
Satu bulan yang lalu.
“Fi, kamu dipanggil sama bos, tuh.” Suara Dea membuyarkan lamunan Fiona yang sedari tadi duduk termangu di meja cubicle miliknya. Layar komputer di hadapan gadis itu menampilkan dashboard grafik penjualan produk tas dan pakaian BX Apparels secara daring selama setahun terakhir.
Berbagai nama online marketplace terkenal terdaftar di grafik tersebut, dalam satu kolom panjang. Sementara itu, di tabel samping kanannya berderet sejumlah angka yang menunjukkan performa kampanye iklan dan diskon produk perusahaan yang dipasang oleh Fiona. Kini, gadis itu menatap salah satu tabel yang angka penjualannya merosot di semua marketplace.
“Pak Theo, Mbak?” tanya Fiona memastikan.
Dea mengangguk. “Sori, aku udah bilang alasannya, tapi beliau tetap pengen ngomong langsung sama kamu.”
Fiona beranjak dari kursi dan melangkah gontai ke arah suatu ruangan besar yang ada di sisi barat kantor ini. Itu adalah ruangan atasannya, Theodore. Pria berusia setengah abad itu menjabat sebagai pimpinan operasional di BX Apparels, tempat Fiona bekerja. Memang, seharusnya Fiona tidak melapor langsung padanya. Masih ada dua orang lagi di atas Fiona untuk bisa sampai pada Theo. Akan tetapi, Theo orang yang bekerja secara micromanagement, alias adanya keinginan mengurusi masalah perusahaan sampai ke hal-hal kecil, yang seharusnya ia tidak perlu turun tangan langsung.
Begitulah yang terjadi saat ini. Fiona membuka pintu ruangan, dan langsung disambut oleh muka masam Theodore. Ada sebuah laptop hitam yang telah terbuka, menghadap ke arah Fiona. Gadis itu tahu apa yang akan dibicarakan, tetapi ia diam saja, menunggu atasannya bicara terlebih dahulu.
Tanpa basa-basi, Theo menunjuk pada tabel yang dikhawatirkan Fiona, seraya bertanya, “Ini kenapa turun? Sudah ketiga kalinya dalam setahun terakhir, kamu tidak fokus pada pekerjaan. Apa kamu sudah bosan, jadi digital marketing di sini?”
Fiona hanya bisa menunduk pasrah. BX Apparels adalah perusahaan pemilik merek dagang tas dan pakaian BXs yang ternama. Popularitasnya bahkan sudah sampai negeri tetangga. Makin tenar pula setelah Fiona direkrut untuk mengurusi bagian pemasaran daringnya.
Angka penjualan naik pesat hingga 60 persen sejak Fiona bergabung dengan perusahaan, dan gadis berambut hitam panjang dikuncir kuda itu sangat menjaga performa kerjanya. Namun, benar kata Theo. Ini sudah ketiga kalinya, performa kerja Fiona menurun. Kali ini, perusahaannya telah kehilangan potensi penjualan sebanyak 200 juta dalam satu minggu.
“Maaf, Pak … mungkin saya sedang kelelahan … ,” jawab Fiona takut-takut.
Sebenarnya, jawaban gadis itu tidaklah salah. Sejak bekerja sebagai digital marketing, Fiona memang jarang untuk bisa beristirahat. Setiap harinya, terutama ketika terjadi tanggal dan bulan berangka sama, menjelang waktu gajian karyawan Indonesia, bahkan saat libur nasional sekali pun, Fiona harus tetap memantau pergerakan grafik penjualan.
Fiona memastikan bahwa barang terlaris di hari sebelumnya akan muncul di iklan lebih sering, supaya makin sering dilihat orang dan mengundang pembeli berdatangan. Ia juga harus teliti melihat diskon terpasang dengan benar, serta memastikan bahwa stok barang di gudang sesuai dengan apa yang terpampang di website. Pergerakan barang yang diperdagangkan secara daring sangat dinamis setiap harinya, dan Fiona harus bisa menyesuaikan diri.
“Apa ini ada hubungannya dengan nenekmu lagi?” tanya Theo. Fiona mengangguk. Air matanya hendak tumpah, tetapi ia berusaha tegar. Nenek adalah satu-satunya anggota keluarga yang tersisa. Sejak kedua orang tuanya tiada, Fiona memboyong wanita tua itu ke ibu kota, karena dirinya diterima bekerja di sana. Baru seminggu yang lalu, neneknya telah meninggal dunia.
Paru-paru wanita sepuh itu tidak dapat lagi bertahan di tengah polusi udara kota besar seperti Jakarta. Sebelumnya, sudah dua kali sang nenek mengalami serangan asma hebat. Dua kali itu pula, Fiona kehilangan konsentrasi saat bekerja, memikirkan neneknya yang harus opname di rumah sakit. Kini, neneknya benar-benar tiada. Fiona merasa sangat bersalah, karena bahkan di saat-saat terakhir hidup beliau, Fiona tetap sibuk bekerja.
