IMMORTAL LOVE

IMMORTAL LOVE

RiEr-NS

0

    Lita terbangun saat cahaya matahari pagi menerpa langsung pada wajahnya. Dia mengintip sebentar dan mendapati Aldrich yang bertelanjang dada sedang membuka gorden di kamarnya. Bukan, maksudnya kamar hotel. Untuk pertama kalinya setelah hampir 4,5 berpacaran, Lita menyerahkan kegadisannya pada Aldrich.

    “Sudah bangun, sweetheart?” sapa Aldrich saat melihat kedua mata Lita sudah terbuka.

    Bukan menjawab, Lita menarik selimut putih yang dia pakai untuk menutupi wajahnya. Dia merasa malu jika mengingat kejadian semalam. Benar-benar seperti wanita liar dengan semua desahan yang ia desiskan saat Aldrich menyentuh setiap inci kulitnya.

    “Kenapa, hm?” Aldrich menarik selimut yang dipakai Lita. Tapi ternyata tenaga gadis itu cukup kuat sampai Aldrich memutuskan untuk menyerah.

    “Tidak mau sarapan?” tanya Aldrich kemudian.

    “Duluan saja. Aku mau bersih-bersih dulu,” jawab Lita masih dengan posisinya.

    Aldrich tersenyum mendengarnya. Padahal dia sudah melihat setiap bagian tubuh Lita tanpa busana. Dengan tidak sabar, Aldrich membopong Lita menuju kamar mandi beserta dengan selimut yang dia gunakan.

    “Turunkan aku,” ronta Lita yang tanpa sengaja memunculkan wajahnya dari balik selimut. Kedua pipinya tampak rona kemerahan seperti kepiting rebus.

    “Kenapa? Kau mau kita mengulangi aktifitas semalam?” goda Aldrich.

    “Apa? Semalam?” Spontan Lita melompat dari gendongan Aldrich. Sial, selimutnya malah terlepas. Beruntung dia segera menangkap salah satu sisi sebelum selimut itu benar-benar terjatuh. “Berbalik,” seru Lita.

    Aldrich tertawa. Meski demikian dia berbalik. Dia bisa melihat bayangan Lita memasuk kamar mandi dengan langkah yang terseok. Aktifitas mereka semalam pasti meninggalkan rasa sakit pada sang kekasih.

    Ponsel Aldrich berdering saat dia menunggu Lita keluar dari kamar mandi. Nama Reyhan –sang sepupu- tertulis di layar ponsel. Baru saja akan diangkat, Lita menjerit dari dalam kamar mandi.

    “ALDRICH!!!”

    Buru-buru Aldrich masuk ke dalam kamar mandi dan mendapati Lita masih menggunakan handuk dengan rambutnya yang masih basah. Tentu saja pemandangan itu kembali menaikkan birahi seorang pra milik Aldrich. Tapi dia harus menahannya kali ini. “Kenapa?” tanyanya dengan suara parau terdengar berat.

    “Bukankah sudah kubilang jangan meninggalkan tanda di leherku? Sekarang bagaimana ini?” teriak Lita yang terus menerus mengusap lehernya, berusaha menghilangkan bekas cupang yang Aldrich buat semalam.

    “Sudah jangan marah.”

    Aldrich mendekat. Berusaha menyentuh kulit Lita dengan sentuhan lembut. Berharap bisa mengulang kejadian semalam.

    “Aku harus syuting iklan hari ini, Aldrich. Ini bagaimana?” teriak Lita frustasi.

    Aldrich tersadar. Lita memang semalam berpesan kalau hari ini dia akan syuting iklan shampo. Itu artinya Lehernya akan disorot oleh kamera. “Apa tim make up mu tidak bisa menutupinya?” tanya Aldrich.

    “Menurutmu, apa aku bisa mengatakannya? Kau mau ini jadi skandal?”

    “Tapi kan, kita akan menikah akhir bulan ini.”

    “Dan mereka akan bilang aku menikah karena sudah hamil duluan?”

    “Benar.”

    Aldrich segera menghubungi sekretarisnya untuk menelepon seorang MUA. Tentu saja yang bisa menjaga rahasia. Tidak sampai sejam, MUA yang dimaksud sudah datang dan segera melakukan keahliannya. Semua tertutupi, dan Aldrich memberinya upah yang besar sebagai kompensasi sogokan.

