pengasuh anakku (fallin' for her)

pengasuh anakku (fallin' for her)

dew_72

0

SIAL!

SIAL!

SIAL!

SIAL!

SIAL!

Aku terlambat, lagi!

Aku berlari dengan panik menuju restoran tempatku bekerja sebagai pelayan. Entah bagaimana penampilanku, aku tidak peduli yang penting aku sampai di restaurant dengan cepat. Terbayang di kepalaku pak tua botak Theo itu pasti akan menelanku hidup – hidup jika dia tahu aku terlambat lagi.

Nafasku terengah dengan keras ketika aku mencapai restoran dan dengan segera aku menuju ruang loker dan mengganti pakaianku dengan seragam pelayan lengkap dengan apron hitam, yang aku ikat sambil berjalan cepat menuju dining hall.

Sebagai mahasiswa yang cukup beruntung memperoleh beasiswa, aku harus bekerja untuk memenuhi kebutuhanku sehari – hari karena beasiswa hanya mencakup kebutuhan kuliahku saja, tidak dengan biaya hidupku. sebagai gadis yang berasal dari desa kecil di Jawa Tengah dengan kondisi ekonomi pas – pasan bisa bersekolah di tengah kota metropolitan dengan beasiswa adalah sebuah berkat dan aku tidak bisa merepotkan orang tuaku dengan biaya hidupku jadi kuliah sambil bekerja sambil kuliah adalah satu – satunya pilihan yang aku punya. Dan sebagai seorang mahasiswa aku memiliki kewajiban untuk mempertahankan nilai - nilaiku.

Dan bulan ini aku sudah terlambat masuk kerja sebanyak empat kali kali. Dua kali shift pagi karena ketiduran setelah begadang semalam mengerjakan tugas, sekali karena jadwal kuliah diganti mendadak dan malam ini karena sepeda motor butut milikku memilih hari ini untuk mogok ditengah jalan. Padalah si butut tua itu baru saja aku servis dan ganti oli. Beruntung Sandy, sahabatku mau menjemput dan mengantarku ke tempat kerja, kalau tidak entah bagaimana nasibku.

Aku sedang melayani pelanggan kelimaku ketika kurasakan pandangan menusuk di punggungku yang aku yakin berasal dari pak tua Botak itu. Aku tidak tahu apa masalah pak tua itu tapi dia senang sekali mencari masalah denganku. Aku tahu aku terlambat tapi aku menebus keterlambatanku itu dengan bekerja lebih lama dari shiftku tapi sepertinya itu tidak cukup. Entahlah, mungkin pak tua itu menganggap aku hanya sekedar main – main saja padahal aku benar – benar bekerja.

Sebisa mungkin aku menghindari pak tua itu. Aku berpura – pura tidak melihat pak Theo dan dengan cepat menuju pelanggan ke enam, sebuah meja yang diduduki seorang pria yang sedang menunduk membuka majalah. Wow, di Era digital ini masih ada orang yang khusuk membaca majalah seperti membaca kitap suci. Aku terkesan.

Seiring langkahku mendekati meja pria tersebut aku bisa melihat dengan jelas apa yang dia lihat. Profile pengusaha muda yang akhir – akhir ini sedang ramai diperbincangkan karena sukses dengan firma arsitektur dan desain interiornya, RetroGrid.

“jelek banget.”

“huh, gimana?” sebuah suara terdengar dari balik majalah diikuti dengan sepasang mata abu – abu terang menyorot tajam ke arahku. Satu kata, WOW, pria yang sangat tampan. Rambutnya di sisir rapi dibelakang dan tubuhnya yang tegap dibalut setelan jas yang terlihat mahal. Tampan dan sukses adalah definisi pria yang duduk di depanku ini.

“hah, maaf?” tanya ku tidak mengerti

“tadi kamu bilang jelek, maksudnya gimana? Saya jelek?”

“eh, oh, ga, maksud saya iya.” Kataku terbata dan alis sang pria terangkat penuh tanya,

“maksud saya bukan anda tapi profile yang ada di majalah itu. Oke sih tapi terlalu overrated. Kebanyakan desain RetroGrid cenderung kaku dan membosankan.”

“masa sih.” Katanya sambil melirik pada majalah yang terbuka di hadapannya.

“iya.” Kataku tegas yang dihadiahi dengan pandangan tajam menusuk.

Aku tahu seharusnya aku menutup rapat mulutku dan semua akan selesai sampai disitu tapi entahlah, kadang – kadang mulutku suka lepas kendali dan akan membawaku pada suatu masalah serius, seperti sekarang ini.

“review RetroGrid bias menurut saya. Kebanyakan review yang ada di pasaran terlalu over praise ditambah lagi pemilik RetroGrid, Aslan Sutedja ya kalau ga salah. Dengar – dengar dia itu super galak dan nyebelin. Boss setan lah.” Dan yah, mulutku kembali menyerobot kendali otakku dan dengan cepat menggali lubang kuburku sendiri.

