
Shafira SG
"Seorang insan yang harus diabadikan."
Pada Sore hari di taman empasan angin sore menerbang beberapa helai rambut milik seorang gadis cantik yang sedang duduk dikursi taman. Di satu sisi lain seorang mahasiswa tahun ketiga sedang duduk dikursi taman sebelahnya. Sang mahasiswa mulai memainkan gitarnya dimana, ia mulai memetik senar gitar dengan memainkan chord F C F C G. Sang mahasiswa menyanyikan lagu Senja Teduh Pelita sembari memainkan gitarnya. Sang gadis cantik hanya mendengarkan lagu tersebut hinggah tanpa sadar ia ikut bernyanyi.
Hinggah sang mahasiswa sampai pada bagian chord C Fm F.
"Dunia dikala senja teduh pelita." merekapun bernyanyi secara bersamaan.
Sang Mahasiswa beralih pada chord G# Em
"Bertemu dalam ruang rindunya." nyanyi mereka secara bersamaan.
Mereka berdua masih terus bernyanyi tanpa peduli apapun. Hinggah chord Fm selesai dimainkan barulah mereka berhenti bernyanyi. Sang mahasiswa langsung menoleh ke arah gadis cantik.
"Suara yang indah," puji sang mahasiswa.
"Kamu juga." balas sang gadis.
"Kamu suka lagu Senja Teduh Pelita?" tanya sang mahasiswa.
Si gadis cantik menganggukan kepalanya. "Aku suka,"
"Selain lagu ini, kamu suka lagu apa lagi?"
"Aku suka semuanya, karena aku sering mendengarkan lagu apapun itu."
"Termasuk rock?" si gadis cantik itu mengangguk.
Sang mahasiswa terlihat bingung melihat gadis di sampingnya itu karena sejak tadi ia berbicara ia tidak menoleh ke arahnya namun, itu semua tertutupi karena rasa kagum karena ia baru pertama kali bertemu dengan perempuan yang menyukai banyak genre musik. Sang mahasiswa berdiri dari duduknya lalu menghampiri si perempuan.
"Kenalin aku Sastra," ia mengulurkan tanganya. "Kamu mau nggak buat jadi vocalis di band kampusku?"
Sang perempuan tersenyum tanpa membalas jabat tangan dari Sastra. Tingkah si gadis cantik tentu membuat Sastra bingung.
"Namaku Shafira, maaf aku tidak bisa menjadi vocalis bandmu-" perkataan Shafira terhenti karena mendengar teriakan dari adiknya.
"Kakak." seru adik Shafira.
Adik nya yang bernama Vanesa tersebut menghampiri keduanya. Vanesa menampakan wajah bingung kepada Sastra.
"Maaf, tapi Mas ini siapa ya? Kok berdiri di depan kakak saya?" tanya Vanesa kepada Sastra dengan penuh selidik.
"Saya hanya orang yang tidak sengaja bertemu dengan Kakak kamu ini... dan saya hanya ingin mengundang kakak kamu untuk bergabung ke dalam grup band kampus saya."
Vanesa membentuk lengkungan mengejek di bibirnya. "Sepertinya kamu salah orang untuk di ajak."
Sastra yang tak mengerti maksud Vanesa hanya diam.
"Ayo Kak." kata Vanesa sembari membantu kakaknya berdiri.
Shafira yang akan berdiri mengambil tongkat yang di pergunakan untuk tunanetra. Sastra yang melihat tongkat tersebut tersadar akan sikap sedikit aneh dari Shafira.
Hempasan angin merbangkan beberapa rambut Shafira. Sastra yang memperhatikan Shafira sejak tadi membuat rasa aneh merasuki tubuhnya.
"Sastra terimakasih," kata Shafira pada orang yang baru ia temui itu.
Sastra tak menjawab hanya diam sembari memperhatikan kepergian Shafira. Hari ini Sastra Gemintang bertemu dengan seorang gadis cantik dengan suara emas bernama Shafira namun, dibalik kecantikanya ternyata Shafira seorang tunanetra.
Dan Hari ini juga seorang Shafira Sagara bertemu dengan seorang laki-laki yang mau mengajaknya untuk bergabung dalam suatu band walaupun pada akhirnya ia merasa Sastra telah salah memilihnya. Walaupun begitu Shafira tetap bersyukur telah di pertrmukan dengan orang baru.