Resolusi Anita

Resolusi Anita

Donny M Ramdhan

5

Kulihat mutiara di antara jelaga,

ketika buta hati manusia.

Kulihat hidup di atas neraka,

ketika garang mata durjana.


Oh, apa yang engkau harap, Kawan?

Untuk melangkah tiada jalan,

untuk bermakna tiada alasan.


Hanya menunggu ajal merengkuh jiwa,

hanya menunggu doa mencapai nirwana.


Puisi itu ditulis tangan suamiku, meski hanya berupa coretan-coretan di atas kertas yang telah diremas dan dilempar ke keranjang sampah. Aku menemukannya ketika hendak membuang sampah. Aku melihat kertas itu, aku memungutnya, aku membacanya dan seketika aku terkejut, takut, marah, dan sedih, hingga aku pun bergumam, “Ada apa denganmu, Val?”

Aku yakin kamu pun setuju kalau puisi itu menyiratkan keputusasaan yang dalam, seolah-olah suamiku terbentur permasalahan yang tiada memiliki jalan keluar selain kematian. Tapi itu bukan Valian yang kukenal! Valian yang kukenal sanggup berkata, “Hidup ini indah, dan layak diperjuangkan!” Dan dia percaya pada perkataannya itu, dan bertindak menurut perkataannya itu! Kalaupun mesti melibatkan kematian, justru ide kematian itu akan menyulut motivasinya untuk pantang menyerah; dengan kata lain, dia sanggup berkata, “Konsekuensi hidup adalah mati, lalu masalah apa yang tidak ada solusinya? Jadi sebelum Tuhan takdirkan ajalku, aku tidak sudi menyerah!”

Bagaimanapun, sulit dipercaya jika “putus asa” ada dalam kosakata Valian. Namun, puisi itu adalah fakta; Valian menulisnya …. Lalu, masalah apa yang sanggup membuat dia menulis puisi itu? Tapi … yang paling menakutkanku adalah … kenapa dia tidak menceritakannya kepadaku? Aku istrinya!

Dari perspektifku, segalanya berawal di sembilan jam sebelum kutemukan kertas itu, ketika aku khawatir akan Valian yang terlambat pulang. Biasanya jam enam dia sudah ada di rumah, tapi malam itu dia belum pulang sampai jam sepuluh. Sebagai istri, tentunya aku sangat khawatir; aku menghubungi ponselnya, tapi tidak aktif; aku menghubungi kantornya, tapi tidak ada yang mengangkat; tidak terhitung lagi berapa kali aku melongok jendela depan setiap ada mobil yang lewat; lalu, ketika aku hendak menghubungi koleganya, kudengar suara mobil dan suara pintu pagar dibuka. Seketika aku segera memburu keluar. Kulihat mobil Valian telah di halaman, dan kulihat Valian tengah menutup pintu pagar, dan aku terkejut setengah mati ketika kulihat kemejanya di bagian lengan kanan berlumuran noda darah.

“Jangan cemas, Anita. Ini bukan darahku,” ucap Valian setelah melihat reaksiku akan noda darah itu. “Tadi aku melindas kucing.”

“Astagfirullah! Kamu tidak apa-apa?”

“Aku tidak apa-apa. Tapi, aku tadi harus mengubur kucing itu dulu.”

“Kamu membuatku khawatir! Kamu tahu itu?"

“Ya. Maafkan aku. Aku tidak bisa meneleponmu. Baterai ponselku habis.”

Ketika itu tidak terpikir olehku kalau yang terjadi bisa saja lebih dari sekedar melindas kucing, meski kuperhatikan Valian menjadi agak pendiam. Saat itu kupikir dia hanya shock, mengingat dia suka kucing. Ya, mungkin memang benar dia shock ... tapi seharusnya aku bisa cukup peka untuk mengira kalau yang terjadi bisa jadi lebih dari sekedar melindas kucing.

Kecurigaanku itu mulai muncul ketika tengah malam aku mendengar Valian bangkit dari tidurnya dan beranjak meninggalkan tempat tidur. Cukup lama ia meninggalkan tempat tidur hingga aku pun bangkit untuk melihatnya.

Ketika aku keluar kamar, aku mendengar suara halus mesin cuci. Di mesin cuci itu kulihat kemeja putih bernoda darah tengah berputar-putar stagnan membersihkan diri sendiri. Valian tidak ada di sana.

Melihat mesin cuci itu, intuisiku menggedor-gedor pintu denial kalau ada yang salah dengan suamiku. Aku coba berbaik sangka kalau dia hanya merasa bersalah akan kucing yang dia lindas itu. Tapi …, apa ini tidak berlebihan?

Oh, Val, ada apa dengan kamu?