Sial beribu sial. Desi memukul setir mobil berkali-kali dengan sekuat tenaga. Jantungnya berdegup kencang dan napasnya sesak. Kedua pipinya basah dan dingin oleh air mata yang sejak sejam yang lalu terus mengucur.
“Dasar keparat!” jeritnya sekuat tenaga. Untunglah saat itu ia seorang diri di mobil. “Harusnya gue enggak perlu ketemu dia! Buang-buang waktu saja! Ah! Sialan!”
Hari ini, Desi memang pergi menemui ayahnya untuk meminta restu menikah. Tadinya, ibu, kedua abang dan tunangannya ingin mengantar, tapi Desi menolak. Ia ingin menghadapi ayahnya seorang diri. Masih ada banyak hal yang ingin ia sampaikan kepada pria tua itu. Hal-hal yang tidak mungkin ia sampaikan di hadapan orang lain. Walau dengan berat hati, akhirnya mereka mengizinkannya pergi seorang diri.
Desi sudah merencanakannya dengan matang. Ia akan datang, mengetuk pintu kemudian meminta restu dan pulang. Itu saja. Tapi ia juga sudah bersiap. Jika ayah mengamuk, maka ia akan melawan. Tidak akan ada lagi Desi yang diam ketakutan.
Dan benar saja dugaannya. Pembicaraan sore itu sangat alot.
“Masih ingat punya ayah kamu?” tanya pria berusia enam puluh tahun itu dengan ketus. Keduanya sudah duduk di ruang tamu yang sangat mewah, saling berhadapan.
Desi tersenyum kaku. “Aku justru kaget Ayah masih ingat sama aku.”
Aziz tidak menjawab. Ia menatap putrinya dengan tajam. “Mana Tira dan Bima?”
“Kerja.”
“Mentang-mentang sudah sukses jadi enggak peduli lagi sama ayah ya?”
“Sama saja kayak Ayah dulu kan?” Desi tahu benar bahwa perkataannya itu hanya akan memicu peperangan. Tapi ia tidak bisa diam. Pria itu harus tahu dosa-dosanya. “Lebih milih kerjaan daripada keluarga sendiri. Tahunya selingkuh di kantor.”
Wajah Aziz memerah. Rahangnya berkedut dan kedua telapak tangannya yang sudah keriput mengepal. Desi menanti sambil menahan napas. Seluruh ototnya menegang, siap untuk menahan segala macam serangan.
“Mau apa kamu ke sini?” tanya Aziz akhirnya. Walau begitu, ia masih mengepalkan kedua tangan.
“Mau minta restu untuk menikah.”
Aziz menaikkan salah satu alis lalu tersenyum miring. “Oh? Menikah juga kamu akhirnya. Selamat deh! Mana calonmu?”
“Sibuk kerja. Aku enggak bakal lama. Cuma mau tanya, Ayah bersedia jadi wali nikahku atau enggak.”
Aziz tertawa mengejek. “Akhirnya kamu mengakui kalau masih butuh Ayah kan?! Dulu kamu sia-siain Ayah, sekarang kamu datang mengemis-ngemis.”
“Oh, enggak.” Desi tersenyum masam. “Aku enggak mengemis. Aku juga enggak sia-siain Ayah. Justru Ayah yang sia-siain aku, Mas Tira, Mas Bima dan ibu. Terutama ibu.”
Aziz membuka mulut, hendak menyahut. Tapi Desi tidak memberinya kesempatan.
“Sudah deh. Itu enggak penting. Intinya, bisa atau enggak? Kalau enggak bisa ya enggak masalah. Masih ada Mas Tira dan Mas Bima yang bisa jadi wali nikahku.”
Aziz melotot. “Jadi begini ya, ajaran ibumu. Berani jawab omongan orang tua. Bertingkah kurang ajar.”
Desi mengibaskan tangannya. “Enggak ada hubungannya, Yah. Aku ke sini cuma mau tanya itu saja. Kok ribet amat.”
“Jangan kurang ajar, Desi!” bentak Aziz. “Aku ini masih ayahmu!”
“Aku tahu.” Desi menyeringai. “Memang sial banget nasibku. Punya ayah, tapi kayak enggak punya ayah.”
