Lukisan Kematian

Lukisan Kematian

Adnan Fadhil

0

PROLOG

Sembilan tahun yang lalu ….

Jemarinya yang memegang kuas begitu anggun. Geraknya pada kanvas pun begitu lembut, seperti aliran air. Meski kedua matanya terlihat letih, dia sama sekali tidak merasa lelah. Dalam waktu satu minggu saja, sudah dua lukisan yang berhasil dia buat. Bukan. Dua lukisan itu kini hampir jadi tiga. Tinggal beberapa polesan lagi. Tinggal sedikit lagi, segala hal yang dia harapkan bakal jadi kenyataan. Begitulah yang terus-menerus dia yakini.

Seseorang pernah berkata padanya. Kalau dia melukis wajah orang-orang yang dia benci—orang-orang yang selalu menyakitinya—maka mereka akan menerima ganjarannya. Lalu, air matanya mengalir saat dia teringat lagi akan kenangan buruknya akibat perbuatan mereka.

Dia, cewek berkulit pucat yang tampangnya bak orang sakit, adalah remaja berbakat seni yang bernasib malang. Bakat dan penampilannya yang “mencolok” itu berhasil mengundang remaja-remaja dengki untuk mengusiknya. Ditambah dengan background keluarganya yang rusak tetapi kaya raya, dia ibarat mangsa yang paling cocok.

“Yang kayak gini lo sebut lukisan?! Yang benar aja!” maki cewek berambut kuncir kuda sambil menunjuk lukisan karya si cewek pucat, tepat di depan mata.

Sementara itu, si cewek pucat bersimpuh lemah. Rambutnya dijambak oleh seseorang yang lain; cewek yang matanya selalu menatap sinis. Jambakan itu semakin keras saat kepalanya menunduk, memaksanya mendongak untuk melihat lukisan.

Terdengar tiga kali tepuk tangan kecil. “Yak! Cukup, cukup,” ucap satu cewek lain yang wajahnya oval, bercahaya, dan ada lesung di kedua pipi.

Cewek berlesung pipi itu mendekat, lalu berjongkok di hadapan si cewek pucat. Setelah tiga kali menampar kecil pipi korbannya, tamparan keempat dia lancarkan kuat-kuat. “Hancurin,” perintahnya kemudian.

Bersamaan dengan terkoyaknya lukisan itu, ingatan si cewek pucat kembali. Rampung jugalah lukisannya yang ketiga. Lukisan wajah cewek berlesung pipi yang paling dia benci di dunia, melebihi dua cewek lainnya.

Memori yang barusan merasuk relung hatinya itu bukanlah satu-satunya hal buruk yang dia derita. Selain lukisannya yang sering dihancurkan, badannya disiram air, hingga wajahnya ditampar, dia juga pernah dikurung di ruang lukis. Itu terjadi karena dia terpilih jadi perwakilan SMA Pelita mengikuti lomba lukis. Membuatnya tak bisa mengikuti lomba itu.

Si cewek pucat tersenyum. Dia yakin, setelah meninggalkan ruang lukis ini, semua hal buruk itu akan segera berakhir. Mereka akan menerima ganjarannya.

Dua minggu berlalu. Selama hari-hari itu, satu per satu cewek yang wajahnya dia lukis menghilang secara misterius. Si cewek pucat bersyukur, awalnya. Namun, ada hari-hari yang membuat rasa syukurnya berubah jadi ketakutan yang keterlaluan hebat. Sekujur tubuhnya bergetar saat mendengar satu per satu dari mereka ditemukan tak lagi bernyawa.

Si cewek pucat merasa bersalah. Dia tak pernah menduga hal gila seperti ini yang terjadi. Dia memang pengin mereka menerima ganjarannya, tetapi dia tak pernah mau mereka mati!

Dalam ruang lukis yang remang dan mendadak penuh sesak, si cewek pucat meraung sejadi-jadinya. Sekujur badannya bergemuruh, bergetar tiada henti. Setelah merobek, membanting, dan menginjak-injak tiga lukisannya, dia terduduk kalut. Kedua tangannya meremas rambut kuat-kuat. Dalam kondisi pikiran yang berkecamuk tak keruan, dia tak henti-hentinya berteriak.

