Kim Soo-Jin, Si Gadis Tteokbokki

Kim Soo-Jin, Si Gadis Tteokbokki

StanzaAlquisha

4.8

Mendiang eomma dan appa menamaiku Soo-Jin, yang artinya sesuatu yang “berharga dan langka.” Tapi hingga usiaku yang ke sembilan belas ini, aku tidak pernah merasa “berharga”, apalagi “langka”.

Orang-orang di sekitarku lebih suka menyebutku Si Gadis Tteokbokki.

Penduduk asli Sampung-dong, daerah tempatku tinggal di kota Gyeongsan-si, mengenalku dan halmeoni-ku sebagai pemilik kedai tteokbokki. Sejak orang tuaku meninggal karena kecelakaan saat aku masih lima tahun, halmeoni hanya mempercayakan pengelolaan kedai ini kepada garis keturunannya langsung. Artinya, aku, cucu semata wayangnya, harus mewarisi kedai ini suatu hari nanti.

Aku hanya akan bebas dari kewajibanku itu jika aku diterima di salah satu dari tiga SKY University.

Aku tidak sampai hati untuk memberitahu halmeoni bahwa sebenarnya impianku adalah berkuliah di luar negeri.

Di hari kelulusan SMA-ku, Monica-seonsaengnim, guru Bahasa Inggrisku, menyodorkan sebuah selebaran yang dipenuhi oleh senyum remaja-remaja dari berbagai kebangsaan.

“Melihat nilaimu yang paling tinggi, menurutku Youth Exchange Program ini cocok sekali untukmu,” ujar Monica-seonsaengnim. “Mereka mencari anak-anak muda berprestasi untuk berkuliah gratis di Boston University selama satu semester. Kamu hanya tinggal menulis esai. Tertarik?”

Aku mengintip selebaran itu. Wajah-wajah di sampulnya tiba-tiba bertransformasi menjadi muka merengutnya halmeoni.

“Terima kasih atas tawarannya, ssaem,” jawabku. “Tapi saya tidak mungkin meninggalkan halmeoni sendirian di sini.”

Monica-seonsaengnim tersenyum. Meskipun dia bukan berasal dari negaraku, tetap saja aku merasa paling nyaman diajar olehnya. Guru-guru lain lebih kaku dari gerbang baja sekolah kami.

“Saya mengerti. Tidak apa-apa, nanti hubungi saya saja kalau kamu berubah pikiran.”

Pembicaraanku dengan Monica-seonsaengnim itu terjadi di bulan Agustus. Sekarang sudah hampir November, dan selebaran itu masih rapi tersimpan di laci meja belajarku. Aku masih bingung harus diapakan.

Musim dingin mendekat, menandakan datangnya semester baru untuk para mahasiswa. Di Sampung-dong terdapat dua universitas besar, Yeungnam University dan PSPS, yang punya program beasiswa untuk para mahasiswa luar negeri.

Biasanya di saat-saat seperti ini, kedai kami sering didatangi orang-orang dari berbagai negara. Sebenarnya, aku sudah terbiasa dengan kehadiran waygook di Sampung-dong. Malah, kedatangan mereka menjadi satu-satunya hal yang membuatku bersemangat di hari-hari membosankan di kedai. Aku suka mendengarkan betapa beragamnya bahasa mereka yang terdengar bagai musik, meliuk-liuk seperti melodi.

Sayangnya, aku tahu persis halmeoni tidak akan sependapat denganku.

Setiap kali ada waygook berkulit gelap yang datang ke kedai, halmeoni sering menolak melayani. Bahkan ketika halmeoni yang menjadi kasir saat mereka membayar, senyuman dan ucapan terima kasih mereka halmeoni balas dengan muka masam. Aku selalu tidak nyaman melihatnya. Namun, menegur halmeoni sama saja dengan cari mati, dan kadang sama mustahilnya dengan mengajari anjing memasak tteokbokki.

Aku ingat komentar halmeoni pernah menyebut perempuan-perempuan Muslim dengan kain yang menutupi kepala mereka “berbahaya”. Perutku serasa diaduk-aduk. Mereka tidak pernah mengusik siapa-siapa. Benarkah selembar kain di kepala bisa membuat seseorang berbahaya?

Meski aku menyayangi halmeoni, karena dia adalah satu-satunya keluargaku yang tersisa dan telah membesarkanku hingga sekarang, perilakunya terhadap orang-orang asing itu selalu membuatku jengah. Hal itu juga yang membuatku selalu merasa kehidupanku bukan seharusnya di sini, melainkan di tempat lain. Mungkin, di tempat di mana orang-orangnya seperti Monica-ssaem, yang menjadikan muridnya sebagai teman dan bukan bawahan.

