Hit Me Up

Hit Me Up

Asti Wisnu

4.7

HIT ME UP

Asti Wisnu

 

Aku memasukkan ponsel serta dompet ke dalam tas selempang dengan sembarang, kemudian sedikit berlari untuk mengambil sepatu keds terdekat dari pintu kamar. Namun belum juga mendekati pintu, sudut mataku menangkap bayangan diri di cermin yang berada tepat di sebelah lemari tempat tas selempangku berada. Rambut cokelatku yang biasanya tergerai lurus sebahu, terlihat sangat berantakan. Setelah berusaha menyisir dengan bantuan tangan kanan, aku menyerah. Topi baseball berlogo ‘LG Twins’ kupasrahkan menutupi anak-anak rambut yang mulai mencuat keluar dari jalur.

Sekilas kulirik jam tangan yang melilit lengan kiriku, terlihat sepuluh menit lepas pukul sembilan pagi. Sungguh terlambat. Perjalanan dari Mapo-gu ke Jung-gu akan memakan waktu sekitar setengah jam. Ditambah perjalanan ke stasiun subway, bisa jam sepuluh ini sampai Jung gu, keluhku dalam hati.

“Eomma, aku pergi dulu ya. Tidak sempat sarapan, kembali sebelum makan malam,” teriakku sambil menuruni tangga.

“Sooyoung, hati-hati. Kenapa sih kau selalu berlari setiap turun tangga,” jawab Eomma, sepertinya dari arah dapur, aku tidak yakin. Belum juga Eomma sempat menyelesaikan kalimatnya, aku sudah berlari menuju subway terdekat. Kalau berjalan kaki biasa membutuhkan waktu sepuluh menit, dengan berlari biasanya aku bisa menghemat enam sampai tujuh menit. Semua berkat kedua kaki panjang ini yang sering membuat teman-teman kuliahku iri.

Baru saja sampai di platform subway, ponselku bergetar. Sambil merogoh ke dalam tas selempangku mencari keberadaan ponsel, aku menyusup ke dalam subway yang masih ramai. Pukul sembilan pagi lewat dua puluh menit memang masih tergolong jam padat saat pekerja kantor berangkat.

“Halo,” jawabku segera setelah berhasil menyeimbangkan diri antara berpegangan di grip subway dan menjawab telepon.

“Choi Sooyoung!”

Balasan yang terdengar dari receiver membuatku nyaris menjatuhkan ponsel. Sekilas kulihat caller ID-nya dan meringis. Tentu saja dia, siapa lagi.

“Tenang saja, aku sudah di jalan. Tidak lama lagi sampai,” jawabku santai.

“Kalau kamu bilang sudah di jalan, itu berarti kamu baru jalan. Astaga Sooyoung, drama apalagi yang kamu tonton sampai pagi?”

Ya Tuhan, pria ini. Kenapa dia tahu sekali, sih?

“Kamu kan tahu ya, kalau ke area Jung-gu sana aku harus ganti kereta di Yongsan. Yongsan itu penuh sekali, apalagi ini masih pagi, aku harus bersaing dengan banyak pekerja kantoran. Jadi, sabar sedikit dong.”

“Kalau kamu bilang seperti itu, berarti sampai Yongsan juga belum. Lima belas menit lagi sepertinya.” Terdengar suara klik yang berarti pria di ujung telepon sana telah mematikan sambungan.

Aku menghela napas. Shim Changmin, pria yang meneleponku tadi memang sungguh menyebalkan. Dia terlalu banyak tahu tentang diriku, sampai-sampai aku berpikir dia menaruh GPS tracker atau bahkan kamera tersembunyi di beberapa barangku. Kalau tidak, bagaimana mungkin dia tahu persis kegiatanku.

