
Prolog
Langit biru, Halla Arboretum dari jauh, wajah lelaki yang tidak dia kenal, jalan aspal lengang, semangkuk jeonbokjuk[1], wajah senang lelaki yang tidak dia kenal, sepiring yukhoe[2] yang tinggal separuh, awan berarak, wajah gadis yang tidak dia kenal, jalan setapak waktu senja, matahari yang baru terbit di batas laut, wajah samping lelaki yang tidak dia kenal, gunung Hallasan dari jauh, punggung gadis yang tidak dia kenal, langit biru, brosur di kursi, senyum lelaki yang tidak dia kenal, vas bunga di atas meja, langit malam hari, jalan ramai, dua gadis yang tidak dia kenal sedang berlari, air terjun Jeongbang dari dekat, wajahnya di cermin, pintu yang tertutup, jendela yang terbuka, semangkuk ramyeon[3], Seongsang Ilchulbong Peak dari jauh, wajahnya di cermin, langit malam, mangkuk kosong, kamar yang berantakan, wajah seseorang yang sangat dekat.
Dia akhirnya terbangun setelah gambaran terakhir membuatnya terkejut. Sesekali dia mengerjapkan mata, menyesuaikan pandangan dengan cahaya ruangan. Tirai terbuka, dia ingat semalam tidak menutupnya. Sinar matahari masuk begitu saja, tapi anehnya dia merasa dingin.
Wajahnya diusap kemudian menghela napas panjang. Dia tidak tahu kenapa kilasan-kilasan itu muncul di kepala, menganggu tidur nyenyaknya. Belum lagi wajah-wajah orang yang tidak dia kenal, kenapa dia harus melihat semua itu. Memang apa hubungannya dengan dia?
Dia memang merasa janggal, seperti merasa ada sesuatu lain, sesuatu yang hilang. Namun dia tidak tahu apa yang hilang itu, dia juga tidak tahu itu hal yang harus dipikirkan atau dibiarkan saja. Beberapa kali berpikir, dia tetap tidak tahu yang hilang ini—jika memang ada—apakah sesuatu yang penting atau tidak.
Dia baru saja bangun dari tempat tidur ketika suara ketukan pintu terdengar. Dengan cepat dibukanya pintu itu. Saat melihat siapa yang berdiri di baliknya, akhirnya dia sadar kalau memang ada yang hilang. Lebih dari itu, ada yang sudah terjadi di sana. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika, tapi dia tahu kalau itu adalah sesuatu yang berbahaya.
Bagian 1
Malam sudah larut bersama dengan bulan yang merangkak naik. Angin musim semi berembus kencang dan sangat dingin, hal yang tidak biasanya terjadi. Jeju belum tertidur, sesekali masih ada kendaraan dan orang yang lewat, melintasi jalanan di Seogwipo. Namun, bukan itu yang membuat Son Dongpyo yang tadinya tertidur dengan nyenyak terbangun.
Pemuda yang sering kali dipanggil Dongpyo itu mengucek-ngucek mata sebentar, melihat dengan bingung ke seluruh penjuru kamar. Kantuk masih menguasai setengah dirinya. Bahkan dia menguap beberapa kali sebelum bangun dan turun dari ranjang.
Lampu utama tidak menyala, hanya lampu tidur yang bersinar remang-remang. Itu sudah cukup baginya untuk melihat. Sesaat dia hanya berdiri di pinggiran ranjang selama beberapa detik sampai akhirnya sadar kenapa dia terbangun.
Dongpyo berjalan mendekat ke jendela, menyingkap sedikit tirai. Memang ada pohon yang berada agak dekat dengan jendela, tapi dahannya tidak sampai meski ditiup angin. Jelas bukan pohon yang mengetuk-etuk kaca jendela dengan keras. Lalu siapa? Manusia? Kamarnya berada di lantai dua dan tidak ada akses untuk sampai ke jendela dari luar sana.
Menoleh ke belakang, Dongpyo melihat seorang pemuda yang tertidur nyenyak di ranjang lain. Di kamarnya ada dua tempat tidur dan Dongpyo menempati yang di dekat jendela. Karena itu dia yakin benar kalau suara keras yang membangunkannya berasal dari jendela, tapi bagaimana bisa?
Untuk sepersekian detik Dongpyo sempat berpikir untuk membangunkan pemuda itu, tapi kemudian dia sadar kalau itu hanya perbuatan bodoh. Jelas dia tidak akan mendapat jawaban apa-apa jika bertanya pada orang yang juga tertidur.