Pria didepanku hanya bisa terpaku menatapku dengan pandangan yang aneh. Entahlah, marah mungkin tapi ada sedikit binar geli di matanya.

“ga usah heran kaya gitu.” Dan sopan santunku terbang melewati jendela restaurant yang terbuka, “pernah temanku kan magang di RetroGrid. Sering cerita – cerita kalau pas magang gimana kelakuan si boss setan itu.”

“kamu juga magang di Retrogrid?”

“ga, temanku aja kan dia jurusan management. Aku kan anak sastra.”

“terus, ada gosip apa lagi tentang di Aslan ini?” tanyanya sambil menahan tawa. Wajahnya tampak senang dan aku tidak tahu apa sebabnya.

“katanya dia itu buaya kelas kakap. Gonta – ganti pacar udah macem ganti tisuu. Mana katanya pacarannya suka yang aneh – aneh gitu. Ga takut kena penyakit apa ya?” ujarku sambil bergidik ngeri

Dan yah, pria itu tertawa terbahak – bahak seakan – akan aku adalah badut paling lucu di kota. Padahal tidak ada yang lucu degan kalimatku. Tapi ya sudahlah, tidak masalah, paling tidak aku sudah membuat orang senang. Bukankah membuat orang senang termasuk beribadah.

“EEHHEEMM!”

Suara deheman terdengar cukup keras dari belakang punggungku disusul dengan desiran hawa dingin yang menguar membuat bulu kudukku meremang seketika.

Menahan nafas, aku berbalik dan seketika jantungku melompat turun ke kakiku. Orang ini? apa benar dia? Tapi... Ah, sudahlah, tidak ada gunanya mengingat kembali, yang jelas saat ini aku dalam kesulitan.

“anda siapa?” tanyaku sambil menegakkan punggungku yang gemetaran. Mata sehitam itu menyorot dingin seakan bisa membekukan neraka. Ya Tuham, tolong aku, bathinku.

“Aslan Sutedja.” Sahut pelanggan restaurant itu sambil berdiri di samping pria dingin itu, “serius, dia ini Aslan Sutedja. Kalau aku Linden Arkandu, sahabat tercinta manusia es ini.” katanya sambil menyengir lebar.

Aku menelan ludah dengan susah payah. Mana mungkin pria dingin itu bernama Aslan Sutedja. Bukahkan namanya bukan? Bagaimana mungkin pria itu menjadi Aslan Sutedja?

“GA MUNGKIN!” ujarku sambil bergidik gugup. Melihat wajah Aslan Sutedja membuatku bergidik ketakutan. Rahangnya kakku dan tampak urat – urat bertonjolan di leher dan tangannya yang mengepal.

“apa maksudmu? Saya Aslan Sutedja.” Nada tegas penuh perintah itu mengandung es yang terasa dingin di sepanjang tulang punggungku.

Menegakkan punggungku, aku menatap pria disebelah manusia es ini, Linden, yang sedang emmandangku dengan tatapan iba dan tawa yang kujawab dengan dengusan samar. Menatap kembali kepada si manusia Es, aku merasakan sorot mata hitam yang tajam menusuk. Kalau saja pandangan mata itu bisa membunuh, aku yakin pasti sekarang aku sudah mati.

“mau pesan apa pak?” tanyaku formal sambil tersenyum, berharap tidak ada lagi masalah karena mulut lancangku barusan.

“bagaimana kalau kamu enyah saja.” ujar Aslan dingin

“ada apa ini?” tanya sebuah suara di belakangku. Matilah aku, itu suara pak Theo.

“ttii-tidakk ada masalah pak.” Jawabku terbata. Ya Tuhan, berdoa semua akan baik – baik saja, bagaimanapun aku tidak boleh kehilangan pekerjaan ini.

“ini saya sedang menanyakan pesanan tuan – tuan ini.” kataku sambil menunjuk kearah Linden yang dia jawab dengan senyum jahil.

“kalau kerja itu yang bener. Gimana pelanggan mau tau pesan apa kalau menunya aja ga kamu kasih.” Ujar pak Theo ketus

Mataku membola menyadari bahwa aku melupakan buku menu. Menggumamkan kata permisi aku bergegas kebelakang untuk mengambilkan buku menu bagi kedua pria itu.

“ini sudah keempat kalinya kamu telat dan sekarang kamu malah bikin masalah sama pelanggan. Dimana otakmu itu?” ujar pak Theo di belakang, “sekali lagi kamu bikin masalah, kamu dipecat!”

“maaf pak.”