    Lita akhirnya mengangkat ponselnya yang sejak tadi dia abaikan. Tentu saja panggilan dari manajernya. Syuting sejam lagi. Ia perlu bersiap-siap mengenai kostum konsep iklannya. Jadi langsung saja Aldrich mengantarnya menuju lokasi syuting.

    
    ---

    Lita dan Aldrich tiba di lokasi syuting. Sorot kamera langsung tertuju ke arah mereka. Tentu saja karena mereka merupakan keturunan dari para pesohor yang ada di Indonesia. Aldrich Mckenzie, penerus tunggal dari MC Grup. Sementara Lita, anak kedua dan putri satu-satunya keluarga Davis pemilik V-Grup. Pernikahan mereka digadang-gadang akan menjadi pernikahan termewah. Dan penggabungan aset kedua perusahaan akan membuat grup baru yang menjadi perusahaan terbesar se-Indonesia. Bahkan se-Asia.

    Tidak hanya itu, Lita yang kini memegang rekor sebagai artis dengan bayaran termahal pun ikut menunjang kekayaan yang dia miliki. Dan Aldrich, dia sudah mendirikan perusahaannya sendiri terlepas dari MC Grup.

    “Darimana saja kau? Kau mau membuat tim mu mati berdiri?” seru Clara, manajer Lita.

    “Bos ...,” sapa Clara saat melihat Aldrich juga ikut bersama Lita.

    Aldrich hanya melambai sembari tersenyum.

    Salah satu hal yang membuat Lita malas jika harus membawa Aldrich ke lokasi syutingnya adalah, rekan-rekan artis yang genit dan mencoba meraba-raba Aldrich. Lita tidak menyukai hal itu. Jadi seperti biasa, ia menyuruh Aldrich menunggunya di ruang kostum, kemudian mengunci ruangan itu dari luar. Aldrich akan aman dari jamahan wanita kurang kasih sayang itu semua.

    “Lit... Kau baik-baik saja?” tanya Clara saat melihat Lita berjalan dengan cara yang aneh.

    “Hah? Iya, aku baik,” jawab Lita cepat. Dia berusaha memperbaiki jalannya. Tapi rasa sakit di bagian kewanitaannya jauh lebih menyiksa.

    Clara menarik Lita ke ruangan lain. Setelah memeriksa sekitar, dan memastikan aman, Clara mulai menginterogasi artisnya itu. “Semalam kau tidur dengan boss. Benarkan?” selidik Clara.

    Ditanyai begitu, Lita memalingkan wajah. “Tidak,” jawabnya tanpa menoleh ke arah Clara.

    “Lihat padaku, Lit.”

    Perlahan Lita melihat ke arah Clara. Tapi dia tidak berani menatap mata sang manajer.

    “Benarkan?” Clara kembali bertanya.

    Lita menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan. Lalu menjawan, “Ya. Aku sudah begitu dengan Aldrich.”

    Clara menepuk dahinya. Bagaimana mungkin Lita sebodoh itu. Clara bukannya melarang. Dia cukup tahu Aldrich menahannya selama ini. Mendekati pernikahan mereka, mungkin saja mereka memutuskan untuk mencuri start. Tapi setidaknya jangan saat ada syuting. Jika begini kondisinya, bagaimana mungkin Lita bisa melanjutkan syuting.

    “Aku akan bicara pada sutradara kalau kau tidak enak badan. Kita tidak bisa syuting sekarang,” ucap Clara.

    “Hah? Aku bisa syuting kok,” jawab Lita.

    “Dengan jalanmu yang terseok begitu? Kau mau mengumbar pada semua orang kalau kalian berdua ‘curi start’, begitu?” umpat Clara saat melihat kepolosan artisnya itu. “Sekarang pergi bawa bos pergi sebelum yang lain menyadarinya,” perintah Clara.

    “Cupang di lehermu pun tidak tertutupi dengan baik,” timpal Clara lagi saat melihat memar kebiruan yang tidak tertutup dengan sempurna.

    Lita hanya tertawa sembari memamerkan rentetan giginya yang putih. Setelah memastikan tidak ada orang, Lita berlari menuju ruang kostumnya untuk membawa Aldrich keluar dari sana.



-TBC-