Dongpyo menjauhi jendela, memutuskan untuk kembali tidur ketika dari bawah celah pintu terpantul bayangan samar. Ada seseorang di depan pintu kamarnya. Selarut ini? Itu bisa menjelaskan bunyi ketukan yang dia dengar. Mungkin bukan dari jendela, melainkan pintu, meski rasanya tidak seperti itu.
Menunggu beberapa saat. Tidak ada suara yang terdengar, baik ketukan atau orang bicara. Siapa pun di luar sana, jika memang ingin sesuatu, pasti tidak akan diam saja. Dongpyo menghitung sampai enam puluh, satu menit berlalu dan masih tidak terjadi apa-apa.
Sebenarnya dia sudah mengantuk, ingin segera kembali tertidur, tapi rasa kantuk itu berbanding lurus dengan rasa penasarannya. Di sisi lain Dongpyo ingin membuka pintu dan melihat siapa yang berdiri di baliknya. Baru saja pemuda itu berjalan ke arah pintu, bayangan samar tadi bergerak ke samping, lalu menghilang. Orang itu berjalan pergi.
Dongpyo mempercepat langkah, segera membuka pintu dan mengeluarkan kepala. Menengok ke arah bayangan tadi bergerak. Dia tidak bisa melihat wajah sosok itu, tapi tahu kalau orang itu adalah wanita. Sebelum menghilang di balik dinding ujung koridor, Dongpyo melihat rambut panjang dan gaun putih yang digunakan orang tadi.
Siapa dia? Kenapa tengah malam berdiri di depan kamarnya? Mau apa? Pertanyaan-pertanyaan itu membuatnya keluar dari kamar dan mengejar sosok tadi. Koridor hotel terang, lampu-lampu gantung bergaya kuno tapi mewah menyala sepanjang koridor. Namun, anehnya dia merasa takut. Entah kenapa perasaan itu tiba-tiba muncul begitu saja, mungkin karena suasana saat itu sepi. Saking sepinya dia bisa mendengar papan berderik yang berasal dari tangga, hal yang harusnya tidak terdengar karena tangga hotel tidak terbuat dari papan. Bagaimana mungkin suara seperti itu bisa terdengar?
Sejak datang tadi pagi, Dongpyo sudah merasa ada yang aneh dengan hotel ini, tapi tidak tahu apa. Bangunan berlantai empat itu menjulang di antara pohon-pohon lebat yang tumbuh di depannya. Tampilan luarnya bergaya kuno seperti bangunan pada periode Dinasti Joseon, tapi mewah. Sedangkan di dalamnya bergaya modern, seperti hotel-hotel lain. Furnitur yang digunakan model klasik dan antik. Jelas mahal.
Di bagian depan, tepat di bawah atap, terdapat tulisan Hotel Laguna, nama hotel itu. Padahal tidak ada laguna di sekitarnya. Dongpyo pikir mungkin karena laguna berkaitan dengan laut dan Jeju di kelilingi oleh laut, jadi si pemilik menamai hotel dengan metafora seperti itu. Mungkin juga tidak.
Bangunan dan nama hotel cukup unik, tapi bukan itu letak keanehan yang Dongpyo rasakan. Bukan juga karena sikap Lee Seungwook, sang pemilik hotel yang kelewat ramah meski mereka hanya bertemu sebentar. Suasana hotel cukup nyaman dengan atmosfer menyenangkan, setidaknya sebelum dia terbangun tadi.
Kini hotel terasa mencekam, suhunya terlalu rendah untuk sebuah bangunan di pulau Jeju. Selain bebunyian aneh, Dongpyo tidak mendengar suara apa pun. Terlalu hening. Sesekali dia mengusap lengan ketika menuruni tangga. Sosok yang dia lihat tadi sudah sampai di anak tangga terbawah. Berjalan cepat menuju bagian selatan bangunan, menghilang di balik dinding.
Dongpyo mempercepat langkah. Kakinya seperti mengkhianati otaknya yang dari tadi mengeluarkan perintah untuk kembali ke kamar. Derapnya menggema di koridor hotel, menjadi backsound yang menambah ketegangan.
Saat sampai di lantai bawah, Dongpyo berlari ke arah sayap kanan bangunan, tempat sosok tadi menghilang. Mendadak lampu gantung mati ketika dia sampai di sana, koridor menelan Dongpyo dalam kegelapan yang mengerikan. Dia berhenti di tempat, membeku dengan suara tertahan. Dari arah belakang ada embusan angin keras yang menabrak punggungnya, membuatnya menoleh dengan wajah penuh ketakutan.