“dasar ga becus!” umpatnya marah, membuatku sedikit berjengit mendengar nada keras di suaranya. Dengan segera aku bergegas menuju meja Linden dan Aslan dan mengangsurkan buku menu kepada mereka.

“makasih cantik.” Kata Linden sambil tersenyum menerima buku menu dari tanganku.

“ck, ngapain sih Mita ngajakin ketemuan di restaurant bobrok kaya gini? Kaya ga ada tempat lain aja.” Ujar Aslan ketus sambil membolak balikkan buku menu tanpa minat.

“ya kan disini paling dekat dari butik dia man, kalem aja napa sih?” ujar Linden tenang.

Aku mendengus malas mendengar komentar ketus Aslan, yang segera dihadiahi pelototan tajam darinya. Dengan malas aku mengalihkan pandanganku dan berpura – pura tuli.

“lagian kan kata Mita nanti kevan juga ikut sekalian sama nanny – nya,” tambah Linden, “udah, tenang aja Man, bentar lagi juga mereka nyampe.”

Duh, mereka lama banget sih timbang pesen doang kenapa pake ngobrol segala, pikirku sambil menahan pegal di kakiku. Sumpah, menunggu orderan kaya gini kadang menjengkelkan.

“coba aku tanya Mita masih lama Kevan kesininya.” Ujar Aslan sambil meninggalkan meja dengan senyum samar di wajahnya.

“ntar juga balik lagi.” kata Linden sambil berdecak. Aku memandang penuh tanya mendengar kalimat miliknya barusan

“itu, si Aslan, bentar lagi juga balik.”

“saya tidak bilang apa – apa pak.”

“iya, mulut kamu emang ga ngomong apa – apa tapi muka kamu bilang segalanya.” Jawab Linden sambil tertawa geli, “ngomong – ngomong siapa namamu?”

“Amanda Rinjani Pak, dan mohon maaf boleh saya catat pesanannya Pak? Ujarku

“tentu.” Jawab Linden masih dengan tawa.

Dia memesan secangkir Coffee Latte ditambah sepotong chocolate cake andalan restaurant kami. Segera setelah mencatat pesanannya aku segera berjalan menuju belakang. Biarlah nanti pelayan lain yang melayani mereka.

Sesampainya didapur, Miko, chef restaurant, memintaku untuk membuang sampah yang sudah menumpuk di sudut dapur yang tentu saja segera aku lakukan. Miko sangat baik kepadaku. Biasanya dia memberiku sepotong cake atau cupcake yang rasanya amat sangat enak.

Memandang belakang restauran yang kosong melompong, aku bergeas membuang sampah dan memutuskan untuk duduk di tangga didekat pintu dapur. Beberapa menit istirahat rasanya tidak masalah. Tugas kuliah yang luar biasa banyaknya ditambah dengan pekerjaan ini membuatku merasa lelah kadang – kadang.

Aku tidak punya pilihan lain, pekerjaan ini lah yang menghidupiku selama ini, meskipun gaji dari restaurant ini bahkan hampir tidak cukup tapi aku bersyukur. Paling tidak aku masih bisa membayar tempat tinggalku, makan dan kebutuhan – kebutuah lainnya.

Sandy, sahabatku pernah menanyakan apakah gaji yang aku terima cukup dan aku tidak ada hati untuk mengeluh kepadanya. Yah, paling tidak beberapa tahun lagi aku akan lulus dan semua kerja kerasku ini akan terbayar.

Menghela nafas dan meluruskan punggungku yang pegal aku segera bangun dan bergegas masuk ke dalam. Tidak kupedulikan rasa sakit di kakiku akibat berdiri terlalu lama. Aku tidak ingin ada masalah lagi dengan pak Theo, bagaimanapun aku masih butuh pekerjaan ini.

Begitu masuk kedalam Restaurant aku mendapat tugas untuk mengantar makanan ke meja. Dahiku mengernyit melihat nomor meja yang harus aku antar. Meja Linden.

Mengesampingkan perasaanku, aku bergegas mengangkat tray berisi makanan pesanan mereka. mendekati meja mereka, aku melihat Aslan beridir sedang memarahi seorang wanita yang memegang boneka sedangkan Linden duduk bersama seorang gadis sambil menunduk.

Kenapa sih? Batinku penasaran. Tapi ya sudahlah, bukan urusanku, aku tidak ingin kembali berada dalam masalah, putusku sambil bergegas mendekati meja mereka.

“ini pesanannya, selamat menikmati.” Kataku ceria sambil meletakkan makanan di atas meja. Tidak kupedulikan keributan yang terjadi dan bergegas pergi dari meja tersebut.

beberapa langkah dari dapur, aku merasa ada sesuatu yang membebani kakiku. Refleks mulutku berteriak kaget menyadari apa yang membelit kakiku.

Bayi lucu lengkap dengan giginya yang ompong!