
Sebuah dengkuran halus mengisi pendengaran Nara, disusul dengan pijatan-pijatan lembut di bahunya. Gadis itu menarik bibir sedikit, lantas mengerang. Enak sekali rasanya tekanan-tekanan halus itu mendarat di bahu dan punggungnya yang tegang akibat bekerja.
Masih setengah tertidur, kini Nara merasakan jilatan di telinga, pipi, dan matanya. Disusul kecupan di bibirnya. Lenguhan tercipta di bibir Nara, merasakan benda dingin nan lembut itu mendarat berkali-kali di bibir dan hidungnya, disusul benda basah hangat yang membelai rahangnya.
“Engh, apa sih, Ga? Aku masih ngantuk,” erangnya malas.
Matanya memterbuka sebelah, melirik jam di atas nakas. Masih pukul lima pagi. Dia masih butuh lima menit lagi untuk mengembalikan energi setelah kemarin lembur sampai jam sembilan malam.
Proses akreditasi memang menyebalkan. Setelah selesai dengan briefing seputar persiapan proses akreditasi paripurna, baru jam lima sore Nara berkutat dengan pasien di bangsal rawat inap yang semakin membludak.
Setelah itu dia masih harus membuat laporan perkembangan pasien. Pukul tujuh tiga puluh malam seharusnya dia sudah selesai, tapi hujan deras memaksanya tinggal lebih lama di RS karena tak satu pun ojol mau mengambil pesanannya. Kan, sebel.
Pijatan di bahu Nara berhenti, diganti dengan gigitan-gigitan kecil di cuping telinganya. Memaksa Nara mengerang lagi., “Nanti dong, Ga..., aku masih ngan—aww!”
Nara membuka mata nyalang. Gigitan Myoga di telinganya keras sekali. Perih, euy! Dengan sigap Nara meraba cuping telinganya, memastikan tidak ada luka di sana.
Bibirnya mencebik dan keningnya berkerut. Mata setengah mengantuknya sudah hilang, diganti pandangan tajam ke arah Myoga. Yang dipandang hanya memberi tatapan innocent, dengan pupil besar yang berkaca-kaca. Nara menghela napas. Bagaimana dia bisa marah kalau Myoga menggemaskan begini?
“Meoongg.”
Seakan-akan tahu majikannya sedang bad mood, Myoga mengeong manis. Nara memekik tertahan, lantas menyambar si bola bulu besar di hadapannya. Menguwel-nguwel Myoga gemas sampai kucing itu mengeong lagi.
“Gitu, ya. Sekarang mainnya gigit-gigitan, ya. Ha? Ha?”
Digaruknya dagu Myoga yang lembut dan berlemak, membuat si gumpalan bulu hitam itu mendengkur kesenangan.
“Dyannara, cepat bangun! Salat, sudah azan, tuh.” Panggilan Mama dari luar kamar membuatnya berhenti bergumul dengan Myoga.
“Nanti, Maaa. Sepuluh menit lagi!”
“Dyannara Avicena! Bangun sekarang, atau Mama dobrak ya pintunya.”
Astaga, Kanjeng Mama. Ancamannya enggak asyik banget main dobrak aja. Memangnya tenaganya beliau sekuat apa? Nara membatin.
Namun, tak urung ancaman itu membuat Nara turun dari tempat tidur dan menyambar handuk. Lebih pada menghindari teriakan dan omelan ibunya dibanding kemungkinan pintu kamarnya didobrak paksa.
Myoga dengan gembira menggantikan posisi Nara di tempat tidur, menyandarkan tubuh gempalnya dengan dengkuran puas di atas bantal. Life is amazing for a cat.
Selesai salat dan lantas membersihkan kandang Myoga, serta mengisi mangkuk makannya, Nara mandi dan bersiap-siap. Ibunya sedang mengatur meja makan saat dia keluar dari kamar.
Semangkuk besar mie goreng tersedia di atas meja, lengkap dengan telur dadar dan acar ketimun. Nara sedang mengisi kotak bekalnya saat sebuah jitakan mampir di kepalanya.
“Heh, ini kepala ini ya, Bang! Dibayar fitrahnya tiap tahun. Enak aja main jitak,” sembur Nara.