“Kurang ajar!”
Aziz bergerak hendak menampar putrinya, tapi tangannya segera dicengkeram oleh Desi yang juga melompat bangkit. Wanita muda itu—hanya beberapa sentimeter lebih tinggi dari Aziz—membalas tatapannya dengan sengit. Rahangnya terkatup rapat dan dadanya naik turun dengan cepat.
“Seharusnya memang aku enggak perlu datang ke sini,” desis Desi penuh kebencian. "Seharusnya aku enggak perlu minta restu Ayah. Buat apa? Toh dari dulu Ayah enggak pernah peduli sama aku dan Mas-masku. Waktu Mas Tira dan Mas Bima nikah juga Ayah enggak datang kan? Boleh dibilang kita hidup tanpa Ayah.”
“Benar-benar keterlaluan!” raung Aziz. Ia berusaha melepaskan diri, tapi Desi masih mencengkeram tangannya kuat-kuat. “Jadi begini ya, ajaran ibumu yang sesat itu!”
Desi mendorong Aziz hingga pria tua itu terhuyung dan ambruk di sofa bagai nangka busuk.
“Jangan berani hina ibu!” bentak Desi. “Jangan bersikap seakan ibu yang salah! Kita semua tahu yang berdosa di sini adalah Ayah!”
Aziz membuka mulut, tapi tiba-tiba seorang wanita bertubuh sintal tergopoh-gopoh masuk ke ruang tamu. Wajahnya yang dirias tebal berkerut cemas.
“Ada apa?” tanyanya dengan suara lembut yang dibuat-buat. “Ada apa, Pa? Desi, kenapa kamu bentak-bentak Papa?”
“Enggak usah ikut campur!” sergah Desi tanpa menoleh. Ia tidak sudi melihat wajah wanita sialan itu.
“Kamu datang ke rumah saya, teriak-teriak dan berlaku enggak sopan.” Wanita itu menghampiri Desi. “Silakan pulang sekarang juga. Jangan bikin onar di sini.”
Desi menepis tangan si wanita yang terulur hendak menyentuhnya. Ia kemudian menuding Aziz dengan mata membara.
“Jangan anggap saya anak kecil yang bisa dibodohi,” desis Desi. “Dari zaman saya masih SD, saya sudah tahu kalau Anda yang selingkuh! Berangkat kerja subuh, pulang subuh, saat weekend pergi entah ke mana. Enggak pernah ada di rumah. Kalau ditelepon marah, ngamuk enggak jelas. Enggak pernah peduli ulang tahun, pendidikan, kesehatan anak-anak dan istri. Enggak pernah kasih nafkah tapi selalu marah kalau makanan yang tersaji bukan daging. HAH! Semua cuma demi jalang ini!”
Akhirnya Desi menoleh dan menatap wanita itu. Ia kemudian tersenyum sinis dan berdecih.
“Anda memaksa ibu menikahi Anda, mengambilnya dengan cara yang tidak terhormat, bersikap kurang ajar sama keluarga besar ibu, seenaknya mengekang ibu sementara Anda main api di luar sana, tidak pernah menyejahterakan ibu dan kami.” Desi terbahak-bahak. “Begitu masih ingin dihormati sebagai ayah? HAH! Asal tahu saja ya, saya ke sini cuma menuruti pesan ibu. Kata ibu, bagaimanapun juga Anda adalah ayah saya. Tapi ternyata begini.”
Desi menggeleng. Dadanya sudah benar-benar sesak sekarang. Sekujur tubuhnya gemetar. Keringat dingin membasahi punggungnya. Tapi ia memaksa tubuhnya untuk tetap berdiri tegap.
“Sudah hampir dua belas tahun tapi Anda masih enggak berubah ya?” kekeh Desi. “Masih gila. Masih menuduh ibu selingkuh padahal buktinya ini ada.” Desi mengedikkan dagunya ke arah si wanita badut yang wajahnya merah padam. “Harusnya Anda sadar! Ibu menggugat cerai karena semua sikap dan perilaku busuk Anda! Semua karena Anda tidak pernah sedikit pun mencintai istri atau anak-anak. Anda tidak pernah peduli! Yang ada di otak kecil Anda itu cuma diri Anda sendiri!”
