Niat Baik

Niat Baik

HanJin

4.8

“Mas Jebleng, ayo, anterin aku ngaji!” teriak seorang bocah berumur dua belas tahun dengan nama lengkap Marjuki Jungkook Supomo.

Marjuki Jungkook Supomo adalah seorang anak yang lahir dari keluarga blasteran Korea – Jawa yang tinggal di Tuban, Jawa Timur. Keluarga ini dianggap istimewa oleh banyak orang karena blasteran model begini itu langka. Supomo adalah nama dari bapak Jungkook yang merupakan orang jawa asli sekaligus ketua RT di dusunnya. Sedangkan ibunya bernama Kim Jieun, warga Korea asli tapi saiki wes dadi orang Indonesia. Jungkook atau yang sering dipanggil Juki iku anak yang rajin mengaji, pintar, sopan tapi gembeng alias nangisan. Dikit-dikit wadulan nang bapak ibu kalau dijahilin sama teman-temannya apalagi kakaknya. Umurnya empat belas tahun kelas dua menengah pertama. 

“Panggil aku Jebleng sekali lagi. Tak antem ndasmu lho, Juk,” ancam Jebleng. 

Namanya Jebleng Adimas Seokjin Supomo. Cowok paling ganteng sekampung bahkan mungkin sedesa. Banyak mbak-mbak mulai dari SMP sampai Janda yang naksir sama dia. Umurnya dua puluh lima tahun tapi masih jomblo. Alasan dia jomblo karena belum ada yang klik di hati. Jangan sekali-kali panggil dia dengan nama Jebleng. Walau itu memang ada disalah satu barisan namanya tapi mas ganteng ini ndak suka. Katanya nama itu terlalu kampungan. Wes ora jamane. Makanya itu dia lebih suka di panggil Seokjin atau Adimas, lebih keren katanya. 

“Iyo-iyo ngono wae kok ngamuk. Ya udah, cepet anterin aku ngaji mas. Keburu telat.” 

“Emoh aku. Males. Berangkat sendiri kenapa, sih?” 

“Seokjin, kenapa toh nganterin adiknya aja kok gak  mau? Wes cepet, enggak usah mbantah ibu. Anterin adikmu sana,” omel sang ibu yang lagi asyik cabutin uban suami. Kalau ibu Jieun sudah bersabda tak ada kesempatan Seokjin untuk membantah. 

Adimas Seokjin mau nggak mau harus nganterin adiknya dengan kendaraan kesayangan. Walau banyak yang bilang sepeda motor jenis ini adalah sepeda motor spesialis maling karena tarikannya kenceng dan ringan, Seokjin nggak peduli. Bahkan kadang dia diolok-olok sama teman mainnya. Sepedae ora sumbut karo wajahe. Biarinlah, emang kenapa kalau pakai sepeda maling, yang penting dia menggunakan sepeda ini ke jalan yang benar. 

Enggak butuh waktu lama perjalanan menuju masjid desa. Cuma sekitar tiga menit aja dari rumah. Walau Jungkook dan Seokjin ibarat minyak dan air. Apalagi sang adik  suka sekali jahilin kakaknya tapi Juki alias Jungkook tak lupa untuk hormat dan salim cium tangan Seokjin usai turun dari sepeda. Bertepatan dengan itu, mata Seokjin terpaku pada sosok gadis berjilbab merah maroon dipadu dengan gamis berwarna hitam. Sebagai pria, tentu ia terpaku dengan parasnya yang cantik menyejukkan jiwa. Gadis itu tak sendirian, ia diantar oleh sesosok laki-laki yang seumuran dengan ayahnya. 

“Marjuki Jungkook, tunggu dulu,” ujar Seokjin seraya menarik kerah baju Jungkook yang membuat adiknya terpaksa jalan mundur.  

“Opo meneh?” tanya Jungkook ogah-ogahan.

“Itu siapa? Yang pake kerudung maroon,” ucap Seokjin. Jungkook pun melihat ke arah yang Seokjin pandang. 

“Oh, itu guru ngajiku, Mas. Kenopo?” 

“Enggak apa-apa. Tanya aja aku. Yowes, ngaji sana yang bener.” 

Jungkook perlahan masuk ke dalam tapi Seokjin masih saja di depan halaman masjid sambil terus melihat mbak-mbak jilbab maroon. Sudah cantik, tampilannya anggun, sholehah lagi. MasyaAllah kok ada ya gadis yang mendekati sempurna kayak dia, batin Seokjin. 