Dongpyo tidak bisa melihat apa pun. Dia mendengar suara lelaki dari dalam kepalanya. Samar-samar, menyuruhnya lari pergi dari tempat itu. Suara itu berat dan canggung, bukan milik Dongpyo.
Beberapa detik dia berada dalam aksi beku sesaat sampai dari depan, tepat di depan wajahnya, muncul sepasang mata menyala, besar dan merah. Dongpyo jatuh ke belakang saking kagetnya. Kepalanya sakit terbentur lantai dan pandangannya kabur. Lama-lama dia merasa berat, tidak bisa menggerakkan badan. Dongpyo mengalami disorientasi sebelum kesadarannya hilang secara perlahan. Hal terakhir yang bisa dia lihat adalah cahaya terang dan orang yang memakai jas, lalu semua gelap.
***
Dongpyo terbangun dengan kepala sakit dan badan lemas. Erangan lolos dari mulutnya saat dia mencoba bergerak. Sinar matahari masuk melalui celah tirai jendela. Sudah pagi? Dia sadar sudah berada di dalam kamar, tepat di atas tempat tidur. Dia memejamkan mata sebentar, berusaha mencerna apa yang sudah terjadi.
Dia ingat terbangun malam tadi karena suara ketukan, lalu melihat sosok gadis yang langsung dikejarnya. Kemudian ... kemudian ... tidak tahu lagi. Dongpyo tidak bisa mengingat apa yang terjadi setelahnya.
Pintu kamar mandi terbuka, Dongpyo menoleh dan berusaha tersenyum seramah mungkin pada pemuda yang keluar dari sana. Pemuda itu sudah berpakaian lengkap, rambutnya yang basah digosok-gosok handuk putih kecil.
“Bagaimana tidurmu? Nyenyak?” tanya pemuda itu.
Dongpyo tidak langsung menjawab. Sebenarnya dia sendiri tidak tahu, tapi pada akhirnya dia mengangguk pelan kemudian berkata, “Sepertinya begitu.”
“Kau yakin? Kau tidak kelihatan seperti orang yang sudah tidur dengan nyenyak.”
Dongpyo memang merasa begitu, karena itu dia mengangguk lagi.
“Sebenarnya memang seperti itu.”
“Mimpi buruk?”
“Sepertinya,” katanya pelan. “Maksudku, aku merasa seperti sudah melakukan sesuatu semalam, tapi aku tidak ingat dengan jelas. Mungkin memang mimpi buruk.”
Pemuda itu mengangguk seolah mengerti. Lalu dengan handuk tersampir di bahu, dia berjalan ke jendela dan menyingkap tirai lebar-lebar. Dongpyo memicingkan mata sesaat sebelum mengejap-ngejap, menyesuaikan pandangan dari cahaya silau yang seketika membanjiri kamar.
“Kau sepertinya bukan tipe orang yang suka mandi.”
“Yohan-hyung[4]!” teriak Dongpyo refleks. “Aku bukan orang yang seperti itu.”
Pemuda yang ternyata bernama Yohan, hanya cekikikan. Belum 24 jam mereka bertemu, tapi seperti sudah kenal lama karena sikap Yohan yang welcome.
Dongpyo berusaha membangunkan diri dan duduk di tepian ranjang. Dia mengusap wajahnya sebentar lalu menghela napas panjang. Perlahan dia bangkit dan menyeret kakinya masuk ke dalam kamar mandi.
Dia menghabiskan waktu yang cukup lama di kamar mandi, hal yang tidak biasa pemuda itu lakukan. Bagian belakang kepalanya sakit, pelipisnya berdenyut-denyut, tapi semua itu berangsur hilang ketika badannya menyentuh air. Dongpyo berendam sambil terpejam, menikmati sensasi nyaman yang menjalari tubuhnya.
Sebenarnya dia ingin lebih lama lagi di dalam kamar mandi, tapi ketukan di pintu yang tidak berhenti membuatnya mau tidak mau harus menyudahi aktivitasnya. Dongpyo berdiri dan mengambil handuk di rak kecil yang tergantung di dinding. Melilitkan di badan sebelum membuka pintu.
“Ya[5]! Son Dongpyo!”
Dongpyo terkejut bukan main. Pintu belum terbuka lebar dan pemuda yang berdiri di depan kamar mandi langsung melingkarkan lengan pada leher kecil Dongpyo, membuat pemuda itu terhuyung sebentar.
“Seungwoo-hyung, aku tidak bisa bernapas.”
Seungwoo menjauhkan lengannya sambil tertawa seperti orang yang sangat bahagia, sedang Dongpyo batuk-batuk kecil. Kemudian dia memandang Seungwoo dengan ekspresi datar, kembali teringat karena pemuda inilah dia akhirnya berada di Jeju, dalam hotel Laguna.