“Mereka dikutuk! Mereka benaran dikutuk!”[]

***

NADA

Semua orang pasti tahu kalau nada itu tak dapat terpisahkan dari musik. Namun, dia berbeda. Bagi cewek yang terlahir sebagai Nada, lukisanlah yang tak terpisahkan darinya. Ketertarikan Nada pada lukis-melukis mulai terlihat sejak dia berumur tiga tahun.

Waktu itu, ketika dinding rumahnya sedang dicat, Nada kecil penasaran dengan ember cat tanpa tutup. Dia memasukkan sebagian lengannya ke dalam ember. Lalu tertawa ceria lantaran tangannya berubah jadi biru. Tak sampai di situ, dia juga menempelkan telapak tangan penuh catnya itu pada dinding. Alhasil, hampir sebagian dinding rumahnya penuh akan telapak tangan mungilnya.

Di hari ulang tahun yang kelima, Nada teramat girang karena dapat hadiah satu set perlengkapan lukis dari sang papa. Papanya juga mendaftarkan dia kursus demi meningkatkan skill melukisnya. Itu membuat hari-hari Nada berikutnya selalu diisi dengan melukis, melukis, dan terus melukis.

Nada melukis dari mulai bangun tidur, sepulang sekolah, hingga saat kursus dan sebelum tidur. Saking asyiknya melukis, Nada sampai lupa makan dan berujung demam satu minggu full. Itu terjadi saat dia kelas empat SD.

“Mama bilang juga apa!” Mamanya mendengus saat menyelimuti Nada yang terbaring lemas setelah diberi obat. “Mulai sekarang, kurangin lukis-lukisan nggak jelasmu itu.”

“Mama ini,” ucap papanya yang berdiri di dekat ranjang. “Anaknya sakit malah diomelin.”

“Yang Mama lakukan ini demi kebaikan Nada, Pa.”

Tetapi saat mamanya melihat Nada lagi, dia sudah terlelap.

Dari kejadian itulah minat Nada pada seni tak mendapat dukungan penuh. Papanya memang masih mendukung, atau lebih tepatnya, dia tak mau mengekang putri semata wayangnya. Namun, mamanya cuma mau Nada menjadi dokter seperti dirinya.

Setelah kejadian itu juga waktu melukis Nada selalu dipantau oleh sang mama, membuat waktu melukisnya jauh berkurang. Dia melukis hanya saat kursus di sore hari dan malam setelah belajar. Dan itu berlangsung hingga dia menginjak bangku SMP.

Nada menganggap masa-masa SMP-nya adalah sebuah keberuntungan. Mamanya waktu itu dipercaya sebagai kepala sebuah rumah sakit. Membuatnya tak terlalu sering memantau kegiatan Nada lantaran terlalu sibuk. Begitu pula dengan papanya yang waktu itu sedang ada proyek besar. Seingat Nada, perusahaan jasa ekspedisi papanya sedang gencar merambah ke bidang ekspor-impor.

Nada pun kembali dengan rutinitas melukis yang lebih banyak dari sebelumnya. Tetapi yang dia lakukan itu berimbas pada nilai-nilai sekolahnya yang hanya menyentuh angka 80 sampai 85—nilai yang dianggap mamanya jauh dari kata standar. Sekali lagi Nada harus merelakan waktu melukis yang kembali berkurang hingga dia lulus SMP.

“SMA Pelita?” Nada mengernyit tak percaya.

Kata sahabatnya, sekolah itu terkenal dengan peraturan yang superketat. Takkan sanggup bagi Nada untuk bertahan tiga tahun di tempat menakutkan itu.

“Tapi, Ma ….” Nada mengubah air mukanya jadi memelas. Cara itu selalu ampuh untuk membuat iba orang tuanya—terutama Papa. Namun, tidak untuk kali ini.

“Nggak ada tapi-tapian.” Mamanya bersikeras. “Lihat tuh papamu. Kuliah seni nggak lulus-lulus, akhirnya banting setir buka usaha. Karena papamu tau, jadi pelukis itu penghasilannya belum tentu jelas.”

Perkataan sang mama memang benar, papanya tahu betul. Namun, tetap saja kata-kata itu menusuk sampai ke relung hatinya paling dalam. “Jangan diungkit lagi dong, Ma ….”

Mama Nada menyilang lengan, tak peduli. Sementara Nada diam saja.

“Kamu nggak ingat?” Mamanya melanjutkan, kurang puas melihat Nada yang cuma diam. “Nilai-nilaimu di SMP anjlok semua gara-gara hobi nggak jelasmu itu.”

