Nyonya Prasangka

Nyonya Prasangka

iyoniae

0

Di kompleks ini tak ada yang memiliki pengetahuan lebih banyak dari pengetahuan Mak Rodiah. Bukan pengetahuan ilmu agama, bukan pula matematika, melainkan pengetahuan urusan tetangga. Siapa pun yang perlu asupan gosip, Mak Rodiah-lah yang harus ditujunya. Aib musuh? Dia juga ahlinya.

Jika hidup di Amerika, Mak Rodiah pasti akan menjadi mata-mata paling top sejagad. Tak tertandingi. Bahkan, jika ditanya apakah Iron Man mencium kentutnya sendiri saat memakai kostum, tak perlu waktu lama bagi Mak Rodiah untuk mendapatkan jawabannya.

Reputasi Mak Rodiah yang satu ini tidak didapat dengan cara instan. Pasalnya, ada proses panjang yang harus dilalui. Contohnya seperti sekarang, saat para ibu kompleks mempertanyakan anak gadis Bu Markonah yang mendadak menikah, Mak Rodiah harus mengendap-endap seperti ninja, melebarkan telinga seperti kelinci, dan menggali informasi layaknya arkeolog profesional.

Ketika misteri itu dapat dipecahkan, ada kepuasan tersendiri yang dirasakan Mak Rodiah. Segera, dia berbagi pengetahuan itu kepada ibu-ibu yang lain. Meskipun, ada saja ibu-ibu yang meragukan informasinya. Kata mereka, no pict is hoax. Bah! Bahasa alien dari planet mana itu?

Mak Rodiah tak patah arang. Sekali lagi dia mengeluarkan jurusnya, mengendus bukti dengan teliti. Dan, ketika mendapat bukti berupa foto, batinnya senang bukan kepalang. Tanpa menunggu lama, ia pergi ke tongkrongan, menunjukkan bukti itu dengan lagak bak panglima yang telah menang perang. Tetapi, sayang semilyar sayang (seribu sudah tak level), ibu-ibu kompleks menginginkan video. Kalau bisa live, Mak Rodiah dapat poin lebih besar.

Bangsul! batin Mak Rodiah kesal. Sudah dikasih hati, pada minta jantung! Memangnya mereka pikir dia admin lambe curah.

Walaupun permintaan itu menyulitkan, Mak Rodiah tetap berusaha mengabulkan keinginan para ibu komplek. Dia tidak bisa melepas julukan Emak Paling Aktual, Tajam, dan Tepercaya untuk orang lain. Tidak semudah itu, Marimas! Oh, salah, itu merek minuman.

Kali ini Mak Rodiah harus bekerja ekstra keras. Pasalnya, dia tak bisa membuat video. Dulu, waktu Lanang—anaknya—memberi ponsel pintar, Mak Rodiah bahkan tidak bisa menyalakannya. Setelah diajari berulang kali barulah dia mengerti. Apalagi saat anaknya menerangkan fitur-fitur pada smartphone, Mak Rodiah hanya mengangguk dan bilang ho-oh. Dalam hati, dia bertanya-tanya, siapakah fitur? Apakah ada hubungan darah dengan Pak Fatur, tetangga baru yang hobinya ngatur-ngatur? Atau jangan-jangan .... Dia bertekad akan menyelidikinya nanti.

Dia dapat memotret pun karena ketidaksengajaan. Awalnya, dia hanya asal pencet, tetapi akhirnya tahu ikon mana yang harus ditemukan saat ingin memotret.

Foto yang diambil Mak Rodiah pertama kali adalah foto ubin. Kemudian yang kedua barulah foto dirinya memandang kamera, dengan bibir tersungging kaku. Kerudung pink membingkai wajahnya yang kusam dan sedikit keriput. Bedaknya yang tebal tampak tak rata, begitupun dengan lipstik di bibirnya yang pecah-pecah. Kerutan di sudut matanya terlihat jelas pada swafoto pertamanya itu. Lipatan lemak di bawah dagu membuatnya seolah memiliki dua janggut. 

