Ibu untuk anakku

Ibu untuk anakku

Benangbiru

0

Ayana Maheswari gadis berusia 20 tahun itu nampak berdiri berdesak-desakan di sebuah bus yang membawanya ke perusahaan tempatnya bekerja.

Suasana pagi yang macet seperti ini sudah biasa ia lewati semenjak bekerja di ibu kota, Ayana yang hanya seorang gadis lulusan SMA terpaksa mengadu nasib dari kampung ke kota agar mendapatkan penghidupan yang layak. Karena di kampungnya pun ia hanya seorang anak petani yang perekonomiannya pas-pasan.

Sebagai anak sulung dari dua bersaudara tentu saja Ayana ingin mengangkat derajat hidup orang tuanya serta bisa menyekolahkan sang adik setinggi mungkin.

Berkat bantuan seorang tetangga yang bekerja di kota Ayana mencoba peruntungan melamar pekerjaan sebagai seorang office girl, karena dengan ijazah SMA hanya pekerjaan itu yang bisa ia lakukan dan sepertinya nasib baik sedang berpihak padanya karena lamarannya pun di terima.

Kini tak terasa sudah satu tahun lebih Ayana bekerja sebagai office girl di sebuah perusahaan periklanan, meskipun hanya mendapatkan gaji UMR tapi itu membuatnya sangat bersyukur karena sebagian gajinya bisa ia kirim untuk membantu kedua orang tuanya di kampung.

"Pagi Ayana." Sapa seorang manager saat Ayana membawakan secangkir kopi untuknya.

"Selamat pagi juga pak, seperti biasanya secangkir kopi pahit untuk anda." Timpal gadis itu seraya meletakkan secangkir kopi di atas meja kerja pria tersebut.

Setelah itu Ayana segera berpamitan pergi untuk mengantar beberapa cangkir kopi lainnya, begitulah Ayana selalu bersikap ramah dan baik pada semua orang.

Kemudian Ayana segera mengambil alat kebersihan, kebetulan pagi ini turun hujan jadi ia harus standby di lobby untuk membersihkan lantai yang basah bekas lalu lalang para karyawan yang baru datang.

Beberapa saat kemudian sebuah mobil sport keluaran terbaru nampak berhenti tepat di depan lobby kantornya dan Ayana bisa pastikan pemilik mobil tersebut adalah presiden direktur perusahaannya.

Seorang duda tampan berusia 32 tahun itu nampak keluar dari mobilnya setelah seorang security membuka pintu mobilnya.

"Selamat pagi, tuan Arya." Sapa security tersebut dan hanya di angguki oleh pria bernama Arya Permana itu.

Setelah itu Arya segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantornya.

"Selamat pagi, tuan Arya." Sapa beberapa karyawan yang menyambut kedatangannya di depan pintu.

Begitu juga dengan Ayana yang sedang berdiri tak jauh dari sana nampak menunduk saat presdirnya itu datang.

"Hm, pagi semua. Silakan kembali bekerja !!" Balas Arya singkat seraya melangkahkan kakinya masuk.

Saat melewati Ayana, pria itu tiba-tiba berhenti dan tentu saja itu membuat gadis tersebut langsung memucat. Apa ia telah melakukan kesalahan?

Arya nampak menatap Ayana sejenak. "Kamu karyawan baru di sini ?" Tanyanya kemudian.

"Saya sudah bekerja di sini lebih dari satu tahun, tuan." Sahut Ayana dengan sedikit gugup, karena baru kali ini ia berhadapan langsung dengan presdirnya tersebut.

Bahkan pandangannya kini nampak menunduk tak berani menatapnya, sedikit menggigit bibir bawahnya karena gugup serta sebelah tangannya meremas rok kerjanya.

"Bersihkan lantai yang basah itu hingga kering !!" Perintah Arya lantas kembali melangkahkan kakinya pergi.

Sementara Ayana nampak menghela napasnya dengan lega, karena sebelumnya ia pikir telah membuat kelalaian. Sebab presiden direkturnya itu tak pernah mengampuni sedikitpun kesalahan yang di perbuat para karyawannya.

"Syukurlah Ayana hari ini kamu selamat." Gumamnya pada dirinya sendiri, entah mimpi apa ia semalam hingga tiba-tiba berhadapan langsung dengan sang presdir padahal biasanya ia hanya bisa menatanya dari kejauhan.

Keesokan harinya.....

Siang itu Ayana yang baru makan siang di sebuah warung kaki lima pinggir jalan tak jauh dari kantornya, nampak melebarkan matanya saat melihat seorang bocah lelaki berlari ke jalanan.

Dari arah berlawanan sebuah mobil nampak melaju kencang, hingga membuat Ayana langsung berlari untuk mencegah bocah itu agar tidak tertabrak.