“Papa ….” Wajah memelas itu beralih pada sang papa.

Sang papa berdeham. “Sayang,” katanya penuh ketegasan. “Ini demi kebaikan kamu. Kalau nilaimu jelek lagi kayak di SMP, nanti kamu sendiri yang susah.”

Nada memonyongkan bibir. Nafsu makannya mendadak hilang detik itu juga. Setelah membuang muka dari orang tuanya, dia pun bangkit dan menuju kamar.

“Ingat, ya, Sayang.” Suara mamanya ditinggikan agar terdengar oleh Nada. “Nggak ada lukis-lukisan sebelum nilai kamu bagus lagi!”

“Mama.” Papanya mengeluh pelan. “Jangan terlalu keras ke dia.”

“Papa tuh yang terlalu lembek.”

Sang papa tak bisa protes. Dia pun melanjutkan makan malamnya.

Di kamar, Nada telungkup di atas ranjang sambil memandang lukisan yang belum rampung. Dia bertanya lagi tentang keputusan mamanya yang cuma mau dia jadi dokter. Apa sih bagusnya dokter itu? Apa salahnya sih kalau pengin jadi pelukis? Dia menghela napas kesal lantaran jawaban dari dua pertanyaan itu tak kunjung ketemu.

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.

“Nada,” papanya memanggil lembut. “Boleh Papa masuk?”

Nada tak segera menjawab. Meski sebal dengan mamanya, dia lebih sebal lagi dengan papanya yang enggan membelanya seperti biasa.

“Nada Eka Zevanya!”

Papanya memanggil lagi. Tetapi kali ini—dari tipe panggilan itu—Nada tahu dia tak bisa abai lagi. Lagian, meski keras kepala, dia memang tak berniat bertengkar dengan orang tuanya lama-lama. Nada pun membuka pintu kamar lalu kembali melempar tubuh ke ranjang.

Sang papa duduk di ujung ranjang, seketika kagum dengan lukisan-lukisan Nada yang mengelilingi dinding. Dia lalu melihat putrinya yang tampak gundah itu sebelum sengaja berdeham.

“Di sekolah itu ada pelukis hebat—teman satu kost Papa pas jaman kuliah dulu.” Papanya memulai pembicaran. “Dia ngajar seni sekaligus pembimbing ekskul lukis. Papa yakin kamu bisa belajar banyak dari dia lebih dari yang ada di tempat kursus.”

Seketika Nada duduk dengan mata berbinar. “Benaran, Pa?” Dia terdengar antusias.

Papanya mengiakan seraya tersenyum. “Nanti Papa hubungi dia, ya.” Pria itu mengelus lembut rambut putri kesayangannya. “Kamu mau, kan, masuk ke sana?”

Nada mengangguk semringah. Hilang jugalah kegundahan di hatinya malam itu. Sedikit.

***

Hari pertama sekolah tiba. Dengan setengah bersemangat Nada melangkahkan kaki, melewati gerbang menuju gedung megah bernuansa jingga. Ramai di situ. Siswa-siswi berwarna seragam sama dengan gedung sekolah berlalu-lalang di sekelilingnya. Nada tak pernah suka dengan situasi macam itu. Keramaian baginya adalah musuh penghilang konsentrasi. Dia pun mengambil earphone nirkabel dari saku rok, kemudian menyumpal kedua telinga tanpa memutar lagu apa-apa.

Nada memang suka begitu. Saat berada di tempat yang membuatnya tak nyaman—rata-rata semua tempat membuatnya begitu, kecuali kamarnya sendiri—dia pasti menyumpal telinganya dengan earphone yang sebenarnya tak menyalakan lagu apa-apa. Dia cuma tak pengin diganggu, itu saja, dan memakai benda itu di kedua telinga ternyata sukses membuatnya terhindar dari atensi berlebihan.

Akan tetapi, pura-pura memakai earphone itu bukan hal yang melulu dia lakukan. Ada kalanya dia pengin merilekskan pikiran dengan mendengar lagu-lagu The Strokes yang, bisa dibilang, jarang didengar anak-anak zaman sekarang. Tetapi, lagi-lagi, Nada tak peduli dengan apa selera orang.

Sedikit cerita bagaimana Nada yang masih berumur lima belas tahun—sebentar lagi enam belas—bisa suka dengan lagu-lagu The Strokes, band yang booming-nya di awal 2000-an.

