
"Sara ... tolong dengerin dulu penjelasan aku!"
"Apa lagi, Reno? kamu udah bohongin aku, apa itu belum cukup?"
"Tapi aku cinta sama kamu!"
"Tahu apa kamu tentang cinta? kamu gak pernah bisa ngehargain cinta! cinta gak pernah didasari dengan kebohongan, Reno."
"Aku gak sengaja lakuin ini, tolong percaya aku ...."
"Keluar dari rumah aku!" Air mata Sara semakin menyeruak, dia sudah tidak tahan lagi melihat wajah laki-laki yang telah menghianatinya ini, Sara pun beranjak menaiki anak tangga untuk pergi ke kamarnya.
Alih-alih pergi, Reno pun mengejarnya. "Aku mohon Sara! aku gak mau kehilangan kamu, aku janji aku bakal cerain dia."
Sara tersentak dan menghentikan langkah, tubuhnya berbalik dan mendapati tatapan mata penuh permohonan. "Kamu bilang apa?"
"Ya, aku bakal cerain dia. Please, kasih aku kesempatan!"
"Kamu yakin?"
"Aku yakin, setelah bayi itu lahir aku akan menceraikan dia."
"Dan nikahin aku?" tanya Sara dengan sorot mata nanar.
"Dan nikahin kamu." Reno mengikis jarak dan meraih kedua tangan Sara lalu merengkuhnya, Reno sekuat tenaga meyakinkan kekasihnya untuk tidak mengakhiri hubungan terlarang tersebut.
"Aku pegang janji kamu. Tapi kamu lihat aja, kalo setelah bayi itu lahir, dan kamu gak juga menceraikan dia, aku yang bakal ninggalin kamu dan pergi dari hidup kamu selamanya."
"Iya sayang, aku janji. Makasih udah kasih aku kesempatan." Senyumnya mengembang. "Aku sayang kamu, Sara."
***
Semburat cahaya sore hari yang kekuningan, serta nuansa coklat kayu yang digabungkan dengan dinding kaca setinggi langit-langit, berhasil menghangatkan suasana di dalam rumah klasik modern yang di desain dengan dekorasi tropikal vibes itu.
Juga tidak terlewatkan, sentuhan aksen kayu pada tangga, memberi kesan ruangan yang luas nan aesthetic sejauh mata memandang.
Di dapur yang luas dan menghadap ke luar ruangan, terlihat dua sejoli yang sedang berkutat, untuk membuat dan menyiapkan makanan yang akan di santap untuk makan malam.
"Aku punya banyak kenalan arsitek, saat kita menikah nanti, kita bisa pake jasa mereka buat nge-desain rumah baru kita," ucap Reno sembari memperhatikan Sara yang sedang memotong tiga buah tomat.
"Rumah baru? sayang, aku gak perlu rumah baru lagi, rumah ini udah cukup besar untuk aku, kamu dan anak-anak kita nanti." Senyum secerah matahari terlukis di bibir Sara.
"Aku tau, tapi aku juga mau nunjukin kalo aku bisa bertanggung jawab sebagai kepala keluarga, sayang," protes Reno. "Aku bisa buatin rumah yang kamu mau, kamu gak usah pikirin soal biayanya," lanjutnya lagi.
"I know Reno, tapi aku juga gak bisa ninggalin rumah ini, ini satu-satunya kenangan yang ditinggalin oleh kedua orang tua aku." Mata Sara mulai berkaca-kaca.
"Maafin aku sayang, oke kita akan tinggal di sini." Reno merengkuhnya dari belakang, sembari menaruh dagunya di pundak sang kekasih.
Mereka membicarakan dan merencanakan masa depan dengan begitu matang, layaknya sepasang kekasih normal di luaran sana.
"Kamu tahu? ini impian aku." Reno berbisik.
"Apa?" Sara memilih untuk pura-pura tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh kekasihya.
"Menikah sama kamu, satu rumah sama kamu, dan masak bareng sama kamu."
Seraya tersenyum kecil, Sara menyeletuk, "Kayak bisa masak aja."
Dengan sigap Reno membalikkan tubuh Sara, tatapan mereka pun terkunci, sehingga hidung mancung keduanya saling beradu, menyuguhkan bibir yang hanya berjarak beberapa inci saja.
Jantung wanita bertubuh mungil dan berkulit eksotis itu berdetak lebih kencang, serta desir darah yang mengalir terasa sangat cepat. Reno memainkan jari-jari nya, dan mengelus dagu wanita itu dengan lembut. "Aku bakal lakuin apapun demi kamu, sekalipun aku harus belajar masak, why not?" goda reno nakal.
Namun Sara tidak merespon apa-apa, tubuhnya mematung, perasaannya masih tidak karuan, seolah sedang di intimidasi oleh laki-laki bertubuh kekar yang berada tepat di hadapannya saat ini. Bisikan paraunya menggema di telinga Sara."You are my future wife honey."
Sesederhana ini Reno membuat seluruh sel-sel tubuh Sara mendadak tidak berfungsi, deru napasnya tidak beraturan, perlahan Reno mengecup bibir seksi nan ranum milik Sara dan melumatnya dengan rakus, mata Sara pun terpejam merasakan sinyal kenikmatan yang telah merasukinya.
Sara pun membalas, napasnya terengah menikmati setiap sesapan sensual itu, bibir jantan Reno pun semakin rakus menuntut, namun permainan lidah saja tidak bisa membuat Reno merasa cukup. Laki-laki itu semakin buas mengeksplor semakin bawah bak singa yang sedang kelaparan. Dan Sara hanya bisa pasrah menikmati adegan demi adegan, yang membuat seluruh bulu kuduknya berdiri.
Eh, perempuan jalang!
Kamu gak laku ya? sampe harus ngerebut suami orang lain?
Apa suami saya terlalu tampan buat kamu? kamu pikir kamu bisa ngerebut dia?
Bahkan saya lebih cantik, tau diri dong! dasar gadis kampung!
Isi dari pesan tanpa nama itu merusak suasana romantis yang sedang terjadi di antara dua sejoli ini, Reno menghela napas panjang melihat kata yang cenderung 'kasar' meneror kekasihnya.
Sara merasa dirinya seperti Yeo Da Kyung--pemeran antagonis--di drama korea The World Of The Married. Hanya saja, Sara bukan wanita yang dengan sengaja ingin merebut suami wanita lain, melainkan wanita lain yang telah merampas paksa kekasihnya, sungguh ironis.