Theo menghela napas dan menghembuskannya perlahan. “Saya tahu, kamu masih dalam keadaan berduka. Tapi, kamu harus bisa bersikap profesional. Perusahaan merugi setiap kali kamu kepikiran hal lain saat bekerja … .”
Theo menceramahi Fiona panjang lebar. Kata-kata selanjutnya tidak lagi masuk ke dalam telinga gadis itu. Justru, ada rasa emosi menyeruak. “Tidak profesional? Saya? Pak, saya bela-belain ke kantor untuk acara siaran langsung produk kita di website marketplace X, saat nenek saya berjuang untuk hidupnya di rumah sakit! Karena tidak ada yang bisa menggantikan saya! Dan sekarang, Bapak bilang saya tidak profesional?!”
“Bukan itu maksud saya, Fiona. Tenanglah … .” Theo beranjak dari kursi, berusaha menghentikan amarah karyawannya, tetapi Fiona sudah meluap-luap, menumpahkan semua emosi pada orang yang tak seharusnya.
“Siang malam selama 24 jam saya terus kerja, hari libur pun saya tidak bisa santai-santai menikmati waktu istirahat, semua demi perusahaan ini! Dan Anda bilang, saya tidak profesional? BXs untung banyak sejak saya kerja di sini, apa Anda lupa hal itu!” Fiona menggebrak meja atasannya dengan sebelah tangan. Theo sampai terlonjak kaget dan mengelus dada.
“Sekarang, saya bahkan tidak diizinkan berduka, begitu? Anda sendiri kerjanya apa! Anda itu egois, hanya karena CEO marah pada Anda karena angka penjualan menurun, Anda langsung memanggil saya!”
“Fiona! Jaga bicaramu!” Theo mulai naik pitam. Beliau beranjak dari kursi, memperlihatkan tubuh tambunnya yang sedari tadi bersembunyi di balik meja. Kedua mata pria tua itu menyorot tajam, tetapi Fiona tetap mencerocos.
“Harusnya, sebagai atasan yang baik, Anda membela saya, bukan menceramahi seperti ini!” Napas Fiona tersengal-sengal, diikuti air mata yang kerap menetes di pipi.
Theo jadi iba dibuatnya. Memang benar, beliau diperingatkan oleh sang pemilik perusahaan mengenai kerugian yang terjadi. Tanpa Fiona ketahui, Theo sendiri sudah berusaha untuk berkelit, memberi alasan agar Fiona tidak disalahkan. Beliau tahu gadis itu sedang berduka. Theo hanya ingin memberi sedikit teguran. Rupanya, ia menegur di waktu yang salah. Pria tua itu tak menyangka hal ini malah menyulut emosi karyawatinya itu.
“Saya mau resign saja, Pak,” cetus Fiona tiba-tiba.
Kedua mata Theo terbelalak, tetapi beliau tetap berusaha tenang menanggapinya. Fiona masih dalam keadaan tidak stabil. “Apa kamu serius? Jangan mengambil keputusan saat sedang emosi.”
“Serius, Pak. Maafkan saya.” Fiona menatap mata atasannya itu lekat-lekat. Ia sudah membulatkan tekad.
“Pikirkan matang-matang sekali lagi,” ucap Theo.
Fiona tidak mengubah keinginannya. Ia keluar dari ruangan atasannya itu dan mengirimkan surat pengunduran diri melalui surel, ditujukan pada Theodore selaku pimpinan dan Dea selaku manajernya. Betapa terkejutnya Dea ketika menerima surel tersebut.
“Fi, kamu serius?! Jangan resign, Fi!” seru Dea. Fiona menggeleng seraya menjawab, “Aku capek, Mbak Dea. Nanti aku serahkan sisa kerjaanku ke Mbak, ya.”
Selama sebulan menunggu kepergiannya dari perusahaan tersebut, Fiona menyerahkan seluruh pekerjaan sisanya pada Dea dan beberapa karyawan lain yang terkait. Setiap hari, Dea berusaha mengubah keinginan Fiona, tetapi sia-sia. Fiona sendiri menjalani hari-hari terakhir kerjanya bagai mayat hidup. Ia datang ke kantor, mengutak-atik sebentar komputernya, lalu pulang dengan langkah gontai. Ia hanya memenuhi kewajiban sebagai pekerja yang ingin mengundurkan diri sesuai UU Ketenagakerjaan, yakni tetap masuk kerja selama tiga puluh hari terakhir.
Tibalah hari ini, tanda pengenal diri sebagai karyawati BXs Apparels telah Fiona tanggalkan dari leher, setelah satu bulan menunggu. Fiona mengemas seluruh barang-barang pribadi yang tersisa di meja cubicle-nya. Theodore tampak tak rela kehilangan Fiona. Pria beruban tersebut datang menghampiri meja gadis itu dan memberikan sepucuk surat.
***