****** 

Jam lima sore adalah saat dimana para anak-anak mengaji sudah pulang. Sudah menjadi kebiasaan Jungkook dari dulu pulang sendirian walau berangkatnya diantar. Lagipula suasana sore hari tak sepanas saat ia berangkat mengaji. Jadi, tak masalah pulang jalan kaki. Saat ia berjalan menuju halaman masjid, Jungkook merasa aneh dengan penampakan seorang pemuda tampan yang tak biasa. Tumben-tumbenan itu kakaknya sudah stand by disini. Mimpi apa Jungkook semalam sampai-sampai si Jebleng mau jemput  dia ngaji? 

“Loh, Mas Jebleng, ngapain? Jemput aku apa gimana?” tanya Jungkook penasaran. 

“Jebleng maneh. Kene tak koyek ndasmu. Sudah aku bilang jangan panggil aku gitu. Orang setampan aku kok namanya Jebleng. Sekali-kali panggil aku adimas gitu loh.” 

“Halah, ribet banget. Ngomong-ngomong kok tumben jempet aku ngaji. Disuruh ibu pasti, ya?” tanya Jungkook sok tahu. 

“Enggaklah, aku datang atas keinginan sendiri. Kalau dipikir kasihan kamu pulang sendirian, Juk. Bersyukurlah punya kakak kayak aku. Udah tampan perhatian lagi.” Jungkook alias Juki cuma meringis denger kata-kata abangnya. Bukan malah bersyukur dijemput tapi dia curiga abangnya ini mendadak perhatian karena ada maunya. Perasaan Juki enggak enak mulu bawaannya. “Yowes, ayo pulang.” 

“Bentar dulu. Aku lagi nungguin seseorang.”

“Hah? Siapa emangnya?” tanya Jungkook tapi Seokjin enggak mau jawab. Tak selang lama, mata Seokjin berbinar-binar melihat seorang gadis cantik berjilbab merah maroon dengan wajah kalem keluar dari masjid. Ayune sundul langit sampe Seokjin enggak kedip matanya. 

“Jungkook, cewek itu siapa namanya?” tanya Seokjin. Jungkook celingak-celinguk mencari orang yang dimaksud sang abang. Banyak ibu-ibu lagi jemput anaknya ngaji di sini. Sing dimaksud cewek iku endi? Wong kabeh wes ibu-ibu. Jangan-jangan  mas Seokjin memang seleranya istri orang. Makanya awet jomblo, batin Jungkook. 

“Yang mana toh, Mas? Ibu-ibu semua ini. Istighfar, Mas Seokjin. Kabeh iki bojone wong,” seru Jungkook. 

“Ngawur ae. Kamu pikir aku pebinor. Itu loh yang pakai jilbab maroon gamis hitam.” 

Jungkook lalu menoleh ke arah yang dilihat oleh sang abang. Tepat di pinggir jalan dekat pertigaan di bawah tiang listrik berdiri anggun seorang ustazah bernama Rani. Sekarang Jungkook paham ternyata cewek ini yang dimaksud. Wajar kalau kakaknya tertarik, sih, karena emang ustazah Rani cantiknya tidak bisa digambarkan. Nah, bener, kan? abangnya ini jemput ngaji memang ada maunya.   

“Dia itu guru ngajiku, Mas. Namanya Rani.”

“Guru ngaji?  MasyaAllah, cocok banget dijadiin istri.” 

“Hah, istri?” 

“Terus dia sudah ada pasangan belum?” 

“Maksudnya suami?” tanya Jungkook, Seokjin pun mengangguk. 

“Belum, Mas. Setahuku Ustazdah Rani anak kesayangan orang tua, sih. Soalnya selalu antar-jemput  sama ayahnya kalau mau ngajar ngaji.” 

“Enggak bohong, kan, ini?” tanya Seokjin antara percaya tak percaya. “Terus rumah Ustazah Rani di mana?

“Enggaklah, ngapain bohong. Rumahnya satu kiloan dari sini, Mas. Dekat pertigaan kuburan kampung sebelah. Di sebelahnya pohon-pohon bambu,” sambung Jungkook. 

Apa yang diomongin Jungkook memang benar. Bahwa, guru ngajinya ini memang seperti seorang anak gadis yang disayang oleh orang tuanya. Buktinya, sekarang dia dijemput oleh sang ayah. Memang, ya, kalau punya anak cantiknya selangit pasti bakalan disayang dan selalu dijagain. Seokjin juga akan kayak gitu jika punya anak secantik Ustzadzah Rani. 