Aku memperhatikan peta jalur subway di dekat pintu keluar sambil mengingat-ingat lokasi pertemuan kami. Changmin bilang lokasinya tidak jauh dari Pasar Namdaemun. Kalau mau dekat lokasi pertemuan, aku harus turun di stasiun Hoehyeon, tapi itu berarti berganti kereta di Yongsan yang super padat. Lebih baik turun di City Hall saja sepertinya, berjalan kaki akan memakan waktu sekitar sebelas menit dari City Hall ke Hoehyoen. Saatnya kembali mengandalkan tungkai panjangku ini.

Tidak sampai lima belas menit seperti prediksi Changmin, aku membuka pintu kafe ‘Two Ducks’ dengan jemawa. Mengalahkan prediksi Shim Changmin adalah salah satu kepuasan batin tersendiri.

“Tetap saja terlambat sepuluh menit,” ucap Changmin setelah melihat kedatanganku.

“Tidak selama prediksimu,” pungkasku sebal. “Lagipula, drama baru Yeo Jin-Goo ini keren banget dan wajib tonton. Kita kan lihat reviewnya bareng kemarin. Aku jadi tidak bisa meninggalkannya di tengah-tengah menonton, tahu-tahu ketika terbangun sudah pukul sembilan. Maafkan aku ya.”

“Ya ya, aku tahu. Aku sudah lihat episode pertamanya kok, sudah masuk daftar wajib tonton. Tapi kan tidak harus maraton juga menontonnya, kamu kan tahu kita punya waktu terbatas pagi ini. Sebentar lagi kafenya buka, aku tidak enak dengan Mr. Park yang sudah mau membuka kafe untuk kita dari jam sembilan tadi,” ucap Changmin setengah berbisik.

Aku menengok ke arah kasir dan melihat sosok pria berusia sekitar awal 40 tahun tengah berbicara dengan seorang perempuan, sepertinya melakukan briefing pagi. Mungkin dia Mr. Park yang dimaksud.

“Apakah aku harus menemuinya dan minta maaf?” tanyaku tak enak.

“Sudah kuwakilkan, kita tidak punya banyak waktu soalnya. Sebentar lagi kafe akan buka, sekarang kita mulai saja langsung. Aku sudah atur posisinya, makanannya sudah tidak lagi hangat, tapi rasanya enak. Kamu tidak mau merapikan rambutmu dulu?” ujar Changmin yang sepertinya baru menyadari penampilanku yang berantakan.

Aku dan Changmin mengelola kanal Youtube bertajuk ‘ShikShin’, artinya kurang lebih God of Food. Sesuai namanya, kanal ini tentu saja berisikan ulasan-ulasan makanan beserta tempat makan yang sedang populer. Kami berdua memang suka sekali makan, namun anehnya hobi tersebut tidak berpengaruh terhadap postur tubuh. Changmin dan aku sama-sama memiliki tinggi badan di atas 170cm, aku yakin Changmin sudah 185cm saat ini, namun berat badan kami hanya sekitar 45-50 kg.

Pertemuan pertama kami di kampus, sekitar dua tahun lalu, terjadi di kantin kampus. Pertemuan itu terulang di beberapa tempat makan sekitar kampus yang membuat kami akhirnya memutuskan membuat kanal Youtube. Sayang sekali kalau petualangan makan kami tidak didokumentasikan dengan baik. Saat ini kanal kami sudah memiliki penonton tetap sekitar 500 ribu. Tentu saja membuat aku dan Changmin menjadi sedikit serius dalam memperlakukan konten-konten yang dikeluarkan. Seperti hari ini, demi mendapatkan syuting konten tanpa gangguan, kami harus datang pagi-pagi sebelum kafe buka agar mendapatkan suara jernih dan cahaya bagus sehingga tidak perlu banyak edit video.

Setelah meminta izin merapikan diri di toilet kafe, aku dan Changmin memulai syuting mukbang[1] kami. Pertama kali syuting untuk konten, kami berdua dapat menghabiskan waktu hampir satu jam untuk satu kali ambil gambar, itu pun hasilnya masih berantakan. Sekarang cukup satu kali ambil gambar sekitar maksimal lima belas menit. Sudah sejago itu kemampuan kami meningkat dalam dua tahun ini.