"Sayang awas, minggirlah !!" Teriak Ayana dan langsung menarik tangan bocah itu hingga keduanya kini jatuh ke pinggir jalan.

Beruntung dengan cekatan Ayana menolongnya, jika tidak mungkin bocah lelaki berusia 6 tahun itu sudah terseret jauh oleh kendaraan tersebut.

"Apa kamu baik-baik saja, Nak ?" Ucapnya seraya membantu bocah itu untuk bangun, lalu mengecek keadaannya dan Ayana bersyukur anak lelaki itu tak terluka dan hanya mengalami sedikit memar di lututnya.

Bukannya menjawab anak lelaki itu justru nampak terpaku menatap Ayana.

"Hei, kenapa menatapku seperti itu? Apa kamu masih syok? Jangan khawatir semua akan baik-baik saja." Ucap Ayana menenangkan lantas segera membawa bocah itu ke dalam pelukannya, ia jadi mengingat adik kecilnya di kampung.

"Den Nathan, apa kamu baik-baik saja ?" Tiba-tiba seorang wanita dengan seragam baby sitter menghampiri mereka dengan wajah khawatir.

"Apa kamu pengasuhnya ?" Tanya Ayana menoleh ke arah wanita itu.

"Benar mbak, terima kasih sudah menolong anak majikan saya. Tadi setelah keluar dari mobil, Den Nathan langsung berlari keluar mengejar capung." Terang pengasuh tersebut dengan raut wajah bersyukur.

Lalu pandangannya beralih ke anak asuhnya yang masih berada di dalam pelukan gaidis itu. "Den Nathan biasanya sangat takut dengan orang asing, tapi dengan mbak sepertinya tidak." Ucapnya lagi.

"Sepertinya dia masih sangat syok." Ayana menimpali lalu dengan lembut mengusap puncak kepala bocah kecil bernama Nathan tersebut.

"Baiklah, kami harus segera masuk karena ayahnya Den Nathan sudah menunggunya di dalam." Ucap pengasuh tersebut kemudian.

"Di dalam? Apa ayahnya juga bekerja di kantor ini ?" Ayana nampak mengernyit.

"Benar mbak." Pengasuh tersebut mengangguk kecil lantas segera membawa Nathan ke dalam gendongannya.

Sepanjang jalan bocah lelaki itu nampak tak berkedip menatap Ayana hingga pintu masuk memisahkan jarak pandang keduanya.

"Mungkin salah satu putra karyawan di sini." Gumam Ayana lantas segera berlalu pergi menuju area kerjanya, setelah makan siang gadis itu harus segera kembali bekerja apalagi saat ini ada presdir di kantornya dan ia tak ingin di pecat hanya karena terlambat.

Sesampainya di lantai paling atas, Nathan segera berlari menuju ruangan ayahnya tersebut. "Papa !!" Teriaknya dan tentu saja langsung di sambut senang oleh Arya yang sedang duduk di meja kerjanya.

"Hai sayang, papa sangat merindukanmu." Ucap Arya seraya membawa putranya itu ke dalam gendongannya lantas menciumnya dengan gemas, beberapa hari bekerja di luar kota membuatnya harus berpisah dengan buah hatinya itu.

"Ayo lihat papa membawakan mu apa !!" Ajaknya seraya berjalan menuju sofa tak jauh dari sana.

Di atas sofa nampak ada beberapa mainan yang langsung membuat putranya itu berteriak senang. 

"Terima kasih, papa." Ucap Nathan kemudian.

"Sama-sama, sayang." Sahut Arya lalu pandangannya tak sengaja ke arah lutut putranya itu yang terlihat sedikit memar.

"Asih, apa yang terjadi dengan lutut Nathan ?" Tanyanya pada sang baby sitter.

"Tadi Den Nathan setelah keluar dari mobil langsung berlari mengejar capung tuan, hingga tak melihat ada mobil yang sedang lewat. Beruntung tadi ada orang yang menolongnya." Terang Asih dengan wajah bersalahnya.

"Benarkah? Lain kali berhati-hatilah Asih, kamu tahu sendirikan Nathan sangat berharga bagiku." Arya langsung menegur pengasuh putranya tersebut.

"Baik tuan, tolong maafkan saya." Asih nampak menunduk bersalah karena teledor menjaga anak majikannya tersebut.

Kemudian Arya segera mengobati memar di lutut putranya tersebut dan setelah itu mereka segera membuka mainan bersama-sama.

"Hai sayang, apa aku mengganggu ?" Tiba-tiba seorang wanita cantik datang ke ruang kerja Arya.

"Sonya ?" Ucap Arya terkejut saat melihat kekasihnya itu yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan kerjanya.

Arya yang sedang menemani sang putra membuka mainan barunya segera beranjak menyambut kedatangan wanita tersebut.

Wanita itu segera mencium pipi kanan dan kiri Arya lantas memeluknya dengan erat.