Namun, lebih dari itu semua, Mak Rodiah paling suka warna matanya—cokelat kayu. Mata itu dia warisi entah dari siapa, mungkin kakek atau neneknya yang kata orang masih keturunan kompeni. Dalam foto itu matanya terlihat jelas. Jadi dia tidak menghapusnya. Toh, bagaimana caranya menghapus foto saja dia tidak tahu.

Selain memotret, Mak Rodiah juga bisa mengirim pesan lewat WhatsApp. Ia tergabung dalam grup Ibu-Ibu PKK, Aliansi Penggemar Daster Lebar, Emak-Emak Pecinta Gosip, dan grup Pengajian Pembawa Nikmat.

Kontaknya banyak, tapi kebanyakan Mak Rodiah meminta orang lain untuk membantunya menyimpan. Dia tidak bisa menyimpan nomor kontak sendiri. Kalau sekadar memencet nomor-nomor dia bisa, tetapi cara menyimpan nomor itu, dia kesulitan. Bahkan mengingat caranya memeriksa kuota saja dia tidak mampu. Jadi, ketika pesan WhatsApp-nya tidak terkirim dia pasti mengira kuotanya habis. Padahal bisa saja karena sinyal profider yang bermasalah.

Demi ibu-ibu yang ngakunya sosialitah tapi dananya patah-patah, Mak Rodiah belajar membuat video. Dengan serius dia memencet-mencet layar ponsel, berharap dengan tidak sengaja menemukan cara merekam. Keningnya berkerut saat matanya fokus ke layar. Tanpa sadar bibirnya pun sedikit mengerucut. Ia duduk di sofa depan televisi layar datar 21 inci di rumahnya.

Dia ditemani Ratih, istri Lanang. Meski sudah berumah tangga, Lanang dan istrinya tinggal bersama Mak Rodiah. Bukan karena tidak memiliki uang untuk membeli rumah sendiri, melainkan karena dia merupakan anak satu-satunya Mak Rodiah.

Sebenarnya keinginan Ratih saat menikahi Lanang adalah tinggal terpisah dari mertua. Pada awal pernikahan memang itulah yang terjadi. Namun, setahun kemudian mertua lelakinya meninggal dunia. Tentu sebagai anak yang berbakti, Lanang tak bisa membiarkan ibunya tinggal sendiri. Bagaimana kalau terjadi apa-apa?

Mereka tak memiliki keponakan yang masih bujang, yang mau diajak tinggal bersama Mak Rodiah. Jadi, terpaksa Ratih mengikuti kemauan suaminya untuk tinggal bersama mertua.

Serumah dengan mertua membuat Ratih kewalahan. Pasalnya, dia sering diatur. Selain itu mertuanya juga cerewet. Meskipun begitu, lama kelamaan, Ratih tahu bahwa mertuanya berbuat seperti itu karena mencintai Lanang. Kadang, ia iri dengan cinta Mak Rodiah kepada suaminya. Ia saja tak mencintai Lanang sebagaimana ibunya mencintai Lanang. Mak Rodiah juga tak mencintainya sebagaimana dia mencintai anaknya.

Contohnya seperti saat ini ketika ia mengganti chanel televisi.

“Jangan diganti, bentar lagi Mas Al main,” protes Mak Rodiah tanpa mengalihkan perhatian dari ponsel.

Ratih yang penasaran pun mengintip dari bahu mertuanya. “Ngapain sih, Mak? Dari tadi main ponsel mulu?”

“Ini lho, aku mau belajar caranya merekam video."

“Emang mau merekam apa? Mas Al?”

Mak Rodiah mendecakkan lidah. “Buat apa merekam Mas Al? Ibu-ibu yang lain kan bisa lihat sendiri di televisi.”

Kening Ratih mengernyit. “Trus, buat ngerekam apa?”