“Mantap, kalau begitu aku tinggal bilang sama ibu dan bapak.” 

“Bilang apaan?” tanya Jungkook bingung. 

Belum juga Seokjin menjawab pertanyaan sang adik. Ia menstater sepedanya dan pergi. Entah memang lupa atau bagaimana. Jungkook tidak diajak pulang malah ditinggal masjid. Si Juki cuma bisa menghela napas dalam-dalam memikirkan nasibnya. Kadang Jungkook berpikir. Kenapa dia harus punya kakak macam Seokjin? Ya sudahlah, kalau adanya begini dia pulang jalan kaki saja. Lagipula enggak panas. Jadi, masih enaklah buat jalan. Baru juga dapat sepuluh langkah dari masjid tiba-tiba Seokjin datang sambil terbahak-bahak. 

“Ya Allah, Juk, sepurane aku lali, hahaha. Ayo, cepat naik,” perintah Seokjin. Jungkook enggak banyak komen. Si bocah rajin itu cuma bisa geleng-geleng kepala lihat kelakuan sang abang. 

***** 

Keluarga bahagia bapak Supomo dan Ibu Jieun terlihat sangat menikmati menu makan malam bersama yang sangat lezat. Jangan ditanya bagaimana napsu makan dua anak kesayangan mereka. Kalau masakannya cocok dan enak, baik Jungkook maupun Seokjin bisa nambah nasi berkali-kali. Walau makan mereka banyak tapi anehnya keduanya tidak pernah mengalami kegemukkan. Selama proses makan malam, Seokjin berkali-kali berdehem, menghela napas, lalu minum air. Sebagai seorang ibu Jieun tahu bahwa putranya ini ingin mengatakan sesuatu. 

“Kenapa, anak ganteng? Ada yang mau disampaikan ke Bapak atau Ibu?” 

“Enggeh, Bu Aku mau bilang. Kalau aku punya rencana untuk melamar seorang gadis,” ujar Seokjin penuh keberanian. 

Bapak Supomo yang daritadi asyik melahap makanannya kini memandang serius ke arah sang putra. Begitu pula dengan Ibu Jieun. Sedangkan Jungkook tidak peduli dengan omongan kakaknya. Seokjin bilang begini tidak sembarangan. Dia tergolong pemuda yang sudah mapan secara materi karena bekerja di salah satu pabrik semen milik negara yang ada di Tuban, Jawa Timur. Jadi, istilahnya Seokjin melamar seorang gadis bukan modal nekat. 

“MasyaAllah, terus sopo gadis sing berhasil menggaet atine anak gantengku iki? Dari dulu banyak lho yang sudah tanya-tanya tentang kamu ke ibu. Pada pengen jadi besan tapi kamu tolak semua. Kok, dilalah kamu pengen melamar orang sekarang? Coba cerita.” 

“Kalau milih istri jangan asal cantik, Nak. Agama dan akhlak iku luwih penting,” tutur bapak Supomo. 

“Enggeh, Bapak. InsyaAllah, untuk masalah agama dan akhlak dia sangat paham,” jawab Seokjin tanpa keraguan. 

“Terus namanya siapa? Rumahnya di mana?” 

“Namanya Rani, Pak. Dia guru ngajinya Juki. Rumahnya di kampung sebelah, dekat pertigaan kuburan kata Jungkook.” 

Jungkook yang sedang menikmati jus jeruk buatan ibunya sontak tersedak mendengar ucapan sang abang. Wah, ternyata pertanyaan Seokjin saat ia pulang ngaji tadi ada kaitannya dengan ini. Baru juga pertama lihat Ustazah Rani tapi punya pikiran untuk melamar. Apa enggak salah? Kan, kakaknya itu belum tahu kepribadian Ustazah Rani sebenarnya atau mungkin sang abang memilih jalur ta’aruf. 

“Mas Seokjin, sampeyan serius mau melamar Ustazah Rani?” tanya Jungkook. Seokjin mengangguk tanpa ragu. “Daebak,” ujar Jungkook dengan bahasa Korea yang artinya keren. “Tapi enggak apa-apa, sih. Ustazah Rani orangnya baik dan juga sabar. Cantik lagi. Aku setuju. Petrus jakandor, wes.” 

“Opo iku petrus jakandor?” tanya Seokjin. 

“Pepet terus jangan kasih kendor. Oalah, bahasa gaul ini, Mas,” jawab Jungkook. Seokjin pun tertawa karena menurutnya bahasa gaul zaman sekarang itu kelewat lucu. 