Di sini, pilihan takdirku cuma dua: masuk ke universitas unggulan supaya jadi mesin pencetak uang bagi korporat besar, atau menjadi si gadis tteokbokki selamanya. Lalu untuk apa aku diberi nama Soo-Jin, “berharga dan langka”, kalau jalur kehidupanku sama saja dengan ratusan juta orang lainnya?

*

Hari itu, halmeoni menggeser baki berisi sepiring besar rabokki kepadaku.

“Kau saja lah yang mengantarkan pesanan meja 12.”

“Kenapa, halmeoni?” tanyaku.

“Yang makan di situ waygook India. Aku enggan melayani dia.”

Aku menoleh ke meja 12. Seorang laki-laki berkulit kecoklatan sedang duduk sendirian di sana.

“Sepertinya dia bukan orang India.”

Halmeoni mendengus. “India, Afrika, apalah. Sama saja buatku. Sama-sama orang asing yang miskin! Kalau tidak miskin, mana mau mereka bekerja di sini sebagai buruh pabrik? Mereka cari uang di sini, bersekolah di sini, pakai beasiswa dari negara kita pula. Memangnya di negara mereka tidak ada universitas?”

Omelan halmeoni mengiringinya sampai ke dapur, hingga suaranya tertelan suara desis api kompor yang tengah memanaskan saus tteokbokki. Aku menelan ludah dan mengangkat bakiku.

Semakin dekat langkahku ke meja 12, semakin kusadari bahwa pemuda itu tengah menggumamkan sesuatu kepada dirinya sendiri berulang-ulang. Dia sempat mengucapkan terima kasih singkat setelah kutaruh mangkuk rabokki ke hadapannya. Aku sudah mulai beranjak, namun berhenti ketika menyadari di dekat mejanya ada sesuatu yang tergeletak. Aku memungutnya.

Itu sebuah ARC. Alien Registration Card, kartu identitas khusus untuk para migran atau penduduk asing di Korea. Dari sana, bisa kubaca nama, asal negara, dan tanggal lahirnya. Dia dari Indonesia, ternyata.

“Maaf, tadi ini jatuh,” ujarku pada pemuda di hadapanku itu.

“Terima kasih,” balasnya ramah dengan Bahasa Korea yang masih kaku.

Aku tertegun.

Dia benar-benar berbeda dari laki-laki di negaraku. Senyumnya lebih cerah. Lebih menghangatkan. Apakah mungkin senyuman orang berbeda di negaranya?

Aku melirik dapur. Halmeoni tengah memunggungiku, sibuk melakukan sesuatu. Sebuah pikiran gila melintas di kepalaku.

Indonesian, right?” tanyaku pada pemuda itu. Sengaja aku menggunakan Bahasa Inggris agar dia lebih nyaman menjawabku.

Pemuda itu tampak terkejut. “Yes.”

“Your country is beautiful. I’d like to go there someday,” lanjutku.

Pemuda itu tertawa singkat. “Thank you. Your English is very good,” ujarnya. Aku berterima kasih padanya.

Menyadari pembicaraan kami mungkin sudah berakhir, aku bersiap-siap pergi. Tanpa kusangka, dia malah menjulurkan tangannya dan memperkenalkan diri.

I’m Fadlan. Nice to meet you.

Tanpa sempat menyeka telapak tanganku yang berkeringat di permukaan celemekku, aku menyambut salamnya. “Soo-Jin.”

Selama beberapa saat setelahnya, aku berbincang dengan Fadlan. Dia sedang mengambil program belajar bahasa Korea selama satu semester sebelum memulai studinya di Yeungnam. Makanya, dia membawa kartu indeks ke mana-mana agar bisa lebih mudah menghafal kosakata baru. Jadi itu lah mengapa aku mendapatinya bergumam ke dirinya sendiri tadi.

 “Soo-Jin! Sedang apa kau? Cepat kemari!”

Suara parau halmeoni membuatku terlonjak. Dengan muka merah padam, aku bergegas pergi setelah menggumamkan maaf kepada Fadlan. Di dapur, halmeoni memarahiku habis-habisan, mewanti-wanti untuk tidak dekat orang-orang macam pemuda tadi. Aku hanya berpura-pura mendengarkan, karena benakku melayang kepada kartu ARC yang tadi kulihat. Aku tidak mengerti mengapa orang asing harus dijuluki “alien”. Walaupun rupa dan bahasa mereka berbeda, mereka kan masih manusia, bukan alien. Apa bedanya dengan kami?

*

Fadlan datang lagi ketika halmeoni sedang tidak ada di kedai karena harus pergi ke Gimcheon mengunjungi kerabatnya. Kebetulan, kedai juga sedang sepi. Cuma ada kami berdua.