Mak Rodiah menggaruk dagunya yang gatal. Ia melirik jam di dinding. Jarumnya hampir menunjuk angka sembilan malam. Pantas saja nyamuk-nyamuk sudah memulai mencari mangsa. “Itu, Ibu-Ibu komplek pada mau bukti video kalau anaknya Bu Mar—yang habis nikah kemarin—sudah tekdung duluan.”

“Ya ampun, Mak! Ngapain sih ngurusin orang lain? Jadi orang tuh jangan terlalu kepo! Nggak baik tahu, Mak.” Setelah tak mendapat respon dari mertuanya, Ratih menyandarkan punggung ke pinggiran sofa. Ia meraih toples di meja samping dan berniat menyuapkan kudapan ke mulut sebelum Mak Rodiah merebutnya.

“Jangan makan camilan malam hari. Ntar kamu gemuk.” Dia lantas mencaplok kudapan tersebut. 

“Lah, Mak sendiri makan cemilan malam-malam.”

“Kan Emak udah tua. Nggak apa-apa gemuk. Kamu kan masih muda, sayang kalau gemuk. Lagian kata Pak Dokter di TV kemarin: kegemukan dapat mengahalangi kehamilan.”

Ratih mendesah panjang. Ia menatap layar televisi tanpa minat. Sebenarnya, keinginannya memiliki anak sama besarnya dengan keinginan Mak Rodiah memiliki cucu. Tetapi, sudah tiga tahun menikah, tanda-tanda kehamilan tak kunjung datang. Ia sudah ke dokter. Datang ke tukang urut pun telah dilakoninya. Tetapi, tetap saja ia tak juga mengandung. Suaminya tak terlalu meresahkan soal anak, atau sebenarnya dia memang resah, tetapi tak mau mebebani Ratih.

Suaminya merupakan lelaki terbaik dan tersabar yang pernah Ratih temui. Meski tidak ganteng, bicaranya sopan. Dia jarang mengeluh dan sedikit pendiam. Dia juga penurut, atau tak acuh, entah mana yang lebih dominan. Selama ini, hanya satu kali suaminya bersikukuh terhadap satu hal—Ratih ingat betul—yaitu ketika memutuskan untuk tinggal di rumah mertuanya. Kala itu suaminya tak bisa dibujuk untuk tetap tinggal terpisah.

“Kumohon, Dik! Izinkan aku menjadi anak yang berbakti pada ibuku.” Perkataan suaminya membuat hati Ratih luluh.

 Sejak kecil, Ratih ditinggal ibunya. Ia hidup dengan ayah dan kakaknya. Mereka tinggal di luar kota. Setelah lulus SMA, Ratih merantau. Saat itulah dia bertemu Lanang sampai akhirnya menikah. Jadi, ketika Lanang mengucapkan sesuatu tentang baktinya kepada sang ibu, Ratih terenyuh. 

Ketika awal-awal tinggal bersama mertua, Ratih merasa overthingking. Ia takut. Banyak orang yang mengatakan bahwa mertua itu kejam, jahat, dan mengerikan. Memang, Mak Rodiah juga begitu. Tetapi, lama-kelamaan, Ratih belajar untuk bersikap masa bodoh. Ia juga berusaha untuk menulikan pendengarannya jika diperlukan. Seiring waktu dia mampu berdamai dengan keadaan. Bonusnya, dia dapat mengenal Mak Rodiah lebih dekat. Menurutnya Mak Rodiah tidak buruk-buruk amat.

Kadang mereka marahan, tetapi tak lama setelahnya mereka kembali berbaikan. Kebanyakan Ratih yang meminta maaf duluan. Sebab, dia sadar bahwa dialah yang lebih muda. Meski begitu, tak jarang Mak Rodiah memberikannya hadiah secara diam-diam sebagai bentuk penyesalan. Jika dipikir-pikir, tingkah mereka malah seperti orang pacaran, minus percakapan norak seperti: Met bobok, Sayang, atau Ah, cumu-cumu, cintaku!, dan I love you, Gendutku! 

