali ini dengan senang hati karena tahu setelah ini aku akan menghabiskan waktu makan siang dengan lelaki yang kusukai.
Sepuluh menit berlalu cepat. Baru saja akan mengirimkan pesan pada kekasihku, dia melambai padaku dari kejauhan. Kupoles tinted lip balm di bibir. Kurapikan poni dan kuhias dengan jepitan sederhana berwarna hitam. Kusemprotkan sedikit lagi parfum ke tengkuk dan pergelangan tangan. Dia memamerkan senyum paling manis ketika sudah sampai. Aku tertegun. Betapa beruntungnya aku bisa memiliki cintanya untuk kedua kali. Meski kusadari, perjalanan kami tidaklah semulus yang diharapkan.
Sebuah lagu lama milik Kodaline berjudul All I Want mengalun begitu aku selesai memasang sabuk pengaman. Lagu itu memunculkan kembali segala kenangan –pahit dan manis, yang pernah kukecap bersama lelaki di sebelahku. Lagu ini menemani kala aku berada di titik terendah dalam hidupku. Ketika dunia serasa runtuk menimpaku sehingga tidak ada daya bagiku untuk melanjutkan hidup. Terluka. Hancur. Sebait kalimat dalam lagu itu terngiang-ngiang di pikiranku melulu, jika kau mencintaiku, kenapa kau meninggalkanku? Aku menanyakan hal yang sama sewaktu empat tahun lalu, pada hari-hari terberatku. Pada akhirnya, aku kelelahan mencari jawabannya. Dan kemudian memaksakan diri untuk melanjutkan hidup dengan susah payah dan jatuh bangun.
All I want is nothing more
To hear you knocking at my door
Cause if I could see your face once more
I could die a happy man, I’m sure
When you said your last goodbye
I died a little bit inside
I lay in tears in bed all night
Alone without you by my side
But if you loved me, why’d you leave me?
Take my body
All I want is, and all I need is
To find somebody, I’ll find somebody
Like you
Sekarang, aku tak peduli lagi pada jawaban atas pertanyaanku bertahun-tahun lalu. Yang kupikirkan dan yang kuinginkan hanyalah terus berada di samping lelaki ini seumur hidupku. Masa bodoh dengan konsekuensi dan hujatan orang-orang padaku. All I want is to be happy; all I need is him only for me.
Dia mengusap kepalaku setelah lagu berakhir. Kemudian berpindah mengenggam tanganku. Hanya dengan satu tangan dia menyetir dan membicarakan banyak hal selagi mobil melaju menuju restoran pasta kesukaan kami. Tetapi dia tidak menyinggung satu hal –sesuatu yang sebenarnya ingin kutanyakan sejak masuk ke dalam mobil, namun terlupakan karena lagu kenangan itu.
“Jadi,” kataku mencoba mengalihkannya dari pembicaraan mengenai serikat pekerja. “bisa tolong jelaskan? Kenapa Agni, istri tercintamu, malah ikut gathering?”