“Boleh tidak kalau aku kadang-kadang mengajakmu ngobrol memakai bahasa Korea? Sekalian melatih kemampuanku,” tanya Fadlan wkatu itu.

“Tentu saja,” balasku, tersenyum.

Kami bertukar ID KakaoTalk dan lanjut berkomunikasi hampir setiap malam. Aku menanyakan kepadanya segala yang aku ingin tahu tentang negaranya, sekaligus membantunya belajar bahasaku. Waktu yang seharusnya aku pakai untuk mempelajari latihan soal ujian masuk universitas malah kuhabiskan mengobrol dengannya

Selama hidupku, aku memang pernah berpacaran dua kali. Dua-duanya teman sekolahku dan putus setelah tidak sampai enam bulan.

Tetapi tidak ada di antara mereka yang membuatku merasa senyaman berbicara dengan Fadlan, seorang pemuda dari negara yang hanya kutahu dari berita miring di televisi dan omongan sinis halmeoni. Kepadanya aku tidak merasa sungkan membeberkan tentang impianku, dan bagaimana aku merasa terjebak dalam hidupku sendiri sebagai si gadis tteokbokki.

Suaru malam, Fadlan mengundangku untuk datang ke acara pertemuan mahasiswa internasional di kampusnya.

Tapi aku kan bukan mahasiswa sana? ketikku.

Tidak masalah, balas Fadlan. Lagipula, aku akan menemanimu.

Tanpa pikir panjang, aku pun mengiyakan.

*

“Kamu benar-benar akan pergi ke kelompok belajarmu, kan?” tanya halmeoni saat melihatku bersiap-siap. “Jangan sampai aku memberimu cuti dari kedai hanya untuk kau pakai berjalan-jalan di mall Banwoldang.”

“Aku tidak akan menyia-nyiakan waktu untuk itu, halmeoni. Minggu depan kan sudah ujian masuk ke Yonsei,” ujarku semeyakinkan mungkin.

Jantungku berdegup kencang saat aku menghampiri Fadlan yang menunggu di tikungan jalan. Untuk pertama kalinya, aku berbohong pada halmeoni tentang ke mana aku pergi. Namun anehnya, aku tidak merasa bersalah.

Kami bersepeda bersama ke kampus Fadlan. Aku senang mendengar Bahasa Korea-nya yang semakin fasih. Aku juga baru menyadari lesung pipitnya yang timbul setiap dia tertawa, yang membuat perutku seperti dipenuhi kupu-kupu.

Acara International Student Gathering di kampus Fadlan ternyata menjadi acara paling mengasyikkan yang pernah aku datangi. Aku berkenalan dengan entah berapa teman baru dari berbagai negara yang semuanya ramah luar biasa, terutama perempuan-perempuan Muslim yang halmeoni hakimi dengan keliru. Mereka semua merangkulku seperti saudara sendiri. Aku ikut menikmati hidangan-hidangan yang minta ampun lezatnya dan menari seiring musik dari negara-negara asal mereka. Aku lupa kapan terakhir kali aku merasa sesenang ini.

Aku pulang dengan senyum yang terkembang di wajah, yang harus aku sembunyikan dari halmeoni supaya tidak mengundang kecurigaannya. Malam itu, selebaran dari Monica-ssaem kupandangi lagi sambil membayangkan kehidupanku jika aku tidak berada di sini.

Membayangkan kebebasanku.

*

Halmeoni mungkin akan mencekikku kalau tahu aku semakin sering bertemu dengan Fadlan setelahnya, dengan dalih datang ke kelompok belajar. Kami sering pergi menjelajahi restoran-restoran yang selama ini aku tidak terpikir untuk kunjungi. Misalnya, restoran India halal yang jaraknya hanya dua halte bis dari Sampung-dong.

“Tahu tidak,” ujarku pada Fadlan dengan mulut penuh butter chicken dari restoran itu. “Aku sebenarnya tidak terlalu suka tteokbokki.”

Fadlan tertawa. “Si Gadis Tteokbokki tidak suka tteokbokki?!”

Aku ikut tergelak. “Jangan bilang-bilang halmeoni-ku, ya.”

Akhirnya, tibalah hari sebelum ujian masuk universitas Yonsei. Pagi itu sebelum membuka kedai, halmeoni bersikeras agar aku tidak usah membantunya dulu di kedai supaya aku bisa berkonsentrasi belajar. Lima menit berselang setelah dia pergi. Mendadak, suara jeritan yang sangat keras mengagetkanku.

Itu suara halmeoni!