Dongpyo baru saja pulang dari mini market ketika Seungwoo datang ke rumahnya sambil menggoyang-goyangkan ponsel dengan girang, mengatakan bahwa mereka memenangkan undian liburan di pulau Jeju selama satu minggu.
Tentu saja Dongpyo tidak percaya, juga tidak mengerti kenapa mereka bisa memenangkan undian sedangkan dia tidak pernah mengikuti hal semacam itu. Seungwoo akhirnya menjelaskan, beberapa waktu lalu dia melihat iklan di sebuah website tentang hotel yang baru saja dibuka. Untuk meresmikan pembukaan, hotel itu memberikan kesempatan bagi dua belas orang yang beruntung agar menginap di hotel mereka selama satu minggu dan menikmati liburan di Jeju secara gratis.
Seungwoo mengikuti undian itu dua kali, satu atas namanya dan satu lagi nama Dongpyo. Beruntung, mereka berdua terpilih dan berangkat ke Jeju keesokan harinya. Dongpyo memang tidak pernah habis pikir dengan tetangganya yang sudah menganggap dirinya seperti adik sendiri itu.
“Jangan melihatku seperti itu,” kata Seungwoo. “Cepat pakai bajumu dan turun ke bawah. Kita akan sarapan sebentar lagi. Cepat.”
Setelah mengatakan itu, Seungwoo keluar dari kamar, disusul Yohan yang tertawa geli sebelum menutup pintu. Dongpyo mencibir kesal lalu segera memakai pakaiannya. Saat sampai di lantai satu, ternyata semua orang sudah ada di sana.
Lee Seungwook menyambutnya dengan senyum ramah.
“Annyeonghaseyo[6],” sapa Dongpyo sambil membungkuk rendah pada semua orang, lalu berjalan mendekati Seungwoo dan Yohan yang berdiri bersebelahan.
Lee Seungwook mengangguk kecil lalu merapikan jasnya yang sudah rapi. Senyumnya lebar dan cerah.
“Sekali lagi saya mengucapkan selamat datang di Hotel Laguna,” katanya. “Maaf karena baru hari ini saya sempat menjelaskan pada kalian. Kemarin saya masih harus mengurus beberapa hal sehingga hanya bisa menyapa kalian sebentar. Saya akan menjelaskan semua hal setelah sarapan, tapi sebelum itu saya ingin memastikan semua orang hadir.”
Lee Seungwook mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, melakukan seuatu pada benda itu, kemudian menyebutkan nama-nama yang tertera di layar sambil melihat pemuda dan gadis yang berdiri di depannya.
“Han Seungwoo, Cho Seungyoun, Kim Yohan, Nam Dohyun, Son Dongpyo, Cha Junho, Kwon Eunbi, Lee Chaeyeon, Jo Yuri, Jang Wonyoung, Choi Yena, dan Ahn Yoojin. Oke, semua lengkap. Sekarang kita bisa menuju restoran yang berada di bagian selatan hotel. Lewat sini.”
Bersama yang lain, Dongpyo berjalan mengikuti Lee Seungwook ke bagian kanan hotel. Mendadak dia merasa badannya berat, seperti ada sesuatu yang diletakkan di bahunya. Langkahnya memelan, seiring pusing yang mendera kepala. Pandangannya seperti diputar, telinganya berdengung keras, dan tenggorokannya kering.
“Dongpyo, kau baik-baik saja?” tanya Seungwoo menyadari tingkah Dongpyo yang seperti orang linglung. Saat itu mereka berjalan paling belakang.
Dongpyo tidak menjawab, membuat Seungwoo bertanya lagi sambil mengguncang pelan bahu pemuda itu. “Kau baik-baik saja?”
“Gwaenchana[7], gwaenchana.” Guncangan di bahunya membuat Dongpyo sadar. Gangguan yang sempat dia rasa tadi seketika hilang. Sekarang dia baik-baik saja, tapi entah kenapa dia merasa kalau itu tidak akan bertahan lama.
[1] Bubur khas korea yang terbuat dari campuran nasi dengan abalone.
[2] Hidangan korea yang bahannya terbuat dari perpaduan sapi mentah yang telah dibumbui dengan berbagai macam bumbu atau saus.
[3] Mie instan ala Korea
[4] Kakak, panggilan lelaki pada lelaki yang lebih tua.
[5] Hei
[6] Ungkapan salam dalam bahasa Korea.
[7] Aku baik-baik saja.