
Perempuan tak lagi memiliki andil dalam menyalakan tungku di dapur, memenuhi meja makan dengan olahan masakannya sendiri. Banyak dari mereka yang menyatakan diri sebagai Chef — aku lebih suka menyebutnya sebagai juru masak— di dominasi oleh kaum lelaki. Aku kenal beberapa, si pipi tembam Chef Arnold. Aku suka caranya menyantap makanan, terlihat menggiurkan. Tapi aku tak suka dengan cara bicaranya. Sulit di cerna oleh cuping telingaku. Kadang menyebutkan namanya saja membuat aku harus memonyongkoan bibir menjadi kelihatan jelek.
Seperti anakku, Luna. Ia sudah jarang menemaniku di dapur lagi semenjak sibuk kuliah di Kebidanan. Sampai ia bisa memiliki Klinik sendiri seperti sekarang, aku sudah jarang melihatnya lama-lama di dapur. Malah ada seorang asisten rumah tangga yang sengaja ia bayar untuk mengurusi segala keperluan rumah yang harusnya ia tangani sendiri.
“Sampai soal perut pun, harus orang asing yang memasak? Kamu kan sudah belajar banyak menu masakan dari Ibu, Lun. Atau kamu lupa?” Aku sempat protes. Sering.
“Sekarang itu ada banyak jasa makanan online, Bu. Buat mengefesiensikan waktu, kita bisa tinggal pesan aja kalau emang Ibu bosan sama masakan Bi Marni. Toh kebanyakan perempuan kan berkarir di luar rumah kayak aku.” Ia beralasan demikian.
Alih-alih berjibaku dengan wajan dan hawa panas api di tungku, katanya ia bisa menyantap makanan hanya bermodalkan ponsel. Tadinya aku pikir ponsel zaman sekarang bukan hanya bisa menyambung silaturahmi yang terputus, tapi juga pandai dalam hal memasak. Ternyata aku salah paham. Maksud Luna bukanlah demikian.
Bagaimana aku menjelaskannya? Aku pun tak terlalu faham. Yang aku mengerti, semuanya karena ada jasa yang menawarkan diri mengantarkan makanan dari satu tempat ke tempat lainnya. Jasanya tidak gratis, ada ongkos bayarnya.
“Ini kerjaan orang zaman sekarang, Bu. Banyak dari mereka menggantungkan hidup dari jasa online begini. Malah pesanan Luna pernah di antar sama Kakek-kakek, seumuran Eyang.” katanya saat bercerita di suatu hari.
Aku hanya bisa mengiyakan argumennya saja. Apalagi semenjak aku tak boleh banyak beraktivitas yang berat. Duduk di sofa sambil menonton tayangan televisi, duduk di beranda rumah sambil melihat anak-anak tetangga berlarian, atau tidur di ranjang kamar sendirian adalah hal yang biasa aku lakukan. Luna melarangku melakukan banyak kegiatan. Ia akan mengomeliku jika ketahuan mencuci piring atau menyapu halaman.
Padahal, aku tahu. Luna bukannya tak bisa memasak, karena aku sendirilah yang membimbingnya dalam hal perdapuran, dulu. Saat aku masih berjaya sebagai pemilik sebuah Warteg. Meski kadang ia bersungut-sungut karena lelah, Luna tetap saja membantuku memasak dan berjualan. Tak jarang aku mempercayakan padanya untuk memasak beberapa menu utama di Warteg. Rasanya enak, meski tak persis seperti rasa masakanku.
“Kamu gak selamanya akan jadi wanita karir, kan? Setelah itu siapa memangnya yang akan masak untukmu?” Aku mengingatkannya suatu hari. Meski bosan, rasanya aku harus mengingatkannya tentang kemampuan paling dasar yang harus dimiliki seorang perempuan. “Kamu akan menikah, memiliki suami dan anak yang harus kamu layani dengan tanganmu sendiri, Lun.”
“Makannya, Luna dari sekarang kerja nyari uang yang banyak. Biar nanti bisa bayar orang lain untuk urus ini dan itu. Nyediain makanan buat suami dan anak-anak tepat waktu. Gak perlu ngurus segalanya sendirian, kan?” Dia tetap bersikukuh.
Pekerjaannya sebagai seorang Bidan yang sudah punya Klinik sendiri memang telah menyita banyak waktunya. Ia diharuskan bertatap muka lebih banyak dengan para pasien di Klinik ketimbang wajan dan cerek di dapur sepertiku. Menggaji seorang asisten dapur adalah suatu hal yang wajar dilakukan karena ia memilih menjadi wanita karir.
“Terus kamu mau bayar orang lain juga buat hamil anakmu nanti?” candaku.