Waktu itu Nada masih kelas empat SD. Saat lagi kurang bersemangat melukis, dia masuk ke ruangan tempat papanya menyimpan barang-barang koleksi. Niat Nada memang cuma iseng—sambil berharap bisa dapat semangat dan inspirasi (sebenarnya itu tujuan utamanya). Setelah tak sengaja melihat koleksi CD album di kotak yang berlabel indie/garage rock revival papanya, dia bukan hanya dapat inspirasi, melainkan juga satu band favorit.

Saat itu Nada belum terlalu paham arti dari lirik lagu-lagunya The Strokes. But, ayolah, musik itu bahasa universal, tak perlu tahu arti liriknya buat bisa menikmati sebuah lagu, bukan?

Sudah jadi kebiasaan Nada, sejak SMP, untuk berkunjung ke toilet ketika sampai di sekolah. Yang dia lakukan di sana hanyalah mencuci tangan sambil memandang cermin; biasanya sekitar satu menit. Menurutnya, kegiatan yang sebenarnya tak penting itu bisa membantunya fokus dan mengurangi rasa cemas berlebih.

Dari pantulan cermin di hadapan Nada, terlihat cewek berwajah oval. Rambutnya panjang, lurus dan hitam; ada jepitan rambut kecil di sisi kirinya. Badannya mungil dan ramping, agak pendek kalau dibandingkan cewek seusianya. Kalau diperhatikan, tampang Nada itu berkesan jutek dengan binar mata yang tajam, memancarkan kreativitas.

Baru saja Nada menutup keran air, samar-samar terdengar suara yang merintih. Tak percaya dengan pendengarannya, Nada melepas earphone di kedua telinga setelah mengelap tangan yang basah dengan tisu. Dan suara itu memang benar ada. Dari arahnya, dia yakin kalau suara mencurigakan plus menakutkan itu berasal dari bilik toilet paling ujung.

Awalnya Nada tak peduli dan memutuskan buat meninggalkan toilet. Tetapi rintihan itu semakin jelas dia dengar di setiap langkah kakinya. Rasa penasaran pun menyelinap masuk ke otaknya. Setelah memastikan tak ada seorang pun di situ—tak ada yang tahu alasannya begitu—dia bergerak pelan ke arah sumber suara.

Sekelabat tubuhnya menegang. Nada teramat kaget lantaran pundak kanannya disentuh. Dia berpaling cepat. Tampak olehnya cewek bermata bulat yang menyengir riang.

Dia Wina, teman dekat Nada sejak kelas satu SMP. Meski cewek, perawakan Wina cukup atletis dan ramping—thanks to hobinya main basket, dengan ambut cokelat alami yang dipotong setengah leher.

Sampai sekarang pun Nada tak percaya kalau cewek ceria tetapi menyebalkan itu juga sekolah di sini. Nada menghela napas kesal, sebelum akhirnya tersenyum kecil. Sementara itu, Wina tak bisa menahan gelaknya.

“Lo imut juga ya pas lagi kaget,” goda Wina.

“Wina Agustina! Lo bener-bener, ya.” Nada mendorong kecil bahu temannya itu. “Eh, tapi kok lo bisa tau gue di sini?”

“Bukan Nada namanya kalau nggak ke toilet sebelum kelas mulai.” Dia merangkul pundak Nada. “Yuk, masuk. Bentar lagi bel bunyi, nih.”

Sambil berlalu Nada berkata, “Gue masih heran, deh. Bisa-bisanya lo buntutin gue sampai ke sini. Padahal, kan, lo yang bilang kalau sekolah ini supergila aturannya.”

Tetapi Wina malah cengengesan mendengar keluh kesah Nada sambil merangkulnya lebih erat dan gemas.

Sekitar satu menit setelah Nada dan Wina meninggalkan toilet, pintu bilik paling ujung perlahan terbuka. Dari dalam, muncul cewek dengan kondisi yang begitu menyedihkan. Tampangnya terlihat kacau, ada bekas lebam kemerahan di pipinya. Sudut kanan-bawah bibirnya juga tampak lebam, samar-samar menutupi tahi lalatnya.

Rambut hitam cewek malang itu berantakan, kusut, dan basah. Bekas-bekas air juga menyelimuti sebagian kemejanya. Dia menatap dalam-dalam cermin di depan sambil sebelah tangannya terus mengepal erat. Lihat aja, batinnya, gue bakal buat kalian menyesal![]