Alfarezi, abang satu-satunya yang Nara punya, berjalan dengan santai dan menarik kursi untuknya sendiri. Pakaian kerjanya sudah rapi dan ranselnya diletakkan di lantai. Dia memang lebih suka memakai ransel untuk bekerja. Praktis.
“Pelan aja pun. Baper amat,” sahut Alfa sambil cengengesan.
Nara mengacungkan garpu dengan gerakan menusuk, membuat tawa Alfa menyembur. Abangnya ini memang absurd enggak ketulungan. Usianya sudah menyentuh angka rawan—dua puluh sembilan—tapi masih betah saja jadi jomlo.
Katanya, dia bakal nikah kalau gebetannya, Maudy Ayunda, sudah nikah duluan. Ngaco kelas berat memang. Lha sekarang Maudy sudah bersuami oppa Korea, belum juga ada yang nyantol jadi pasangan Alfa.
Nara ingin sekali memasukkan Alfa ke mesin MRI, men-scan otaknya. Siapa tahu, ada syarafnya yang putus. Abangnya ini sungguh tak tertolong.
Pagi Nara memang biasanya seperti ini. Tidak bisa terlalu damai kalau Alfa sedang ada di rumah. Selalu ada sela bagi Alfa untuk menjailinya.
Sebenarnya sih, Nara tidak keberatan. Mengingat Alfa jarang bisa ada di rumah dan berkumpul bersama mereka. Profesinya sebagai karyawan bagian EHS membuatnya sering keluar kota, mengunjungi pabrik-pabrik milik perusahaan tempatnya bekerja. Dalam sepekan bisa dibilang hanya dua sampai tiga hari dia ada di Pekanbaru.
“Jangan ngambek segala. Enggak pantes, Dek. Malu sama umur,” ujar Alfa lagi sambil menyendok mi ke piringnya.
Nara sudah nyaris mendelik, tapi urung saat ayah dan ibunya bergabung di meja makan. Mereka menyantap sarapan dengan tenang, saat sebuah suara beruluk salam di depan pintu.
“Masuk, Ijul. Makan sini!” Alfa yang bangkit dari kursi dan melambai pada sang tamu.
Julian, teman kental Alfa yang kini sedang berdiri di ambang pintu, tersenyum kikuk. Sadar bahwa dia datang di saat yang tidak tepat. Kelihatannya seperti niat banget mau numpang sarapan, Julian meringis dalam hati.
Tapi melihat Alfa masih melambai-lambaikan tangan tanpa henti, Julian tak mengurungkan langkah kakinya mendekat ke meja makan. Nara melirik sekilas, lalu cepat-cepat menghabiskan mie di piringnya.
Setelah selesai makan kemudian mereguk secangkir teh hijau, dia cepat-cepat bangkit dari kursi dan membawa piring beserta cangkir kotornya ke bak cuci.
Tepat waktu, karena saat itu Julian sedang meliriknya sekilas setelah menyendok makanannya. Nara tidak suka berdekatan dengan Julian dalam waktu lama, tak baik untuk kesehatan jantung dan otaknya.
Padahal laki-laki itu sudah sering ke rumah ini, sejak SMA malah. Karena Julian dan Alfa memang teman satu almamater saat SMA.
“Dek, sekalian nih punyaku.” Alfa mengangsurkan piringnya yang sudah kosong ke tangan Nara. Dengan patuh dan tanpa perlawanan Nara mengambilnya. “Lanjut aja makannya, Jul. Enggak usah sungkan lah,” sambung Alfa pada Julian yang duduk di depannya.
Julian membalas dengan senyum tipis, “Thanks.”
“Gimana kabar toko, Yan?” tanya Pak Hidayat, ayah Nara.
“Alhamdulillah lancar, Om. Enggak ada masalah berarti,” jawab Julian sopan.
“Katanya, supplier kamu yang dari Cilegon itu mangkir kirim barang, ya?” tanya ayah Nara lagi.
“Ya sih, Om. Tapi enggak masalah. Saya sudah dapat supplier baru. Dengan mereka masih ada kontrak, tapi tinggal sedikit lagi dan kayaknya enggak akan diperpanjang. Mereka juga mau bayar penaltinya.”
“Oh, baguslah kalau lancar.”