“Enggaklah, Bu. Luna sehat wal afiat. Insya Allah sanggup mengandung dan melahirkan.” Ia membela diri begitu serius.
"Ibu pengen dimasakin pepes nila sama kamu, Lun." pintaku pada akhirnya. Ia sangat jago dalam membuat pepes, itu yang aku ingat betul darinya.
Ia menoleh sejenak ke arahku yang saat itu tengah duduk di sofa ruang tamu.
"Hari ini ada pasien yang harus menjalani Sesar, Bu. Besok pagi saja, yah?" kilahnya sebelum menarik tanganku dan kemudian mengecupnya. Melayangkan sebuah senyuman hangat seolah tengah meyakinkanku bahwa ia akan memasak untukku besok.
***
Aku terpaku memandangi meja makan dalam diam. Mataku menyelidik satu demi satu menu makanan yang tersaji di meja. Aku menyungkil nasi di bakul, memindahkan sepotong ikan pepes ke piring. Melahapnya tanpa bicara.
"Ibu suka?" tanya Luna dengan sorot mata bercahaya.
Kepalaku mengangguk pelan sebelum suapan lainnya masuk ke mulut. "Masakanmu enak, Lun. Masih sama seperti dulu Kamu cocok kalau jadi koki." pujiku tulus.
"Luna jadi Bidan saja, Bu. Nyaman kok." kilahnya enteng menanggapi pujianku tadi.
Saat itu aku tersadar bahwa ia memang berbeda denganku. Jika tanganku lebih pandai mengurusi urusan makanan yang membuat warung masakanku selalu ramai pembeli, dulu, ketika tubuhku masih sehat dan bugar. Berbeda dengannya. Ia memilih untuk menggunakan tangannya dilumuri dengan ceceran darah demi menyelamatkan jiwa-jiwa manusia yang baru terlahir ke dunia. Jika aku selalu tersenyum melihat pelanggan pulang dengan tertawa puas, ia memilih tersenyum melihat wajah-wajah bayi yang baru lahir ke dunia dengan tangisan.
Ia sering bercerita banyak jika berhasil menyelamatkan nyawa para pasiennya, si Ibu dan si jabang bayi. Tapi, tak jarang, ia juga sering menangis ketika keahliannya tak mampu berbuat banyak untuk menyelamatkan dua nyawa sekaligus. Kadang dengan berat hati, ia harus menyelamatkan salah satu dari mereka berdasarkan pada pengetahuan yang ia pahami, bukan sekedar berdasar pada hati nurani.
Tapi, sama sepertiku yang memilih membuka sebuah usaha, ia pun melakukan hal serupa. Hanya beda bidang saja. Jika aku memilih membuka usaha dalam bidang makanan, maka ia memilih usaha dalam bidang kesehatan. Jika dengan pekerjaanku dulu, aku berhasil membuat orang lain senang dengan mengenyangkan perut mereka. Ia memilih pekerjaan yang berhasil membuat orang senang dengan kelahiran dari perut para perempuan.
Sepengalamanku, para Ibu memiliki kondisi kehamilan dan kelahiran beragam. Seperti cerita yang sudah aku ungkapkan padanya tentang kisah kehamilanku saat mengandungnya dulu. Belum genap delapan bulan, aku sudah harus melahirkan Luna ke dunia dan merawat tubuh rentannya dengan penuh kehati-hatian.
Ia menjadikan hal ini sebagai alasan kenapa ia menjadi seorang Bidan seperti sekarang. Katanya demi semua para Ibu yang tengah mengandung sebuah nyawa di rahimnya dan demi semua Ibu yang tetap mencintai anaknya meski bukan terlahir dari rahimnya sendiri.
Masih dini hari waktu itu. Luna sedang sibuk di dapur. Aku memerhatikannya dari dekat ketika ia sedang mengolah ikan nila mentah yang entah kapan di beli olehnya. Potongan bawang daun, bawang merah, dan kemangi ia masukkan ke dalam wadah berisi ikan. Kunyit di parut sampai halus. Aku tersenyum melihatnya.
Ia bahkan tak lupa dengan cara memasak yang aku ajarkan. Olahan bumbu yang di olah dengan tangan sendiri akan memiliki cita rasa berbeda. Ujung jari jemarinya menguning karenanya, mirip seperti orang menikah memakan hena. Bedanya, ukiran ditangannya tak karuan.
Garam, micin, dan penyedap rasa berbaur menjadi satu. Semua takarannya tak jelas berapa jumput banyaknya. Aku dulu sering bilang bahwa memasak bukan soal jumlah berapa takar bumbu yang harus dimasukkan. Semua ini tergantung suasana hati. Jika memasak dengan suasana hati sedang buruk, makanan akan terasa hambar atau terlalu asin meski takarannya diperkirakan pas. Dia tampak begitu nyaman ketika memasak.