“Kamu tahu aplikasi pengajuan kita untuk hadir di acara Youtube FanFest sebagai pengisi acara?” tanya Changmin di sela-sela merapikan semua properti selesai syuting. Aku sedang mengelap meja dan menyingkirkan piring-piring kotor sementara Changmin tengah melipat tripod.

“Tentu saja aku tahu, pengumumannya masih minggu depan bukan?” tanyaku sambil mengingat-ingat batas pengumpulan aplikasi. “Memangnya ada yang perlu aku perbaiki lagi di dalam formulirnya?”

Changmin menghentikan kegiatannya, dan aku merasakan ia menatapku lekat. Aku membalikkan badan dan menatapnya balik. Changmin tersenyum lebar sekali sampai-sampai bibirnya yang memang tipis itu semakin tipis dan panjang.

“Jangan bikin penasaran deh,” seruku setelah Changmin tidak jua menjawab pertanyaanku.

“Tidak perlu menunggu jawaban, pihak Youtube ternyata telah mengirimkan surel menyatakan kita diundang!” pekik Changmin.

“Astaga yang benar saja!” teriakku balik tidak mampu menyembunyikan keterkejutan. Sontak kami berpegangan tangan dan meloncat-loncat di dalam kafe seperti dua anak kecil yang baru saja mendapatkan permen.

Youtube FanFest adalah acara yang mempertemukan pencipta konten Youtube dari seluruh dunia, untuk dapat berkolaborasi sekaligus berinteraksi dengan para pemirsanya. Acara ini dikelola langsung oleh Youtube dan sudah ada sejak tahun 2013. Tentu menjadi impian semua pencipta konten Youtube untuk dapat tampil di acara ini.

“Wah ada apa ini, kalian tampak senang sekali,” seru suara dari belakangku. Aku menoleh dan menemukan sosok Mr Park dan seorang pria lain mendekati kami berdua.

“Ah, Mr Park, Hyung,” ucap Changmin sambil melepaskan pegangan tangannya dariku. Pria yang dipanggil Hyung adalah Yunho, kakak Changmin. Selama syuting, Yunho biasanya membantu kami untuk merekam. Hasil rekaman dengan tangan manusia lebih terlihat natural, tidak kaku seperti hasil tripod. Tapi hari ini sepertinya dia berhalangan, dan baru sempat datang sekarang setelah syuting selesai.  

Mr Park dan Yunho kemudian menyelamati kami berdua setelah mendengar penjelasan Changmin. Mr Park bahkan berbaik hati menyajikan beberapa menu tambahan lagi, untuk merayakan pencapaian kami katanya.

“Hyung sudah selesai?” tanya Changmin setelah kami bertiga duduk di salah satu booth kafe. Aku dan Changmin duduk bersebelahan, sementara Yunho duduk tepat di depan Changmin. Kami tengah menikmati sajian tambahan yang diberikan Mr. Park sebelumnya, dua porsi kalguksu[2] dan seporsi sujebi[3].

“Ah iya, dosen pembimbing tiba-tiba meminta aku menemuinya pagi ini. Padahal seharusnya aku baru bertemu dia besok, ada revisi yang harus segera kuselesaikan. Maaf ya, aku jadi tidak bisa membantu kalian,” jawab Yunho setelah menyesap americano-nya.

“Tidak apa, Hyung. Aku dan Sooyoung sudah terampil kok. Lagipula, aku butuh bantuan Hyung yang lebih penting nih. Semoga saja Hyung bisa.”

Yunho menaikkan salah satu alisnya, satu gerakan yang aku paham dia tujukan untuk Changmin meneruskan pembicaraannya. Sejauh aku mengenal Yunho, tentu selama aku mengenal Changmin, Yunho adalah sosok kakak yang sangat menyanyangi dan melindungi Changmin. Tentu saja aku sudah bisa menduga dia akan mengiyakan semua permintaan Changmin, walaupun itu harus membuatnya sedikit kesulitan. Satu kali, Yunho bahkan sampai meninggalkan kuliah ketika Changmin meminta tolong untuk mengantarkan kami menuju lokasi talk show pertama kami. Belakangan baru kami tahu, kuliah yang ditinggalkan Yunho membuatnya harus membuat tugas tambahan yang sangat banyak untuk mengganti batas daftar kehadirannya yang sudah tipis.

