Minggat

Minggat

Honey Dee

5

"Semua orang sudah dapat happy ending mereka kecuali aku."

"Heh! Omongan itu doa. Asal aja mulut lo ngomong gitu. Didengar Tuhan, mampus lo!"

"Ya! Sama aja. Kamu juga doain aku mampus."

Sara tertawa keras mendengar dengkus kekecewaanku. Seperti biasa, dia mendongak dan melihat ke atas saat tertawa. Cewek itu tidak malu mengekspresikan tawanya dengan vulgar. Bagi sebagian orang tawa Sara mengganggu sekali, tapi bagiku dan sebagian lainnya, tawa Sara melukiskan kebebasan dan perasaan yang murni. Dia hanya ingin tertawa, persetan dengan yang lainnya.

Mbak-mbak yang duduk di meja dekat kami melirik Sara. Tatapannya datar saja, tapi aku yakin dia sedang membatin hal jelek tentang temanku ini. Sejak awal kami duduk tadi saja Mbak Pramusaji sudah beberapa kali melihat ke arah kami. Hanya dua alasan pramusaji terus melihat ke meja tertentu; orang yang duduk di meja itu membuat masalah atau terlalu menarik perhatian dalam artian positif atau negatif.

"Gue nggak doain lo mampus, Bestie. Gue cuma bilang lo jangan mikir yang jelek, ngomong yang jelek. Tuhan gemes entar sama lo." Dia mendorong bungkus rokok padaku. "Mending lo pakai ini barengan gue. Lo rasain gimana nikmatnya nikotin masuk ke paru-paru lo. Enaknya bukan main, Say!"

Aku hanya melirik kotak rokok itu, sama sekali tidak berniat mengambilnya walau hanya untuk main-main. Konsekuensi dari kecanduan itu mengerikan.

"Nggaklah," tolakku sambil menggeleng. "Aku nggak mau dihajar Papa. Kamu kayak nggak tahu gimana kolotnya papaku."

"Jangan bilang gue nggak kasih tahu lo, ya. One day, you'll beg for this shit. Lagian, kenapa lo takut amat pakai ginian? Bokap lo nggak bakalan tahu. Kumur mulut lo pakai mouthwash habis ini. Mars juga perokok parah, tapi santai aja. Mulutnya juga nggak bau rokok, kan? Jangan bancilah lo, entar jadi Abi."

"Eh! Jangan bilang gitu. Entar Abi dengar," desisku sambil meremas paha Sara.

"Dia belum datang," katanya santai.

"Jaga-jaga, Sar. Aku nggak enak sama dia sejak dia dengar kita sebut dia kayak gitu. Ingat nggak waktu kita minta temani dia ke distro itu?"

"Kenapa nggak enak kalau kenyataannya gitu? Dia harusnya tahu kalau kelakuannya kayak cewek banget. Lagian, semua terbukti, kok. Sampai sekarang, dia nggak megang satu pun cewek. Dia juga nggak pernah jalan sama siapa gitu, terus dia tinggal di apartemen sendirian. Gila! Kurang apa coba tandanya? Aku nggak heran kalau dia jadian sama Mars."

"Sar, hati-hati kalau ngomong! Jangan bikin orang sakit hati gitulah," kataku berusaha mengingatkannya.

Sara memang baik. Dia selalu jadi yang pertama menolong jika di antara kami ada masalah, tapi dia juga yang paling sering membuat masalah, terutama dengan sifatnya yang tidak pernah berpikir dua kali sebelum bicara. Selama tujuh tahun pertemanan kami, sudah berkali-kali kami nyaris bubar lantaran sakit hati karena mulut Sara, tapi kami kembali akur lagi juga karena mulut si biang kerok ini.

Aneh, ya?

Sara selalu tahu cara untuk memperbaiki semua masalah. Dia tidak pernah menunda untuk minta maaf setelah sadar melakukan kesalahan. Ini yang membuat kami tidak pernah kehabisan kata maaf untuknya, bahkan Abi yang selalu dengan baik hati memaafkannya.

Selalu!

Dia sama sekali berbeda denganku yang berusaha untuk berhati-hati dalam berbicara, tapi tahan berhari-hari merajuk. Seringkali, Mars sampai membentakku kalau aku sudah merajuk; marah pada satu orang, tapi semua kena imbasnya. Kalau sudah begini, aku memilih diam di rumah setelah pulang kerja, tidak mengangkat telepon atau menjawab pesan dari siapa pun, aman bersama diriku sendiri.

Mungkin memang itu superpower Sara, bisa membuat orang marah dan luluh sekaligus. Mungkin, memang sufatnya itu yang membuat kami tetap bertahan dalam pertemanan selama ini.