"Sonya, apa yang kamu lakukan di sini ?" Tanya Arya kemudian, karena sebelumnya ia tak memberitahukan kedatangannya dari luar kota pada wanita itu.

"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Tentu saja aku sangat merindukanmu sayang, sekretarismu memberitahuku jika kamu sudah datang jadi aku langsung ke sini." Terang Sonya lantas bergelayut manja di lengan pria itu.

"Aku juga sangat merindukanmu." Balas Arya dengan mengulas senyum tipisnya.

"Kalau begitu menginaplah di Apartemenku malam ini." Mohon Sonya dengan wajah memelas lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut rahang kekasihnya itu, namun Arya langsung menahan tangan wanita itu.

"Sonya, ada putraku di sini." Tegur Arya seraya menjauhkan tubuhnya dan itu membuat Sonya nampak tersenyum masam, namun dalam sekejap wajah wanita itu tiba-tiba berubah menjadi manis.

"Hai Nathan sayang, apa ini mainan baru ?" Ucapnya seraya mendekati Nathan yang sedang duduk di sofa bersama mainannya tersebut.

"Jangan di pegang mainanku !!" Teriak Nathan yang langsung menghentikan tangan Sonya saat hendak memegang mainannya tersebut.

"Aku tidak suka tante pegang-pegang mainanku." Imbuh Nathan lagi sembari menjauhkan mainannya dari wanita itu.

"Nathan, tidak boleh seperti itu sayang. Bersikaplah hormat pada tante Sonya karena dia akan menjadi calon ibumu." Nasihat Arya kemudian.

"Tidak mau, Nathan tidak mau punya ibu baru. Nathan tidak mau punya ibu seperti tante Sonya." Bocah berusia 6 tahun itu langsung turun dari atas sofa lalu berlari ke ujung ruangan.

Duduk berjongkok menghadap tembok sambil terisak, meskipun ibunya telah tiada sejak ia berusia satu tahun namun Nathan begitu mencintainya.

Hanya dengan melihat fotonya setiap hari membuat rasa rindu bocil kecil itu bisa terobati dan beberapa wanita yang sedang dekat dengan ayahnya pun tak mampu membuat hatinya berpaling dari sang ibu.

Bahkan Sonya sekalipun yang sudah dua tahun terakhir ini menjadi kekasih sang ayah belum mampu meluluhkan hatinya.

"Baiklah Papa minta maaf ya sayang, ayo bangun !!" Bujuk Arya kemudian seraya mendekati putranya tersebut.

Nathan nampak berdiri namun langsung berlari ke arah sang pengasuh. "Bi, ayo pulang !!" Rengeknya pada sang baby sitter.

Arya nampak mendesah kecil, kemudian menganggukkan kepalanya menatap baby sitter anaknya tersebut yang meminta ijin untuk membawa Nathan pulang.

Setelah kepergian putranya Arya nampak mengusap wajahnya dengan kasar. "Harusnya kamu lebih berusaha lagi mendekati Nathan." Ucapnya pada sang kekasih.

"Aku sudah berusaha sayang, tapi Nathan yang selalu menghindariku dan kamu lihat sendirikan dia selalu bersikap kasar padaku." Jawab Sonya dengan memasang mimik sedih.

"Nathan pasti sudah di ajari oleh tante Arnita untuk membenciku." Imbuhnya lagi mengingat ibu dari kekasihnya itu tak begitu menyukainya.

"Jangan menuduh sembarangan, mama tidak mungkin melakukan itu. Kamu saja yang selalu berprasangka buruk padanya." Tegur Arya kemudian.

"Jadi kamu menyalahkan ku? baiklah aku memang selalu salah di matamu." Ucap Sonya lantas menghentakkan kakinya hendak meninggalkan ruangan tersebut, namun Arya langsung menarik tangannya dan membawanya ke dalam pelukannya.

"Maafkan aku, aku juga sangat mencintaimu Sonya tapi aku belum bisa berbuat banyak hal dalam hubungan kita." Terang Arya sembari mengusap lembut surai indah wanita dalam pelukannya tersebut.

Selain putranya yang tidak setuju ia menikahinya, ibunya pun kurang menyukai kekasihnya tersebut. Padahal menurutnya Sonya wanita yang baik, berasal dari keluarga terpandang dan penampilannya juga sangat anggun dan modern.

"Aku mempunyai ide, tapi jika kamu setuju." Timpal Sonya kemudian yang langsung membuat Arya mengurai pelukannya lantas menatapnya dengan serius.

"Katakan, apa itu Sonya ?" Tanyanya ingin tahu.

"Bagaimana jika kita menikah diam-diam saja, aku yakin mau tak mau tante Arnita akan menyetujuinya." Terang Sonya memberikan saran dan itu membuat Arya langsung melebarkan matanya.