Kini setelah dua tahun tinggal bersama, Ratih menganggap Mak Rodiah seperti ibu mertua yang semestinya. Bukannya apa-apa, seorang menantu yang menganggap mertua sebagai Mertua Sungguhan sudah merupakan prestasi tersendiri. Menantu masa kini banyak yang menganggap mertuanya sebagai raja dari negara api, monster beruban, atau malah siluman.

Betapa tidak? Saat berkumpul bersama teman-temannya, banyak dari mereka yang mengeluh tentang mertua yang tidak manusiawi. Ratih bukannya tidak mengeluh. Dia juga, tetapi tidak sebanyak dan sekeji keluhan teman-temannya. Setidaknya dia dapat melihat kebaikan hati dan kepolosan khas orang tua dalam diri Mak Rodiah. Kalau sudah begitu, Ratih tak bisa menjelek-jelekkan mertuanya.

“Mas Al udah main lho, Mak!” kata Ratih mengingatkan saat soundtrack sinetron kesayangan mertuanya mulai.

Namun, Mak Rodiah masih sibuk dengan ponselnya. Diam-diam, Ratih mengganti saluran televisi. Di chanel lain, film barat kesukaannya sedang tayang.

“Kan sudah kubilang, jangan diganti. Meski nggak lihat, denger suaranya Mas Al aja, aku tuh bisa tahu jalan ceritanya.”

Ratih memutar bola matanya. Ia kembali mengganti chanel ke saluran kesayangan Mak Rodiah. Setelah mengempaskan remot dengan kesal ke sofa, dia pun bangkit. Dia masuk ke kamar, memutuskan untuk menonton YouTube.

Tangan Mak Rodiah masih memegang ponsel ketika Lanang masuk. Ia mengempaskan diri ke samping Mak Rodiah. Ia lalu mengambil remot dan mengganti saluran televisi.

Mak Rodiah mendesah panjang. Ia bangkit dan menuju kamarnya. Sungguh, deskriminasi sikap yang amat ketara, bukan? Tapi, mau bagaimana lagi? Lanang adalah darah dagingnya. Sejak dulu, Mak Rodiah selalu mengalah kepada anaknya. Ia tak mau melarang atau mendebat Lanang. Padahal kalau meminta supaya tak mengganti saluran televisi, anaknya itu pasti menurut. Tetapi, entah kenapa ada rasa tak enak setiap kali Mak Rodiah ingin meminta maupun melarang sesuatu kepada anaknya. 

Mungkin Mak Rodiah merasa begitu karena sudah minta terlalu banyak kepada anaknya. Tetapi setelah dipikir-pikir lagi, tidak juga. Dia tak pernah meminta apa pun kepada Lanang. Biasanya, Lanang sendirilah yang memberikannya. 

Selain rasa enggan, ada rasa lain di dalam hati Mak Rodiah terhadap anaknya. Ia merasa sedikit takut. Menurutnya, Lanang yang sekarang tidak sama dengan anak yang selalu minta dikecup keningnya sebelum tidur dulu. Sejak kapan tepatnya anaknya itu berubah, atau perasaan enggannya itu ada, Mak Rodiah tidak ingat.

Wanita yang tengah memakai daster itu melangkah ke kamar sambil menekan-nekan layar ponsel. Setelah masuk, ia duduk di tepi ranjang dengan hati-hati. Matanya panas karena tak lepas dari layar ponsel sejak tadi. Mendadak, suara tit terdengar dari benda di tangannya itu. Ia terkejut namun juga senang karena akhirnya dia menemukan cara merekam dengan baik dan benar.

Ia lantas menekan layar itu lagi, kali ini lebih lama. Ia menggerakkan ponselnya, menyorot isi kamar. Setelah puas, ia melepas jempolnya. Sebuah video berhasil dibuatnya. Senyum terbentuk di bibirnya.

Namun, senyum Mak Rodiah tak bertahan lama karena tiba-tiba, tembok di sampingnya menjerit.

***