“Lala sehat, Yan?” Kali ini ibu Nara yang bertanya tentang anak semata wayang Julian. Wajah Julian langsung berbinar ketika mendengar nama anak itu. Kentara sekali dia rindu.
“Sehat, Tan. Tadi subuh barusan video call. Hari ini mau kunjungan ke kantor Damkar, katanya sama teman-teman sekolahnya. Senang banget dia.”
Nara mendengarkan percakapan di meja makan sambil mencuci peralatan masak yang kotor. Sambil menggosok wajan, dia menyimak obrolan. Tentang pekerjaan Alfa, tentang toko sparepart mobil milik Julian, dan juga tentang aktivitas ayahnya yang berkutat sekitar berkebun dan memancing setelah beliau pensiun.
Setelah menghabiskan dua puluh menit untuk mencuci piring dan segala peralatan masak yang kotor di dapur, Nara kembali ke kamarnya untuk memakai seragam dan juga sedikit merias wajah.
Walau dia bekerja di RS dan ruang Rehab Medik berada di lantai lower ground, tapi tampil cantik itu perlu. Sesudah selesai dengan penampilannya dan memasukkan Myoga ke kandang (bibi yang membantu ibunya bersih-bersih rumah akan datang tiga puluh menit lagi, dan dia takut pada Myoga), Nara melangkah ke ruang tamu.
Niatnya, akan menodong Alfa agar mengantarnya ke RS. Lumayan kan, hemat ongkos ojol. Biarpun Nara punya motor sendiri, tapi orang tuanya bersikeras melarangnya ke mana-mana naik motor.
Gara-garanya, dua tahun lalu Nara pernah kecelakaan dan cukup lama dirawat di RS. Jadilah dia tergantung pada ojol dan sebangsanya, atau pada jemputan Alfa kalau abangnya itu tak sedang ke pabrik.
“Bang, ayo an—” Kalimat Nara terhenti, demi melihat siapa teman ngobrol Alfa di sana. Keduanya sekarang sedang menoleh pada Nara, membuatnya mendadak kehilangan suara.
“Napa, Dek? Mau diantar sekarang?” tanya Alfa.
“Eh. Eh, iya.” Lantas sekarang Nara jadi gagap mendadak.
“Sama Mas aja. Alfa telat ngantor kalo nganterin kamu dulu,” Julian menyahut. “Enggak apa-apa kan, Bro?” alihnya pada Alfa.
“Silahkan, Masbro. Lumayan kan, aku hemat bensin,” jawab Alfa dengan wajah berbinar bahagia. Bukan apa-apa, tapi RS tempat Nara bekerja jauhnya dua puluh kilometer. Ditambah macet-macetan, SUV-nya bakal menenggak banyak sekali Pertamax.
Tawaran Julian adalah berkah bagi Alfa. Ingatkan dia untuk mentraktir kawannya itu, ya. Minimal gorengan lah.
Alfa menaik-naikkan alis pada Nara sambil cengengesan, sementara Nara memelotot balik pada abangnya. Enak saja ya si Alfamaret ini melepaskan adik satu-satunya ke tangan orang lain.
“Ntar, turunkan dia di pintu belakang aja, Jul. Lebih dekat dengan lift ke ruangan dia, tuh. Kalo di lobi jauh,” ucap Alfa, acuh pada mata Nara yang sudah mendelik-delik seperti penari Bali.
Julian mengangkat jempol lalu menepuk bahu Alfa, berpamitan. Lelaki itu lantas menuju teras, menyalami orang tua Nara yang sedang duduk santai.
“Ayo, Ra. Nanti telat,” ajak lelaki dua puluh sembilan tahun itu sambil tersenyum sekilas saat sampai di hadapan Nara. Sementara yang diajak ngomong masih bengong.
“Nara, woy. Buruan itu!” seru Alfa gemas.
“Eh? Oh, oh. Iya,” jawab Nara.
Alfa meraih pundak Nara saat gadis itu akan melangkah masuk ke mobil Julian. “Dek, ada enggak terapi untuk gagap?”
“Hah? Ada lah. Kenapa?” tanya Nara bingung.
“Kayaknya, kamu perlu diterapi juga.” Alfa memasang wajah mengejek yang kentara.
Alfa syialan!