
Bukan tanpa alasan desa itu di jaga ketat melainkan itu karena adanya seorang yang di anggap berharga di sana sedang di sekap, orang itu adalah Amanda MacPhail. Wanita yang di sekap selama tiga belas tahun, bisa di katakan wanita itu di terkurung sejak dia berumur tujuh tahun.
Flash Back On.
Darah seorang pria mengalir deras dari kepala yang di tembak dengan pistol, ruangan yang semulanya rapi, bersih, kini menjadi tempat pertumpahan darah. Bau amis menyengat, dan dinding di penuhi percikan darah. Terlihat bahwa pria itu terkulai lemas sambil melihat istrinya yang sedang di ancam, karena tidak juga kunjung menjawab pertanyaan dari salah satu kaki tangan dari pemimpin mereka.
"Katakan di mana letak tanaman bunga Letuz itu ?!!" desak kaki tangan tersebut sambil menodongkan pisau tajam di bagian leher wanita itu.
Bunga Letuz adalah bunga yang di cari-cari oleh pemimpin mereka karena dia sangat butuh bunga itu untuk menyembuhkan istrinya yang sedang sekarat.
Tidak ada jawaban dari wanita yang di berikan pertanyaan membuat kaki tangan tersebut meminta pendapat kepada pemimpin mereka, kaki tangan itu melirik ke arah pemimpin sebagai kode dan orang yang di lirik hanya mengangguk.
"Sreet...!" suara sayatan.
Pada akhirnya wanita itu pun mati dengan mengenaskan sedangkan suaminya yang melihat itu di depan mata kepalanya sendiri hanya terdiam kaku, syok berat. Belum sempat merespon keadaan apa yang terjadi dia juga di bunuh, kini hanya tinggal seorang anak kecil berjenis kelamin perempuan yang sedari tadi hanya menangis tanpa berteriak karena mulutnya di sekap.
Saat salah satu kaki tangan itu ingin membunuh gadis kecil tersebut dengan pistol, langkahnya terhenti ketika suara anak dari majikannya.
"Jangan bunuh dia, itu urusan ku !" tegas anak laki - laki tersebut.
Ayahnya hanya diam saja tanpa ingin menolak atau pun bertanya kepada anaknya mengapa dia melakukan itu, saat ini Ayahnya sedang prustasi jadi dia tidak ambil pusing. Dia bersama kaki tangannya pergi meninggalkan tempat itu, sedangkan anak laki - laki itu memerintahkan kepada kaki tangan pribadinya untuk membawa wanita itu pergi bersama dengannya.
Flas Back Of.
Wanita itu yang bernama Amanda sedang tertidur pulas dengan posisi duduk sambil tangannya di ikat ke atas dan matanya di tutupi sebuah kain. Wanita itu tidak pernah tahu dia saat ini berada di mana, bagaimana rupa wajahnya ?. Dan itu semua karena kain yang menutupi matanya tidak pernah sekalipun di lepas, sangat menyedihkan.
Bahkan pria gagah perkasa dan dengan wajah terpahat tampan berdiri di hadapannya pun dia tidak bisa melihatnya, pria itu menatap wajah wanita yang sedang terlelap tidur meskipun dengan posisi tidak nyaman. Wanita itu memiliki bulu mata lentik yang panjang serta bibir yang tipis merah alami, semua yang ada pada wanita itu tampak sederhana dan alami.
Pria itu perlahan - lahan mendekatinya dan kemudian berjongkok agar posisi mereka sejajar. Dia membuka ikatan yang ada di tangannya itu pelan - pelan lalu membuka penutup matanya, kemudian wanita itu di gendong ala bridal style menuju ke sebelah ruangan yang terdapat kasur. Mereka pun tidur bersama, itu bukan untuk pertama kalinya. Setiap pria itu mengunjungi wanita tersebut pasti pria itu diam-diam menyuruh maid untuk memasukkan obat di dalam minumannya, setelah memastikan wanita tersebut dalam pengaruh obat barulah pria itu membawanya untuk tidur bersama.