“CUKUP, DESI!”
“JANGAN KIRA SAYA TAKUT SAMA ANDA!” Desi menerjang maju, mendorong meja tamu dengan kasar dan merenggut kerah kaus Aziz. “ANDA BUKAN SIAPA-SIAPA SAYA LAGI!”
“Halo, Pak! Tolong panggil polisi sekarang!”
Desi menghempaskan tubuh Aziz ke sofa—lagi. Ia berbalik kemudian merebut ponsel si wanita yang kemudian dibantingnya hingga hancur berkeping-keping.
“Enggak perlu pedulikan kami lagi. Kami semua bahagia tanpa Anda. Saya menyesal datang ke sini.”
Setelah berkata begitu, Desi berjalan keluar. Ia langsung masuk ke mobil dan melaju pergi. Beberapa kilometer kemudian barulah air matanya jatuh berderai dan tidak berhenti hingga saat ini.
Ia tahu ia salah. Seharusnya sejak awal ia tidak perlu datang. Seharusnya sejak awal ia memberi pengertian kepada ibunya. Mereka sudah hidup hampir dua belas tahun tanpa pria itu. Bahkan, sebelum ibu menceraikannya pun mereka terbiasa hidup hanya berempat.
Tidak pernah ada sosok ayah di antara Mas Tira, Mas Bima dan Desi.
“Ah, sialan!” umpat Desi lagi.
Langit seakan turut merasakan kekesalan dan kesedihannya. Karena tepat saat itu awan kelabu bergulung-gulung dan terdengar sayup gemuruh.
Desi semakin mempercepat laju mobil. Ia tidak sabar ingin segera pulang dan menonton film bersama ibu sambil menikmati berondong jagung. Memang seharusnya sejak awal ia tidak datang mengunjungi pria sialan itu.
Apa sih yang Desi pikirkan? Toh Mas Tira sudah menyanggupi untuk menjadi wali nikahnya. Toh Mas Dayan—tunangannya—juga tidak menuntut apa-apa. Ia bahkan bersikap sangat pengertian dengan keadaan keluarganya yang “unik.”
Tangis Desi agak mereda saat ia akhirnya memasuki wilayah kota tempat tinggalnya. Jalanan cukup lengang sehingga Desi bisa terus menginjak pedal gas tanpa ragu.
Tetes air hujan pertama jatuh ke kaca mobilnya. Kemudian berangsur-angsur semakin banyak hingga akhirnya hujan turun dengan deras. Desi menyalakan lampu sorot mobil dan wiper. Emosinya sudah jauh lebih stabil seiring dengan bunyi tetes air hujan.
Benar-benar sialan. Seandainya saja dulu Desi ada di sisi ibu, pasti ia akan membantu beliau menolak pinangan lelaki keparat itu.
Desi tahu bahwa ibu dan ayahnya tidak saling mencintai. Pernikahan mereka berdasarkan paksaan. Semua hanya karena obsesi semata.
“Memang dasar enggak punya otak! Enggak punya hati!” umpat Desi lagi, sementara mobilnya memasuki sebuah terowongan kecil.
Tiba-tiba, tampak cahaya yang sangat menyilaukan. Desi terkesiap, mengerjap sambil membunyikan klakson membabi buta—menyangka bahwa itu adalah kendaraan yang melaju dari arah berlawanan. Cahaya itu hilang, digantikan dengan sosok seorang pemuda di ujung terowongan.
Dengan cekatan, Desi membanting setir ke arah kanan. Mobilnya berhasil menghindari sosok itu dan merosok ke semak-semak belukar. Buru-buru ia menginjak pedal rem sekaligus menarik rem tangan. Jantungnya serasa sudah sampai tenggorokan, siap melompat keluar.
Selama sesaat tidak ada yang terjadi. Mobilnya berhasil berhenti sebelum menabrak sesuatu (atau seseorang) ataupun terjun bebas ke jurang atau sungai. Yang terdengar hanya suara hujan, derum mesin mobil dan napas pendek-pendek Desi.
Lalu, jendela mobil diketuk.