Aku menghambur keluar untuk mencari tahu apa yang terjadi. Kulihat halmeoni yang tengah berdiri sambil menyemburkan sumpah serapah. Di atas tanah yang licin, tas halmeoni tergeletak dengan isi berhamburan. Seorang gadis berdiri di dekatnya, terlihat ketakutan setengah mati. Aku mengenalinya sebagai salah satu mahasiswa Muslim Indonesia yang kutemui di acara kampus Fadlan tempo hari.

“Ada apa ini, halmeoni?”

“Soo-Jin! Orang ini baru saja mau merampokku! Dia tadi mencoba merampas tasku!”

Seluruh tubuh gadis itu gemetaran. Dia meminta maaf memakai Bahasa Korea yang terbata-bata. Karena memahami situasinya, aku bertanya padanya menggunakan Bahasa Inggris.

Ahjumma tadi terpeleset ketika aku lewat. Aku- hanya berusaha membantunya supaya tidak jatuh, tapi tasnya tidak sengaja tertarik olehku dan terlempar ke tanah.”

Mata gadis itu berkaca-kaca saat bertutur. Sebentar lagi tangisnya akan pecah.

“Dia bilang apa tadi kepadamu, Soo-Jin? Jangan percaya dia! Dia teroris!”

Aku terhenyak. “Halmeoni!”

“Kau mau membela waygook itu?”

Cepat-cepat aku meminta gadis itu untuk pergi dari situ, menjelaskan bahwa aku mau berbicara dulu dengan nenekku. Gadis itu berbalik, dan aku langsung bisa mendengar dia terisak. Nenekku masih saja mengatainya hal-hal buruk.

Halmeoni, cukup! Aku sudah tidak bisa menghadapi sikapmu yang seperti ini!”

“Apa? Kau berani membangkang padaku?”

Amarahku menggelegak.

“Bagaimana kalau iya?” semburku tanpa bisa kutahan. “Bagaimana kalau aku tidak sudi lagi mentoleransi kebencianmu yang tidak beralasan? Bagaimana kalau aku.. tidak mau bersekolah di Yonsei, apalagi menjadi pewaris kedai? Pernahkah sekali saja kau mendengarkan apa yang sebenarnya aku mau untuk hidupku sendiri?!”

Mulut halmeoni menganga. Aku tidak pernah melihatnya terguncang seperti itu. “Soo-Jin …”

Mataku perih digenangi air mata. Orang-orang yang lewat mulai memperhatikan kami sembari berbisik-bisik. Sesegera mungkin, aku menyambar sepedaku, dan mengayuhnya pergi dari sana. Aku sedang butuh sendirian.

*

Langit sudah gelap ketika aku mengendap-endap masuk ke apartemenku. Kupikir halmeoni masih di kedai, karena ini belum jam tutup. Namun dia ternyata sedang terduduk di ruang makan, menekuri sesuatu.

“Kau sudah pulang, Soo-Jin?”

Aku menggumamkan jawabanku.

“Kemarilah dan duduk di sebelahku. Ada yang aku ingin bicarakan.”

Pelan-pelan kuhampiri nenekku. Halmeoni mendesah.

“Maafkan sikapku, Soo-Jin. Mungkin kau benar. Selama ini kebencianku terlalu berlebihan, padahal orang-orang asing itu tidak pernah bersalah apa-apa padaku. Kurasa aku hanya khawatir mereka merampas kesempatan yang seharusnya kau dapatkan.”

Halmeoni kemudian mengambil sesuatu dari pangkuannya yang sedari tadi dia tekuri. Ternyata itu adalah selebaran dari Monica-ssaem.

“Apakah ini yang sebenarnya kau mau, Soo-Jin?”

Aku menunduk. “Tadinya aku tidak berani bilang pada halmeoni, karena …”

“Aku paham. Selama ini memang aku selalu memaksakan kehendakku padamu. Kupikir aku yang paling tahu apa yang terbaik. Padahal itu hidupmu.”

Halmeoni menghela napas. “Jika memang ini yang kau inginkan, maka kejarlah. Kuberikan restuku.”

Air mata meleleh deras di pipiku saat aku memeluk erat halmeoni. “Terima kasih, halmeoni. Terima kasih.”

Namaku Kim Soo-Jin. Dan mulai besok, aku tidak akan lagi menjadi Si Gadis Tteokbokki.

Aku akan meraih impianku.

 

***

 

CATATAN PENULIS: Cerpen ini TIDAK dimaksudkan untuk menyinggung SARA, melainkan menyorot isu rasisme, Islamophobia, dan colorism yang kerap dialami oleh migran di Korea Selatan. Untuk contoh nyatanya, baca artikel tentang perlakuan yang dialami salah satu pemain film Squid Game di tautan berikut: https://www.instagram.com/p/CVwDw77PJC9/?utm_medium=copy_link