Potongan daun pisang di isi dengan seekor ikan. Tidak lupa dengan menyertakan selembar daun salam dan sepotong batang serai didalamnya. Di kukus dalam sebuah panci berukuran sedang karena hanya ada empat buah pepes yang berhasil di buat. Sambil menunggu, aku duduk berhadapam dengannya.
"Ibu tidur saja lagi. Nanti Luna bangunkan saat azan subuh," ujarnya kemudian.
Aku menggeleng. "Ibu mau makan sekarang saja, Lun."
Keningnya mengernyit. "Ibu mau puasa?" terkanya.
Anggukanku menjadi tanggapan.
"Ibu sedang sakit. Jangan memaksakan diri." selorohnya mengingatkan.
Aku hanya diam. Ia tampak kembali sibuk. Menanak nasi dan memasak beberapa makanan pendamping lainnya tanpa di minta. Aku masih bertahan di kursi memerhatikan selama beberapa saat lamanya sampai semua hidangan itu tersaji di meja.
"Kapan kamu menikah, Lun?" tanyaku tiba-tiba.
Ia tercenung sejenak. “Nanti saja, Bu. Kalau sudah ada jodohnya,” timpalnya enteng.
“Kapan?” Aku menuntut tanggapan lain. “Ibu sudah mau nimang cucu dari kamu, Lun. Ibu udah tua. Udah sakit-sakitan begini. Mana tahu besok-besok maut menjemput Ibu.” Aku mulai mengancamnya dengan cara yang sama. Berharap kali ini tanggapannya tak seperti biasanya, mengelak.
Ia mendesah napas singkat. “Pernikahan bukan cuma sekedar ajang perkembangbiakan atau demi mengejar keinginan Ibu untuk nimang cucu.”
Ah ... rupanya tanggapannya masih tetap saja sama.
"Jangan lupa untuk mengurus anakmu sendiri nanti. Buatkan mereka makanan dari hasil masakanmu. Biar mereka tahu aroma masakan ibunya sendiri. Biar suamimu juga betah karena ada yang memasak untuknya. Apalagi jika kamu bisa memasak makanan favoritnya. Itu akan membuat dia makin kangen berada di rumah bersama keluarganya " Aku tak akan bosan-bosannya memberitahu apa yang harusnya seorang perempuan lakukan. Ia harus tetap sadar akan kodratnya sebagai seorang perempuan, calon istri dari suaminya nanti, dan sebagai calon ibu dari anak-anaknya.
“Bu ... pernikahan, anak, bahkan kematian adalah sesuatu yang tak terduga. Urutannya tak selalu kesedihan berakhir kebahagiaan. Semuanya hanya Tuhan Yang Maha Tahu, bukan?” Ia membela diri.
Aku tak menyela lagi sampai makanan yang tersaji di meja sudah selesai masuk ke dalam perutku.
"Masakanmu enak, Lun. Ibu pasti rindu." pujiku lagi.
Dia terpegun sejenak sebelum kemudian menerbitkan seulas senyum kecil. "Kalau rindu, Ibu bisa minta Luna masak lagi kok."
Aku tersenyum sebelum akhirnya melangkah keluar dari dapur menuju kamar kembali. Ku raih figura foto yang berdiri di nakas, foto seseorang yang harusnya tengah aku ajak bercerita dan berbagi keresahan tentang anak sematang wayang kami. Wajah suamiku tampak begitu semringah dengan gigi-gigi putih tampak rapi, bahkan tak ada garis kasar sedikit pun tampak di sana. Ia terlihat selalu muda. Berbeda denganku, tanganku bahkan sudah mengeriput. Tulang belulangku sudah tampak terlihat, nyaris menyatu dengan kulit yang melindunginya.
Luna mungkin benar. Pernikahan, anak, dan kematian adalah hal yang tak terduga. Urutannya tak selalu kesedihan berakhir kebahagiaan. Aku dan dia boleh saja terhubung dalam sebuah ikatan Ibu dan anak, tapi nyatanya pola pikir kami tak selalu terhubung dan serupa. Entah aku yang pikirannya kolot dengan perubahan zaman sehingga begitu banyak kekhawatiranku melihat perubaan demi perubahan yang terjadi.
Peran penting seorang perempuan yang sudah ada sejak zaman dulu tentang keahlian memasak di dapur, mungkin sudah tak berlaku lagi di zaman sekarang. Aku hanya bisa menganggap di zaman sekarang, semua peran perempuan dan lelaki bisa disamaratakan. Adil atau tidaknya, aku tak tahu. Hanya Luna yang mengalami dan tahu semua itu, bukan aku.