
Baru seminggu berlalu sejak Retno melahirkan anak perempuan pertamanya, tetapi langsung dirundung masalah.
Warga yang mengetahui kelahiran anaknya, saat ini sedang berkumpul di depan rumah majikannya dengan amarah yang memuncak.
Retno hanya bisa bersembunyi dengan ketakutan di kamarnya. Dia tidak tahu apa-apa, harusnya ini tidak pernah terjadi. Sangat disayangkan, orang yang seharusnya melindungi dirinya di rumah itu malah menyeretnya keluar dengan kasar.
"Ini Retno-nya, Pak. Jujur, saya tidak tahu kalau selama ini dia hamil. Kalau saya tahu, sudah saya usir dari dulu!" kata Aruni—majikan Retno, dengan geram seraya mendorong Retno untuk lebih dekat dengan warga.
Warga langsung menatap Retno dengan jijik. Perempuan yang belum menikah ini, tetapi sudah melahirkan seorang anak. Statusnya di rumah besar itu pun hanya seorang pembantu, tetapi sudah membuat onar dengan menciptakan aib bagi desa.
"Kami terpaksa harus mengusir Retno dari kampung ini. Warga tidak sudi menampung aib sebesar ini. Tolong siapkan barang-barangnya!" tegas Pak Marsudi, kepala lingkungan di daerah itu.
"Betul, siapa yang mau bertetangga sama perempuan nggak bener!" teriak salah satu ibu-ibu yang ada di sana.
"Lebih baik diusir biar kampung kita nggak ketiban sialnya, Pak!" sahut ibu lainnya dengan keras. Mendengar itu, Retno hanya bisa menunduk dengan tangisan diamnya.
Aruni masuk ke rumah dan keluar dengan waktu yang singkat. Dia membawa satu tas besar berwarna merah berisi barang-barang milik Retno dan melemparkannya ke kaki Retno.
"Pergi kamu, Retno! Buat malu keluarga saya saja! Nggak nyangka kalau kamu perempuan nggak bener!" kata Aruni dengan ketus. Retno hanya bisa menarik napas dalam, ia menatap tas di depannya dengan perasaan sakit.
'Harusnya saya nggak mendapatkan ini. Tapi, Bu Aruni pasti marah kalau saya membuka mulut!' batinnya dengan sedih.
"Ayo, Pak, lebih baik diusir sekarang!" suruh Ibu yang ada di sana.
"Betul! Mau nunggu apalagi? Kalau kelamaan, dia bakalan melahirkan anak kedua, ketiga, bahkan kelimanya!" sahut Ibu lainnya dengan keras.
Karena kembali mendengar teriakan itu, Retno semakin menangis. Mereka menghakiminya, bahkan tidak tahu kebenarannya seperti apa. Sekadar bertanya saja tidak dan itu sangat menyakiti perasaan Retno. Dia dianggap sebagai perempuan yang dipenuhi aib.
Seharusnya mereka bisa membincangkan ini sebelum massa datang. Saat itu, mungkin Retno bisa menjelaskan keadaan yang sesungguhnya tanpa takut terintimidasi. Dia juga memiliki harapan kuat kalau suami Aruni pasti mempertahankannya di sini.
"Sudah, bawa saja, Pak. Saya tidak akan ikut campur!" kata Aruni dengan pelan. Dia bahkan sudah memberikan tatapan jijik pada Retno. Wajah sombong dan tangan yang bersedekap di dada, Aruni menatap Retno dengan sinis dan menilai.
"Anaknya di mana, Aruni? Harus dibawa juga, dong!" teriak Ibu berambut keriting.
Aruni menatap dengan gugup, kemudian beralih pada Retno yang juga menatapnya dengan memohon. "Anaknya sudah diberikan ke orang lain. Dia nggak bawa anaknya setelah keluar dari rumah sakit. Jadi, ibu-ibu bawa Retno sekarang saja!" jelasnya dengan kembali mengompori.
Mendengar itu, ibu-ibu yang ada di sana saling bertatapan. Tidak lama, mereka langsung membawa Retno dengan kasar. Mereka terus mengomel sepanjang jalan. Ada yang menghina Retno sebagai perempuan murahan, mencaci-maki keadaannya, adapun yang menyuruh Retno untuk mati saja.
Dengan seretan kasar warga, Retno tidak kuasa menahan tangis dan sakit hati di dadanya. Dia bahkan tidak sempat berbalik badan untuk menatap kedua majikannya. Setidaknya, majikannya merasa iba untuk memberikan kesaksian yang sebenarnya terjadi. Sehingga, Retno tidak akan mendapat perlakuan seperti ini.
Setelah Retno hilang dari pandangan, Aruni tersenyum licik seraya menatap pagar hitam menjulang tinggi rumahnya.
"Akhirnya kita punya anak juga, Mas!" Aruni berkata pada Baskoro—suaminya, dengan tersenyum senang. Dia memeluk lengan Baskoro dengan manja dan menatapnya dengan semringah.
"Nggak sia-sia ideku untuk numpang benih di rahim Retno. Kita nggak bakalan kesepian lagi, Mas. Kamu punya anak samaku, jadi kita nggak akan cerai karena masalah keturunan. Aku bahagia, akhirnya Retno pergi setelah melahirkan anak kita!" Aruni kembali tersenyum licik.
Menyewa rahim untuk melahirkan seorang anak, juga setelah lahir dia akan mengusir pemilik rahim itu. Pengusiran itu pun Aruni lakukan dengan memfitnah Retno agar masalahnya cepat selesai.
Aruni tahu kalau Retno tidak akan bersedia meninggalkan anaknya di rumah itu dan pergi sebagai istri siri Baskoro. Dengan fitnahan ini, Aruni berpikir kalau Retno tidak akan membuka mulutnya mengenai perjanjian mereka. Retno tahu betul kalau pernikahan sirinya terjadi dengan perjanjian untuk melahirkan anak untuk Aruni dan Baskoro. Setelah perjanjian selesai, Retno harus pergi. Dia bisa mendapatkan uang yang banyak untuk menghilang dari rumah itu. Sayangnya, Retno malah tidak bisa melepaskan anaknya untuk mereka. Bagaimanapun juga, anak itu adalah darah dagingnya. Tetapi, Retno tidak bisa berbuat banyak. Sekali saja dia mengatakan kejujuran itu di depan Aruni, Retno pasti tidak akan selamat. Itu ancaman yang kerap Retno dapatkan ketika berani melawan Aruni.
Baskoro terdiam, dia bahkan menatap istrinya dengan datar dan tangan kiri yang dikepal kuat.
'Keterlaluan kamu, Aruni. Ide gilamu selalu memakan korban dan melukai orang lain. Aku tidak akan membiarkan Retno pulang ke kampungnya dengan uang tutup mulut yang kamu berikan. Bagaimanapun juga, Retno adalah istri siriku yang sudah melahirkan anakku satu-satunya. Tanpa tercampur milikmu sedikit pun!' tekan Baskoro dengan kesal.
Baskoro akan menjemput Retno setelah wanita di sebelahnya ini tenang. Dia akan membawa anaknya yang ternyata ada di rumah besar itu dan memberikannya pada Retno. Dia tidak akan menyembunyikan anak itu dari ibunya.
Setelah ini, Baskoro akan memastikan kalau Retno terlindungi. Dia akan memainkan peran yang lebih baik dari Aruni sekarang. Rencana Aruni berpura-pura mengadopsi anak lain—yang ternyata adalah anak Baskoro dengan Retno—tidak akan pernah berjalan lancar. Senyum licik Baskoro sekarang adalah permulaan atas balasan akan penderitaan Retno barusan.