
Dinginnya tempat ini membuat bulu kudukku berdiri semua. Aku lupa membawa jaket yang tebal. Aku hanya memakai kardigan dan itu belum cukup untuk mengatasi rasa dingin di daerah ini. Aku baru saja mendarat di Bandara Udara Silangit. Bandara udara ini adalah salah satu bandara yang lumayan dekat dengan kampungku, Padangsidimpuan. Nama kampungnya pasti terasa asing. Orang-orang banyak yang mengira kalau kampungku berada di Padang. Tentu saja tidak benar. Padangsidimpuan merupakan salah satu daerah di Medan. Butuh 8 jam perjalanan dari Medan ke Padangsidimpuan. Hanya ada travel dan bus sebagai alat transportasi yang dapat digunakan. Tidak ada kereta api, kapal, apalagi pesawat. Jika ingin menempuh jalur udara, harus menggunakan Bandara Udara Silangit supaya lebih dekat. Perjalanannya hanya menempuh 5 jam dari Padangsidimpuan. Lumayan jauh juga. Hanya ada travel untuk sampai ke Padangsidimpuan melalui bandara udara ini. Tidak ada bus. Jadi, bayangkan saja perjalanan dari Jawa ke kampungku. Apa tidak ingin menyerah aku? Belum lagi aku memang mabuk perjalanan darat. Sudah dipastikan bagaimana perjalananku nanti.
Aku pun menunggu adikku yang katanya ingin menjemputku di bandara. Sekarang sudah pukul 10 pagi, tetapi adikku belum juga muncul. Aku sudah mendarat sejak pukul 9 pagi tadi. Bahkan, sudah ada dua pesawat yang mendarat di bandar udara ini. Aku pun mengambil ponsel di tasku dan mencari nomor adikku. Aku menelponnya. Panggilan berdering.
“Udah di mana kau? Lama kali,” ucapku dengan logat batak yang lumayan kental.
“Masih di jalan loh aku. Bentar lagi nyampe. Tunggulah di situ,” balas adikku.
“Lama kali pun kau. Udah lapar aku. Belum makan aku dari pagi,” ucapku lagi.
“Carilah di sana tempat makan. Ada di sana warung padang. Makanlah dulu kau di sana,” balas adikku.
“Ah malas kali jalan lagi. Ya udah cepatlah.”
“Nggak sabaran kali kau ini. Dua puluh menit lagi nyampe lah aku,” balas adikku.
Aku pun mengakhiri panggilan. Perutku sudah berbunyi sejak tadi. Aku pun mengambil bakpia Jogja yang seharusnya menjadi oleh-olehku. Aku membukanya dan memakannya. Aku sudah sangat lapar. Warung Padang yang dikatakan adikku lumayan ramai. Aku pun memutuskan untuk mengganjal perutku saja. Toh, bentar lagi adikku juga sampai.
Sudah pukul 11 siang, tetapi batang hidung adikku belum juga muncul. Aku pun mulai tidak sabar. Aku sudah lelah scrolling sosial mediaku. Aku juga lapar, kedinginan, dan sedikit mengantuk. Seorang petugas tiba-tiba menghampiriku.
“Nunggu jemputan atau gimana, Kak?” tanya petugas bandara itu.
“Nunggu jemputan, Bang,” jawabku.
“Masih lama, Kak?” tanyanya lagi.
“Bentar lagi sampai katanya, Bang,” balasku lagi.
“Mau ke mana memangnya, Kak?” tanyanya lagi.
Petugas bandara ini sepertinya antara merasa iba atau kepo denganku. Namun, teman-temanku sering mengatakan kalau raut wajahku seperti orang yang sedang nyasar dan kasihan. Pantas saja orang-orang banyak yang menawarkan bantuan kepadaku setiap aku berada di tempat umum, seperti terminal, stasiun kereta, dan sekarang bandara. Dia pasti merasa iba melihat wajahku yang kasihan ini.
“Ke Padangsidimpuan, Bang,” jawabku.
“Okelah, Kak. Tinggal dulu ya,” ucapnya, lalu meninggalkanku.
Aku pun hanya tersenyum dan sedikit mengangguk sebagai balasan. Ah.. lama kali pun anak ini. Udah nggak ada penumpang di bandara ini. Tau gitu naik travel aja aku. Udah sampai rumah pun. Aku mendumel dalam hati. Batang hidung adikku akhirnya muncul tepat pukul 11.40. Aku menunggu hampir 3 jam. Adikku langsung mengambil koper dan tasku. Tak lupa aku mengomel sebagai sapaan.
“Ah lama kali kau ini. Tiga jam loh aku nunggu di sini!” omelku.
Adikku tidak membalas omelanku. Dia justru berjalan membawa koper dan tasku. Lalu, menaruhnya di bagasi mobil.
“Dingin kali bah di Silangit ini. Lupa aku bawa jaketku,” keluh adikku.
Bukannya membalas omelanku, dia justru mengeluh karena cuaca terlalu dingin. Sejujurnya, dia sudah terbiasa dengan omelanku. Aku memang terkenal cerewet. Mungkin karena aku anak pertama.
“Ngapain aja sih kau. Kok lama kali. Ku bilang habis subuh berangkatnya dari rumah,” omelku lagi.
“Ah cerewet kali kau. Yang penting udah sampai aku di sini. Cepatlah naik kau. Udah lapar katamu,” balasnya tidak kalah. Nada suaranya sedikit meninggi.
“Nggak usahlah marah-marah. Biasa aja,” balasku.
“Ini nggak marah loh. Biasa aja pun aku,” balas adikku.
Pertikaian kami terhenti ketika ada sebuah mobil yang ingin parkir di samping mobil adikku. Kami sedang berdiri di samping mobil saat ini. Tidak ada klakson atau aba-aba. Mobil itu tiba-tiba saja melaju ke sana. Wajah adikku langsung memerah.
“Klakson lah Bang atau gimana. Masih ada loh orang di sini. Belum lagi mau mati kami,” bentak adikku.
“Ngapain kau berdiri di situ? Tempat parkirnya itu,” bentak sopir mobil tersebut tak mau kalah.
“Mobilku pun parkir di sini Bang. Ini yang hitam ini. Pas di sampingnya kami berdiri. Nggak kau yang punya parkir ini,” balas adikku dengan suara yang keras.
Aku melihat pemilik mobil sudah emosi dan hendak keluar. Aku pun segera menenangkan adikku.
“Udahlah. Ayo kita pergi sekarang aja,” ucapku sambal menggandeng adikku.
“Banyak kali omongmu. Berantem kita sini,” bentak sopir tersebut.
Aku pun segera meminta maaf untuk mengakhiri pertikaian ini. Akhirnya, aku dan adikku keluar juga dari bandara. Aku pun merasa lega. Belum juga sehari di Medan, aku sudah merasakan mental breakdown. Aku sudah tinggal di Jawa selama 10 tahun. Jadi, suara keras dan bentakan menjadi hal yang tidak biasa lagi. Aku hanya pulang sekali setahun. Itu juga hanya 10 hari di rumah karena aku harus bekerja di Jakarta. Sekarang, aku akan menghabiskan sebulan di rumah. Apa aku akan bisa bertahan? Aku memijat pelipisku. Tiba-tiba saja aku merasa pusing dan mual. Ah shit! Perjalanan darat ini!