Aroma khas wangi bunga yasmin dari tubuh wanita tersebut membuat pria itu dengan nyenyak ikut tertidur pulas, tapi sayangnya kali ini pria itu lengah karena sebenarnya wanita tersebut hanya meminum sedikit air yang telah di campurkan dengan obat tidur. Ya saat maid itu memberikan air minum, wanita tersebut dengan sengaja meminta tambahan satu gelas air lagi. Tanpa curiga maid itu langsung menuruti permintaannya, saat itu lah wanita itu memuntahkan minumannya setelah yakin bahwa maid itu telah pergi dan dia pun meminum minuman gelas ke dua.
Wanita itu secara perlahan beranjak dari tempat tidur dan menatap pria yang sedang tertidur pulas dengan tatapan penuh kebencian, setelah puas dia pun pergi dari ruangan tersebut. Dia pun mengendap - endap menyusuri bangunan tersebut dan terlihat bodyguard menjaga di depan pintu keluar, karena tidak menemukan ide untuk mengalihkan perhatian bodyguard itu akhirnya dia hanya diam di balik dinding dan berharap bodyguard tersebut tertidur pulas atau setidaknya pergi sejenak.
Satu jam wanita itu menunggu akhirnya para bodyguard tersebut pergi juga tapi sayangnya para bodyguard lain mengantikan posisi tersebut. Wanita itu hanya menelan kekecewaan, tapi dia tidak menyerah. Perlahan dia sengaja melemparkan vas bunga yang ada di sampingnya ke arah kanan untuk mengalihkan perhatian. Dan benar saja saat para bodyguard tersebut mendengar suara pecahan membuat mereka dengan gerak cepat memeriksa asal dari sumber suara tersebut, itulah kesempatan yang di gunakan oleh wanita tersebut untuk kabur.
Dengan nafas terengah - engah wanita itu berlari tanpa henti, lari tanpa tahu kemana langkah kakinya akan membawanya. Suasana hutan yang sangat gelap, dan kaki tanpa alas benar - benar adalah bukti perjuangan untuk kabur. Karena kelelahan wanita itu pun berhenti sejenak, dia tidak tahu dirinya berada di mana yang jelas bagaimana pun dia harus menjauh dari tempat itu. Jam sudah menunjukkan pukul empat dini hari, akhirnya perjuangan nya tidak sia - sia. Kini dia menemukan jalanan, dia pun tersenyum lebar dan seketika menjadi bersemangat. Kaki yang penuh luka gores tidak membuat dia lelah dan menyerah untuk pergi jauh dari hutan tersebut. Beberapa menit menyusuri jalan dia melihat ada sebuah mobil yang berhenti di tengah jalan namun sepertinya pemiliknya tidak ada atau mungkin pergi sebentar, tanpa pikir panjang dia pun membuka garasi belakang mobil tanpa tahu siapa pemiliknya.
Terlihat bahwa seorang pria sedang mendekati mobil tersebut mungkin dia adalah pemilik dari mobil itu, tapi langkahnya terhenti ketika ada dua pria gagah berani berusia sekitar dua puluh delapan tahun mencegah langkah pria tersebut. Mereka terlibat perbincangan yang sangat serius tapi sayangnya wanita itu tidak bisa mendengarnya.
"Maaf Tuan Richard Deverell, tempat ini seharusnya tidak boleh Anda masuki tanpa izin !" tegas salah satu kaki tangan tersebut bernama Egy.
"Damn it, padahal mereka hanya bodyguard saja tapi aku harus menuruti perkataan mereka ?!!".
"Jika tidak di tantang oleh Eger, aku tidak akan membuang - buang waktu untuk datang ke tempat yang tidak menarik sama sekali !" umpatnya dalam hati.
Tanpa menjawab pria itu langsung pergi dari sana, meninggalkan bodyguard yang masih menatapnya dengan tatapan tajam dan itu terlihat ketika pria tersebut melihat ke arah kaca spion mobil.