“Bahasamu aneh-aneh, Juk,” celetuk sang Bapak. 

“Ya sudah, kalau memang kamu pengen ngelamar gadis itu., Ibu dan Bapakmu akan menyiapkan semuanya. Bilang dulu sama calonmu mau enggak dilamar. Takutnya kita sudah bawa ini itu ternyata ditolak,” ujar Ibu Jieun yang cantiknya seperti Song Hyekyo. Seokjin mengangguk senang dan berharap semoga semua berjalan sesuai harapannya.  

***** 

Tidak seperti biasanya, selama beberapa hari terakhir ini Seokjin bersemangat mengantarkan Jungkook mengaji. Bahkan, ketika Jungkook ingin berangkat sendiri. Seokjin memaksa adiknya agar mau diantar dan dijemput. Memang kalau orang sedang kasmaran bawaannya beda. Semangatnya selalu berapi-api. Tak tanggung-tanggung, Seokjin rela menunggu Jungkook dua jam di masjid agar bisa melihat paras cantik Ustzadzah Rani yang mungkin sebentar lagi akan menjadi istrinya. Hari ini Seokjin tidak mau berdiam diri. Dia akan mencoba mengajak bicara Ustazah Rani saat pulang. 

Tepat seperti janji Seokjin pada dirinya sendiri. Saat semua anak-anak sudah pulang mengaji. Jungkook tidak langsung meminta pulang. Dia izin sama abangnya untuk membeli jajan di warung dekat masjid. Kesempatan ini Seokjin gunakan untuk berbicara dengan Ustazah Rani yang sedang menunggu jemputan datang. 

“Assalamualaikum, Ustazah Rani,” sapa Seokjin

“Walaikumsalam, ini abangnya Jungkook, kan?”

“Iya benar. Kok tahu? Maklumlah, orang tampan dikenal banyak orang,” celetuk Seokjin dengan rasa percaya diri selangit. Tentu kekonyolan tingkahnya yang satu ini membuat Ustazah Rani tertawa. 

“Ya harus kenal karena Mas ini kakaknya murid saya. Hubungan seorang ustazah tidak hanya baik dengan anak didik mengajinya saja tapi dengan keluarganya juga harus baik,” jawab sang ustazah. Mendengar penuturan sang guru ngaji membuat Seokjin semakin mengagumi dan semakin cepat mempersunting gadis ini. Apalagi senyuman Rani yang menawan membuat Seokjin mabuk kepayang. 

    “Menunggu jemputan, ya, ustazah?”  tanya Seokjin basa-basi. 

“Iya ini, Mas.” 

“Sepertinya orang tua Ustazah Rani sangat menyayangi anaknya. Bahkan, sampai sebesar ini ayah ustazah masih antar jemput putrinya. Padahal kalau dipikir Ustazah Rani seumuran dengan saya. Pasti bahagia punya ayah yang begitu penyayang,” tutur Seokjin. 

“Ayah?” tanya ustazah. 

“Iya, orang yang sering antar jemput setiap harinya itu ayah ustazah, kan?” 

“Oh, bukan, Mas. Itu suami saya.” 

“Su—suami? yang bener?” tanya Seokjin tak percaya. 

“Iya, Mas. Memang suami umurnya terpaut lima belas tahun dengan saya. Banyak sekali orang yang mengira beliau adalah ayah saya. Saya memaklumi tapi, namanya juga sudah berjodoh. Mau berapapun usianya itu adalah orang terbaik yang Allah kasih untuk saya.” 

Tidak hujan, tidak juga mendung tapi Seokjin rasanya seperti mendengar petir berulang kali di sore hari yang cerah. Patah hati itu pasti. Ketika dia sudah menjatuhkan pilihan kepada seorang gadis yang dianggap baik sesuai agama maupun akhlak namun kenyataannya dia adalah seorang gadis bersuami. Untung saja Seokjin belum mengatakan niat baiknya. Bodohnya lagi ia percaya saja dengan ucapan Jungkook. 

“Itu suami saya sudah datang. Saya pulang dulu, Mas. Assalamualaikum,” pamit Rani yang kemudian berjalan mendekati suaminya. 

“Wa—walaikumsalam,” ucap Seokjin yang terlihat begitu shock. Sepeninggal guru mengaji Jungkook itu Seokjin masih terdiam, terpaku, dan terguncang. Tak selang lama datanglah Jungkook yang berjalan mendekat sambil makan jajanannya. Dasar adik berengsek, batin Seokjin.   

TAMAT