“Minggu depan, sebagai bagian dari persiapan acara Youtube FanFest, semua pengisi konten harus hadir untuk briefing awal dan syuting untuk iklan acara sepertinya. Aku tidak bisa hadir karena harus ambil data ke Suwon hari itu, tolong temani Sooyoung ya.”

“Eh? Ada briefing? Kok tidak cerita sih?” sergahku sambil menggamit lengan Changmin.

“Ya, ini sedang cerita. Lokasinya cukup jauh soalnya di dekat Gapyeong, kamu tahu kan bus sangat jarang di area sana. Lebih baik Yunho Hyung antar kamu dengan mobil.”

Aku menggerutu. Kadang-kadang Changmin suka memperlakukan aku seperti anak kecil, padahal kami seusia. 

Yunho tertawa, “tentu saja aku bisa. Aku jemput di rumahmu?” tanya Yunho ke arahku.

Aku menunduk, tidak kuasa menatap Yunho. Berbeda dengan Changmin yang mudah kubalas semua komentarnya bahkan sampai memukulnya kalau perlu, Yunho selalu membuatku sungkan dan bisa tiba-tiba mengubahku menjadi perempuan paling  pendiam se-Korea Selatan.

“Ya, Oppa,” jawabku akhirnya.

“Kenapa sih kamu bisa begitu feminim kalau dengan Hyung? Coba seperti itu juga denganku,” protes Changmin setelah mendengar jawabanku.

Aku menoleh ke arah Changmin kemudian memandangnya dengan geram, teringat kembali perlakuan sebelumnya. Sambil memukul kepala Changmin dengan kepalan tangan kananku, aku menggerutu, “karena Yunho Oppa tidak pernah memarahiku dan berlaku sembarangan seperti kamu. Coba aku lihat mana informasi briefingnya? Bisa-bisanya informasi sepenting ini tidak diberitahukan lebih awal.”    

Changmin meringis sambil memegangi kepalanya. Tanpa menunggunya menyerahkan, aku merebut ponsel yang ada di genggaman Changmin.

“Ada di surel kan pasti?” tanyaku yakin sambil membuka kunci ponsel Changmin dan mencari aplikasi naver mail. Jangan tanya kenapa aku bisa tahu password ponsel Changmin, karena Changmin sendiri sering sekali mengganti profile picture (pp) ktalk[4]-ku dengan bermacam-macam gambar aneh tanpa aku menyadarinya. Terakhir, dosenku bahkan mengirim pesan ktalk setelah melihat pp bertuliskan ‘dibuka: toko kue – setengah harga saja khusus hari ini’.

Setelah membaca seluruh informasi terkait briefing acara, aku bergidik. Ternyata acaranya cukup lama, sekitar enam jam kalau lihat rundown. Ditambah perjalanan pulang pergi Seoul-Gapyeong sekitar empat jam, berarti aku akan menghabiskan minimal sepuluh jam bersama Yunho.

Aku menatap Yunho, maksudnya tentu saja mencuri lihat. Ternyata ia sedang memperhatikanku dan kemudian melempar senyum. Aku hanya mampu tersipu ketika membalas senyumnya.

Tidak terbayang sepuluh jam bersama Yunho akan seperti apa nanti. Choi Sooyoung akan berubah total menjadi gadis pendiam. Sanggupkah aku?

***

 



[1] Food show – acara makan khas Korea Selatan

[2] Mie dengan kaldu ikan anchovy khas Korea Selatan

[3] Sup kaldu dengan pangsit khas Korea Selatan

[4] Kakao Talk – apliksi pesan yang populer digunakan di Korea Selatan