Andai aku bisa punya kekuatan seperti dia, mungkin aku tidak akan memikirkan soal ini terus sampai tidak bisa tidur.

"Balik lagi ke soal happy ending tadi." Sarah memukul pipiku pelan untuk mengembalikan fokusku dari spageti di piring ke wajahnya. "Apaan happy ending segala? Lo pengin kawin?"

"Kawin sama siapa? Cowok aja nggak punya," jawabku, makin lama jadi makin sebal dengannya.

"Mars?"

"Dih! Mana sudi dia kawin sama aku, kecuali aku ini cewek terakhir di bumi."

"Halah! Lagak! Eh, Mars itu naksir lo, kan?"

"Nggak! Kami pas kecil tetanggaan. Masa kamu lupa? Kalau dia emang punya hati, sudah dari dulu dia nembak aku." Kuaduk lagi spageti di dalam piring, lalu kejejalkan banyak-banyak ke mulut. Siapa peduli dengan berat badan? Aku butuh banyak makan untuk melanjutkan emosi.

"Terus?" tanya Sara lagi sambil membolak-balik kotak rokoknya walau masih mengunyah mac and cheese-nya. "Masalah lo apa?"

Kuselesaikan dulu makanku, baru kudorong makanan di tenggorokanku dengan soda rasa kola. "Bentar," kataku kemudian sebelum mengambil kertas undangan di dalam tas. "Nih!" kataku, menyodorkan kertas undangan berbentuk buku rapor.

"Reuni?" tanya Sara sambil memungut undangan itu dari meja. "Bagus, ya," komentarnya, membolak-balik rapor itu dengan santai. "Kamu bakal datang?"

"Itu masalahnya, Sayangku. Aku pengin datang. Itu reuni emas SMA-ku, tapi aku nggak punya teman, pacar, tunangan, suami, atau siapa pun. Semua orang seusiaku pada sibuk sama hidup mereka dan beranak-pinak sekarang. Cuma aku sendiri yang masih ngejar-ngejar om-om buat menyelesaikan kontrak vendor. Bisa jadi bahan ejekan entar aku di sana."

"Kamu satu sekolah sama Mars, kan? Pergi sama dia aja."

"Dia masih di rig. Minggu depan baru dia off. Habis off dia mau ke Australia buat ikut training di sana semingguan, terus langsung jemput mamanya di Semarang. Dia bakal di Semarang sampai seminggu, baru seminggu terakhir off dia ada di rumah. Nggak bakalan bisa ke mana-mana dia."

"Lo hafal banget, ya? Gila!" katanya pelan sebelum meminum kopi pahitnya.

"Hafal nggak hafal, aku dapat kepercayaan buat nengokin ibunya," jawabku dengan nada merajuk yang sebenarnya tidak kuharapkan. "Setiap dapat roster, yang dikasih tahu duluan, ya, aku biar tahu kapan aja harus nengokin ibunya."

"Oh," katanya, kembali membolak-balik undanganku. Setelah puas, dia mengembalikan undangan itu padaku. "Kalau memang nggak mau datang, ya, udah. Nggak usah datang. Kok repot banget?"

"Tapi, aku mau."

"Sakit emang lo, ya. Nyiksa diri sendiri. Eh, kalau emang nggak mau datang, nggak usah, Sayang. Kalau mau datang, ya, datang. Nah, itu Abi. Lama amat tuh banci!"

Abi melambai di pintu masuk resto. Dia berhenti di depan penjaga pintu untuk berbicara sebentar, lalu berjalan dengan langkah ringan ke arah kami. Dua kancing bagian atas kemejanya terbuka. Muscle fit selalu tepat untuknya yang rajin menjaga bentuk tubuh. Berkali-kali kukatakan pada Mars untuk berdandan seperti dia, tapi cowok itu sama sekali tidak menggubrisku.

"Eh!" Sara menarik tanganku sampai aku tersentak menabrak meja.

"Apa, sih?"

"Kenapa lo nggak ajak Abi aja? Lo bilang aja sama yang lain Abi pacar lo, tunangan lo, atau apalah gitu."

"Ha?"

"Dia mau, kok. Percaya sama gue." Sara mencengkeram tanganku. "Selesaikan masalah satu-satu. Nggak usah pikirin happy ending lo sekarang. Yang penting lo bisa ikutan reuni tanpa dapat nyinyiran aja dulu."

Aku menoleh pada Abi yang sudah sampai di meja kami. Yang pertama kulihat bibir kemerahannya, lalu senyum yang membuat lesung pipinya nampak, manis sekali. Apa tidak masalah kalau aku memintanya jadi pacar bohongan?

***

Bees, maaf yaaa...

Mika pindah rumah ke karya karsa. 😘😘😘